(Oleh : Ayi ‘Abay’ Sopandi)
Dr. Lili Somantri seorang ketua Program Studi Sains Informasi Geografi (2018- …) juga merupakan dosen di Program Studi Pendidikan Geografi UPI. Beliau pernah menjabat sebagai ketua adat Perhimpunan Pencinta Alam Geografi UPI “JANTERA” pada tahun (2000-2001). Mengisi berbagai rentetan sejarah Jantera pada era 2000-an dengan kecintaannya pada keilmuan geografi menjadikan Jantera sebagai wadah untuk mengembangkan keilmuan geografi tersebut.

Wajah Jantera sempat dipandang sebelah mata pada saat itu. Dikenal sebagai kelompok orang-orang yang malas kuliah, mahasiswa yang termasuk dalam kategori telat lulus kuliah, memiliki akademik yang kurang bagus dan sinisme lainnya. Hal ini kemudian berimbas pada tidak adanya anggota baru periode 2000 seolah phobia akan image Jantera saat itu. Sebagai seorang mahasiswa yang haus akan keilmuan geografi, ia melakukan pendekatan dengan senior Jantera untuk mengetahui bagaimana sebenarnya Jantera ini, apa yang telah dilakukan, dan apa yang akan dilakukan. Beragam penjelajahan yang telah terlaksana seperti penjelajahan ke Gunung Rinjani, dan Gua Buniayu menyadarkan seorang Lili Somantri bahwa kegiatan Jantera sangat mendukung keilmuan geografi untuk bisa dikembangkan lebih jauh lagi.
Berbekal keyakinan akan potensi tersebut, ia mengajak teman-temannya untuk bergabung ke Jantera. Pada saat itu Widha (Opik), seorang yang memiliki pengaruh di angkatan juga Nandi (sekarang dosen di Pendidikan Geografi UPI) berhasil diajaknya untuk bergabung ke Jantera. Seorang rekan lainnya yaitu Uya, berhasil dibujuk Widha untuk menggenapkan peserta pendidikan latihan dasar saat itu menjadi empat orang siswa dengan Nandi sebagai komandan siswa. Sungguh disayangkan, Uya tidak mampu menuntaskan misi pendidikan dan latihan dasar pasalnya ia jatuh pingsan ketika rock climbing berlangsung dan akhirnya terpaksa harus dipulangkan.
‘Diingatkan’atau tamparan yang istilahnya dihaluskan merupakan sebuah budaya yang diwariskan senior secara turun temurun untuk memberi ‘kenang-kenangan’ kepada setiap siswa pendidikan latihan dasar terlepas dari salah atau benar dan baik atau buruk. Hal ini mendapat tempat tersendiri dalam pandangan Lili Somantri sebagai sistem pendidikan latihan dasar yang kurang baik. Selain diingatkan long march adalah hal lainnya yang diwariskan turun temurun, tak lengkap rasanya jika pedidikan latihan dasar dilakukan tanpa long march. Lili dan kedua rekannya menempuh perjalanan jauh dari Gunung Batu hingga Cikole, kemudian dilanjut ke Cicenang (Subang) sebagai tujuan untuk praktik Ilmu Medan Peta dan Kompas (IMPK). Perjalanan masih berlanjut ke Kawah Ratu, Puncak Tangkuban Parahu hingga menyusuri Sukawana. Letih lelah perjalanan hingga larut malam diperparah dengan tersesatnya rombongan karena senior lupa jalur yang telah ditentukan sebelumnya. Perjalanan terus berlanjut dengan menyusuri pepohonan hingga kemudian diputuskan malam itu berakhir dengan istirahat, namun bukan nyamannya tenda yang didapat melainkan dinginnya pinggir jalan. Lagipula siapa peduli dengan nyaman sementara badan sudah lelah tak tertahankan, belum lagi masih ada esok dan Cisuren yang menjadi tujuan praktik kegiatan survival.
–
Ambang batas antara ada dan tiada.Kurang lebih begitu eksistensi Jantera yang pasif di lingkungan geografi jika dibandingkan dengan kondisi himpunan yang lebih aktif. Sebagaimana sebuah organisasi yang memiliki ketua atau kepala, kami di Jantera menyebutnya dengan Ketua Adat. Kepercayaan dan keyakinan yang diberikan oleh saudara-saudaranya mengantarkan Lili Somantri untuk meletakkan beban baru dipundaknya dengan menjadi Ketua Adat Jantera. Bukan hal mudah bagi Lili Somantri mengubah hal-hal yang kurang tepat dalam kacamatanya selama ia di Jantera. Sistem pendidikan dan latihan dasar sebut saja tradisi ‘mengingatkan dan diingatkan’ yang dirasa tidak logis. Sistem itu kemudian diubah, ia hanya mengizinkan danlat dan komisi disiplin untuk mengingatkan sementara akses senior untuk melakukannya dihapuskan dan diganti dengan memberikan motivasi kepada anggota muda yang sedang melaksanakan diklatsar.
“Jantera bertindak bukan menggunakan otot, melainkan menggunakan sebuah karya” T. Bachtiar
Program Pengenalan Lingkungan Geografi (PPLG) merupakan sebuah ajang memperkenalkan laboratorium alami di lingkungan geografi yang dilaksanakan oleh himpunan. Pelaksanaan kegiatan yang begitu keras menyebabkan mahasiswa Pendidikan Geografi enggan untuk masuk ke Jantera, terbayang sistem pendidikan yang lebih keras lagi di benak mahasiswa baru. Sehingga munculah suatu pemikiran dimana semua anggota Jantera tidak diperbolehkan menjadi komisi disiplin ketika pelaksanaan Program Pengenalan Lingkungan Geografi (PPLG). Kebijakan lainnya adalah keanggotaan Jantera itu akan diakui setelah anggota baru melakukan pendaftaran, tetapi komponen diklatsar harus tetap dilaksanakan. Namun hal ini mengundang banyak pertentangan dan pada akhirnya kebijakan ini dicabut.
Masalah keanggotaan berlanjut dari tahun ke tahun, menjadi masalah yang harus dipikirkan oleh setiap kadat pada kepengurusannya. Adanya kedekatan angkatan yang berbeda dua tahun, berpengaruh terhadap kualitas dan masalah keanggotaan baik di himpunan maupun di Jantera. Pada tahun 2003, pengaruh luar terhadap Jantera yang memiliki image jelek, akhirnya bisa dientaskan. Meskipun demikian pendaftar calon anggota yang masuk tidak mengalami peningkatan karena minimnya pengaruh atau ajakan dari senior.Sempat aman dari masalah keanggotan, krisis keanggotaan kembali terulang pada tahun 2012 dibuktikan dengan tidak adanya anggota baru.
Beberapa penyesuaian dan perbaikan terus dilakukan setiap generasinya sehingga semangat berproses dan berprogres di Jantera berlanjut hingga angkatan setelahnya. Angkatan Wa Ucan (Ruslan, 2005), dikenal sebagai angkatan yang sangat militan. Sistem pendidikan yang sudah ada benar-benar dilaksanakan dengan baik. Pendidikan latihan dasar disiapkan dengan sangat matang terutama dalam hal pematerian yang menghadirkan pemateri kompeten di bidangnya seperti materi SAR yang dibawakan oleh BNPB, Rock Climbing dari Skygers dan lain-lain.
Kecintaan dan keterikatan seorang Lili Somantri kepada Jantera terwujud dalam aksi dan kontribusinya memajukan Jantera bahkan setelah beberapa tahun pasca kelulusannya dari UPI. Bahkan saat menjadi dosen pun beliau masih berkontribusi dalam perjalanan Jantera salah satunya sistem penomoran anggota dan ujian sidang ketika anggota muda telah melaksanakan pendidikan lanjutan. Tidak hanya itu, Dr. Lili Somantri juga memberi kontribusi penting utamanya dalam membangun image Jantera dan sistem senioritas di lingkungan geografi. Dalam kaderisasi misalnya, sosok komisi disiplin yang dipandang keras dan tegas akan selalu terkenang dalam ingatan mahasiswa baru sebagai sosok yang menakutkan. Diperlukan upaya untuk menetralisir ingatan dan image kurang menyenangkan tersebut hingga munculah konsep Inaugurasi. Sebuah wadah keakraban antara mahasiswa baru dan juga komisi disiplin dan sebagai ruang untuk memberikan rasa terima kasih dan menjelaskan proses kaderisasi saat itu berjalan tak lain bertujuan untuk meningkatkan rasa persaudaraan antar mahasiswa baru.
Tidak perlu dipertanyakan lagi, hingga saat ini peran Dr. Lili Somantri dalam melanggengkan eksistensi Jantera memberi kontribusi lebih. Ketika beliau diamanahi menjadi ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, dengan kebijaksanaanya membimbing mahasiswa untuk dapat bergabung bersama Jantera. Demikian pula peran beliau dalam merekatkan hubungan persaudaraan diantara dua prodi angkatan 2018 yaitu Pendidikan Geografi dan Sains Informasi Geografi sebagai prodi baru. Meskipun belum berhasil menghadirkan saudara dari program studi SPIG di tahun 2018, akhirnya pada tahun 2019 terdapat dua orang mahasiswa SPIG yang bergabung ke Jantera. Sebuah cita-cita Dr. Lili Somantri juga cita-cita bersama yang berhasil diwujudkan yaitu terintegrasinya tiga program studi di lingkungan geografi mencakup Pendidikan Geografi, Survei Pemetaan Informasi Geografi dan Sains Informasi Geografi. Tentu pencapaian ini bukanlah akhir perjalanan melainkan langkah awal untuk Jantera tetap eksis di lingkungan geografi.
“Jika saya memiliki mimpi, saya akan konsisten untuk mewujudkan mimpi itu dengan aksi.”
(Lili Somantri, Jantera 2000).
Disunting oleh : Indri ‘Bakti’ Megantara dan Abdul Aziz.
0 Comments