“Mari bermain sebagai Jantera atau tidak sebagai Jantera di Citarum Purba”
Seperti disebutkan diatas bahwa dalam berkegiatan, Jantera sebagai Perhimpunan Pecinta Alam Geografi terbuka untuk umum, dalam artian bahwa yang bukan anggota Jantera pun dapat ikut andil mengikuti kegiatan tersebut, terutama pada saat kita sedang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan disiplin ilmu Geografi.
Sebelumnya, Anda pasti bertanya-tanya apa sih Ci Tarum Purba itu? Awalnya juga saya sedikit bingung mengapa disebut purba, karena biasanya yang disebut purba adalah suatu fenomena yang terjadi dahulu kala dalam jangka waktu yang lama sehingga hanya menyisakan jejak atau sisa-sisa saja. Tetapi, anggapan saya tersebut ternyata kurang tepat untuk menyebut purba yang ini. Setelah diskusi di rumah jingga (baca: sekretariat Jantera) baru sedikit mengerti apa itu Ci Tarum purba.
Nah, yang saya tangkap dalam diskusi tersebut, Ci Tarum Purba adalah suatu aliran Ci Tarum yang entah darimana asalnya karena aliran Ci Tarum yang berhulu di Gunung Wayang tersebut telah dibendung di Waduk Saguling dan dimanfaatkan untuk PLTA Saguling alias Indonesian Power. Aliran yang telah dibendung tersebut akhirnya hanya menyisakan air yang kotor dan bau busuk yang kemudian masuk, mengalir lewat Goa Sanghyang Tikoro sampai pada akhirnya sampai ke Karawang sepanjang 300km. Tetapi, ternyata di aliran pembuangan sebelum air masuk ke Sanghyang Tikoro, air tersebut bertemu dengan aliran air yang bersih yang mengarah melewati Goa Sanghyang Poek dan berakhir di Leuwi Malang. Kita dapat melihat dengan jelas pertemuan air kotor dan bersih tersebut dari warnanya yang tak jauh dari pintu pembuangan PLTA Saguling tersebut. Itulah yang akan kita cari tahu asalnya, darimana air bersih tersebut berasal. Itulah yang kita sebut dengan Ci Tarum Purba.
Pada pukul 08.30 WIB, berangkatlah beberapa anggota Jantera dan beberapa peserta Mahasiswa Geografi yang notabene nya bukan anggota Jantera, berbekal hasil diskusi yang telah kami lakukan, kami siap untuk mericeknya di lapangan.
Akhirnya setelah hampir 2 jam duduk manis di angkot, pada pukul 10.44 WIB kita tiba di lokasi tujuan. Kami disambut dengan plang penunjuk Goa Sanghyang Tikoro, maka penelusuran dengan langkah kaki pun dimulai. Jejak-jejak langsung kami tancapkan di kawasan yang baru kami masuki. Berjalan sambil berdiskusi, menggali pengetahuan-pengetahuan baru langsung turun ke lapangan memang sangat mengasyikan. Setelah beberapa saat kami berjalan sampailah kami di seberang mulut gua Sanghyang Tikoro, bau busuk menyerupai bau belerang menusuk indera penciuman kami, bau itu berasal dari air sungai yang sudah bercampur dengan limbah. Di hadapan Sanghyang Tikoro, kadat bercerita kepada kami mengenai kemistisannya. Mulai dari Norman Edwin, seorang petualang ulung yang trauma setelah memasuki gua tersebut hanya dalam beberapa meter, dan juga cerita dari sumber lain yang menyebutkan apabila rambut wanita dijatuhkan ke dalam gua tersebut akan terdengar suara jeritan wanita yang disinyalir adalah Dayang Sumbi. Nama Sanghyang Tikoro sendiri memiliki arti, Sanghyang, berarti dewa dan Tikoro berarti tenggorokan, jadi dapat diartikan Sanghyang Tikoro merupakan tenggorokan dewa dan dikatakan bentuknya yang memang menyerupai tenggorokan.
Tetap berjalan dan menelusuri, kami tiba di belakang PLTA Saguling. Disitu kami diperlihatkan adanya pertemuan air jernih dan kotor. Air sungai jernih inilah yang akan kami telusuri dan air kotor inilah yang mengarah ke Sanghyang Tikoro. Menelusuri Citarum purba, kami masuk ke Sanghyang Poek. Gua yang sudah mati atau tidak ada proses kartisifikasi lagi. Tetapi walaupun demikian, setelah kami masuk ternyata proses kartisifikasi masih terdapat di beberapa ornamen gua, dan tahu tidak? Di dalamnya ada beberapa ornamen yang ketika diterangi cahaya lampu, dia akan memantulkan cahaya berkilauan kembali dan pantulannya itu sangat indah seperti ada mineral berharga didalamnya. Ternyata setelah keluar dari gua, kami langsung berada di pinggir sungai, jarak ke air sungainya kira-kira 1,5m dari kami berpijak, saat itu sungainya sedang dangkal. Tetapi dapat dipastikan kedalaman air sungai tersebut pernah mencapai batu yang kami pijak bahkan melewatinya, buktinya di dalam gua yang lebih tinggi dari pijakan kami ada terdapat batang pohon dan endapan tanah yang pastinya terbawa oleh aliran sungai.
Kami istirahat sebentar di mulut gua, menikmati tegukan air yang mengalir di tenggorokan kami, memotret keindahan di sekitar kami, mendinginkan kaki di dalam aliran sungai yang jernih. Tidak mau berlama-lama, kami langsung melanjutkan perjalanan kami. Tadinya kami masih berjalan di dataran di pinggir sungai, lantas kami langsung menyusuri sungainya. Berloncatan di atas batu-batu besar di sepanjang sungai memang mengasyikan dan banyak keunikan yang kami lihat. Ternyata, di sepanjang sungai ini jenis-jenis batuan dari batuan beku, sedimen bahkan metamorf ada di sepanjang sungai ini.
Batu gamping mewakili batuan sedimen, batu marmer mewakili batuan metamorf dan batu andesit mewakili batuan beku. Beberapa jam dari Sanghyang Poek tibalah kami di Leuwi Malang. Leuwi Malang adalah telaga kecil dan masih bagian dari Ci Tarum purba. Disini kita lebih banyak menghabiskan waktu. Mengapa tidak? Disini tempat yang cocok untuk menyegarkan badan dan melepas lelah. Setelah melihat-lihat keadaan dan ternyata aman, beberapa dari kami langsung menceburkan diri ke telaga kecil itu. Bagi saya sendiri, saya sangat senang karena sudah lama tidak berenang.
Setelah puas berenang dan belajar bersama kami lanjutkan perjalanan untuk pulang, terimakasih Jantera atas perjalanan ini. Terimakasih teman-teman yang sudah memberi warna untuk hari ini. Selanjutnya seperti kata Kang Oka, mari kita bermain sebagai atau tidak sebagai Jantera. Bravo Jantera!
Penulis: Nofi Kristanti Ndruru (Jantera 32)
0 Comments