Oleh Rayda ‘Gerung’ Syahira Ramadhanindra
1. Hari Pertama (Minggu, 19 Januari 2025)
Pada pagi hari, saya dan saudara-saudara saya berkumpul di Lobi Barat FPIPS. Sembari menunggu berlangsungnya pembukaan upacara, kami sarapan dengan berbagai makanan yang terjual di Gerlong. Saya melakukan upacara pembukaan dengan rasa hati yang agak gelisah. Perjalanan dimulai menuju Guha Pawon menggunakan angkutan umum yang berisi 11 siswa dan 2 instruktur. Sesampainya disana, kami diperintahkan melakukan pemanasan dan mengoles kaki kami menggunakan minyak komando yang telah kami buat sendiri-sendiri. Kami berjalan menuju basecamp. Sesampainya di basecamp, kami dibagi tugas untuk membangun bivak (2 bivak laki-laki dan 1 bivak Perempuan) dan memasak untuk makan siang dan malam. Setelah semuanya selesai, kami menyantap makan siang kami yang dimulai dengan nyanyian berbahasa sunda dan membaca doa. Kami me review pematerian tentang Rock Climbing dan SRT (Single Roop Technic) pada sore hari Bersama instruktur. Tidak lupa dengan ibadah kami yang selalu berjalan tiap waktu. Sehabis menyantap makan malam, kami diajak instruktur pergi ke Guha Pawon. Disana wajib memakai jas hujan agar tidak mengenai kotoran kelelawar yang jatuh dari langit guha karena kotoran itu mengandung suatu zat yang berbahaya. Didalam guha kami diinstruksikan menghadap mulut guha dan mematikan seluruh senter maupun headlamp kita bawa untuk menikmati suasana malam yang indah sambil diiringi rangkaian kalimat dari instruktur yang kami hayati dari awal sampai akhir. Lalu, kami pulang ke basecamp yang dilanjut dengan evaluasi malam dan beristirahat. Semoga doa dan harapan mau dari orang tua dan saudara kami selalu mengiringi setiap langkah kami, doaku.
2. Hari Kedua (Senin, 20 Januari 2025)
Pagi hari dimulai dengan instruksi memasak untuk makan pagi dan siang. Setelah selesai santap pagi, kami melakukan perjalanan ke Guha Pawon dengan membawa rain coat, tali webbing, makan santap siang, dll. Di Guha Pawon kami dibagi 2, ada yang melakukan rock climbing dan SRT dan juga dikelompokkan 2
orang dalam 1 kelompok, kebetulan saya sekelompok dengan saudara saya Euis. Syukurlah banyak dari kami yang berhasil melakukan RC dan SRT. Kegiatan ini berlangsung dari siang hingga petang datang. Sesampainya di basecamp, kami disuguhkan dengan pematerian mengenai hutan gunung. Selanjutnya diikuti rangkaian pada umumnya yaitu memasak makan malam, makan malam, evaluasi malam, lalu istirahat. Berbagai penyemangat antar saudara mau dalam bentuk canda tawa atau lainnya merupakan hal yang berarti bagi saya.
3. Hari Ketiga (Selasa, 21 Januari 2025)
Pagi hari dimulai seperti biasa tetapi kita packing untuk berpindah tempat dari Guha Pawon menuju Bukit Tunggul. Mobilisasi dilakukan menggunakan angkutan umum seperti di hari pertama, tetapi saya pergi untuk urut kaki saya yang mengalami cedera. Meskipun kaki saya sedang sakit tapi saya berusaha semaksimal mungkin untuk tetap melanjutkan pendakian bukit tunggul ini hingga sampai di basecamp dengan cuaca yang cukup ekstrim. Saya langsung membantu saudara saya yang sedang merakit bivak kelompok dan memasak makan malam. Selanjutnnya diikuti rangkaian pada umumnya yaitu makan malam, evaluasi malam, lalu istirahat. Hari yang sangat melelahkan tetapi hangatnya saudara menjadi sumbu api di sela dinginnya cuaca yang ada.
4. Hari Keempat (Rabu, 22 Januari 2025)
Hawa yang sangat dingin ditambah baju yang basah karena hujan tak kunjung usai. Memulai dengan memasak dan memakannya bersama-sama. Mobilisasi menuju perkebunan untuk melakukan IMPK (Ilmu Medan Peta dan Kompas). IMPK dibuat 2 orang perkelompok, saya sekelompok dengan saudaraku Rayyan. Soal yang dikerjakan merupakan soal yang mudah menurut saya, tetapi saya tetap mendapati adanya sedikit distorsi disana. Setelah IMPK, kami mempelajari tentang E-SAR. Saat kami menuju perjalanan pulang ke basecamp, terdapat suatu kelompok pendaki yang kehilangan temannya bernama ‘Luna’ dengan ciri-ciri memakai kerudung coklat, baju krem, celana hitam, dan memakai sandal. Kami pun langsung mencarinya. Korban ditemukan dalam kondisi kaki yang cedera. Saudaraku yang laki-laki membuat tandu untuk membawanya sedangkan yang
perempuan membuat gips untuk kaki korban. Kami menuju basecamp setelah di evaluasi perihal materi IMPK dan E-SAR oleh instruktur. Sesampainya di basecamp kami diperintahkan untuk membereskan seluruh barang kami. Kami kira kita akan ke puncak bukit tunggul ternyata kami diperiksa seluruh barang kami dan makanan kami disita. Malam pun tiba, kami diinstruksikan untuk mobilisasi ke
basecamp panitia. Sangat senang karena untuk makan malam kami dimasak oleh instruktur dari bahan-bahan makanan yang kami punya, sangat lezat. Selain itu, kami juga diberikan nama rimba. Akhirnya saya mendapati nama rimba saya yaitu Rayda Gerung, nama yang cukup unik. Sesampainya di basecamp, kami langsung membuat bivak solo dan beristirahat. Hari yang sangat melelahkan dan dingin.
5. Hari Kelima (Kamis, 23 Januari 2025)
Survival statispun dimulai dari hari ini. Kami membagi tugas ada yang mencari kayu bakar, pondasi bivak dapur, mencari bahan makanan, mengambil air, dll. Beruntung! Kami mendapatkan beberapa bahan makanan seperti daun pakis, jantung pisang, waluh, belalang, buah arben, dan bonteng naga. Pengalaman yang cukup unik bisa memasak dan makan makanan baru bersama saudara-saudara saya. Pada sore hari terdapat instruktur yang mengajari bagaimana cara membuat jerat untuk hewan. Survival ini bisa terbilang berjalan lancar meskipun hujan yang membuat semua baju kami basah dan sangat kedinginan. Saya bersama saudara saudara saya selalu berkumpul untuk saling menghangatkan diri satu sama lain, hal kecil tapi sangat bermakna.
6. Hari Keenam (Jum’at, 24 Januari 2025)
Hari kedua survival statis ini dimulai dengan hal yang sama seperti hari sebelumnya, tetapi terdapat perbedaan dimana saudara-saudara saya yang lain ada yang turun ke perkebunan. Katanya mereka banyak berbincang dengan para petani dan syukurlah kami diberikan banyak sekali bahan makanan seperti kentang, waluh, bonteng naga, kol ungu, strawberry, dan daun pakis. Memang hebat sekali saudaraku ini. Tidak lupa dengan senam pagi yang selalu kita lakukan di tiap harinya agar badan kami tetap bugar dan hangat. Pagi menjelang siang adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu karena kami dapat menjemur pakaian maupun barang
kami yang basah akibat hujan yang tiada hentinya. Di sore hari seperti biasa selalu ada instruktur yang mendatangin basecamp kami. Mereka menceritakan tentang jantera, apapun itu. Hal yang membuat saya bisa lebih menghargai dan membanggakan diri bisa masuk dari bagian jantera atas segala cerita maupun pengalaman dari seluruh instruktur yang ada, terima kasih banyak! Malam pun tiba, kami diinstruksikan untuk beristirahat.
7. Hari Ketujuh (Sabtu, 25 Januari 2025)
Sebenarnya saya tidak tau pasti atas waktu dimana saya dibangunkan oleh instruktur dan diinstruksikan menuju ke titik kumpul. Sembari membawa matras dan sleeping bag, saya menuju ke titik kumpul seorang diri dengan senter yang berada di tangan kiri saya. Ditaruhlah semua barang yang saya bawa, lalu saya di evaluasi dengan instruktur. Mengenai orang tua sudah jelas pastinya saya tidak dapat menahan genangan air mata yang sudah menumpuk. Menghayati patah sepatah kalimat yang keluar dari mulut instruktur. Saya diperintahkan menuju basecamp instruktur, terkejut melihat banyak saudaraku yang sudah tertidur pulas bersama-sama. Saya bersama saudara saya kurnia dipanggil menemui Pak Lili, kami berbincang hangat selayaknya seperti saudara sendiri. Setelah itu, saya mengikuti saudara saya yang lain untuk tidur bersama.
Pagi hari dimulai dengan membereskan seluruh barang kami dan membawa satu orang 2 buah waluh untuk bekal saat survival dinamis. Diawali senam dan diberikan satu bungkus rambut nenek yang dimakan bersama-sama untuk memulai hari agar lebih bugar. Perjalanan dimulai dari atas bukit hingga ke daerah warga. Lalu, kami menaiki angkutan umum dan diturunkan di Taman Hutan Raya Ir. Juanda. Perjalanan kami menuju UPI via punclut membawa carrier yang sangat berat adalah pengalaman yang sangat melelahkan dan seru karena di setiap perjalanan, kami selalu saling menyemangati saudara kami satu sama lain dan bernyanyi. Langkah demi langkah kami lalui mau apapun itu rintangannya saudara saya adalah solusi untuknya. Ketika kami sudah sampai UPI, kami sangat senang dan bersyukur karena bisa melewati 7 hari ini dimulai bersama 21 saudara saya dan diakhir dengan total saudara saya yang sama. Upacara penutupan tepat di depan Gedung Isola dimulai. Sejujurnya saya sedih karena orang tua saya tidak datang
pada saat pelantikan anggota muda jantera, tetapi semua saudara dan instruktur selalu membersamai saya. Acara terakhir berada di Keong Mas, acara yang sangat menyenangkan. Selain mengisi perut yang sangat lapar, acara ini mengisi otak saya untuk menambah memori dan hormon dopamin saya. Maksudnya, kebahagiaan saya bertambah jika semua saudara dan instruktur bisa merasakan suasana yang hangat penuh kebahagiaan ini.
0 Comments