Oleh: Daffa Fauzan Fijratullah

Saudaraku, kata itu merupakan kata panggilan yang biasa digunakan. Bahkan sudah tidak asing lagi di pendengaran. Terutama para calon anggota muda Jantera Perhimpunan Pencinta Alam Geografi, tidak jarang kerap didengar oleh Pencinta Alam lain.
Kata itu merupakan kata yang sangatlah sakral. Mungkin hanya beberapa kepala saja yang mampu memaknai kata panggilan itu.
Saya merupakan salah satu orang yang percaya akan kemampuan diluar nalar, maksudnya kemampuan yang mensugestikan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan berbagai stimulus yang dibuat seolah olah merangsang otak untuk merasakan sesuai yang dipikirkan.
Calon Anggota Muda Jantera angkatan 39 yang terpilih dan telah dipampang secara nyata pada majalah dinding kampus. Berjumlah 21 orang diantaranya ada 11 oramg laki laki dan 10 orang perempuan, informasi di mading tersebut mengejutkan kami karena seluruhnya adalah angkatan 2019. Kami yang namanya tertera merasa senang dan langsung bersiap untuk tantangan selanjutnya.
Sejalan berjalannya waktu, serangkaian Diklatsar telah kami lalui sebagai calon anggota muda jantera ke 39. Awalnya kami tidak saling mengenal, ada beberapa yang hanya kenal dan ada juga yang sudah selayaknya sahabat.
Kami dibina oleh para Instruktur yang merupakan Anggota Utama Jantera. Mulai dari dibimbing secara langsung dan tidak langsung. Kami mencoba suatu hal yang baru dari materi kelas yang dilaksanakan 7 hari berlangsung cepat, tetapi materi lapangan yang juga dilaksanakan 7 hari membuat suatu atmosfer baru yang menyatukan kami.
Dari 21 orang yang terpilih sebagai calon siswa pendidikan dasar latihan jantera tersisa 16 orang yang benar benar siap, seleksi alam pasti akan terjadi. Entah bagaimanapun dia bisa hadir dan menyeleksi kami satu persatu.
Dari seribu telur penyu yang dimamahbiakan di pantai pasti ada beberapa telur yang gagal menetas. Dikarenakan cuaca, atau bisa juga dimakan oleh binatang lain. Sama halnya seperti yang dirasakan oleh kami.
Selanjutnya 16 kepala berangkat menuju hutan belantara, lebih tepatnya 3 hari pertama di Gua Pawon dan 3 hari selanjutnya di kaki Bukittunggul yang merupakan hutan hujan tropis. Perjalanan dilakukan dengan senang tetapi penuh persiapan. Tak lupa setiap orang membawa satu carrier 60 liter berisi perlengkapan untuk satu minggu berada di alam. 3 hari terasa cepat di Gua Pawon.
Di sana kami banyak mendapat pelajaran baik dari manajemen kelompok, tata cara membangun suatu perkemahan di lapangan terbuka segaligus dengan dapur umum seperti biasanya perkemahan kecil dibuat.
Yang menarik adalah kami tahu akan segala kebiasaan, sikap, dan juga intensitas perasaan dari masing-masing siswa. Setiap waktu kami berkerja sama. Setiap malam kami selalu bercerita. Tak terhitung banyak sekali cerita dari para saudaraku yang menggelitik hati jua bisa memperkaya diri.
3 hari selanjutnya kami berangkat ke kaki Bukittunggul. Sama halnya disana kami membuat seperangkat perkemahan kecil, namun berbeda suasana di sana sungguh berbeda tidak ada jalan setapak. Kami membuka jalur sendiri untuk mencari tempat yang tepat.
Organisme di hutan itu seperti yang belum pernah disinggahi oleh manusia, sungai mengalir jernih layaknya air kemasan, pohon berry bertebaran di mana-mana, juga dengan tanaman lain yang tidak tahu apa namanya.
Sehari setelah membuat seperangkat perkemahan kecil di hutan kami pun dipisah untuk melaksanakan materi survival. Materi ini materi yang paling ditunggu. Kami disebar sampai 16 plot satu plot satu bivak pribadi yang berjarak sekiranya 200 meter dari yang lain.
Tentu saat itu kemampuan pribadi yang sangat diandalkan. Tetapi karena kami saudara, saling membantu satu sama lain merupakan hal yang biasa. Dilanjut dengan mencari bahan makanan di alam kami hanya dibekali pakaian, pisau, garam, dan satu alat perapian.
Tantangannya adalah kami harus bertahan hidup di alam tersebut selama 2 x 24 jam dengan kemampuan kami dan harus mampu bertahan dengan suhu gunung yang setiap waktu hujan. Benar saja saat itu tiada hari tanpa hujan. Tiada hari tanpa pakaian basah yang dipakai sampai ke kaus kaki bahkan sleeping bag.
Setiap pagi kami mencari bahan makanan yang bisa dimakan. Masak bersama-sama dan menyantap santapan yang kami hasilkan bersama-sama.
Hingga malam pun tiba, sorai banyak sekali suara alam tidak tahu siapa yang membunyikannya. Malam kadang terasa sunyi kadang juga mengganggu teliga kami sampai tidak bisa tidur. Saking sunyinya bivak kami suara basecamp dari para Instruktur sampai terdengar di telinga kami padahal jaraknya cukup jauh mungkin sekiranya 2 km.
Kesunyian yang membuat atmosfer persaudaraan kami dibentuk, “Saudaraku” sahutnya begitu kepada yang lain, sontak semua saudara yang lain menjawabnya dengan beriringan. Untuk menyampaikan informasi dari plot ke plot lain. Terus sampai plot paling atas. Kata tersebut merupakan kata yang paling membuat kami merasa satu.
Tentu ada banyak masalah yang kian hari makin parah. Ada saudaraku yang kedinginan, bivaknya bocor bahkan jas hujannya sobek sama sekali tidak bisa melindungi dari kelembapan yang dirasakan cukup tinggi di sana.
Beberapa ada yang kuat terutama laki laki yang fisiknya bugar saling menopang yang lain, hal itu dilakukan secara refleks tidak ada pikiran lain semua hal yang kami lakukan. Kami lakukan dengan sepenuh jiwa bukan setengah hati. Mungkin itu merupakan jati diri dari tiap manusia yang merasakan hal yang sama. Merasa sudah ada suatu ikatan absolut yang menyatukan.
Sampai pada akhirnya telah berlalu masa masa materi survival, terciptalah nama-nama rimba yang kita punya. Berdasarkan momen momen yang tak terlupakan dari setiap siswa yang akan selalu kami ingat sepanjang masa. Tak terkira nama nama tersebut bisa sangat membuat kami ceria di kala setelah survival yang telah dilalui dan serangkaian kegiatan yang dijalani.
Ada yang menjalani sampai setengah mati, ada juga yang senang dan ingin lagi. Diakhiri dengan longmarch dari Bukittunggul sampai ke UPI dimulai dari pagi hari. Sesaampainya di UPI pada malam hari kami lakukan dengan senang hati.
Sanak saudara dan kerabat banyak yang menghadiri saat saat penutupan. Kami disambut oleh berbagai pencinta alam lain dan dosen serta yang pastinya anggota Jantera lainnya. Tetes air mata terurai berai membasahi pipi, ucapan selamat dan jabat tangan kerabat sudah terngiang di telinga kami hingga syal oranye resmi kami dapatkan dan dikalungkan di masing-masing leher kami.
“Saudaraku terasakah?” semua rasa yang telah kami rasa bersama-sama, semua perjalanan yang telah ditempuh sampai ada yang menangis pada perjalanan pulang. Semua ini semua rangkaian yang telah kami lewati. “Akankah kamu melupakannya?” Jika pertanyaan itu muncul tidak mungkin ada yang bisa menjawab karena kami semua telah berubah.
Berubah dari pribadi secara fisik maupun mental. Ada hal yang telah menyatukan kita dari awalnya calon siswa menjadi Anggota Muda Jantera. Hal itu adalah rasa. Rasa yang tak bisa dirasakan lagi di lain hari.
Hingga akhirnya kami telah resmi bersatu menjadi anggota baru dalam keluarga Jantera. Merupakan penghargaan yang sesuai dari harga yang dibayar selama masa masa pendidikan dasar.
0 Comments