Oleh Muhammad “Selir” Azri
Pagi di hari minggu 18 Januari 2026, dingin menyelimuti Bumi Siliwangi disertai dengan rintik hujan yang tidak kian berhenti menurunkan airnya dari langit semenjak malam yang telah berlalu di hari kemarin, manusia layaknya akan tertidur pulas mendengar dentuman demi dentuman dari rintik hujan yang begitu syahdu, begitu lembut di telinga untuk didengar, menjadi sajian hangat untuk membawakan sebuah mimpi yang indah. Berbeda sisi dengan diriku yang dipenuhi ragu oleh kondisi, “akankah ini berlangsung seperti hari kemarin?” ragu menyerbu isi pikiranku, bergumam pilihan antara melawan atau gagal tanpa berusaha, waktu terus mendesakku untuk mengambil keputusan sesegera mungkin, hingga akhirnya bulat keputusanku, “persetan bajuku basah” mantapku, aku beranjak dari kamar kos kecilku, menuju tempat akan dimulainya pendidikan yang sudah lama aku nantikan, rangkaian pendidikan yang kelak akan menjadi landasan dan gerbang menuju pribadi yang mencintai alam, pendidikan latihan dasar Jantera, operasi lapangan.
Dengan badan yang sudah terlanjur basah dan dingin, aku tiba pada tempat berkumpulnya para prajurit muda yang akrab dengan panggilan “Saudaraku”. Bukan sekadar panggilan biasa, nyatanya panggilan tersebut yang kelak akan menjadi ruang hangat di tengah kerumunan ragu dalam diri. Pada momen itu, kami berkumpul dan berbagi keluh kesah hangat, menjadi pembuka yang sudah biasa dilakukan setiap kali kami akan melaksanakan kegiatan demi kegiatan, sungguh aku menyukai hal itu. Ditengah perbincangan itu, datang dua instruktur kami, memerintahkan kami untuk segera bersiap untuk melaksanakan rangkaian pertama operasi lapangan ini, upacara pelepasan siswa. Tibalah kami pada lokasi pelaksanaan dan rangkaian apel tersebut dilaksanakan tidak lama setelah kami tiba, rangkaian demi rangkaian kami lalui dan tidak terasa, kami sudah diresmikan melaksanakan operasi lapangan Jantera ini, suatu kemegahan dalam hati yang tidak bisa diuraikan dalam bentuk media apapun bahwasanya aku telah berada pada langkah terakhir dalam mendapatkan nama anggota muda jantera itu.
Perjalanan dimulai sekitar jam 8 pagi dengan menyewa transportasi umum atau kerap dikenal dengan angkutan kota dengan carrier berukuran 60 liter yang bertumpukan didalamnya, memang sempit bagi siapapun yang menjalani perjalanan itu, namun desah angin kian memberikan rasa tenang dan nyaman selama perjalanan. Angin menerpa cukup kencang pada setiap wajah kami, membuat rasa kantuk yang tak tertahan lagi, kami tertidur selama sisa perjalanan. Aku terbangun dari tidurku dan menyadari bahwa kendaraan kami telah berhenti, “ah, sudah sampai”, ucap salah satu saudaraku.
Tak terasa kami telah tiba pada Lokasi pertama kami dan menuju Long March pertama dari rangkaian operasi lapangan ini, kami berjalan menempuh ratusan meter untuk mencapai tempat kami bermalam, sebelum mencapai tujuan itu, kami disuguhi pemandangan alam karst yang kian merusak akibat pertambangan, penjelasan disampaikan oleh instruktur kami mengenai bentang alam itu sendiri dan juga potensi kerusakan akibat dari tambang yang terjadi pada bentang lahan itu, selain itupun syahdu dari persawahan ikut menyejukan pemandangan dengan rintik gerimis yang menambahkan kesyahduan perjalanan ini. Waktu telah berlalu, sampailah kita pada basecamp tempat kita bermalam, terdengar suara perintah turun untuk membangun bivak dan dapur serta makan siang untuk kita santap, secara bergegas aku dan saudara-saudaraku mengambil peralatan yang dibutuhkan dan sesegera mungkin melaksanakan perintah dari instruktur.
Waktu telah berlalu sekitar satu setengah jam semenjak kami memulai membangun bivak itu menggunakan logistik yang sudah kita bawa, sebelum makan kita perlu menyanyikan suatu lagu yang memang sudah secara tradisinya dinyanyikan.
Setelah makan siang yang suram itu telah berakhir, kami melanjutkan membuat bivak dan juga dapur yang sebelumnya masih belum selesai. Senja telah muncul merona di hadapan wajah kami, menunjukan hari telah sore, bivak dan dapur kami belum kunjung selesai, dan disela – sela pembuatan bivak dan dapur, kami diminta berkumpul dan mengambil alat tulis untuk menerima materi rock climbing dan Single Rope Technique mengenai peralatan yang digunakan serta teknis lapangannya seperti apa dan aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar selama pelaksanaan. Setelah pematerian selesai, kami melanjutkan Kembali bivak dan dapur kami hingga waktu malam tiba, saat malam telah tiba, kami mendapat perintah Kembali untuk menggunakan jas hujan dan juga alat tulis beserta lilin dan korek api, karena agenda yang akan kita lalui adalah menelusuri gua.
Sebelum melakukan penelusuran gua, kami melaksanakan makan malam terlebih dahulu, dan seperti biasa, kami dikenai seri. Setelah makan malam itu, kami melakukan ekspedisi gua pawon, alangkah kaget nya kami mencium aroma dari gua tersebut, cukup menyengat dan terkadang membuat tidak nyaman, karena kami menelusuri pada waktu malam, maka para kelelawar yang ada pada gua tersebut tentunya sedang aktif-aktifnya dan kami perlu berhati- hati akan hal itu, banyak sekali objek-objek yang dapat dikaji, hingga pada akhir perjalanan, kami berhenti dan berhdapan pada jendela gua yang cukup besar yang berisikan pemandangan luar, sungguh indah dan syahdu malam itu, tidak ada suara lain selain alam yang mengeluarkan suaranya.
Terdengar dari belakang, dibacakanlah suatu puisi pada kami tentang tujuan sejati kami di Jantera, membuat kami merenung akan posisi kami berada di jantera untuk apa. Emosi bercampur aduk pada malam itu, antara bahagia, menyesal, sedih, bangga, takut, ragu, dan lain-lain. Setelah pusisi dilantunkan, terdengar pula suara yang sudah tidak asing bagiku, suara ketua adat kami, kadat menyampaikan pesan-pesan dan harapan pada kami selaku siswa yang kelak yang akan menjadi seorang anggota muda dari kepencintaanalaman ini dan menjadi seorang adik – adik para senior kami. Setelah melalui dinamika emosi yang begitu beragam, kami Kembali pada tempat peristirahatan kami, dan melanjutkan pembuatan bivak dan dapur kami hingga larut malam.
Senin 19 Januari 2026, kami memulai hari dengan shalat tahajud dan membuat sarapan dan makan siang di jam 3 pagi, matahari telah terbit, menyinari bivak dan dapur kami yang belum sempurna, melakukan rutinitas yang sama seperti sebelumnya. Setelah itu kami diarahkan untuk berkumpul dan membawa tali webbing kami untuk bersiap melaksanakan rock climbing dan single rope technique dan menguji pengetahuan kami seputar teknik di bidang tersebut, saat dilapangan kami melaksanakan dua kegiatan tersebut hingga waktu siang, sekitar mendekati jam 2 siang.
Setelah kami melalui rangkaian tersebut, kami kembali ke basecamp kami untuk mendapatkan pematerian tentang survival, mengenai makanan yang bisa dimakan di alam, cara membuat bivak alami, dan banyak lagi.
Selasa 20 Januari 2026, merupakan hari kami berkemas dan akan melakukan perjalanan Kembali ke lokasi berikutnya, tentunya sebelum kami berangkat, kami sarapan terlebih dahulu. Singkat cerita, perjalanan tersebut kami lalui sama seperti perjalanan kita menuju lokasi pertama, sesampainya kita pada gerbang awal, kami bersiap untuk melaksanakan longmarch kedua kami, sungguh perjalanan yang cukup panjang, namun tentunya tetap berkesan.
Seperti longmarch sebelumnya, kami dibersamai dengan materi yang disampaikan oleh instruktur, merupakan sebuah kesempatan emas untuk mempelajari bentuk lahan dan karakteristik suatu bentang alam secara langsung dan diajarkan secara langsung juga, setelah perjalanan yang cukup panjang, kita berhenti pada aliran sungai yang begitu jernih dan menyegarkan, luar biasa segar adanya, namun perjalanan masih jauh, kita harus bergerak lebih cepat agar mencapai lokasi basecamp dengan tepat waktu.
Selama perjalanan tentunya membosankan bila tidak ada perbincangan di dalamnya, namun selama perjalanan ini, kami ditemani dengan pertanyaan – pertanyaan receh dan menyenangkan dari para instruktur yang menemani perjalanan kami, sekali lagi, melelahkan namun berkesan. Tidak terasa perjalanan sudah sampai pada ujungnya, kami sampai pada lokasi basecamp kami dan seperti biasa, kami diminta untuk membuat bivak dan juga dapur, namun untuk kali ini, kami menjadi lebih lihai dalam pembuatan bivak kami, mengambil pelajaran dari kesalahan kami sebelumnya merupakan pembelajaran terbaik bagi kami untuk terus berkembang. Tak terasa hari telah malam dan tentunya bivak kami telah selesai dirangkai, suatu kebanggaan dapat menyelesaikan bivak ini dengan tepat waktu.
Setelah merangkai bivak dan dapur, kami mendapat panggilan kembali untuk mendapatkan seri (makan malam), setelah itu kami mengobrol hangat satu sama lain. Sungguhlah, momen- momen seperti inilah yang menjadi sumber kehangatan dari dinginnya medan yang kita singgahi, berbagi cerita dan keluh kesah, menyebut saudara kami bau dan lainnya, tertawa bersama akan selalu menjadi kenangan hangat dikemudian hari.
Rabu 21 Januari 2026, merupakan hari terakhir kami bisa bermalam bersama dan makan mudah, kami juga membantu memberikan pertolongan pada seorang survivor yang mengalami kecelakaan, kami membuat tandu dan juga memberikan pertolongan pertama pada korban.
Waktu berlalu cepat pada hari itu, tak terasa hari sudah malam saja, aku sudah mendirikan bivakku, namun beberapa saudaraku saat itu belum kian menyelesaikan bivaknya, sementara hari sudah menunjukan malam dan telah terasa tetes air hujan telah ikut menghiasi hutan malam itu, beberapa saudaraku yang menyadari akan saudaraku yang lainnya sedang kesusahan ikut membantu dalam mendirikan bivak.
Sebelum hari semakin malam, instruktur menginstruksikan untuk kita membawa alat makan kita dan menggunakan jas hujan, aku penasaran akan dibawa kemana kita, dan ternyata, mereka menyajikan masakan lezat pada kami untuk terakhir kalinya, sungguh nikmat santapan pada malam itu, ditambah obrolan antara kami dengan instruktur pun cukup menyenangkan dirasa, dan ditambah, malam itu adalah malam dimana masing – masing dari kami memiliki nama rimba di JANTERA ini, nama yang diberikan benar – benar beragam dan juga unik, aku terkesan pada siapapun yang memberikan nama ini, tidak luput, akupun dapat nama rimba itu, “selir” adalah nama rimbaku, merupakan singkatan dari serigala terakhir, aku merasa kagum saat pertama kali aku mendengar aku mendapatkan nama rimba itu. Setelah itu aku mulai memikirkan kembali, langkah selanjutnya seperti apa dan harus bagaimana, karena pada malam itu, kita sudah memulai semuanya dengan tangan kita sendiri dan berusaha sendiri di alam.
Kamis 22 Januari 2026, adalah hari pertama kita memulai survival, aku langsung mendapat kabar gembira, kami mendapatkan sebuah jala dari lokasi survival kami, setelah itu kami secara langsung menginisasikan untuk berangkat ke sungai terdekat untuk mencari makanan, terlebih pada sungai tersebut terdapat rumput air, dalam benakku langsung tersirat “udang”, dan benar saja, saat itu aku mendapatkan udang, dan bonus lainnya seperti lobster dan kepiting walau ukurannya kecil. Selain itu kami pun mengaplikasikan ilmu botani tentang tumbuhan yang dapat dimakan, pada saat itu kami mendapatkan rebung, batang pisang, dan lain-lain, kami memakan-makanan yang sudah kami peroleh sebelumnya.
Jumat 23 Januari 2026, adalah kami masih melakukan survival di alam, pada hari itu, kami harus menghadapi cuaca yang benar – benar kurang mendukung kami, bahkan kejernihan kita dalam berpikir mulai terganggu akibat cuaca yang luarbiasa ditambah pakaian kami yang sudah basah diterpa hujan dan angin yang tak kunjung berhenti selama seharian penuh, dalam kondisi seperti itu, siapapun yang memiliki kesadaran penuh dan kehangatan tubuh, seperti memiliki peran untuk menjaga saudara lainnya yang mulai kedinginan.
Dibalik perjuangan itu, kami tetap harus menghadapi masalah primer kami, yaitu makan. Mengetahui bahwa udang tidak cukup untuk memenuhi asupan kami, instruktur datang mengajarkan membuat jerat untuk ikan dan ayam, dan syukur atas keberkahan tuhan, kami mendapatkan ayam di malam hari berkat didikan dari kadat kami, esok paginya, kami menyantap dengan lezat ayam hasil tangkapan malam itu, sungguhlah ayam itu adalah makanan termewah kami selama survival ini, kami diminta berkemas oleh instruktur untuk melaksanakan perjalanan panjang kembali, betul saja, kami berjalan kaki dengan kaki yang sudah mati rasa, namun tetap berjuang demi kembali ke tempat kami bisa beraktivitas seperti sediakala, berkilo-kilo telah kami tempuh, dan perjuangan dari sore hingga malam, terbayar lunas oleh sambutan hangat dari orang – orang yang sudah menunggu kami di Isola UPI, haru membasahi wajah kami dan menyelimuti hati kami, seakan akan belum percaya bahwa kami telah berada pada titik ini, kami terjatuh dan melepaskan segala beban yang sudah kami bawa, menghargai momen-momen tersisa, hingga akhirnya kami dikenakan slayer oren kebanggaan itu secara resmi oleh orang tua kami, dan pada akhirnya, kami menjadi anggota jantera muda ke 44.
0 Comments