Oleh: Ashlah Afdlalul Ihsan
Itulah singkat cerita dari pikiranku, karena aku akan meninggalkan kawasan karst Citatah pada pagi itu, untuk berpindah ke lokasi selanjutnya di Cijanggel nantinya. Namun sebelum kami berangkat menuju Cijanggel kami melakukan packing yang dibimbing oleh instruktur Fauzia. Saat packing inilah yang menjadi asal-usul nama rimba ku, yaitu “SBTik” atau kepanjangannya “Sleeping Bag Ngagulitik”, karena saat itu aku sedang fokus mengemas barang-barangku sampai tidak menyadari sleeping bag ku yang lumayan besar berguling ke bawah arah tempat para panitia dan instruktur bersemayam. Aku merasa sungguh sangat malu namun sekaligus menjadi momen yang lucu dan tidak terlupakan pada waktunya. Hehehehe….
Sudah, move on dari kejadian SBtik. Aku dan saudara-saudaraku sudah selesai packing dan siap-siap untuk melakukan “sedikit” perjalanan, namun aku sih mengharapkan perjalanan yang panjang (akan aku jelaskan nanti yah ditengah-tengah paragraph wkwk).
Oiya tidak lupa seperti biasanya aku mengoleskan minyak kejayaan yang selalu menjadi barang utama dalam diksar-diksar mapala, kuolesilah minyak komando dengan sangat semangat karena dan sangat berharap melakukan perjalanan “long march”, karena dengan long march aku ingin menguji dan melatih kebugaran menuju tak terbatas dan melampauinya. Namun sayangnya kita tidak boleh menaruh harapan yang sangat tinggi jika tidak kuat untuk terjatuh bersama harapan-harapan yang kosong.
Akhirnya semua telah ready and settle kami pun berbaris seperti biasa sesuai no urut yang sudah ditentukan, juga tak lupa aku sebagai Kadhèt Singkur selalu berada diposisi yang paling belakang sembari mengawasi saudara-saudaraku yang sangat aku sayangi saat itu.
Kami berjalan kaki, berkeringat, dan bernapas layaknya babi hutan yang mengamuk. Sampai terbesit dalam pikiran pasti akan ada saudaraku yang akan sedikit kelelahan karena melakukan marching seperti ini. Akhirnya aku pun was-was dan terus mengamati saudara-saudara ku dari belakang dengan senang dan ikhlas. Kami berjalan, aku berjalan, instruktur berjalan.
Aku pun sangat senang karena ku sangka akan melakukan long march menuju lembang, terbesit sih dalam pikiran ku. Namun nyatanya baru saja setengah jam berjalan, bus yang mirip dengan bus sekolah di belahan bumi barat sana sudah menanti dan siap mengantarkan kami menuju destinasi selanjutnya.. bukan hanya hati yang patah namun harapan pun ikut menangis. Akhirnya kami pun menaiki bus dan aku hanya melamun sepanjang perjalanannya. Begini..
“ Dari dalam sanubari yg merayap rasa amarah. Jangan kau lelah dengan medan nurani. Hanya karena koyakan setan dan rasa benci. Tapi sehenyap kulamunkan..
Pencipta memaafkanmu, mengapa kau masih dirundung payu? Palung siksaan aku buka karena terhentak nafsu namun terbentur suka, pencipta takkan menutupnya. Pelamunanku menjadi sumber kesenangan dunia. Sebab daku hanya menggenggam kehampaan dan amarah.
Membangun batu menjadi candi pun mudah di sabda ini. Namun daku sendiri tersedu tak mampu membahagiakan bahtera nasab sendiri
Ya nasabmu, daku tak mau memandangnya. Lebih baik ku koyak indera ini dan kemudian berdansa dengan bayang bayang dibawah tepukan dawai dan kendang..”
Baiklah sekarang aku ganti gaya menjadi catatan harian saja ya!
Perjalanan pun akhirnya sudah berakhir, kami tiba disuatu tempat di Cijanggel, turun dari bus badan ku merasa dingin, kangen akan dengan hangatnya suhu di Padalarang yang selalu membuatku bertenaga dan bersemangat! Ah sudah lupakan, seterusnya kami pun berjalan dan tiba disuatu tempat latihan Kopassus.
Setibanya kami disana, kegiatan diawali dengan unpacking barang bawaan kami. Seluruh makanan kami titipkan pada panitia dan instruktur-instruktur. Kemudian memilih bahan-bahan makanan yang kami kira akan kami bawa untuk kegiatan selanjutnya.
Setelah mengumpulkan semua makanan, kami mempacking kembali peralatan dan barang barang kami selain makanan ke carrier kami. Aneh sih walaupun beban terus terkurangi, rasanya isi carrier tetap penuh. Mungkin karena sleeping bag yang aku bawa terlalu besar hehehe…
Lanjut, kami pun melanjutkan kegiatan dengan pematerian BZP dan Survival! Kucatat materi-materi yang disampaikan oleh instruktur namun sayang baru berselang 30 menit pun aku sudah lupa apa yang disampaikan, lucky me wkwkwk.
Pematerian telah kami lakukan, kami dibariskan kembali dan diarahkan menuju pos individu untuk mendirikan bivak solo oleh masing-masing siswa. Terkejut aku karena aku yang paling pertama dilepas untuk mendirikan bivak solo, betapa bahagianya aku wkwkwk.
Ini merupakan kali pertamanya aku mendirikan sebuah bivak untuk saya sendiri, dan untuk mendirikan bivak itu sendiri memerlukan waktu 2 jam lebih beruntung karena saat itupun cuacanya hanya gerimis. Itupun bivak yang aku buat kurang tinggi karena ponco yang kurang lebar. Tapi setidaknya aku bisa duduk dan tidur bifak tersebut dengan nikmat.
Setelah mendirikan bivoack, ba’da isya berlalu, kami pun dikumpulkan kembali oleh instruktur dan diarahkan menuju basecamp panitia. Di basecamp panitia kami disuguhi hidangan yang begitu mewah dan pelayanan yang manis oleh para instruktur.
“Terheran kening nian, kami menjadi tuan guru kami sendiri. Dan guru pun menjadi seorang pelayan yang manis. Kami yang menahan kerongkongan kami untuk melahap, kami yang berpura-pura menolak hidangan malam yang begitu romantis. Nada-nada irama yang menggugah dahaga mereka putarkan. Seolah kami sedang bersantap di sebuah gubuk restoran di tengah-tengah jangkrik yang bersuara nyaring, dan bersama sejuknya alam. Seolah kami menatap permaisuri yang melayani dengan suaranya yang menenangkan sanubari, bersama dengan para pengawal yang memberikan rasa aman dalam penjagaannya. Namun layaknya surga dunia, semua itu hanya sementara..
Sesuai dengan hati ku yang selalu berburuk sangka, apalagi bukan biasanya aku mendapatkan kesenangan surga seperti ini. Tiba-tiba sebuah pengumuman yang tidak mengenakkan mengerucutkan pendengaran kami yang tuli. Salah satu raga kami terpaksa harus diamputasi, kamipun tak terima! Jika salah satu raga kami membusuk, biarlah kami membusuk bersama-sama! Jika raga kami perlu diobati biarlah kami mengobati sekuat raga. Amputasi hanyalah sebuah jalan pintas yang mengada-ada, kami ini calon anggota muda jantera. Kami satu raga, kami satu jiwa. Semua terus melawan sekuat tali plasenta ibu dan anaknya. Kecuali aku yang terdiam, menuruti kata mereka. Aku hanya terdiam melihat anggota raga kami ikut membusuk. Aku hanya bisu, aku hanya buta, aku hanya tuli. aku tak mampu untuk bergerak, luka memori lama terbuka dan membuatku sulit untuk berbijaksana. Aku merasa tak berguna pikiranku dihempas samudera, bahkan amarah aku pun tak mampu menghilangkannya.
PENGKHIANAT! DIAM KAU! APA KAU PENGKHIANAT, LIHAT ANGGOTA RAGAMU YANG MEMBUSUK! KAU HANYA TERDIAM LAYAK NYA BOCAH YANG AMNESIA! SEKALI PENGKHIANAT TETAPLAH SEORANG INSAN PENGKHIANAT
Itulah yang hanya ku ingat, aku tak ingat saudaraku, aku tak ingat diriku, aku tak ingat tugasku, aku tak ingat tujuanku, aku tak ingat peranku sebagai saudara mereka yang terbelakang. Aku hanya menatap dengan harapan kosong, aku hanya berbicara dengan bualan semata, aku hanya bergerak demi kesenangan semata. Aku sendiri pun tak sanggup melihat realita, kala itu yang gelap, cahaya merah dimana-mana. Sanubari pun tertusuk tusuk oleh kujang yang dihunuskan, dicongkel satu per satu kehormatan ku. Semua tercampur aduk, sampai akhirnya saudaraku dapat melanjutkan perjalanannya kembali dengan mengemban tugasnya yang baru. Dan kesan inilah yang menutup malam ku kala itu.”
Akhirnya haripun terus berganti, tak terasa angin berlalu begitu kencang. Kami sudah berada di penghujung Diklatsar Jantera 38. Sedih, bahagia, aneh aku rasakan selama ini.
Berbagai pengalaman sudah mewarnai sanubari, berbagai ilmu sudah mengisi waktu yang akan dipertanggungjawabkan. Terlalu banyak sesuatu aku pikirkan, mengevaluasi diri sendiri sangatlah sulit dilakukan tanpa adanya saudara-saudaraku di depan ku.
Berdikari pun sulit tanpa adanya barisan yang kita isi. Aku putuskan untuk berbaris bersama saudaraku, bersama-sama dengan kebersamaan.
Berjuangan dengan rasa perjuangan. Dengan jiwa yang memegang Panca Dharma Jantera, dengan raga yang menegakan Pancasila.
Di hadapan kibaran merah putih, dan tegaknya bendera suci berwarna oranye diantara barisan, kami pun melepas status kami sebagai siswa menjadi seorang anggota muda Jantera. Dengan rasa hormat dan tanggung jawab, satu persatu syal kebanggaan disematkan pada kami anggota muda Jantera angkatan 38 oleh para senior kami, seolah spirit baru tumbuh dari syal yang melekat dipundak kami
Inilah awal mula kami merintis perjuangan dan pengabdian pada agama, bangsa, dan negara…
BRAVO JANTERA!!
Saudaramu yang terbelakang !
Redaktur: Muhamad Abdul Azis
1 Comment