Pertama kalinya, kuinjakan kaki di salah satu wilayah paling barat Pulau Jawa. Sebuah desa yang masih termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten ini memang merupakan desa paling pojok setelah Desa Ujung Jaya.
Jalur darat menjadi akses yang kami pilih untuk dapat menjangkau desa ini ternyata tidak bersahabat. Jalanan penuh lubang dan disertai kubangan lumpur sesekali menjadi satu-satunya jalan darat yang harus ditempuh. Akan tetapi, hijaunya hamparan sawah dan kebun milik masyarakat di sepanjang jalan menjadi obat tersendiri untuk mengobati badan yang pegal karena mobil yang kami tumpangi terbanting kesana kemari akibat jalanan yang penuh lubang.
Setelah menempuh dua belas jam lebih akhirnya sampailah kami di sebuah penginapan yang jaraknya hanya beberapa meter dari bibir pantai. Selama 4 hari 4 malam kami menghabiskan waktu di wilayah dengan penduduk lebih dari 4000 orang ini. Desa Taman Jaya ini merupakan model desa konservasi yang “katanya” sedang dan hendak dikembangkan oleh pemerintah. Akan tetapi, melihat kenyataan dan pernyataan dari Kepala Desa pun tampaknya tergambar ketidakseriusan pemerintah pusat untuk dapat mengembangkan daerah ini, bahkan untuk dapat menilik parahnya kerusakan jalan pun tidak.
Desa ini memang dikaruniai kekayaan alam yang berlimpah, mulai dari kekayaan bahari hingga rimbunnya vegetasi dari dataran sekitar pantai hingga pegunungan yang ada, salah satunya Gunung Honje. Curah hujan yang turun khususnya pada bulan Oktober hingga Maret tampaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi areal sawah yang beberapa diantaranya adalah sawah tadah hujan. Bahkan desa ini juga dapat panen hingga 3 kali dalam setahun, kata seorang warga saat kami mencoba berdialog.
Besar potensi, besar juga risikonya, begitulah slogan yang cocok untuk menggambarkan kondisi sumber daya di Desa Taman Jaya ini. Karena sebagian besar mata pencaharian di wilayah ini merupakan petani dan nelayan yang sangat bergantung pada kondisi alam. Aku jadi teringat akan konsep determinis fisis yang mengatakan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada alam dan alam seakan memiliki kekuasaan untuk mengendalikannya. Memang, alam di Taman Jaya ini sangat memberikan banyak kontribusi bagi kehidupan petani misalnya, tetapi saat alam tidak bersahabat, disitulah petani akan kocar-kacir.
Carik (sebutan bagi sekretaris desa) mengatakan bahwa di tahun 2014 ini, pendapatan atau kondisi ekonomi masyarakat Desa Taman Jaya merosot hingga 70-80 persen. Hal tersebut dikarenakan kondisi alam yang memang sedang tidak kooperatif, terlebih posisi desa ini yang agak terisolasi dengan jalan yang cacat. Hal itu tampaknya cukup mempersulit masyarakat untuk dapat mencari penghasilan di sektor lain di wilayah sekitarnya. Hujan yang tidak menentu dan kemarau yag mendominasi musim di tahun ini menyebabkan gagal panen terpaksa harus menjadi risiko tersediri yang harus ditanggung petani.
Berbagai upaya dilakukan masyarakat untuk membuat alam mau bersahabat lagi dengan Desa Taman Jaya. Mulai dari hal-hal yang berbau adat dan cenderung mitos hingga propaganda yang memang bisa diterima oleh akal pikiran manusia. Seperti upacara Saban Taun, Ngaruat, dan Sidekah Bumi yang merupakan adat masyarakat setempat untuk mensyukuri sekaligus meminta keberhasilan hasil tani di kemudian hari. Akan tetapi, ada juga propaganda yang ditunjukan melalui slogan tertentu guna menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan sekitarnya.
“Lembur hejo, masyarakat ngejo”, begitulah slogan yang saat ini masih dipegang oleh masyarakat. Entah kebetulan atau tidak yang jelas ini telah menjadi sebuah kearifan lokal tersendiri dari bagi wilayah yang masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon ini. Daerah ini memang menjadi daerah penyangga bagi wilayah konservasi setelahnya sehingga menjadi suatu kewajiban tersendiri untuk masyarakatnya dapat menjaga keberlangsungan lingkungan tersebut. Walaupun belum diketahui jelas dari mana asal usul slogan tersebut yang jelas slogan tersebut sedikit banyak telah mengarahkan sikap masyarakat untuk lebih dapat hidup beriringan dengan alam.
Makna dari slogan “Lembur Hejo, Masyarakat Ngejo” ini sendiri merujuk pada suatu pilihan yang berkonsekuensi, dimana jika kampung mereka asri, subur, dan senantiasa hijau maka masyarakat dapat makan atau memenuhi kebutuhan pangannya yang dalam bahasa setempat disebut ngejo (diambil dari kata kejo yang berarti nasi). Dalam cakupan yang lebih luas, pernyataan ini juga dapat dipakai oleh masyarakat untuk dapat menjaga TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon) sebagai salah satu tempat yang juga memberikan penghidupan bagi mereka. Contoh kecilnya, masyarakat yang sebagian besar menggunakan suluh untuk memasak dapat mencari ranting-ranting yang ada di sekitar TNUK. Dapat dibayangkan jika TNUK tidak ada, kemana mereka akan mencari suluh?
Banyak mitos yang juga mendukung slogan “Lembur Hejo, Masyarakat Ngejo” ini seperti adanya hutan larangan atau wilayah yang tidak boleh dirambah oleh masyarakat. Karena konon, saat kita tidak menjaganya bahkan ketika kita mematahkan dahan ataupun ranting disana, kita dapat melihat dan diteror oleh seekor macan jadi-jadian. Entah benar atau tidak, yang jelas mitos ini juga telah mengikat masyarakat untuk dapat menjaga lingkungannya. Hal ini menjadi sangat penting karena selain untuk memenuhi kebutuhannya, masyarakat juga harus menjaga TNUK sebagai wilayah konservasi. —(Taman Jaya, 22 Mei 2014)
Penulis: Vicky Taniadi (Mahasiswa Pend. Geografi 2012)
0 Comments