Tak terasa, kini J33 telah menjalani bulan ke-4 nya di Jantera. Sejak Februari silam dilantik menjadi Anggota Muda Jantera, telah banyak pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan, terutama setelah menjalani pendidikan lanjutan Rock Climbing dan Ilmu Medan Peta Kompas.
J33 sendiri telah mempunyai nama angkatan yang pada tanggal 26 April telah diresmikan di kampus UPI pada acara ulang tahun Jantera. Brigada Kampita Atyasa. Itulah nama kebanggaan Jantera 33 ini.
Secara gamblang, salah satu anggota J33 menyebutkan filosofi nama angkatannya. BKA atau Brigada Kampita Atyasa adalah…
Setelah deskripsi J33 secara umum, kini kita beranjak untuk melihat wajah-wajah J33 secara khusus atau lebih dekat lagi.
– Haikal ‘Semar’ M. Ihsan
Pria berbadan subur asli Bandung ini merupakan Komandan Siswa pada saat Diklat di lapangan setelah Deni diganti oleh panitia.
“Siap menuju lapangan dengan penuh semangat dan rasa penasaran yang tinggi, saya melaju menuju kampus.” tulis sang Dansis di dalam buku catatannya. Lelaki yang mengaku bangga dengan keahlian barunya yang didapat dari diklat yaitu bisa nge-sol sepatu sendiri menunjukkan semangat dan kehebatannya dalam mengikuti DIKLATSAR JANTERA disela-sela kakinya yang dirayapi jamur membentuk kontur yang tidak teratur pada telapaknya sehingga merasakan perih dan gatal yang teramat sangat.
Dengan alasan penasaran dan belum menemukan yang dicari, Haikal mengikuti kegiatan diksar. Tidak menyangka dapat mengakhiri dengan sukses, dia yang bernama rimba Semar ini merasa terharu dan senang “Pas kaki sudah buruk, mental down, jalan jadi ga kuat.tapi memaksakan jadi bisa.” ucapnya. Pelajaran berharga lainnya adalah “Belajar untuk menaklukkan diri-srendiri, tidak menyalahkan alam.”
– Winda ‘Tungkul’ Noer Fajarwati
Winda, wanita asli Majalengka. SMA sebelumnya telah mengikuti organisasi sejenis Jantera, namun pada diklat Jatera tetap saja banyak hal baru yang ditemuinya.
Hujan dan angin serta kabut yang menyelimut kami semua tidak mematahkan semangat kami untuk terus melangkah. Ketika longmarch ke2 yang dilakukan dari pagi hingga tengah malam lewat, menjadi kegiatan yang terberat yang dirasa sepanjang diklat. Tapi, dengan tekad yang kuat dan setengah jalan telah terlalui, wanita asal Majalengka ini mencapai apa yang didamba-dambakan seorang siswa diklat. “Senang. Terharu. Bangga. Nangis. Kami semua bagaikan Raja dan Ratu, dijamu dengan Tumpeng Nasi Kuning, duduk di depan panggung. Sungguh mengagumkan. Terimakasih JANTERA.”tulisnya dalam sebuah catatan.
– Ani ‘Hodhod’ Apriani
“12 hari mengajariku banyak hal, kepedulian dan memaafkan itu sikap bijak yang kudapatkan. Menghargai setetes air dan sebutir nasi, semuanya mahal. Aku tak dapatkan dijual di pasar modern sekalipun. Setiap tempat yang kukunjungi kala itu memberikan esensinya sendiri.” Tulis wanita yang ahli ber-sajak ria itu pada catatan jingganya.
Siapa yang tidak khawatir saat melihat dia terbujur hampir kaku, dengan kulit yang sebagian mati rasa, bara mengelilingi kakinya, coklat dan bubur sesekali disuap, sleeping bag dan jaket yang berlapis-lapis menutupinya. Walaupun begitu, wanita asal Jambi ini dapat bertahan di lapangan selama diklat. Dia tidak kenal lelah dan menyerah! “Kan saudaraku ada 21 orang, ngebaduy, jadilah ini panjang. Semakin sore, semakin petang, semakin lelah, tapi semangat dalam diri masih pada tingkat atas. Haha” penggalan kalimat pembara semangatnya ditulis pada salah satu lembaran siswanya.
– Windya ‘Rusuh’ Renata
Kekhawatiran terhadap hal yang disebut diklatsar adalah hal yang wajar, karena pasti berat. Tetapi dukungan teman, orang terdekat, senior dan niat yang kuat yang meyakinkan si pendekar (pemuda pendek dan kekar) ini ikut Diklatsar 33. “Tidak mudah untuk menyatukan 22orang, terlebih dari 3 angkatan akademik yang berbeda, itu yang menambah sulit jalannya diklat. Awalnya segan, sesudahnya dekat bisa sering berkomunikasi dan tidak canggung. Selain itu, pendakian gunung dengan teknik Moving Together merupakan tahap susah dan berat lainnya. Harus banyak sabar, bekerjasama dan saling mengerti.”
– Nisa ‘Dedeh’ Niswatuni
Tes fisik sempat membuat takut wanita kelahiran Bandung ini, tetapi semangatnya untuk menjadi seorang anggota Jantera terlampau besar, hingga dia pun tidak percaya bisa berjalan sangat jauh dengan carier yang berat menempel di punggungnya.
Perjuangan dan motivasinya yang kuat berhasil mengalahkan keinginannya untuk pulang. “Sedih, terharu dan bangga banget” tutur wanita yang lahir pada tanggal 23 Agustus 1995 ini ketika berhasil mendapatkan syal Jantera. Mengingat ketika di hari-hari terakhir, sudah pengen pulang, mentalnya udah down pisan, sudah berjuang hingga titik maksimal disertai motivasi yang kuat.
– Dwi ‘Leweh’ Endah Permatasari
Si leweh. Dia menangis bukan karena manja, mengeluh, kecapean atau menyerah. Menangis dilakukannya karena kepuasan batinnya setelah melakukan sesuatu. Begitu longmarch, begitu penyeberangan, begitu pula pendakian. Terlalu haru dan terlalu senang mungkin, sehingga hanya airmata yang mampu keluar.
Gadis asli Cirebon ini kini bisa lebih akrab sama kakak-kakak di Jantera, sekalipun seringkali diledek karena imbuhan ‘jeh khas Cirebon yang selalu ada di belakang ucapannya “terasa sekali kekeluargaannya jeh”katanya. Begitu juga dikelas, dia jadi merasa diperhitungkan lebih dari biasanya.
– Sahid ‘Slipknot’
Banyak yang mengaku puncak kelelahan dan kondisi fisik paling lemas adalah pada detik-detik terakhir, begitu juga dengan lelaki kelahiran Cirebon ini. “Pas hari terakhir, karena pada saat itu kondisi kaki tidak pada kondisi yang bagus, tetapi tetap dipaksa untuk jalan.”begitu jawabnya ketika kegiatan yang paling melelahkan.
Kegiatan punya kesulitan, begitu juga dengan berkomunikasi, punya kesulitan tersendiri. Menyamakan semua pendapat, satu suara (selama diklat) ternyata sangat susah. Seperti pada pendakian gunung dengan teknik Moving Together.
Tidak dengan jalan yang mulus, akhirnya tujuannya dapat tercapai juga. “Merasa istimewa.” begitu katanya ketika mengingat kembali detik-detik berlangsungnya upacara pengukuhan mereka menjadi Jantera seutuhnya. “Sangat luar biasa, tidak menyangka.”
– Siti ‘leumpeung’ Jubaedah
“Memahami karakter saudara-saudaraku, merupakan hal yang paling sulit.”sangat benar, cocok sekali dengan terlihatnya dia di lapangan yang terlihat leumpeung, tiis, atau bersifat dingin ketika berinterkasi atau bereaksi atas suatu hal. Tetapi, dia tetap dapat menggambarkan bagaimana watak masing-masing saudaranya.
Banyak hal yang didapat selama diklatsar, “menghargai air, menghargai setiap butiran nasi, saling menjaga saudara, membantu yang lain, tidak ada yang saling mendahului, dan banyak lagi”ucapnya satu persatu menggambarkan beruntungnya dia mengikuti diklatsar. Kegiatan lapangan selama hampir 2 minggu membuatnya menjadi semkin tangguh.
– Maryam ‘Merong’ Silmi
Sedikit beda dengan yang lainnya, Silmi yang mengikuti diklat di tahun ketiganya sebagai mahasiswa Geografi karena sebelumnya merasa bingung dan belum pedemengatakan bahwa semua kegiatan selama diklat sangat berkesan sembari mengeluarkan tawa.
Silmi yang biasanya seorang periang ini selama diklat kehilangan keceriaannya, terutama saat-saat terberat selama diklat yaitu ketika solo bivak hari-2 “hamper gila!”ucapnya untuk menggambarkan beratnya diklat saat itu.
“Senang karena sudah selesai, pas disematkan syal bangga, tapi minder karena merasa belum pantas untuk dilantik.”jawabnya ketika ditanyai perasaan saat dilantik.
– Andi ‘Jebleh’ Wibawa
Pria dengan logat khas Sumedang ini tidak banyak bercerita tentang diklat. Yang pastinya Jantera begitu mempesona dirinya sehingga memiliki keinginan yang kuat untuk mengikuti diklat.
– Khoirul ‘Beuheung’ Munawaroh
Apabila melihat dari postur tubuhnya yang hamper serupa dengan besar cariel yang dibawanya pasti membuat orang lain terkejut karena bisa melewati 12hari diklat dengan cariel tersebut. Dirinya sendiri sempat pesimis untuk mengikuti diklat, “ Perasaan saya sangat berkecamuk, ada satu pertanyaan yaitu apakah saya mampu atau tidak melampaui diklat ?”
Anggota muda yang akrab dipanggil Khoi ini mengaku solo bivak adalah hal yang paling berkesan karena diajarin sabar, berani, tidak takut ketika sendiri, dan saling membantu yang lain. Selain itu kejadian leher kram gara-gara cariel yang berat juga menjadi kisah paling berkesan lainnya selama diklat.
– Seli ‘Ngenges’ Yulianti
Kedinginan selama diklat itu sudah biasa, kelelahan apalagi, tetapi cara mengatasi lelah itu sengan sering tertawa itu yang tidak biasa. pada saat-saat tertentu terkadang dia suka menghibur dirinya dengan tertawa. Contoh yang bagus, agar tidak terlalu menjadi beban diklatnya.
– Zaenal ‘Webbing’ Arifin
Calon siswa yang kemudian jadi siswa yang kemudian jadi Anggota Muda, dan kemudiannya lagi menjadi Ketua BEM HMJP Geografi. Itulah dia, Zaenal yang kemudian disebut webbing.
Sangat takut ketinggian, itu yang membuatnya memecah rekor selama kegiatan panjat tebing. Walaupun demikian, dia tetap bias lulus diklat. “Amazing, ga nyangka, dan tahu batas paling maksimal dari mental. Terharu, senang dan bangga!”begitu jelasnya mengenai perasaan lulus walaupun sedih karena orangtua tidak dating menyambut.
– Anisa ‘Palid’ Yudita
Walaupun tahun akademik sudah bisa dibilang memasuki detik-detik tahun akhir, dia tetap dengan optimis mengikuti kegiatan diklat Jantera dengan alasan ingin belajar lebih banyak lagi, ingin mempunyai keahlian lebih banyak lagi.
Akhirnya, diklat selama 12 hari dapat dilalui walaupun hampir hanyut di derasnya sungai karena badannya yang tak kuat menahan arusnya.
– Binta ‘Ohel’ Zidni ‘Ilma
Tidak jauh beda dengan Khoi, postur tubuhnya yang tergolong kecil itu juga membuat orang kagum ketika melihatnya berdiri tegap dengan cariel berat di pundak. Dari jalan tegap, membungkuk, oleng-oleng hingga jatuh terseok kuat dijalankannya. Walau jatuh dan terasa masih jauh, dia tidak takut “Aku dibantu sama saudaraku. Aku bisa karena saudara-saudaraku”begitu katanya.
Dia itu Binta. Walau cariel nyaris menutupi badan yang tipis, semangatnya tetap terlihat, bahkan dari kejauhan. Hal yang paling berat selama diklat ternyata bukan pada longmarch ataupun pendakian, tapi pada penyeberangan. “Takut hanyut dan tenggelam”katanya.
– Andi Aji
Pria kelahiran 28 September ’95 yang berperawakan tinggi ini beda lagi ceritanya. Keikutsertaannya diklat pada tahun pertama kuliah menceritakan sisi diklat yang lain, yaitu tentang ngerinya malam survival.
Saat itu kukira akan pindah ke camp berikutnya, eh tapi instruktur berkata “selamat datang di camp berikutnya”. Sebelum mulainya survival, kami disuruh membuat bivak. Setelah membuat bivak lalu waktunya makan besar. Mengapa makan besar? Karena saat itu merupakan makan paling kenyang dan paling banyak menunya menurutku.
Langit semakin gelap, setelah makan kami kembai ke bivak masing-masing untuk beristirahat, aku masih memikirkan apakah bivak yang ku buat akan aman atau tidak< khususnya dari hujan. Ketika melihat kondisi langit sepertinya mendung dan prediksiku malam akan hujan. Tidak lama hal yang ditakuti itu terjadi saat udara malam semakin menusuk, air hujan pun masuk ke dalam bivak. Namun sudah kepalang basah(dalam hati), yah akhirnya terpaksa saja aku harus tidur dengan keadaan basah dengan pikiran tak karuan. Aku merasa seperti tersiksa sekali karena semakin malam dan semakin basah dingin yang terasa pun semakin menggigit. Saat itulah terasa bahwa malam itu adalah malam yang sangat mencekam bagiku, namun tak bisa apa-apa lagi, aku hanyalah bisa merasakan dinginnya malam itu.
– Inarotul ‘Mandor’ Faizah
Ya, badannya tegap. Tinggi. Pantas juga disebut mandor. Wanita asli kebumen ini fix ikut diklat walaupun tahun sebelumnya sempat direcoki dengan bisikan lain.
– Lisna ‘Jentul’ Nurdianti
Walaupun dia tidak asing dengan yang namanya diklat dan segala macam rupa bentuk kegiatannya, tetap saja dia merasa deg-degan sama seperti saudaranya yang lain. Dibantu dengan teman dan saudaranya, dia dapat melengkapi prasyarat diklat. Setiap tes dilalui. Hingga akhirnya mengikuti diklat dan dilantik menjadi Anggota Muda, “bangga, bahagia, seneng banget poko na mah.”
. Lisna sangat menyukai kegiatan caving dan SRT, waalaupun itu gagal sehingga harus di rescue oleh instruktur. Sementara yang menjadi bagian terberat selama diklat adalah kegiatan moving together dan juga berjalan lengkap dengan kutu air sekujur tapak kaki.
– Hasan ‘Nganga’ Udin
Udin merupakan sosok keceriaan semasa diklat. Keceriaan bagi peserta apalagi panitia. Tawanya yang khas selalu menghias diklat. Bukan respon ketidakseriusan diklat, tetapi memang pribadi yang unik dan ceplas-ceplos termasuk untuk hal tertawa. Pria kecil, energik ini berasal dari Aceh, walaupun akhirnya pindah ke Medan.
Ketertarikannya kepada Jantera dimulai sejak dia mengikuti Summer Camp, “Janteratempatnya mendapat pengalaman yang benar-benar baru.”Banyak hal yang membuat diklat sangat berkesan baginya, diantaranya yang paling berkesan adalah pada saat bajunya terbalik sehingga pada saat baris dia menjadi bahan sorotan. Sementara hal yang paling berat dia mengakui bahwa tidak ada yang mengalahkan moving together. Walaupun demikian, dia akhirnya mampu menembus buana dengan perasaan nano-nano juga terharu. Hal yang paling dia senangi ketika dia sudah punya keluarga baru, mendapat perhatian baru yang tidak bias dibayar dengan apapun.
– Rizka ‘Cekek’ Bahari
Banyak yang bertanya, kenapa dia memutuskan untuk ikut diklat. Jika dilihat dari gayanya, ya, wajar-wajar saja. Gaya girly-nya menutupi kesan kecintaannya terhadap kegiatan alam bebas. Walaupun sehari-harinya make up menempel pada wajahnya, tetapi dia siap untuk meninggalkan kebiasaan itu untuk mengikuti diklat. “Ga nyangka bisa menembus batas dengan kegiatan yang berat.”ucapnya karena sangat jarang melakukan kegiatan yang berat. Sehingga menyisakan kebanggaan, “Ga nyangka setelah 12 hari di lapangan belum ada yang lebih berkesan dari itu.”
– Rodhia ‘Ngokngok’ Izzati’
Lagu ngokngok selama longmarch pasti dengan semangat dinyanyikannya. Nyanyian itu semacam jadi penghibur baginya. Kerinduan akan Sumatera Barat, tanah kelahirannya ditunda dulu. Liburnya dimanfaatkannya untuk mengikuti diklat.
– M. Deni Mahmudin
Walaupun dilengserkan dari posisi dansis, Deni tetap semangat menjalani diklat. Dalam posisi paling belakang, dia selalu berperan sebagai sweaper atau penjaga belakang yang sangat peduli dengan keadaan saudaranya yang lain di depannya. Terkadang berlari jauh dari belakang utnuk membantu yang lainnya yang sedang terhambat jalannya.
Penulis: Tim Buletin Jantera
0 Comments