Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir selat sunda yaitu selat yang memisahkan pulau Jawa dan Sumatra, nama gunung Karakatau sudah tidak asing lagi di dengar, gunung tersebut menyimpan historis yang cukup dalam bagi masyarakat sekitar. Gunung yang terletak di selat sunda tersebut tergolong gunung yang masih aktif, masuk kedalam gunung berapi tipe A. Gunung ini pernah beberapa kali mengalami letusan pada zaman kolonial Belanda, dengan letusan terbesar terjadi pada 26-27 Agustus 1883 Masehi, letusan tersebut sangat dasyat sampai menimbulkan Tsunami, material yang dimuntahkan ke angkasa membuat langit menjadi gelap selama beberapa hari, dentum letusannya terdengar sampai Singapura dan Malaysia, abu vulkanik menyelimuti daratan besar sumatra dan jawa.
Gelombang tsunami yang timbul menghancurkan pesisir pantai yang ada di selat sunda dan teluk semangka serta menewaskan sekitar + 36.000 jiwa masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir tersebut. Pada waktu itu jumlah penduduk indonesia masih di kisaran 30 Juta Jiwa, bisa di bayangkan jumlah korban tersebut tebilang sangat besar dengan asumsi masyarakat yang tinggal di pesisir itu tidak sepadat pada zaman sekarang. Kapal-kapal besar yang sedang sandar pun hanyut kedaratan dengan radius lebih 5 km* dari garis pantai (*menurut keterangan warga, sempat ditemukan sebuah kapal besi ditengah-tengah daratan, namun sayang kapal tersebut telah tertimbun material tanah sehingga sudah tidak terlihat lagi; sumber: Kades Karang Rejo).
Selain selat Sunda gelombang Tsunami pun menghantam pesisir teluk Semangka yang berada di bagian ujung tenggara pulau Sumatera yakni di kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. hampir seluruh bagian pesisir teluk tersapu oleh gelombang Tsunami. Menurut penuturan masyarakat di pesisir semangka, pada Zaman kelom, sebutan masyarakat untuk jaman dulu, pernah terjadi lawo caka atau laut naik, kejadiannya ketika sore hari mendengati waktu magrib, laut mendadak surut hampir setengah luas selat Semangka, melihat kejadian tersebut masyarakat berduyun-duyun menuju pantai dan memungut ikan yang ada di dasarnya. Tidak lama terlihat gelombang besar datang menuju kearah daratan pesisir, semua orang yang berada di pantai ketakutan dan berlari menyelamatkan diri ke arah perkampungan.
Sebagian warga ada yang mencoba menyelamatkan diri dengan cara naik ke atap rumah, naik pohon dan mencoba berlari sejauh mungkin dari garis pantai, namun gelombang itu terlalu cepat menghantam daratan dan menghayutkan semua isi perkampungan termasuk pemiliknya, meskipun rumah mereka relatif tinggi karena berbentuk panggung, tetap saja gelombang itu menelan bangunan, gelombang Tsunami yang datang tingginya lebih dari 15 m. Bukti dari kedasyatan terjangan gelombang Tsunami ini di temukannya batu-batu karang laut berbagai ukuran di sekitar kebun warga dan sungai-sungai, titik terjauh di temukannya batu karang ini adalah radius 1.032 meter dari garis pantai dengan ketinggian 21 mdpl.
Selain batu karang pada tahun 1980 an masyarakat menggali batu-batu apung dari letusan Gunung krakatau yang tertimbun di sekitar pesisir teluk semangka, dan menjualnya kepada para pengumpul dari tanah jawa dan di kirim ke eropa untuk di jadikan bahan campuran kosmetik dan bahan baku lainnya, 1 kg batu apung di hargai 1.000 rupiah, mungkin sekarang setara dengan 100.000 rupiah.
Batu apung tersebut selain bisa di jumpai di sekitar pesisir, di temukan pula di beberapa aliran sungai yang mendekati wilayah pesisir teluk Semangka. Batu apung adalah salah satu material batuan yang dilemparkan oleh erupsi gunung Krakatau, sekarang jumlah batu tersebut tidak sebanyak dulu pada tahun 1980 an, jumlahnya sedikit hanya berbentuk butiran lonjong dan bulat sebesar buah jeruk. Perkampungan-perkampungan masyarakat luluh lantak. Daratan persisir tenggenangi air selama satu minggu, langit pun gelap dalam beberapa hari, masyarakat yang selamat, mencoba bertahan hidup di sekitar gunung dan bukit-bukit di belakang perkampungan, mereka mengkonsumsi makanan seadanya, sampai diceritakan ada seorang ibu yang melahirkan bayi di atas pohon, sungguh sangat memprihatinkan kelahiran itu terjadi di tengah kondisi yang sangat sulit pasca Tsunami letusan Gunung Krakatau.
Baru setelah langit terang dan daratan surut, masyarakat kembali ke perkampungan, karena perkampungan yang semula telah rusak parah dan tidak layak huni, perkampungan baru pun di bangun tidak jauh dari lokasi awal dengan jarak bangunan rumah yang relatif jauh dari garis pantai, orang-orang pada waktu itu cepat belajar dari pengalaman sengaja mendesain perkampungan relatif jauh dari garis pantai agar suatu saat ketika gelombang besar datang lagi, perkampungan tidak terlalu rusak terkena hantaman gelombang. Masyarakat secara gotong royong membangun umbulan sebutan masyarakat lokal untuk nama kampung dan bangkit dari keterpurukan, beberapa psirah atau kerajaan kecil pun mencoba menjalankan kembali pemerintahannya, di teluk semangka ini ada beberapa psirah yang berkembang di bawah kesultanan banten, seperti Psirah Way Nipah, Tanjung Burney dan psirah Agung.
Diantara psirah tersebut yang paling ramai dan besar adalah Tanjung Burney, di Tanjung Burney ini berkembang pasar pelabuhan yang banyak di kunjungi orang-orang dari pelosok negeri bahkan luar negeri. Barang hasil bumi seperti kayu, rotan, lada dan rempah-rempah menjadi andalan yang di jajakan oleh asyarakat lokal. Bukti dari adanya kegiatan jual beli di Tanjung Burney ini di temukannya kramik-kramik Tiongkok dari beberapa dinasti terakhir. Warga menemukan kramik-kramik tersebut ketika menggali tanah untuk dijadikan area tambak ikan. Kemungkinan pasar pelabuhan Tanjung Burney ini pun didatangi oleh orang-orang luar negeri yang berasal dari China, India dan negara lainnya. Pada saat kejadian Tsunami, pasar pelabuhan tanjung burney ini pun hancur tersapu gelombang, mugnkin jika tidak hancur akibat tsunami lokasi Tanjung Burney sekarang akan menjadi pusat perdagangan yang ramai di kabupaten tanggamus, tidak seperti yang sekarang hanya berupa tambak, kebun dan beberapa rumah saja.
Seiring perkembangan, tanjungan ini mengalami perubahan bentuk karena di pengaruhi oleh endapan atau tanah timbul yang terjadi di sekitar muara tersebut, tanjung burnai ini merupakan muara dari beberapa sungai seperti Way Kerap, Way Bayi, dan Way KKO, di sekitar muara tersebut bisa kita jumpai hamparan hutan mangrove yang relatif masih alami, beberapa jenis mangrove seperti api-api, bakau dan nipah hidup di sini, tempat pemijahan ikan-ikan ini cukup terjaga, jarang nelayan yang melakukan penjaringan ikan di sana. Hutan mangrove di tanjung burnai ini di kawatir mengalami kerusakan karena terdesak oleh perluasan tambak dan perkebunan yang dilakukan masyarakat. sebelum terjadi Tsunami kondisi hutan mangrove yang ada di sekitar muara-muara sungai pesisir teluk Semangka terutama di dataran rendah Wonosobo cukup luas, kemungkinan setelah terjadi Tsunami Letusan Gunung Krakatau, luasnya mengalami menyusutan karena kerusakan akibat Terjangan Tsunami tersebut.
Dari beberapa pemaparan di atas ada beberapa hikmah dan manfaat yang bisa di ambil dari bencana Tsunami dan letusan Gunung Krakatau ini, seperti pemahaman akan bencana Tsunami, material letusan seperti batu apung yang yang mempunyai nilai ekonomis, dan konsep tata ruang perkampungan yang di desain relatif jauh dari garis pantai, namun laju pertumbuhan penduduk memaksa masyarakat mendirikan bangunan dekat dengan garis pantai, hal ini sangat berisiko ketika bahaya bencana Tsunami datang kembali, kemungkinan jumlah korban jiwa pun akan semakin lebih banyak di banding kejadian Tsunami sebelumnya. Peristiwa Tsunami akibat letusan gunung krakatau sendiri meninggalkan kisah cerita dan mungkin rasa trauma bagi sebagian masyarakat yang mengetahuinya, namun sayang kisah cerita tentang bencana Tsunami itu di ambang terlupakan, karena hampir sebagian generasi muda dan masyarakat pendatang tidak mengetahuinya, padahal ada banyak pembelajaran yang bisa di ambil dari kisah tersebut.
Penulis: Ruslan Budiarto (Jantera 24)
0 Comments