Oleh Rahma “Sebat” Firaqie Karimah
Hai namaku Rahma “ Sebat” Firaqie Karimah, akan ku ceritakan perjalanan yang telah aku lewati selama 7 hari 6 malam bersama 12 saudaraku, ada banyak cerita yang sedih banyak juga yang berbahagia, akan kuceritakan dalam tulisan ini. Inilah Ceritaku, Mari Kita Mulai…
Minggu 18 Januari 2026 perjalananku dimulai, dibersamai hujan yang bergemuruh sejak dini hari, kaki ku tetap melangkah berani untuk memulai perjalanan yang tidak pernah kusangka. Tujuan pertama kami adalah Gua Pawon, masih dengan rintik hujan yang menemani langkah kaki kami.
Sesampainya dimana bivak akan didirikan hujan pun berhenti, kami diberi waktu untuk mendirikan dua bivak untuk tidur, satu bivak dapur dan memasak makan siang dan malam. Hari pertama pendirian bivak kami sangat kalang kabut, dimana sudah waktunya makan siang dan
mata acara selanjutnya tetapi bivak yang kami dirikan baru satu, untungnya makan siang sudah jadi namun untuk makan malam masih belum selesai semua dikerjakan dengan segala kerusuhan kami yang pertama kali ini.
Gelap datang dengan begitu cepat, setelah makan malam kami memasuki Gua Pawon tujuan kami mendatangi kawasan ini.Baru berjalan beberapa langkah di depan gua aroma menyengat menusuk indra penciuman kami, sejujurnya bau itu sangat memualkan dan untungnya aku masih bisa menahannya.
Kami dibawa masuk terus ke dalam gua sampai ke ujung gua yang terbuka yang dinamai Jendela Alam, kami mematikan alat penerangan kami dan menyalakan lilin yang telah kami bawa. Dalam kesunyian dan hanya lilin yang menjadi penerangan, kami menulis apa yang telah kami lalui dalam hari itu, kerusuhan pagi tadi menjahit nama untuk baju kami, kalang kabut kami saat memasak dan memasang bivak yang masih belum selesai hingga malam hari ini.
Selesai mencatat kami matikan lilin dan melihat kedepan, jendela alam yang terbuka memperlihatkan bagaimana kerlap-kerlipnya suasana perkotaan berbanding terbalik dengan keadaan di gua, dimana kegelapan abadi yang menemani kami melewati malam ini tanpa alat canggih yang selalu menemani kami seperti malam-malam biasanya.
Ditemani dinginnya angin yang menusuk kedalam relung hati dan puisi-puisi yang dibacakan oleh para instruktur membuatku tersadar. Sebenarnya apa yang tujuanku mengikuti ini, apa
hanya untuk memuaskan isi hati yang selama ini selalu meminta, atau menunjukan bahwasanya aku tidak selalu seperti yang mereka pikirkan. Sejujurnya aku meragukan diriku apakah aku bisa melewati ini semua?, tetapi aku disadarkan, aku tidak sendiri melewati perjalanan ini. Saudaraku
akan selalu ada membersamai disetiap langkah dan aku harus selalu menjaga mereka agar tidak kehilangan untuk kesekian kalinya.
Senin 19 Januari 2026, kami terbangun sebelum fajar menyapa hanya dengan tidur sekitar 90 menit, kami langsung bergegas mempersiapkan diri untuk menjalani hari, yang tidak pernah kami ketahui apa yang akan kami jalani.
Kami berjalan kembali menuju Gua Pawon yang ternyata dilihat di pagi hari begitu terjal dan licin, aku selalu mengawasi saudaraku Nahda kareda dia kerapkali terpeleset pada setiap pijakan saat kami menanjak, entah karena sepatunya atau dia yang senang mempermainkan pijakannya.
Hari ini kami melakukan Single Rope Technique dalam materi Caving dan materi Rock Climbing. Kami dibagi menjadi dua tim, aku mendapatkan bagian SRT pertama baru RC. Aku menjadi orang ketiga yang mencoba SRT,aku membantu saudaraku yang lain sambil menunggu giliran. Menunggu saudaraku yang sedang mencoba turun, jantungku berdegup dengan kencang, karena ini kali pertama ku mencoba hal ini, apakah aku bisa mencapai titik itu?.Awal mencoba aku lupa untuk memasang Chest Ascender yang membuat badanku tidak bisa naik keatas, 3 menit waktuku terbuang sia-sia karena kelalaianku, aku kembali bertanya apakah aku bisa? di awal saja sudah salah.
Sudah setengah jalan, energiku terus terkuras aku bertanya-tanya kapan ini sampainya karena aku merasa sudah banyak energiku keluar namun aku belum sampai juga. Setelah terus berjuang akhirnya aku sampai pada titik itu dan berteriak “JANTERA JANTERA JANTERA” perasaan senang dan lega menyelimuti hatiku, aku tidak menyangka dapat mencapai titik ini.
Namun ini belum selesai, aku masih harus turun tidak mungkinkan akan selalu berada diatas sini.
Memasang alat turun berjalan lancar walau saat memasang Auto Stop aku mengulang hingga
tiga kali karena tidak percaya diri dengan apa yang aku lakukan, karena instruktur diatas selalu berkata “Sudah benar belum itu pasangnya, tanya saudaranya biar pasti” dan ternyata aku sudah benar namun karena kata kata itu membuat aku mengulang terus terus dan aku mendengar salah satu dari mereka berkata “naha diulang deui?” yang bisa aku asumsikan yang aku lakukan sedari tadi sudah benar tidak perlu aku ulang.
Setelah semua terpasang aku melepas alat pengaman untuk naik, aku kesulitan yang membuat aku selalu lepas pasang Hand Ascender untuk membantu melepas pengaman lainnya dan yang terakhir kubuka adalah Hand Ascender. Aku panik dan bingung karena waktu semakin sedikit dan alat ini sangat sulit dibuka, lalu Kadat Dhafin dari atas melihatku dan bertanya “Siswa
Rahma mau melepas apa?”, aku jawab “Hand Ascender instruktur”, Kadat berkata “ Kalau buka itu harus bagaimana?”, aku berpikir dan menjawab “ alatnya jangan di kasih bebas” kataku, dari situ menyadari sedari tadi aku menambahkan beban pada alat itu yang membuat dia susah untuk
dilepas dari tali. Setelah menyadari kebodohan itu aku melepasnya tanpa menambahkan beban dan ya dia terlepas dengan mudah.
Lalu aku turun dengan aman dan selamat, walau saat di pertengahan menuju bawah aku merasa tanganku seperti terbakar, karena menggunakan alat turun membuat tangan langsung bersentuhan dengan tali dan itu sangat amat panas. Mungkin jika Kadat Dhafin tidak datang dan menanyakan apa yang aku lakukan, aku pasti masih terjebak diatas sana dan turun dengan cara di rescue, Terima Kasih Kadat Dhafin.
Setelah turun, aku dan saudaraku Sausan lanjut melakukan RC, ditempat RC hanya ada kami
berdua karena kelompok bagian awal RC sudah selesai dan bergantian dengan kami dan mereka ke SRT. Setelah mengambil barang barang, aku berdebat dengan saudaraku Sausan tentang siapa yang akan naik duluan. Aku sudah bilang bahwasannya aku masih lelah karena baru benar-benar turun jadi aku mau kedua saja. Namun dia tidak mau karena dia belum pernah melakukan Panjat Tebing dan kami berdebat akhirnya aku mengalah, dan aku yang menjadi pertama naik.
Awal manjat aku masih kuat hingga seperempat tebing saat menuju ke tengah badanku sudah mulai lelah dan bergetar karena kegiatan hari ini sangat amat menguras tenagaku. Namun aku
terus berusaha karena saudaraku dan para instruktur selalu memberi semangat dan arahan. Aku berkali-kali terjatuh karena tanganku yang sudah tidak kuat menahan beban. Aku meminta istirahat sebentar, aku mencoba lagi dan terjatuh lagi untuk kesekian kalinya.
Waktu tinggal lima menit lagi, aku masih mencoba dan instruktur Najib berkata “Ambil pegangan yang putih putih udah enak tuh banyak yang pakai” aku mencoba dan ya tanganku sudah sangat bergetar, dia bilang lagi “cari aja pegangan yang enak cuma dua jari atau tiga jari juga gapapa”. Aku mencoba merasa dan dalam hatiku berkata ‘mana tidak ada pegangan yang
enak sakit semua menurutku’, dan aku tetap memaksakan diri untuk mencoba walau berakhir aku tidak sampai top.
Aku merasa kecewa dan bertanya dengan diriku sendiri, ‘ada apa?kenapa aku bisa tidak
sampai??? Padahal saat binjas di gunung batu aku bisa’, dan setelah turun pun dalam pikiranku aku masih ingin mencoba lagi karena aku penasaran seharusnya langkah yang aku ambil apa,
kenapa aku tidak bisa naik dan terjebak di tengah tebing itu. Hadiah dari melakukan panjat tebing adalah jari telunjuk ku yang pinggirnya bolong karena mencari pegangan enak yang hanya ilusi itu dan rasa penasaran yang masih menyelimuti, seharusnya langkah apa yang aku ambil agar sampai.
Selasa 20 Januari 2026, terbangun dengan rasa lebih nyaman karena tertidur lebih lama dari hari kemarin, kami langsung masak dan packing untuk berpindah menuju tempat yang lebih jauh lagi
dari peradaban. Perjalanan memakan waktu cukup lama, setelah menggunakan angkutan umum kami masih harus berjalan kaki untuk mencapai tempat tujuan.
Perjalanan melewati Curug Mandala, kami singgah sebentar untuk mengisi air, memakan camilan yang kami bawa dan reward dari hasil kemarin. Dalam perjalanan banyak sekali yang terpeleset dan terjatuh untungnya kami saling menjaga sehingga tidak ada yang cedera parah.
Dalam perjalanan memasuki kawasan Hutan Gunung Panaruban menurutku sangat menyenangkan, karena sangat jarang aku melewati hutan yang sangat rimbun dan trek jalan yang tidak membosankan kami melewati pohon-pohon yang sudah membentuk menjadi lorong, banyak juga pohon yang tumbang dan kami melewati sungai untuk mencapai tujuan.
Setelah sampai kami langsung membagi tugas siapa yang memasak, mencari pasak dan juga menjahit ponco. Hari ini pembagian tugas lebih terorganisir dari hari-hari sebelumnya yang kacau. Saat sedang asik memasak dan memasang bivak tanpa aba-aba hujan deras datang mengguyur untungnya makanan sudah siap namun masalah besar adalah bivak baru selesai satu dan yang dapur baru setengah jadi. Padahal kami sudah melakukan dengan sangat cepat tapi yang harus kami sadari ini di hutan yang cuacanya susah untuk diprediksi jadi kami harus siap di segala kondisi.
Sore hari datang, saat sedang membetulkan bivak sayup-sayup suara instruktur terdengar memanggil kami, kami panik dan buru-buru mendatangi sungai yang membatasi antara tempat kami dan para instruktur. Sungai meluap dan arusnya sangat deras kami melihat instruktur vena mencoba menyeberangi sungai kami bertanya “Ada apa instruktur?”, instruktur juga bertanya “kalian gapapa?” dan kami merasa baik baik saja, kami berasumsi penyebab instruktur memanggil adalah suara burung yang mirip peluit sos yang membuat mereka sangka adalah kami yang memerlukan bantuan.
Air sungai yang terus meluap membuat akses antara kami dan para instruktur sulit, sehingga Kadat Dhafin pun memasang webbing sebagai pegangan kami jika akan melewati sungai, walaupun kami tidak pernah melewati sungai itu tanpa perintah ataupun keadaan darurat.
Sejujurnya aku merasa sangat frustasi dengan hujan yang tidak berhenti dan kami masih harus mendirikan bivak satu lagi, aku mendapat bagian mencari daun untuk alas agar matras kami tidak terlalu kotor nantinya.
Malam begitu cepat datang, hujanpun tidak berhenti mengguyur kami membuat saudaraku Sausan dan saudaraku Nahda mulai kedinginan sehingga instruksi dari instruktur vena untuk kita menyalakan api dalam bivak untuk mereka agar tidak semakin kedinginan. Kami pun bersama berkumpul dalam bivak dan membuat minuman hangat agar badan kami selalu hangat.
Rabu 21 Januari 2026, kami bangun lebih siang dari hari-hari kemarin langsung memasak seperti biasa dan dansis kami yaitu saudaraku Faraz memasakan kami nutrijel yang selalu menjadi makanan pancingan agar kami selalu semangat. Padahal kami mau memasak nutrijel saat ulang tahun saudaraku Faidra pada tanggal 19 kemarin sebagai hadiah dan perayaan kecil-kecilan dari kami namun, baru terlaksana hari ini.
Hari ini kami berjalan menuju kebun teh untuk melakukan Ilmu Medan Peta dan Kompas, kami diberi instruksi untuk melakukan reseksi dengan batas waktu yang mereka berikan. Awal melihat aku kebingungan bagaimana cara mencari objeknya karena sekitar kami hanya ada gunung dan kebun teh. Aku membuang banyak waktu hanya untuk menentukan objek yang harus aku pilih dan bertanya-tanya kepada saudaraku Azri dan saudaraku Jajang.
Waktu berlalu begitu cepat aku baru saja mendapatkan persilangan garis dimana kita berdiri namun waktu sudah habis membuat aku belum menghitung di koordinat berapa aku berdiri.
Karena banyak yang belum memindahkan jawaban dari buku ke kertas kami diberi waktu untuk mencatat ulang, lalu dalam waktu sedikit itu aku mencoba menghitung. Aku kecewa kembali dengan diriku kenapa tiba-tiba aku bisa lupa, padahal di kelas kemarin bisa saja dan tidak mengingat jika tidak ada objek, kami bisa melihat ke tempat tertinggi, aku melupakan hal krusial itu.
Setelah kembali ke bivak kami diberi instruksi untuk packing kembali, saat packing hampir selesai instruktur Nara dan KJ memberikan informasi bahwa ada pendaki yang hilang kami
diminta membawa webbing dan golok untuk membantu dalam pencarian. Aku merasa ada dalam adegan film kami dibagi menjadi dua tim dan mencari pendaki yang bernama ‘SINTA’.
Kami meneriaki terus nama tersebut sampai salah satu dari kami menemukan dia diantara pohon-pohon pisang, dengan luka yang ada di kaki dan bahu kami dibagi ada yang membantu memberikan pertolongan pertama, membuat tandu dan mencari bahan untuk tandu. Selesai membuat tandu kami membawa dia ke tempat aman dan selanjutnya dibawa oleh instruktur.
Setelah membantu kami kembali packing dan berjalan menuju tempat yang tidak kami ketahui, kami disambut oleh para instruktur dan kami melakukan pengecekan barang ulang. Disana bahan makanan kami diambil semua, seluruhnya hanya hasil reward kami yang tidak diambil, dan kami diberi kesempatan untuk memilih bahan makan yang bisa kami ambil untuk bertahan hidup dihari esok. Jadi kami mengambil tiga mie instan, tiga kentang, dan minyak untuk bahan makan kami 3 hari kedepan.
Disitu saat semua bahan makanan diambil aku menyadari kami akan memasuki materi survival, dimana bertahan hidup hanya dengan apa yang kita punya sisanya mencari di alam. Materi ini
adalah ketakutan terbesarku karena aku tidak percaya diri bisa membangun bivak sendiri. Tapi ini adalah tantangan yang memang perlu kita lalui “WELCOME TO THE JUNGLE”
Setelah packing kembali kami berjalan dan ditunjukkan oleh Kadat Dhafin dimana tempat kami masing-masing akan bermalam untuk tiga malam kedepan. Aku mendapatkan tempat yang sedikit miring namun nyaman karena di antara pohon membuat aku mudah untuk memasang bivak.
Setelah mengeluarkan barang yang diperlukan aku mulai membuat bivak dengan berbekal ingatan meteri dari instruktur dan video youtube yang pernah ku tonton. Saat kebingungan aku langsung berteriak memanggil saudaraku dan mereka selalu menjawab apapun yang aku tanyakan. Aku bersyukur bisa menjalani ini semua dengan mereka.
Bivak ku telah berdiri tegak, walau bentuknya tidak sebagus itu setidaknya masih bisa untuk tempat aku bermalam. Saat aku sudah tertidur tiba-tiba kami dipanggil dan disuruh membawa alat makan kami, setelah berkumpul kami berjalan melewati sungai dan itu pertama kali kami melihat tempat para instruktur.
Sesampainya disana kami langsung duduk dan sudah disediakan makanan yang sudah dibuatkan oleh para instruktur, kami makan dengan sangat lahap ada pudding, bubur kacang hijau, makanan berat dan nutrisari. Selesainya makan kami diberitahukan nama rimba kami yang sudah dibuatkan oleh para instruktur.
Kami disebutkan nama rimba sesuai urutan yang pertama adalah saudaraku Faraz yaitu Plenger, lalu saudaraku Gea Taban, saudaraku Moses Abong, saudaraku Safa Tapir, saudaraku Velsya Susur, saudaraku Faidra Kutip, saudaraku Sausan Jarjit, saudaraku Meisya Pulu, saudaraku Farhan Misro, saudaraku Nahda Sendu, saudaraku Jajang Bowo, dan yang terakhir Saudaraku Azri yaitu Selir.
Nama rimbaku adalah SEBAT singkatan dari Sesuai Habitat, mungkin para instruktur melihatku selalu merasa tenang saja walau kami melewati rintangan dan medan yang berbeda-beda. Atau mungkin aku terlalu menikmati setiap hal yang aku lewati karena aku merasa pasti semua ini pasti akan bisa terlewati.
Selesainya kami makan aku kira kami akan kembali ke bivak namun ternyata ada rangkaian selanjutnya yaitu evaluasi. Komandan siswa kami yaitu Faraz akan diturunkan dan kami satu persatu ditanya apakah kami siap menjadi Dansis. Aku menjawab tidak karena tidak merasa percaya diri dapat memimpin saudaraku dengan baik. Aku ditanyakan berkali-kali oleh para
instruktur. Instruktur Kiya datang menghampiriku hingga 3 kali menanyakan apakah aku siap yang terakhir dia datang bersama instruktur Arrayan dan aku menjawab aku siap menjadi dansis.
Semua saudaraku menjawab sudah siap menjadi Dansis yang awalnya tidak siap. Instruktur mengumumkan bahwa dansis akan diganti dan penggantinya adalah “Siswa Rahma yang akan menjadi Dansis baru” kata-kata itu tidak pernah kusangka akan terucap. Malam itu tidak akan pernah aku lupakan.
Kamis 22 Januari 2026, hari pertama kami melakukan survival. Kami berkumpul dan saudaraku Azri, Jajang dan Faidra yang sudah lapar mereka mencari udang karena menemukan jaring di tengah tempat kami berkumpul. Jaring itu menurut hadiah dari tuhan karena jika tidak ada mungkin kami akan kesulitan mencari udang.
Instruktur datang membantu kami mencari makan, kami dibagi tim ada yang memasak, membuat bivak dapur dan mencari makan. Aku menjadi tim mencari makan, kami menemukan rebung, menebang pohon pisang untuk mengambil pelepahnya dan terakhir ke sungai mencari udang kembali.
Tim memasak sudah setengah jalan, lalu kami membagi dua untuk makan siang dan malam. Makanan sudah jadi kami disuapi satu persatu oleh saudaraku Velsya agar sama rata. Itu pertama kalinya aku makan rebung dan rasanya sungguh pahit mungkin karena kami tidak tau cara memasak yang benar. Ada beberapa saudaraku yang hampir memuntahkannya namun saudaraku Faidra pasti langsung berbicara “Jangan dibuang telen aja, yang penting perut terisi jangan buang-buang makanan”.
Malam harinya saat kami akan kembali ke bivak instruktur datang memberi kami bubur bayi, dan itu sangat membuatku kenyang. Namun saudaraku Moses dan Gea di rescue karena mereka kedinginan. Saat malam hari kami membawa kembali mereka ke bivak dan mereka tidak tidur di bivaknya sendiri saudaraku Gea bersama saudaraku sausan dan saudaraku Moses bersama saudaraku Farhan agar mereka tidak kedinginan kembali.
Jumat 23 Januari 2026, hujan mengguyur kami sedari dini hari. Saat pagi hari kami diberi teh hangat dan cemilan oleh instruktur senior, kami sangat bersyukur mendapatkan itu, karena itu sangat membantu kami. Kami semua sudah sangat kedinginan karena terguyur hujan sedari kemarin akhirnya aku meminta kami semua berkumpul lalu kami berpelukan dan bernyanyi. Cara itu membantu kami dalam menghangatkan tubuh sambil bernyanyi bersama-sama dan itu memori indah untukku.
Badan kami sudah menghangat lalu kami melanjutkan bivak dapur kami yang baru jadi setengah.
Lalu saudaraku azri mencari udang kembali sendiri, dan tim dapur memasak indomie yang
tersisa 2 bungkus. Setelah udang datang langsung dimasak dan kami memasak dengan air yang banyak agar kuahnya bisa kami seruput untuk menghangatkan badan kami.
Menurutku indomie itu menjadi penyelamat kami dan itu indomie paling enak karena dimakan saat kami sangat kedinginan dan kelaparan. Kami makan masih sama disuapi oleh saudaraku
velsya agar terbagi dengan rata.
Sore hari kami setelah makan kami diajarkan membuat jerat ikan oleh instruktur Morgan dan memasangnya di sungai yang deras dan instruktur Morgan hampir terpeleset saat melewatinya. Jerat ikan sudah di pasang lalu kami diajarkan membuat jerat ayam, kami dibagi tim ada yg membuat lubang, membuat pagarnya dan mencari cacing. Kami membuat di dua tempat ada di atas bivak kami dan satu lagi dibawah melewati sungai sebrang bivak kami.
Malam hari saat kami sedang makan udang yang tersisa bersama hujan yang masih mengguyur dari dini hari dan yang lain sudah kedinginan memasuki bivaknya masing-masing. Lalu instruktur Zaidan dan Kadat Dhafin datang mereka bertanya “apakah jerat yang kami pasang sudah di cek?”. Kami menjawab belum lalu instruktur menyuruh kami cek dan saudaraku Azri mencek jerat yang ada diatas dan hasilnya kosong.
Lalu saudaraku Azri mencek yang jerat dibawah bersama instruktur, saat kembali dia membawa ayam sambil berteriak “Saudaraku kita dapat ayammmmm”dan kami sangat tidak menyangka akan mendapatkan ayam itu. Kami memberitahu ke semua saudara yang berada dibivak dan kami berkumpul merayakan telat mendapatkan ayam itu. Kami langsung menyembelih dan membersihkan lalu menyimpannya untuk dimasak esok pagi.
Saat malam hari cuaca sangat buruk, hujan badai menerpa kami hingga membuat semua bivak kami bocor dan kami kebasahan seperti tidur dalam bathtub. Para instruktur mengecek kami
hingga lima kali karena hujan sangat deras membuat kami kedinginan. Saudara kami empat orang hingga di rescue yaitu saudaraku Farhan, Sausan, Gea dan Safa karena hujan badai yang sangat deras dan imunitas kami yang menurun membuat kami lebih mudah kedinginan.
Malam itu aku tidak bisa tidur dengan tenang seperti malam-malam sebelumnya, aku terus terbangun dan menggigil lalu tertidur, aku selalu merasa seperti banyak orang yang selalu berlalu lalang di sekeliling bivak ku. Sebenarnya aku selalu merasa banyak yang berlalu-lalang di hutan ini sejak awal aku datang. Namun aku selalu berpikir positif mungkin aku saja yang sudah tidak fokus karena kedinginan dan membuat aku berilusi.
Sabtu 24 Januari 2026, aku dibangunkan lebih pagi dari dua hari sebelumnya. Kami langsung berkumpul di bivak dapur untuk melanjutkan memasak ayam yang tadi malam sudah kami sembelih. Karena waktunya yang mepet jadi ada yang memasak di awal yaitu saudaraku velsya dan jajang yang membatu, sisanya kami membongkar bivak dan packing untuk pulang. Setelah selesai packing kami bergantian dengan yang memasak mereka melakukan packing. Semua selesai packing dan kami memakan ayam yang telah kami masak.
Rasa ayam itu walau hanya dibumbui dengan garam direbus lalu digoreng namun sangat enak dan tidak berbau amis. Aku tidak menyangka ayam itu terasa enak, karena aku kira itu akan bau amis karena kami tidak punya rempah-rempah untuk menghilangkan bau amisnya.
Selesainya makan kami berjalan keluar dari hutan dengan masih hujan rintik mengguyur. Kami menaiki angkutan umum lalu berhenti di depan toko buah daerah Lembang. Setelah turun saudaraku Safa bertanya kepada ibu penjual ini daerah mana, karena dia bukan orang Bandung jadi tidak terlalu tau. Kami membuka jas hujan kami karena hujan telah reda, saat akan berangkat tiba-tiba ibu penjual buah memberikan kami buah pisang tiga sisir, mungkin dia kasihan dengan kami karena kami benar-benar basah kuyup dan kedinginan
Perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki, kami singgah di sebuah masjid daerah menuju Ciumbuleuit sambil menunggu kami memakan pisang dari ibu penjual dan keripik pisang yang diberikan oleh senior. Perjalanan dilanjutkan kembali, kaki kami sudah mulai sakit karena lecet, ada yang mata ikan hingga kutu air.
Kami banyak melakukan istirahat karena keadaan kaki kami yang sudah tidak dalam keadaan baik. Aku mengganti kaos kaki ku di tengah perjalanan karena aku sangat tidak nyaman dengan kaos kaki ku yang basah. Perjalanan terus kami lanjutkan rasa lelah sudah sangat mendera tetapi dukungan semangat dari para saudaraku dan para instruktur membuat kami terus melangkah menuju tujuan.
Langkah demi langkah terus kami tapaki meski dengan pelan dan terseret. Tak terasa tujuan sudah ada didepan mata membuat rasa semangat yang tadinya mulai pudar kembali membuncah. Sesampainya kami disana semua orang yang kami rindukan menyambut kami dengan meriah,
suara tepuk tangan dan kembang api menyambut kami.
Rasa bahagia, bangga dan tidak percaya ternyata kami bisa melampaui batas diri memenuhi hati kami karena dapat menyelesaikan rangkaian ini bersama. Bukan mudah menyelesaikan perjalanan ini sering kali terbesit rasa ingin menyerah tetapi alasan memulai ini dan dukungan semangat dari para saudaraku membuat aku terus melangkah.
Mungkin tidak banyak yang dapat diceritakan dalam catatan ini. Namun perjalanan ini tidak mungkin akan aku lupakan. Banyak hal baru, pelajaran baru, dan kenangan baru yang terukir. Sampai disini ceritaku Terima Kasih…
0 Comments