Katanya, ini DPR. Tapi bukan tempat para dasi bertikus duduk dan merapatkan problematika negara dengan tumpang kaki, dahi berkerut, dan senyum samar. Bukan, ini bukan Senayan! Ini DPR yang lain, sebaliknya.
Ini DPR yang sesak oleh pemuda-pemudi riang yang serba ingin tau. Ini DPR, yang katanya Dibawah Pohon Rindang. Ini DPR yang selalu menghadiahkan tawa di hari-hari penghuninya. Ini DPR yang lain, yang katanya Dibawah Pohon Rindang.
Sebenarnya saya tidak tahu dengan pasti kapan DPR ini resmi jadi sekre outdoor-nya Jantera. Oh iya, DPR sebenarnya adalah sebutan untuk sebuah pekarangan mungil depan FPIPS yang nampak sangat sejuk karena dinaungi banyak pohon (alpukat, jambu air, jambu batu, dll).
Lokasinya strategis, bisa memperhatikan orang yang lalu lalang dengan jelas, lantas kita cekikikan karena apapun.
Ini DPR, tempat yang cocok untuk memasang hamoock dan duduk bersantai di atasnya, sendiri, berdua, bertiga, atau berempat sampai kain yang diduduki sudah benar-benar terjilat tanah.
Ini DPR, tempat yang cocok untuk berkemah di dalam kampus dan merasakan logo itu benar-benar nyata. Iya, yang katanya ‘UPI Rumah Kita’.
Ini DPR, saksi bisu kenakalan kami saat menjalankan Misi Nangka. Ini DPR, yang pohon alpukatnya pundung (tak berbuah) karena terlalu sering dipakai untuk SRT-an.
Ini DPR, tempat yang cocok untuk merasakan kehangat keluarga. Celaan menyentil, pujian pedas, dan rangkulan ngasal.
Ini DPR, bukan Dapur Para Rentenir atau Dendeng Parab Rametuk. Ini DPR kami, yang katanya Dibawah Pohon Rindang.
Ah mungkin beberapa puluh tahun yang akan datang hari-hari ini jadi terindukan.
Mungkin nanti kita hanya akan berperan sebagai segerombolan mahasiswa jadul yang ketawa-ketiwi hidup bebas di DPR. Mungkin kita erectus selanjutnya, merangkap sebagai tokoh utama dalam foto-foto usang di loker kabinet Jantera Angkatan 94 ke atas. Siapa tau?
Penulis: Lutvia Resta (Jantera 34)
0 Comments