Tanah asriku
Menjadi potret masa depan
Menggenggam damai dalam diam
Telusur tanaman hijau
Itulah penasaran peti hati
Menyelimuti setiap langkah
Gelap bukan berarti mati
Sepi bukan berarti diam
Buruk bukan berarti taka da keindahan
Indra pendengaran
Menangkap ramainya gemericik air
Telah ramai-ramai
Menggoda hati untuk
Untuk mencari tau
Nada air mulai bersuara ramai
Seakan mengajakku untuk bermain
Tertarik hati untuk menoleh
Nada air itu…
Menuntunku untuk lebih dekat
Terkejut hati…
Tersaji indahnya mata air
Yang memanjakan mata…
Rasa ingin menari
Di tempat kediamannya
Tumbuhan hijau bak menjadi bingkai alami
Sentuhan bayu yang sejuk menggores setiap kulit
Gelisah hati seakan menghilang
Bersemayam kesejukan di balik kedamaian
Menafsirkan estetika keasrian mata air
Sajak matahari
Aku mencintai bumi
Tapi aku tidak berani mendekat padanya
Mendekat padanya sama aja membinasakan orang yang aku cinta
Aku mencintai bumi
Walau aku jauh aku tetap selalu ada untuk bumi,
tanpa bumi sadari atau tidak
Aku mencintai bumi
Perhatianku sebatas memberi cahaya di setiap harinya
jika malam aku pergi, bukan berarti aku menghilang
Aku tetap ada untuknya, cahayaku tetap sampai untuk bumi
Tanpa bumi sadari atau tidak
Aku mencintai bumi
Menjaga nya dari kejauhan
Aku mencintai bumi, dengan segala keterbatasanku.
Tertanda, matahari.
Penulis: Ravica Sagita Puterie (Mahasiswi SPIG 2014)
0 Comments