Oleh: Siti Zakiyah
Kata orang, harta bisa dicari, ilmu bisa digali, sedangkan momen? Takkan bisa diganti. Sebuah definisi kausal yang kebenarannya tak dapat dipungkiri. Bagaimanapun, kedudukan dari sebuah pengalaman memang takkan terdeposisi oleh materi.
Pahit manis tapak tilasnya, seburuk apapun itu adalah titian sejarah yang radius pemaknaannya tidak berbatas pada diri sendiri. Terlebih jika momen itu menjelma, menjadi prasasti.
***
Pertengahan Januari 2019 menjadi awalan baru bagi 22 muda-mudi yang menapakan kaki diatas tanah Cipatat, Padalarang Jawa Barat. Alih-alih bersorak diantara tetesan keringat yang mengucur deras, lantunan mars heroik menjadi amunisi yang sesekali menghibur, kala semangat mulai luntur.
Siratan makna tersurat diantara larik-lariknya, serta helaan nafas tersendat kala melagukannya menjadi cerita sendiri bagi kami yang merasakan.
Perjalanan ini dimulai pada Rabu, 16 Januari 2019 dan berakhir lima hari setelahnya. Heterogenitas antar calon anggota, awalnya menjadi kendala yang cukup menghambat terlebih dalam kuantitas yang tidak sedikit. Bagaimanapun kodrati manusia sebagai homo socius yang memiliki kebiasaan mengelompok, memang tidak dapat dienyahkan.
Doktrin kekeluargaan, aturan pengucapan dalam pemanggilan, serta tuntutan pendidikan yang bersifat mengharuskan, perlahan mampu menembus batas ruang gerak sosial yang melebur didalamnya perbedaan kepribadian. Alam, mau tidak mau memang memaksa kita untuk senantiasa bersegera dalam segala hal.
Pematerian pertama, adalah pengejawantahan dari keilmuan seputar Ilmu Medan Peta dan Kompas (IMPK). Teknik navigasi terbuka dengan metode reseksi dan interseksi adalah mata latih yang sejatinya mengajarkan tentang letak sebuah posisi, serta bagaimana mencapai posisi yang dimaksud sekalipun harus menempuh jarak jauh.
Diketahuinya lokasi objek pada peta berikut dengan koordinatnya, terbilang lebih efektif dan efisien karena IMPK tidak harus dikalibrasi sebagaimana halnya GPS pada aplikasi smartphone yang sangat tergantung pada sinyal di daerah terkait sehingga hasilnya pun kurang akurat.
Perhitungan dengan metode ini, memang membutuhkan groundcheck oleh masing-masing anggota untuk memastikan kesesuaian antara peta dan kenyataan di lapangan. Untuk itulah, sebagian dari kami berusaha mananyakan kesesuaian objek bidikan dengan menanyakannya kepada warga lokal disamping mengeceknya secara langsung.
Dibutuhkan ketelitian dan konsentrasi lebih dalam melakukan proses navigasi terbuka, mengingat utara di peta tidaklah sama dengan utara di lapangan. Penguasaan akan teknik dan ketangkasan dalam berfikir, menjadi utama pada sesi ini.
Penempaan memang tidak berakhir disana. Setelah berkali-kali memutar otak untuk membidik objek tanpa kesalahan, tantangan agar mampu bertindak tangkas dan bergerak cepat tetap harus terus menjadi nafas untuk hari-hari berikutnya.
Malam berbintang di Gua ‘Purba’ tempat leluhur orang sunda menyaksikan Cekungan Bandung yang legendaris itu, menjadi saksi bisu titik tolak sebuah peristiwa bersejarah yang mengisi ceruk-ceruk terdalam pada diri. Mengingat kembali, orientasi.
Cahaya lilin memang tak selalu terang, mungkin redup lalu padam. Itulah kobaran semangat yang terkadang berada diambang. Memanjat tebing karst dan melakukan single rock technic dengan ketinggian lebih dari 10 m bagi mereka yang belum pernah ‘bergaul’ dengan dunia kepecintaalaman, bagaimapun menjadi tantangan tersendiri yang cukup menguji nyali.
Degup jantung yang berkejaran tak karuan, serta kepanikan lantaran takut ketinggian, menjadi momen berharga yang suatu hari pasti dirindukan. Prinsip ‘Tiga Bertahan Satu Mencari’, tak sesederhana mangatakannya secara oral. Pergulatan keyakinan yang terus beradu dengan realita lapangan dan bagaimana agar pijakan tetap mampu bertahan, menyiratkan makna bahwa keselamatan adalah inti dari semuanya.
Pawon adalah rumah yang eksotis. Bau kotoran kelelawar yang menusuk, serta pesona dari tiap ‘kamar-kamar’ dalam gua horizontal yang tidak lagi aktif ini, memang menjadi buah bibir para pengunjung. Keunikan ornamen gua semisal stalaktit dan stalagnit adalah dua diantara artefak yang layak untuk diabadikan.
Gua karst dengan tiga jendela utama yang menyuguhkan cakrawala hamparan sawah dan pemukiman, memang memiliki ventilasi melingkar yang membuatnya tampak seperti cerobong dalam rumah.
Tiupan angin sejuk, terasa bergerak lembut dari sini. Replika manusia pawon dengan segenap batu serpih yang ditemukan, adalah bukti dari adanya kehidupan pada masa purba silam.
Terakhir, adalah bertahan dalam kemandirian. Melakukan survival dengan membuat shelter mandiri pada beberapa titik di kaki Gunung Burangrang dan mencari bahan makanan dengan prinsip Botani Zoologi Praktis atau BZP, mau tidak mau menuntut lahirnya pribadi yang siap dikondisikan dengan tidak berpangku tangan.
Dengan peralatan sederhana semisal ponco, multi tool kit, webbing, dan prusik sebuah tenda harus mampu berdiri kukuh, aman, bebas dari hewan yang berkeliaran-entah bagaimana caranya.
Asamnya rasa arbei hutan, renyah dan gurihnya belalang, ulat pohon dan kepiting sungai, ibarat hiburan dengan cita rasa yang tak bisa diungkapkan, terlebih lewat aksara.
Lima hari itu, pembelajaran dengan makna tersirat melantun begitu saja. Terkadang, kungkungan mindset terhadap diri menjadi hambatan yang kerap kali menghentikan langkah. Jangan, sekali lagi jangan bertoleransi dengan kelemahan diri.
Barangkali, ada titik dimana potensi itu baru akan menampakkan batang hidungnya setelah melalui proses ‘penempaan’ atau bahkan ‘pemaksaan’.
Adalah manusia yang terlampau merugi, jika ia tidak mau keluar dari zona nyaman atau mencari-cari alasan dalam melakukan pembenaran. Sejatinya, diri kita memang menakjubkan jika diberi kesempatan. Jangan batasi ia dengan ketidakberdayaan.
Jangan menyerah pada lelah, jangan berhenti walaupun tertatih. Ingat, bahwa kita tidak sendiri. Saudara adalah aku, kamu dan kita yang siap ‘pasang badan’ untuk saling mempertahankan.
Yah, percayalah… momen itu sangat berharga, dan aku bangga menjadi bagian daripadanya.
Redaktur: Muhamad Abdul Azis
0 Comments