Oleh: Ashlah Afdlalul Ihsan
“ Langkahku dihentak, menikmati terbakarnya kulit yang melepuh. Rasa sakit tak seberapa, namun kian emosi terbakar, satu mata berkedip terlahir berkat saudaraku yang terkapar hanya karena perkataan. Kian membara pemikiranku dengan amarah dan kebencian yg mengakar berkat keinginan kebangkitan bersama saudara-saudaraku. Bukankah hal yang sederhana bangkit untuk tersenyum? Aku muak melihat semua membuang kepedihan mentah-mentah dimukaku yang licin ini. Bukankah aku yang selalu ada dibelakangmu saudaraku? Dan ketika aku dibelakangmu, tanpa ada bayang-bayang kesenangan fana dibelakangku, yang ada hanyalah beban fisik, separuhnya adalah tempatku beristirahat disaat gelap menyelimuti.”
Sebelum ku mulai semua singkat persinggahan duniawi ini, ada separuh angin yang akan ku abadikan dalam sepercik keringat di ubun-ubun dan secangkir kopi tanpa sebatang rokok yang dihisap.
Baru saja terjadi mungkin sekitar 4 kali bumi berotasi semenjak aku menyuratkan kisah ku untuk mu saudara ku pembaca yang mencintai literatur jurnalistik abstrak. Sebuah kisah yang mungkin lebih banyak menceritakan pengalaman spiritual dan emosional dari saudara mu yang “terbelakang” karena secara fisik saudaramu ini sangatlah adjustable menghadapi medan alam, dirimu mungkin sudah mengetahuinya.
Satu lagi ingin kuperkenalkan pemikiranku yang gloomy, pesimistik, dan penuh dengan buruk sangka juga kebencian. Juga tak lupa dengan kepribadianku yang adjustable ini, supaya saudaraku para pembaca dapat memahami cerita yang tertuliskan dengan berbagai kacamata dan persepsi mengenai kehidupan.
Setelah semua diluruskan maka barulah saudaraku para pembaca menjadi tuan-tuanku yang bersahaja, sampai aku selesai membawa tuan dalam penghujung catatan-catatan “Spirit-emotional” yang unfundamental dan absurd ini.
Dimulai saja. Yup waktu itu adalah 10 Jumadil Awwal 1440 Hijriah, tak salah kan menggunakan almanac islam? Aku seorang muslim. Tentu menjadi seorang muslim sejati itu memiliki ketahanan mental dan fisik diatas yang lainnya, karena di mata ku diklatsar mapala-mapala yang ada sangat lengket dengan “kelembutan dan keayuannya” bukan? Semua itu aku sudah persiapkan supaya posisiku tidak tambah terbelakang dan terkekang.
Pada waktu inilah aku serta saudara-saudaraku berangkat menuju persinggahan manusia purba dan salah satu situs karst tertua di Jawa, terletak di daerah Padalarang kok tak usah jauh kemana! Aku dan saudara-saudara ku berangkat menggunakan bus yang mirip dengan bus sekolah di belahan bumi barat sana.
Hufftt sebuah pelayanan awal yang sangat “halus” diberikan oleh para instruktur kami.
Lanjut, kau tau apa yang terjadi dalam perjalanan? Bukan hanya karena aku duduk di paling belakang sebelah kanan, semua sudah terlelap dengan mata yang terpejam penuh dengan ketenangan. Aku sendirian hanya memandang Sang Burangrang yang mungkin dulunya adalah tempat persinggahan Sang Hyang, duduk terpana dengan hati yang bersikukuh dalam mood yang gloomy dan penuh kebencian.
Sepanjang jalan pun aku memandang penuh keredupan cahaya, bahkan dengan seragam polisi yang hijau terang sedang memeriksa kendaraan beroda sebagai pengisi perutnya. Memandangnya pun membuatku jantungku berterbangan. Namun itu semua tak bertahan lama kok! Sekitar 45 menit pun aku sudah enyah dari kursi ku yang sama sama “terbelakang”.
Kuhela nafasku pendek-pendek, kau tau kenapa? Sudahlah jelas aku sedang berada di kawasan karst yang sesak dengan udara pertambangan batu gamping, apalagi dengan beban carrier 80 liter bersilangan dengan 90 derajat matahari di posisiku ini sangat membuat ku makin bertenaga!
Akhirnya surga yang duniawi ini bisa kurasakan dengan khidmat, terbayang surga dari karst ini sedang menanti ajal semenjak awal aku melihat asap hitam bertebaran di langit-langit biru. Walaupun tak lama berselang instruktur langsung memberikan instruksi layaknya instruktur seperti biasanya, “Bershaf dan Berbaris.” Tetaplah aku yang terbelakang “Terbelakang!”
Oiya sebelumya sudah ku oleskan minyak pelumas kaki yang bau bawang persis dengan bau Maba seperti diriku ini. Aku pun berjalan dalam barisan, layaknya seorang muslim berbaris mengikuti Ulil Amri-nya.
Aku berjalan dengan khidmat, karena aku memang terbelakang yang hanya memandang saudara ku dari punggung mereka dengan instruktur Raka yang berada disamping, sangatlah mengisi kekosongan waktu ku.
Sembari ku berjalan kubayangkan kawasan karst Citatah yang indah namun tersakiti ini. Kubayangkan dulunya adalah sebuah cekungan yang pernah menjadi dasar sebuah laut dangkal puluhan juta tahun yang lalu, yang mana mungkin nabi Adam sudah turun dari surga. Kubayangkan batuan gamping yang tajam di Gua Pawon adalah koral-koral dan terumbu karang yang dulunya tumbuh di kawasan ini. Kubayangkan lagi ini adalah bekas danau purba hasil letusan gunung sunda, akhirnya imajinasiku semakin ngawur dan sompral setelah membaca bahwa ini juga adalah salah satu situs manusia purba.
Hmm hahaha aku pun menahan tawa karena aku sendiri sangat tak percaya tentang eksistensi seperti itu. Akhirnya aku pun berhenti membayangkan sesuatu dan kembali ke realita memfokuskan diri kepada tujuan awal aku mengikuti Diklatsar Jantera ini.
Seraya waktu terus berputar kearah barat. cahaya matahari pun sudah dapat membentuk bayangan yang horizontal, Pertanda bahwa hari sudah mendekati waktu petang. Aku dan saudara-saudaraku juga dengan instruktur sudah tiba pada tempat yang telah disiapkan, kami menyebutnya basecamp.
Setibanya kami, instruksi langsung turun dari mulut-mulut instruktur. Ulul amri’ kami atau yang biasa kami sebut Dansis di lapangan, dipanggil dan mendapatkan tugas untuk segara mendirikan naungan dan hidangan untuk malam nanti. Kami pun akhirnya bergerak mengikuti apa yang di instruksikan ulil amri kami dan juga para instruktur.
Matahari pun lenyap tertelan bumi, dengan cahaya kejinggaan yang lama-lama memudar juga. Langit yang begitu hampa tanpa hadirnya eksistensi kapas-kapas yang mengapung itu, memperlihatkan sosok si putih manis berbentuk bulat. Wajahnya penuh dengan bekas jerawat namun malam itu wajahnya sangatlah berseri bagaikan seorang hamba sahaya yang rajin beribadah kepada Rabb-nya! Keindahannya cukup meredakan sanubari ku yang selalu menjago merah walau tak terlihat dan tak dapat dibaca indera apapun. Sangat menakjubkan! Suasana yang memanjakan kami sebelum momentum-momentum evaluasi yang akan berlangsung!
Eitsss tapi sebelum ber-evaluasi ria kami dengan instruksi yang sudah disampaikan, sempat bermuhasabah bersama harumnya guano-guano juga gerombolan ksatria malam, sungguh momen yang tak terlupakan, apalagi dengan terpadunya cahaya lilin dan berserinya rembulan pada waktu itu menambah kemesraan kami dengan malam yang tiada bandingannya.
Mengenakan raincoat yang tebal pun menambah kebasahan kami dalam menjalanin khidmatnya menulis dan mengarang sebuah sastra diatas buku oren kami yang terang benderang. Woosh sungguh suasana yang indah sebelum ketegangan terjadi dan menutup malam kami hehehehe…
Hari pun berganti menjadi Kamis Pahing 10 Jumadil Awal 1952 dalam kalender Jawa, hari ini agendanya itu mengaplikasikan kembali teori dan praktik Single Rope Technique (SRT) dan Rock Climbing. Skill dibidang ini merupakan skill yang Fardu Ain’ bagi seluruh calon anggota muda Jantera khususnya angkatan 38 yaitu kami.
Teknisnya kami dibagi dua kelompok oleh instruktur yang kami cintai, kelompok yang pertama melakukan terlebih dahulu Rock Climbing jenis Sport Climbing, dan aku juga dengan sebagian saudaraku melakukan SRT terlebih dahulu di Gua Pawon. Akhirnya kamipun berangkat bersama kelompoknya masing-masing.
Singkat cerita dari kelompok kami hanya 4 orang yang sukses melakukan SRT dengan tepat waktu termasuk saya, dan dari kelompok satu pun hanya 3 orang yang dapat melakukannya dengan tepat waktu, yang berarti hanya sekitar 30% calon anggota muda yang berhasil melakukan kegiatan SRT. Dan untuk kegiatan Rock Climbing jenis Sport Climbing Alhamdulillah saudara-saudaraku berhasil menyelesaikannya.
Dengan tingkat keberhasilan di SRT yang rendah sudah pasti menjadi tamparan keras bagi aku dan saudara-saudaraku. Bukan hanya itu ketika kelompok ku sedang menyimak penjelasan sekilas mengenai Rock Climbing dari Instruktur juga Kadat Ali tiba-tiba accident terjadi dan tidak terhindarkan.
Kejadian itu aku langsung saksikan dengan mata sendiri, semua tercengang dan tertampar. Hal ini lah yang menjadi bahan evaluasi untuk kami semua di malam nanti.
Lanjut keesokan harinya saja ya! Oke sekarang hari telah berganti menjadi hari ke 3 yaitu Jumat 18 Januari 2019. Akan kuceritakan apa yang terjadi pada hari ini tuan-tuanku para pembaca secara singkat melalui puisi yang akan aku hidangkan khusus untuk tuan-tuanku yang banyak puan.
“Tangan Memijak, kaki memegang
Kias terbalik layaknya mahluk di gua
Namun kami sebagai insan tetap berakal
Itulah pembeda kami denganmu
Kau mengepakkan sayap
Kami harus berpikir untuk memlikinya
Walau dirimu hanyalah hidup untuk mati
Namun kami tak paham esensi
Padahal mereka adalah makhluk yang mengabdi
Sama seperti kami namun kami membangkang
Dengan Kami yang cinta damai dan perang
Sampai Sang Sunda yang mulai bangkit
Menandakan perpisahan kami denganmu
Dirimu yang kesakitan dari ledakan dan pertambangan
Sedih kami harus hengkang darimu
Tanpa ada konstribusi yang pasti
Meninggalkanmu yang rusak bersama bom waktu
Mohon maafkan kami, kami yang berakal..”
Redaktur: Muhamad Abdul Azis
2 Comments