Pada hari Jum’at sore s.d Minggu malam tanggal 2 s.d 4 April 2016. Saya bersama saudara anggota muda JANTERA lainnya melaksanakan diklanjut atau pendidikan lanjutan mata latih Rock Climbing di Tebing 125 Citatah Padalarang- Bandung. Kami berangkat sekitar pukul 16.30 WIB, dibagi menjadi dua kelompok, ada yang pergi naik kereta api dan ada yang naik motor sebagai tim pendahulu yang bertugas membawa peralatan Rock Climbing. Saya, Ika, Fauzia, dan Hasan naik motor. Sementara Aiyanti, Ipan, dan Hasanudin naik kereta api.
Kami kemalaman dan istirahat sebentar di mushola SPBU untuk sholat. Lalu melanjutkan perjalanan ditemani dengan hujan gerimis, jalanan licin, dan kemacetan serta sinar lampu jalanan yang menerangi perjalanan kami. Saking banyaknya barang yang kami bawa ada salah satu pengendara di sebelah kami yang bertanya “Neng, mau naik gunung ya?”, nada menggoda. Saya yang dibonceng Fauzia hanya kaget melihat mas-mas itu bertanya sambil tersenyum sedikit. Lalu saudara saya Fauzia berkata, “Yaelah, bilang aja iya ga!”.
Saya hanya kaget dan ingin tertawa mendengar pembicaraan mas-mas itu. Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami sampai juga di Gerbang Tebing 125 Citatah Padalarang Bandung. Ketika tiba disana, kami langsung disambut hangat oleh para pemuda Karang Taruna desa tsb. di saung buatan mereka, dekat pintu masuk. Saung nya terbuat dari jerami dan bambu-bambu, berbentuk panggung, panjangnya sekitar 6 meter dan tingginya sekitar 2,5 meter, di salah satu sisi saung ada ruangan tempat perpustakaan buku-buku bacaan anak-anak desa yang belajar di sana. Mereka menerangkan bahwa saung ini suka dipakai belajar anak-anak desa tsb. dan didepannya ada wahana bermain anak-anak seperti ayunan yang belum lengkap.
Saung itu adalah program dari karang taruna tsb. Setelah dijamu dengan kopi oleh mereka, selanjutnya kami mengangkut alat-alat Rock Climbing sedikit-demi sedikit ke Saung yang ada di sekitar tebing dengan motor, karena jarak dari pintu masuk dengan tebing 125 lumayan jauh apabila dengan berjalan kaki. Malam semakin gelap, suara katak dan jangkrik seakan bersahutan, tetapi saudara kami yang naik kereta belum juga sampai disana, salah satu dari mereka mengabari bahwa mereka sudah sampai di stasiun dan kebingungan naik angkot yang mana untuk ke tebing 125. Lalu kami sarankan untuk naik angkot warna kuning jurusan Rajamandala. Apa yang terjadi? Saudara-saudara kami yang naik kereta malah dibawa ke Gerbang Gua Pawon oleh sang supir. Ternyata, supir angkot dan warga disana kurang mengenal istilah tebing 125, mereka lebih mengenalnya dengan Tebing Pabeasan. Tebing Pabeasan mungkin bahasa lokal dari mereka, sementara kami anggota pecinta alam yang baru, hanya mengenalnya dengan tebing 125 saja. Walaupun sempat tersesat, akhirnya saudara-saudara yang naik kereta sampai juga di tebing 125 dan membawa makanan untuk kami nasi goreng lezat untuk santap makan malam. Setelah itu, kami mengecek list barang-barang takutnya ada yang jatuh atau ketinggalan dan mengatur acara besok dibimbing oleh instruktur Monyong (Ferry Khairul Hidayat). Setelah mengecek barang, akhirnya kami beristirahat sembari mengumpulkan energi untuk diklanjut besok paginya.
Pagi pun tiba, malam terasa begitu singkat, kami harus melakukan Rock Climbing per-pasangan ada yang menjadi pemanjat (climber) dan ada yang menjadi belayer. Saya berpasangan dengan Hasan (angkatan 2015). Saya menjadi belayer, dan Hasan menjadi climber. Pada hari pertama, kami melakukan teknik traid climbing/tradisional climbing dengan melalui jalur market. Sedangkan saudara saya Ika (angakatan 2015) dengan Kang Hasan (angkatan 2013) melakukan teknik aid climbing. Teknik traid climbing yaitu teknik memanjat dengan memanfaatkan peralatan artificial alam dan buatan/alat.
Hasan mulai memanjat dengan memasang chock dan friend, sedangkan saya menunggu dibawah tebing sebagai belayer. Ketika Hasan sampai di pitch pertama ia berubah menjadi belayer, lalu saya menjadi second climber untuk mengclean/melepaskan alat-alat artificial dengan chocker hingga pitch/stasiun pertama. Kemudian disambung lagi dengan Hasan sebagai climber. Saya kembali lagi menjadi belayer di pitch pertama, menggantung di tengah tebing selama beberapa jam untuk menunggu Hasan memanjat sampai puncak tebing. Setelah Hasan sampai ke puncak, saya berhenti membelai. Dia mempersiapkan peralatan untuk menjadi belayer saya di puncak. Entah kenapa begitu lama, saya menunggunya dengan menggantung di tengah jalur market yang lumayan tinggi, terlihat pemandangan Kota Bandung yang memesona dan terlihat juga Gunung Burangrang diseberang sana membuat saya ingat jalur diklatsar kami dulu.
Awalnya saya memanjat dibimbing oleh instruktur Asep , tetapi dia memanjat lebih dulu ke atas , entah apa yang ia lakukan. Saya benar-benar sendirian ditengah tebing tanpa pembimbing. Awalnya sangat takut, tetapi karena terlalu lama menggantung di tebing rasa takut itu sedikit menghilang. Hanya dua angkor yang mengamankan tubuh saya. Sesekali saudara saya yang berada dibawah tebing yang menunggu giliran memanjat, berteriak “Semangat, Helga!” Saya hanya bisa tersenyum dan menunggu instruktur Ferry yang kerap disapa instruktur Monyong untuk datang. “Maaf ya Helga, ada sedikit masalah, sabar ya.” , jelasnya. Mungkin beliau khawatir saya lelah menggantung di tebing. Dan kenyataannya memang iya “Iya, ade lelah bang.”, gumam hati saya mengingat kata-kata Hayati tokoh Tenggelamnya Kapal Van der Wick itu. Ahirnya intruksi pun diberikan dan Setelah itu, saya menjadi second climber hingga puncak. Hasan kemudian repling (turun) bergiliran dengan saya.
Sebenarnya hari weekend seperti Sabtu banyak sekali pemanjat dari kalangan umum. Ada pecinta alam dari Palawa UNPAD dan beberapa orang dari kalangan umum. Saya sempat kaget melihat anak-anak kecil usia sekolah dasar juga ikut memanjat tanpa disertai pengaman yang berarti. Mereka hanya menggunakan tali kernmantel dan alat seadanya. Ya, bersama orang tuanya yang mungkin memang sudah ahli, mereka memanjat tanpa helm panjat, dsb. Di pandangan mereka rock climbing mungkin hanya main-main saja, tanpa tahu resiko apa yang terjadi jika mereka jatuh. Saya ingat betul dengan sejarah Rock Climbing di Bandung, dimulai dengan pemanjatan di tebing 125. Bahkan pemanjat itu meninggal di tebing Citatah ini.
Hari pertama selesai. Hari keduanya, saya bergilir untuk melakukan ascending dan teknik aid climbing. Teknik aid climbing yakni teknik panjat dengan medan yang hampir tidak ada poin/pegangan atau rekahan untuk memanjat sehingga membutuhkan etrier/tangga panjat untuk membantu pemanjatan. Walau hanya memasang dua angkor, capeknya setengah mati, karena kita harus menahan beban tubuh kita sembari memasang piton di tebing. Tetapi, semua lelah itu terbayar dengan kepuasan ketika berhasil memanjat tebing itu. Saudaraku Raka, Ipan, Aiyanti, Fauzia, Hasan, Kang Hasan (JANTERA 33), dan Ika juga berhasil memanjat dengan dua teknik yang wajib dilakukan yakni traid climbing dan aid climbing.
Matahari mulai terbenam, terdapat seekor anjing berwarna cokelat muda yang dari hari pertama hingga kedua bolak balik di tebing. Sepertinya, anjing itu memang penjaga tebing, pikir saya. Setelah semuanya beres memanjat, kami kembali mengecek list barang-barang yang kami bawa sewaktu keberangkatan takut ada yang hilang, karena apabila hilang kami harus menggantinya, dan perlu digaris bawahi bahwa alat-alat outdoor sepert peralatan panjat tebing juga lumayan mahal. Malam, sekitar pukul delapan kami pulang bersama-sama dengan instruktur. Saudara yang kemarin berangkatnya naik kereta api, pulangnya dibonceng oleh instruktur. Terima kasih instruktur. Semoga diklanjut mata latih berikutnya jauh lebih baik manajemennya dan semoga pengalaman ini menjadi pengalaman yang berharga dan bermanfaat kedepannya.
Penulis: Helga Alvita (Anggota Muda Jantera 35)
0 Comments