Oleh: Indri Megantara Putri
Bandung, 16 Januari 2019 Siswa Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Jantera XXXVIII melaksanakan upacara pelepasan menuju lapangan di lobi timur FPIPS. Upacara pelepasan ini dilaksanakan setelah pembukaan dan pemberian materi kelas dari tanggal 13-15 Januari 2019.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pendidikan latihan dasar untuk menjadi anggota muda Jantera, setelah melalui tahap administrasi, psikotest, tes fisik serta latihan rutin setiap minggu.
Sebanyak 22 orang siswa diberangkatkan dengan menggunakan bus UPI berwarna kuning terang dengan didampingi instruktur menuju lokasi pertama, yaitu Gua Pawon.
Gua Pawon, merupakan situs gua alami dan purba yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang Kabupaten Bandung Barat.
Setelah sampai di kawasan karst Gua Pawon siswa diklatsar mempersiapkan diri dengan melakukan pemanasan serta memakai minyak komando di kedua kaki.
Minyak komando adalah minyak goreng yang dicampur dengan bawang merah kemudian dimasak beberapa saat, minyak komando ini digunakan untuk menjaga kelembaban kaki saat melakukan tracking.
Jarak dari pemberhentian bus menuju basecamp cukup jauh. Ditemani instruktur dan dipimpin oleh seorang komandan siswa, 21 siswa lainnya harus melewati jalanan yang menanjak juga menurun dengan cara ngabaduy yaitu, cara berjalan dengan berbaris ke belakang dan beruntun.
Gua Pawon memiliki daya tarik tersendiri dengan sambutan monyet-monyet liar saat pertama kali datang, namun sayang aktivitas penambangan kapur dengan alat-alat berat diatas bukit menjadi pemandangan yang kurang enak dipandang.
Setelah sampai di basecamp siswa diminta mengeluarkan makan siang yang dibawa masing-masing dan instruktur membuat meja makan dari plastik yang akan digunakan selama diklatsar.
Makanan yang dibawa disatukan dalam meja makan dan setiap siswa harus merasakan makanan yang sama, makan tidak akan dimulai sebelum kami berdo’a dan menyanyikan sebuah lagu yang diwariskan secara turun temurun.
Sebuah lagu berbahasa Sunda perpaduan antara bahasa kasar dan halus yang membuat beberapa siswa tertawa geli namun berusaha menahannya karena diawasi oleh instruktur tata tertib.
Kegiatan dilanjutkan dengan pematerian lapangan pertama, yaitu IMPK (Ilmu Medan Peta dan Kompas). Dengan membawa alat-alat yang ditentukan siswa diarahkan menuju sebuah tempat dan dibagi menjadi empat kelompok dan berhenti sesuai titik yang ditentukan untuk melakukan reseksi dan interseksi.
Setelah pematerian lapangan selesai kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi berupa penilaian ketepatan dalam membidik dan menentukan koordinat, setiap kesalahan satu detik dinilai sebagai seri saat evaluasi ini lah siswa mendapat “diingatkan” pertamanya.
Kegiatan dilanjutkan dengan mendirikan bivak kelompok juga mempersiapkan makan malam, siswa terbagi menjadi beberapa bagian yaitu memasak, menyatukan ponco, membuat kerangka bivak dan mengambil air. Sampai pada waktu yang ditentukan bivak dan masakan belum selesai dan berbuah seri juga “diingatkan”.
Malam harinya siswa mengunjungi Gua Pawon, berbekal lilin dan headlamp suasana malam hari dalam gua terasa lebih menenangkan dengan kelelawar berterbangan juga bau guano yang khas. Kemudian siswa dikumpulkan di pendopo untuk mengikuti review materi caving khususnya SRT (single rope technique) dan rock climbing.
Hari kedua dilapangan, setelah sarapan juga melakukan pemanasan kegiatan dilanjutkan dengan membagi siswa menjadi dua kelompok dan masing masing kelompok mengikuti RC dan SRT secara bergantian.
Instruktur menjanjikan reward bagi siswa yang berhasil memasang alat dan menyelesaikan srt atau rockclimbing dalam waktu 20 menit, reward juga diberikan bagi siswa yang belum mampu menyelesaikannya berupa “diingatkan”.
Kegiatan berakhir sebelum waktu ashar dan siswa diberikan waktu untuk mempersiapkan makan malam juga memperbaiki bivak yang belum sempurna.
Setiap malamnya selalu diadakan evaluasi dari kegiatan pada siang hari, termasuk pemberian reward kepada pasangan belayer dan climber terbaik juga siswa yang berhasil melakukan SRT sesuai waktu yang disepakati. Setelah evaluasi kegiatan dilanjutkan dengan pematerian dari mata latih hutan gunung tentang survival.
Hari ketiga dimulai dengan merapikan keril masing-masing, membereskan bivak kelompok juga menyiapkan sarapan dan makan siang. Setelah sarapan siswa diarahkan untuk ngabaduy kembali menuju tempat diklatsar kedua, yaitu Cijanggel.
Selama perjalanan meninggalkan Gua Pawon pertanyaan yang sering terlontar dari instruktur adalah “Siswa, kalian sudah mandi belum? Kalian tidak merasa bau” dan instruktur memberitahu sebuah lagu pendek tentang bau siswa yang seperti bagong hal ini juga menginspirasi siswa lain membuat yel-yel tentang bau bagong sebagai penyemangat di perjalanan.
Siswa sampai di jalan raya dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju basecamp dengan melewati jalan berbatu dan menanjak. Setelah sampai di basecamp siswa makan siang kemudian dibariskan untuk mengeluarkan semua isi keril masing masing.
Semua bahan makanan dan barang yang diinstruksikan oleh instruktur dikumpulkan dan setiap siswa hanya diizinkan memilih tiga jenis makanan yang akan dibawa saat melaksanakan survival.
Kegiatan dilanjutkan dengan pematerian dari instruktur hutan gunung mengenai BZP (Botani, Zoologi dan Praktis), instruktur memaparkan tentang makanan yang aman dan boleh dikonsumsi selama survival juga hal-hal terkait survival lainnya seperti membuat bivak dan jerat. Setelah pematerian siswa diantarkan oleh instruktur menuju titik tertentu untuk membangun bivak individu.
Ada suasana berbeda pada malam hari, yaitu ketika para instruktur mempersiapkan makan malam dengan banyak menu tersaji. Mendapat perlakuan berbeda membuat siswa kebingungan dan ragu untuk mengambil makanan, tetapi setelah ditinggalkan siswa baru berani menghabiskan makanan karena khawatir mendapat seri.
Banyak siswa yang bertanya-tanya tentang hal apa yang akan terjadi selanjutnya, benar saja setelah makan malam evaluasi akbar dilaksanakan dan banyak sekali “diingatkan” yang diterima. Malam itu lebih panjang dari biasanya dan menguras banyak energi baik fisik maupun mental. Setelah evaluasi selesai setiap siswa kembali ke bivak masing-masing dan beristirahat.
Hari keempat. Tidak ada sarapan pagi ini karena setiap siswa harus mengaplikasikan materi survival terutama BZP, dari 22 siswa dibagi menjadi tiga kelompok besar untuk mengumpulkan makanan yang tersedia di sekitar basecamp.
Sebagian besar makanan yang terkumpul adalah arbei hutan, nangka, belalang, ulat, kepiting sungai dan dedaunan kemudian diolah dengan cara yang sederhana namun tetap nikmat dimakan bersama-sama.
Karena instruktur selalu mengatakan “Siswa, kalian bau” sore harinya semua siswa ngabaduy menuju Curug Layung dan saling menggosok secara terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan.
Malamnya siswa kembali dikumpulkan di basecamp untuk mendapat motivasi dari senior Jantera. Banyak senior yang hadir mulai dari angkatan atas hingga angkatan muda dan banyak motivasi yang disampaikan.
Hari kelima, setiap siswa diinstruksikan untuk membereskan bivaknya dan kerilnya kemudian berkumpul untuk kegiatan selanjutnya. Menurut list tempat di surat izin masih ada beberapa tempat yang belum dikunjungi, tetapi instruktur menginstruksikan setiap siswa untuk mengenakan kemeja flanel yang dibawa. Kemeja flanel digunakan hanya saat acara formal seperti pembukaan, materi kelas dan penutupan, itu artinya hari ini adalah hari penutupan.
Mengacu pada kurikulum baru, bila dibandingkan dengan angkatan sebelumnya diklatsar tahun ini lebih singkat, meskipun demikian lama tidaknya waktu dilapangan tidak akan menurunkan tekad dan niat awal untuk menjadi anggota muda Jantera 38 terutama saat syal oren itu dikalungkan satu persatu oleh senior.
Berbagai perasaan menjadi satu saat itu namun ada amanah yang juga dibebankan, seorang instruktur mengatakan bahwa Jantera itu maju karena orang-orangnya juga maju hal ini dapat terwujud dengan membentuk karakter penjelajah, pembelajar dan pelestari alam yang tangguh dan solid.
Jantera, Jantera, Jantera!
Redaktur: Muhamad Abdul Azis
0 Comments