Oleh: Al-ghaniy (J. 374. 37. AAB)

Tak luput dari jingkrakan memoriku bayangan kabut tipis di elevasi sang kerucut megah dengan bayangan fajar merah akan meredam setiap amarah
Ya gemulaian langkah kaki, hentakan betis, tekukan tempurung lutut, bahkan ucapan bermakna keluar dalam setiap dera denyut, dan helaan oksigen malam, terus masuk menembus jantung bergemulai dada menghasilkan pompaan yang menciptakan rasa rindu tak bertuan ini
Aku mulai sedikit cerita waktu itu
Mata angin melantunkan utara dan selatan, barat tak ingin lupa dan timur pun ikut bercanda ria
Aku tak bisa membidik titik tetapi titik nadir dan saudaranya zenith ingin aku membidiknya
Kau bercanda bukan genggaman peta dikiri pinus berisik itu terus membual kepada kompas yang sering membidik lurus jarum merah oranye dengan sudut mata, “membidik katamu? Bukan! Aku lihai dalam navigasi” sahut angkuh si kompas tua itu. “Tidak! Aku lebih berguna untuknya”, “diam! Berisik kalian pekak telingaku mendengar percakapan konyol ini. Kalian berguna, sudah!”
Sambil ku cengkram rambut lepek akibat kabut galak, ruang ombak badai yang sahut-menyahut di malam yang sunyi kala itu
Ku menyangka Aku minum sedikit whisky, seteguk chievas dan yang ternikmat satu slokgi air bening berlogo gunung kembar yang sedang ku setubuhi ini
Dalam awang – awang ku lihat duyung Juwita yang sedang bergumulai tangannya mencerna alunan mahligai rendawa, ku tersentak sadar ada suara murka menggerogoti lubang telinga “Aku kram! Kakiku mati rasa” begitu dia mengulang terus menerus sampai ku sadar bahwa Aku itu ada
Memang rasa candu saja yang bernyawa berharap membawa ke dermaga senja tempat kita saling menjaga, apakah kita berada dalam makna kata kata?
kembar saling menjaga bukan?
kita sama bukan?
kita bersaudara bukan?
kita? Ahhh sudahlah, akhirnya Aku simpulkan jalanan terpaan kegilaan malam ku ini dengan larik :
Sindoro Sumbing selalu bertatap
Walau Badai menetap
Gelap dan lembab
Aku akan hinggap mengikat
Dan terus berharap….
Sejauh manakah aku berjalan yang kuingat hanya satu yaitu kamu
1 Comment