Bagi kami masyarakat pesisir sudah pasti sering nongkrong hingga renang di setiap sudut lautan kampung kami, terlebih kini sudah banyak pernak pernik fasilitas pantai yang mendukung hingga menghambat konsep wisata di negri yang katanya Sejuta Pesona ini, misalnya saja tempat duduk dan payung pantai sebagai pendukung dan pondok jajanan sebagai pengganggu hati menikmati lautan. Sebuah kampung halaman ini terletak di salah satu sudut barat Pulau Sumatera yang berbatasan langsung dengan ganasnya si Samudera Hindia. Itulah dia Sibolga, daerah yang temasuk sebagai kota terkecil di dunia.
Bosan dengan cara menikmati lautan yang gitu-gitu (nongkrong-berenang) saja, aku dan beberapa teman serta saudaraku memutuskan untuk ikut bermesin ke tengah lautan. Sejak dulu aku penasaran dengan pulau-pulau lain di sekitar tempat tinggalku. Ada yang sering kami kunjungi namun itu hanya membutuhkan waktu 30menit menyeberang yaitu ke Pulo Poncan. Nah, penasaranku ini adalah pulau lain yang berada jauh dari daratan rumahku yang hanya terlihat bayangannya saja dari daratan sini, dan ketika hujan bayangan pulaunya pun tak tampak.
Siang itu jam 10.00 berangkatlah kami dengan menggunakan perahu nelayan yang merupakan tetangga kami. Tentu saja kami memilih perahu tersebut dengan pertimbangan duit yang tentunya jauh lebih murah daripada perahu yang telah di desain untuk membawa penumpang dilengkapi tempat duduk dan dua mesin 100 pk sehingga lajunya lebih kencang. Perahu khusus penyeberangan tersebut bisa dijumpai di Pantai Kalangan ataupun Pantai Pandan dengan tarif Rp 2.500.000,- per perahu atau bisa dari Barus dengan tarif yang lebih murah lagi karena lebih dekat dengan Pulau Mursala. Berhubung perahu yang kami gunakan adalah perahu nelayan yang duduknya ngampar dan lambat karena satu mesin maka kami membayar jauh lebih murah yaitu Rp 800.000,- per perahu.
Perlahan kami bergerak menjauhi tepi pantai, menjauhi muara tempat kami mulai berangkat tadi. Semakin dekatlah kami ke bagan-bagan pancang (rumah apung tempat menangkap ikan) yang berserakan di sepanjang Teluk Nauli ini. Satu demi satu pulau kami lewati mulai dari Pulau Sendok, Daratan Labuhan Angin, Pulau Poncan dan sempat bersapaan dengan Kapal Belanak yang membawa penumpang dari Sibolga ke Nias sebelum kemudian kapalnya meninggalkan kami jauh. Lambatnya perahu ini yang kemudian membuat liburan semakin membuat seru sekaligus menegangkan.
Tempat Syuting Kingkong?
Pulau itu akhir-akhir ini semakin tenar saja dan semakin digandrungi sebagai salah satu spot film di Sumatera Utara. Pulau itu terkenal dengan air terjunnya yang membelah samudra. Ya, itulah dia Pulo Mursala yang telah dijadikan sebagai tempat syuting film Mursala. Tetapi, selain Film Mursala (2013) disebut-sebut juga Film Kingkong (2005) sempat syuting di pulau ini. Sempat merasa aneh juga dan rada tak meyakinkan. Memang sdah banyak film holywood yang mengambil tempat di Indonesia misal Film Fast and Furious dan Film Eat, Pray, Love yang syuting di Pulau Bali. Menurutku sih itu wajar-wajar saja dan pastinya dapat dipercaya terlebih banyak bukti otentik. Namun, ketika Film Kingkong disebut-sebut syuting di pulau ini aku meragukannya. Dari segi ongkos dan aksesibilitasnya, Pulau Mursala ini masih belum mendukung dengan lancar untuk proses pembuatan film ini terlebih saat itu proses syutingnya sekitar tahun 2004 dan lokasinya juga terlalu jauh dari pusat pembuatan film yaitu di New York. Selanjutnya, tidak ada pendokumentasian yang jelas untuk proses syuting film tersebut dan ketika searching pun tidak ada dicantumkan lokasi syuting yang bertempat di Indonesia melainkan di New Zealand dan Los Angeles.
Aku pun belum tahu pasti mengenai kebenaran atau ketidakbenaran rumor tersebut yang aku ketahui di Film Kingkong (2005) tersebut memang ada air terjun yang langsung bermuara ke laut dalam film tersebut namun sangat jauh berbeda dengan bentuk nyata dari Pulau Mursala yang telah kulihat secara langsung. Bisa saja karena konsep pulau nya yang sama maka warga sekitar menyebutnya sebagai tempat syuting film Kingkong agar menarik wisatawan namun bisa juga memang benar film tersebut pernah syuting disana namun diedit sedemikian rupa sehingga dalam film sangat berbeda ketampakan pulaunya.
Mursala dan Legenda
Setiap sudut tempat di muka bumi ini pasti mempunyai legenda tersendiri untuk para penghuninya, terlebih itu di nusantara. Begitu di nusantara begitu pula di Mursala. Pulau ini termasuk dalam kategori berbahaya kalau ditulis dalam benak warga Sibolga mungkin tulisannya cetak tebal serta wajib digaris bawahi berwarna merah saking angkernya pulau ini.
Tak seperti perjalananku yang lain yang lebih jauh dan lebih berbahaya, aku lebih sulit untuk mendapatkan ijin bertandang ke pulau belakang rumah ini. Bapakku yang dulunya nelayan yang paling keberatan apalagi ketika bapakku tau kalau aku mengajak serta kakak-adikku ke pulau itu. Bujukan serta rayuan dari kami pun harus lebih agar meyakinkan bahwa kami akan baik-baik saja dalam keadaan pergi dan pulangnya. Untungnya, kami diberi ijin dengan bumbu nasehat agar berkelakuan baik, mengikuti kata nahkoda, intinya jangan macam-macam! Kami pun mengiyakannya dan langsung cuss.
Pulau Mursala erat kaitannya dengan Legenda Putri Runduk. Putri Runduk merupakan seorang putri di Pulau Mursala yang tersohor kecantikannya bahkan ke negeri seberang. Pulau Putri yang telah jatuh hati kepada pesona Datuk Itam tentu saja menolak lamaran dari orang-orang yang datang untuk melamarnya dengan cara halus dan adat yang berlaku disana. Namun, suatu ketika datanglah seorang raja yaitu Raja Janggi yang ingin mempersunting Putri Runduk. Kedatangannya ternyata petaka bagi sang putri.
Syarat agar mendekatkan Pulau Mursala ke daratas Sorkam pun diajukan oleh Putri yang kemudian syarat tersebut tak terpenuhi oleh Raja Janggi. Kesal karena tak dapat meminang Sang Putri, Raja Janggi pun ingin meminang dengan paksa. Tau rencananya, maka larilah Putri Runduk ke air terjun di pulau tersebut bersama sang dayang yaitu Sikambang Bandahari. Sesampainya di air terjun, Putri Runduk meloncat dan turut hilang bersama buih yang menyatu ke lautan sementara itu sang dayang Sikambang hanya dapat bersedih meratapi kesedihan si Putri. Ratapan Sikambang kemudian dikenal sebagai Lagu Sikambang yang merupakan lagu pengungkap kesedihan dan kemudian menjadi cikal bakal kesenian Sikambang di daerah Sibolga.
Pulo Puti Pulo Pangiang
Ka tigo pulo anak Janggi
Lapik putih bantal bamiang
Racun bamain dalam ati
Dari legenda tersebut kemudian bermunculan beragam pantangan dan cerita menyedihkan. Kabarnya orang-orang yang mengunjungi pulau tersebut banyak yang tersapo (sibolga: kerasukan) yang kemudian sakit bahkan meninggal sepulang dari pulau tersebut. Kabar tersebut dibenarkan oleh tetangga kami yang menjadi nahkoda perahu tersebut. Namun, aku tidak terlalu gentar dengan berita tersebut sembari berdoa dalam hati, aku percaya semua akan baik-baik saja. Dalam perjalanan kami menuju pulau tersebut, sempat si tulang (panggilanku untuk nahkoda tersebut) duduk di posisi paling depan perahu kemudian dengan bacaannya diselipkannya sebatang rokok di ujung perahu tersebut dengan tujuan menjauhkan perahu dan seisinya dari petaka.
Pulau Putri dan biaya sandar perahu
Bentuk perbukitan tak beraturan tampak di kejauhan, semakin mendekat ternyata tampak tiga pulau bersebaran. Gradasi biru gelap menuju biru terang kemudian hijau terpantulkan dari air laut yang menandakan kedalamannya. Warna hijau bagai benteng, melingkar di pinggiran pulau kecil di sekitarnya. Terumbu karang menghiasnya dari dalam, nyiur kelapa melambai-lambai dari atas. Sedikit miriplah dengan Raja Ampat yang mempunyai ratusan karang yang membukit di perairan dangkalnya walaupun disini cuma ada satu. Setelah 4 jam kami mengarungi lautan, sampailah kami di Pulau Putri.
Tak sabar ingin berenang, merapatlah kami segera ke dermaganya. Namun niat itu terhenti setelah disebutkan tagihannya. Oleh seorang bapak-bapak ditagihlah kami Rp 500.000,- sebagai biaya sandar perahu dan Rp 50.000,-/kepala untuk memasuki pulau tersebut. Tarsonggotlah (batak: kagetlah) kami mendengarnya, apalagi si tulang yang sudah biasa bolak-balik ke pulau itu.
“Maccam pulak disini sekarang, udah diminta-mintanya aja uang itu yah,” keluh si tulang.
Aku pun tentu saja protes dalam hati dan sangat menyayangkan hal ini terjadi di daerahku. Bak pulau pribadilah aturan di pulau ini dibuatnya. Namun tak mau mengganggu suasana ceria liburan, aku mengurungkan niat untuk protes ke bapak tersebut. Si tulang pun menyuruh jangan mendekati daratannya dan dia pun terpaksa bersandar jauh dari dermaga dan melempar jangkarnya jauh dari pinggiran pulau.
Di pulau ini kami menikmati snorkeling tanpa kacamata dan kaki katak, namun tak mengurangi kekaguman kami untuk melihati terumbu karang di bawah kami walaupun sampai merah mata karena perih bersentuhan langsung dengan air asin ini.
Pulau Mursala dan ritual membasuh wajah
Tak berlama-lama di Pulau Putri, kami langsung bergegas menuju Pulau Mursala karena dengan perahu ini, dari Pulau Putri masih membutuhkan waktu sekitar 1 jam lagi menuju Pulau Mursala yang berada di baliknya.
Ahhh, dari kejauhan terlihat perlahan pantulan sinar matahari pada aliran air di dinding batu granit tersebut. Perlahan rasa kagum pun merasuk, semakin dekat semakin merinding aku melihat pesonanya.
“Ya ampun, ini sejuta kali lebih bagus daripada selama ini yang kulihat dari gambar,”batinku.
Kunikmati hatiku yang sedang terpesona dengan goresan tangan Tuhan pada pulau ini, ditempatkannya dengan indah untaian kehidupan itu ditengah lautan bebas Samudera Hindia. Sesaat kemudian tak henti-hentinya tanganku menjepret setiap lekuk pulau tersebut.
Tak boleh mandi disini! Itu larangan yang paling menyedihkan bagi kakiku yang sudah siap-siap ingin meloncat dan berenang kesana-kemari. Sebagai pengganti renangnya, disampaikanlah kepada kami agar membasuh muka dari air laut yang berada tepat di depan air terjun tersebut. Hal tersebut dilakukan agar selamat sampai tujuan dan dapat pula kita menyampaikan doa kita seiring dengan membasuh wajah. Bukan karena sepele begu (kepercayaan terhadap hal-hal takhayul), namun karena ingin menyampaikan doa dengan cara berbeda maka kami pun melakukan hal tersebut dan berharap pulang dengan selamat serta membawa kebahagiaan.
Lewat Tengah Malam
Jam 5 sore, setelah berfoto ria dengan background air terjun mursala, kami bergegas pulang dan mengucapkan sampai jumpa kepada air terjun yang sangat mempesona itu. Kami pikir kami langsung dibawa pulang menuju daratan Sibolga tetapi ternyata kami singgah dulu dibagian lain di Pulau Mursala tersebut untuk membasuh badan kami dari air laut agar tak gatal di sepanjang perjalanan. Tempat yang kami datangi tersebut merupakan rumah di tengah laut yang masih dangkal, di kelilingi oleh keranda-keranda ikan. Laut tersebut sangat bening sehingga menarik hati untuk menyeburkan diri, namun sempat tertahan ketika melihat ratusan bulu babi yang berada di dasar laut. Perlahan kami cari menyeburkan diri di tempat yang agak dalam agar terhindar dari serangan bulu babi yang beracun itu.
Ternyata setelah mandi pun kami tak kunjung berangkat, si tulang sedang menunggu penumpang lainnya yang akan ikut dalam perjalanan pulang kami. Penumpang susulan tersebut merupakan dua orang anak yang ingin kembali lagi ke Sibolga karena besoknya siap-siap masuk sekolah kembali. Anak berumur 9 dan 10 tahun tersebut membawa masing-masing tas sekolahnya yang berisi pakaian mereka.
Dengan acara yang demikian, maka berangkatlah kami dari tempat itu jam 7 malam. Mulai cemas dan berharap agar cepat sampai rumah terlebih karena ombak lebih besar daripada sewaktu datang. Rasa jantung melayang pun hinggap berkali-kali ketika diterjang gelombang yang besar itu. Tetap berdoa dan berpegang pada kayu perahu untuk mengatasi risau yang berlebih. Saat itu terasa jelas bagaimana perasaaan yang hinggap pada diri nelayan yang sedang melaut terlebih ketika sedang menghadapi badai. Sedihku pun bertambah ketika mengingat bapakku yang dulunya seorang nelayan. Apa ngga sering galau kalau melaut sendiri di tengah-tengah lautan gini?
Perlahan-lahan ketakutan itu sirna ketika menatap langit dari lautan bebas. Sungguh indah dan sungguh berkilau. Raung-raung mesin perahu perlahan menghilang diganti imajinasi dan terpesona oleh langit malam dari tengah samudera. Kami menikmati malam yang indah itu, ada yang tertidur, ada yang menahan kantuk dan aku bersama teman mengobrol sepanjang malam di bagian paling depan perahu.
Tadinya sudah lupa dengan rasa cemas itu, tapi tiba-tiba mesin kapal mati karena kehabisan bensin dan menimbulkan cemas itu lagi. Untungnya masih ada sisa bensin dari 12 liter yang dibeli dari pedagang-pedagang eceran di Sibolga karena galon minyak di Sibolga pada tutup kehabisan bahan bakar. Diisilah kemudian tangki bensin itu sampai habis dalam jerigen tersebut. Saat itu kami sudah ada di dekat Poncan Ketek dan telah melalui perjalanan hampir 4 jam. Selesai mengisi bahan bakarnya, ditariklah tali pemicu hidup mesinnya agar segera melanjutkan perjalanan lagi. Namun, tarikannya tak kunjung menghidupkan mesin tersebut. Lama tulang dan partnernya itu mencoba menghidupkan mesin. Saat itu tulang berpesan agar segera telepon orangtua untuk mengurangi rasa khawatir mereka karena disitu sudah ada sinyal. Lama kami menunggu hingga hidup mesin tersebut. Terlintas di pikiranku lagi soal kejadian-kejadian buruk yang terjadi di lautan. Tetapi tetap kualihkan pikiran, tertap berbincang-bincang dengan teman agar menjauhkan pikiran buruk tersebut. Akhirnya, mesin pun kembali menyala dan kami melanjutkan perjalanan kami. Tengah malam kami masih terombang-ambing dengan harapan yang kian membesar karena cahaya dari lampu kota sudah tampak dekat. Dengan selamat, akhirnya kami pun tiba di rumah hampir pukul 1 pagi.
Penulis: Novi Kristanti (Jantera 32)
0 Comments