13 juni 2016 merupakan saksi waktu yudisium beberapa anggota jantera. Selamat atas gelar sarjana pendidikannya, semoga ilmu yang didapat barokah dan dapat diamalkan sebagaimana mestinya. Sukses untuk kehidupan setelah mahasiswa. Dimanapun kalian berada, dan kemanapun kalian pergi jantera dengan pintu lebar akan terbuka untuk tempat kalian singgah, karena kita adalah keluarga.
Binta Zidni Ilma
Wanita mungil bertempat tinggalkan di bandung ini memiliki hobi berjalan-jalan. Berjalan-jalan di duni nyata dan di dunia pikiran. Salah satu jalan-jalan di dunia pikiranya adalah mengerjakan skripsi. Skripsi sudah menjadi mantan teman dia, karena wanita jantera angkatan 33 ini sudah dinyatakan lulus dari universitas yang selama ini menjadi tempat belajarnya.
Ada beberapa hal yang disampaikan binta kepada jantera. Jantera itu keluarga yang paling mengerti, karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Jantera menarik dengan style dan kegiatan menjelajahnya, karena kami menjelajah dengan keilmuwan kami dan menghasilkan karya.
Hal yang tidak pernah terlupakan dalam jantera adalah aktivitas yang dilakukan bersama baik secara outdoor maupun indoor. Ada pesan juga untuk jantera, jangan lupa makan, jangan lupa tidur, tetap semangat dan bergerak, dan jangan lupa kalau kita bersama dalam satu keluarga. Akhir kata nuhun jantera. Semangat untuk binta dalam kariernya semoga dilancarkan segalanya, dan kalo naik gunung ketika malam hari diusahakan jangan pakai kacamata hitam, karena malam itu gelap apabila memakai kacamata hitam akan semakin gelap. Takutnya nanti salah ambil pijakan, tapi mantaplah untuk binta yang mendaki puncak rinjani di dini hari dengan kacamata hitamnya. Diusahakan belilah kacamata bening dan pakailah sebagaimana mestinya—HMI
Innaratul Faizah
Wanita ini memiliki keturunan jawa tengah. Merantau dari kebumen ke bandung untuk melanjutkan study. Sifatnya yang tangguh membuat wanita ini berhasil mencapai klimaksnya di perguruan tinggi. Rasa syukur telah menyelesaikan study terucap dalam lisannya. Namanya inaratul faizah tetapi orang tak asing memanggilya ais. Ais merupakan anggota jantera angkatan 33.
Wanita jawa ini sangat menyukai kegiatan pendakian gunung. Kesan ais di jantera, katanya rame. Bertemu dengan berbagai macam karakter. Jantera ketika rapat terkadang mengadakan semacam hiburan kuis. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok, dan kelompok tersebut masing-masing angkatan. Apabila akan menjawab, masing-masing kelompok harus membunyikan bel yang diciptakan oleh suara kelompok tersebut. Ais sangat menyukai saut-sautan bel ketika kuis, karena suasananya yang membaur antara sesama.
Hal yang terlupakan di jantera adalah ketika diklatsar, karena tidak akan ada habisnya ketika dicerotakan. Pesannya untuk jantera semoga lebih baik dan semangat. Sukses untuk ais dalam menggapai carirnya, semoga lancar dalam menempuh setiap perjalanan menuju kesuksesan. Jangan lupa makan karena kasian perut kalo ga dikasih makan, nanti ada bunyi, krubuk, krubuk, krubuk, seperti bel ketika kuis—HMI
Andy wibawa (Jantera 33)
Selalu spartan ketika mendaki gunung, kecepatan menjadi acuan pria ini ketika mendaki, jarang sekali istirahat. Ketika berdiskusi selalu membawa beberapa teori sehingga kawan diskusi tertarik dengan pembicaraan. Pria yang tinggal di kaki Gunung Tampomas ini adalahJantera angkatan 33, memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap suatu fenomena. Merasa senang masuk Jantera, karena bisa mengenal orang-orang lintas angkatan (dengan karakter yang berbeda-beda). Menurutnya hal paling penting di Jantera itu kekeluargaannya yang sangat kuat.
Bagi Andi, jalan-jalan di Jantera itu menarik, apalagi dengan slogan seperti ini “nu penting mah bisa ulin”. Momen yang tidak pernah dia lupakan adalah peristiwa Diklatsar 33.Andi berpesan kepada Jantera “tetap semangat barudak, kalau punya harapan jangan menunggu untuk nanti, karena nanti itu tidak pasti, tapi bersiaplah untuk nanti. Semoga jantera tetap jaya!!” Selamat atas gelar sarjananya, semoga sukses melanjutkan studinya, pesan dari Jantera jangan lupa jalan-jalan, karena dengan jalan-jalan kita bisa tahu dunia—HMI
Chintia Khoerunnisa (Jantera 31)
Menurut wanita yang akrab disapa ‘Uchin’ ini, Jantera bukan hanya sekadar tempat untuk belajar dan mencari pengalaman baru, tapi juga memiliki makna yang lebih dalam, mungkin karena selalu melibatkan ikatan kekeluargaan yang terbilang erat. Intinya, Jantera baginya adalah rumah kedua, saat jauh pasti terindukan dan suatu saat wanita ini bertekad akan pulang. Hal menarik yang tidak bisa dia lupakan adalah ketika Diklatsar XXXI, karena kalau pun diceritakan tidak akan pernah ada habisnya. Amanat buat adik-adiknya, “jaga kekompakan kalian selama menjabat, jangan sampai terjadi miss communication. Nitip Jantera, maaf kalau selama menjabat teteh gak banyak bantu dan gak ngasih apa-apa buat kalian. Sukses! Tetap semangat dan jadikan Jantera sebagai ladang amal”. Untuk Teh Ucin, selamat dan sukses untuk melanjutkan perjalanan di medan yang lebih terjal. Tetap semangat dan ceria teh! Lantas tularkan semua kebahagiaan itu dimanapun berada—LRS
Rodhia Izzati
Uni adalah panggilan akrab wanita yang berasal dari padang ini. Mahir sekali dalam memasak, apalagi masakan yang pedas-pedas. Wanita padang ini memiliki hobi bernyanyi, sampai-sampai ada salah satu yel yel ketika pendidikan latihan dasar diberikan instruktur dan Uni menyukainya. Uni juga pandai bermain catur. Merantau ke tanah jawa dari tanah sumatera untuk belajar. Rantauan tersebut menghasilkan buah yang manis, hasil manis tersebut adalah telah selesainya studi uni dalam tingkat sarjana.
Senang berbunga-bunga merupakan perasaan dia ketika yudisium. Wanita ini beruntung sekali mengikuti jantera karena bertemu banyak teman, dan mendapatkan ilmu serta pengalaman. Hal yang tidak akan dilupakan uni di jantera adalah ketika pendidikan latihan dasar. Ada banyak sekali cerita di dalam kegiatan tersebut, dan apabila diceritakan entah kapan habusnya. Uni berpesan kepada jantera tetap tertawa karena jantera adalah tempat tertawa, ada banyak sekali hal konyol yang dilakukan anak-anak jantera. Jangan lupa bahagia, dan semangat kepada jantera, lancar jaya selalu !! selamat kepada Rodhia izzati atas gelar sarjananya, semoga menjadi wanita yang sukses dunia akhirat, dimudahkan dalam segalanya dan caturnya semakin hebat—HMI
Ambarwati (Anggota Kehormatan)
Ambarwati lahir di Bandarlampung pada 25 Mei 1993. Wanita yang hobi membaca ini sempat mencoba ikut Diklatsar XXXII sebelum akhirnya harus dipulangkan karena sakit ketika di perjalanan. Menurutnya, Jantera adalah sebuah rumah bagi para anggotanya . Sejauh apapun, atau selama apapun anggotanya pergi, pasti akan kembali lagi. Kekeluargaannya, konfliknya, mimpi-mipi lliarnya, selalu punya cerita untuk para anggotanya. Teh Ambar berpesan, jangan lupa tujuan awal kita kuliah.
Menurutnya hal yang tidak pernah terlupakan adalah ketika Pendiidkan dan Latihan Dasar Jantera XXXII, apalagi saat pertama kali diberitahu untuk pulang, “rasanya nyess banget” ujar wanita berusia 23 tahun ini. Jantera secara tidak langsung telah jadi bagian hidup yang menyenangkan untuknya. Ah iya, tekadnya masuk Jantera muncul setiap dia muncak Gede-Pangrango, tepatnya setiap melihat Lembah Mandalawangi. “Gak ada hubungannya sih. Tapi tidap liat Lembah Mandalawangi the pingin masuk Jantera”, alasan yang sederhana. Semoga sukses ya teh, jangan lupa jalan-jalan dan bahagia. Bravo! —LRS
0 Comments