Kala itu matahari berada setengah merunduk ke arah barat, kalau dikira-kira jarum jam berhenti di angka dua lebih wib. Rasa lelah berjumpa pada jiwa dan raga, wajar saja bulan itu merupakan bulan ramadhan. Mau makan dan minum jelas tidak bisa, solusi pasti adalah mencari suasana tenang. Bulan berkah ini merupakan momen saya untuk mencari responden, maklum saya mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan keharusan bersyarat lulus. Saya bersama teman seperjuangan pencari responden Husni, Rizal, dan Cecep berencana bersinggah di sebuah pantai. Persinggahan ini memang sudah kami jadwalkan dari semalam karena beberapa dari kami belum pernah kesana.
Tersentak mata ini, seperti melihat yang belum pernah dilihat. Di Selatan Kabupaten Tasikmalaya terdapat suatu tempat yang membuat saya dan teman saya berfoto narsis. Tempat tersebut bernama pantai karangtawulan. Pantai merupakan tempat yang romantis untuk mengobrol senja di sore hari. Bagi kalangan umum rasanya sudah biasa dengan tempat bernama pantai, apalagi orang pesisir. Masing-masing pantai memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penggunaan pariwisatanyapun akan berbeda. Pantai karangtawulan ini cocok sekali untuk mengobrol, nongkrong berbagi cerita bersama yang terdekat, tidak pada berenang ceria karena ombaknya yang besar dan kondisi medan yang tidak memungkinkan.
Bruuussssss !!! Terdengar suara ombak menerjang karang. Terlihat karang tersebut masih berdiri kokoh, hingga ombak sendiri yang terpecah tak beraturan. Mungkin usaha yang sia-sia bagi ombak untuk memecahkan karang, tapi begitulah ombak selalu mencoba memecahkan karang yang kokoh itu. Ombak sadar butuh waktu lama untuk memecahkan karang, ombak ini sabar sekali dan memiliki tekad kuat untuk memecahkan karang, mungkin karena dukungan angin laut yang terus mendampingi, terus mengarahkan ombak menuju karang. Sepertinya angin laut dan ombak yakin apabila karang terkikis akan muncul sesuatu yang lembut, sesuatu yang lembut seperti pasir putih.
Pantai karangtawulan berletakkan di Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya. Akses menuju pantai ini dapat dibilang mudah. Jalannya pun bagus beralaskan hotmik dan beberapa ada aspal. Apabila dari bandung jalan terdekat adalah menuju arah pantai Cipatujah. Sekitar empat puluh menit dari pantai Cipatujah melalui jalur timur akan tiba di pantai Karangtawulan. Apabila diteruskan lagi menuju timur selanjutnya akan sampai di pantai Pangandaran. Jalur tersebut cocok sekali untuk penggiat susur pantai atau yang menyukai touring motor ataupun mobil, karena banyak sekali destinasi pantai disepanjang jalan.Pantai ini terbilang sepi, yang terdengar paling suara ombak, suara daun tersentuh angin dan suara burung. Pedagang dan pengunjungpun terbilang jarang, tidak seramai di pantai wisata pada umumnya. Tiketnyapun terbilang murah hanya dengan 2500 rupiah kita bisa menikmati setiap sudut tempat pantai Karangtawulan itupun sudah dengan parkir motor. Hal yang unik pada pantai ini adalah karang tebing yang tersebar di sekitaran pantai, bahkan ada yang ditengah laut seperti pantai Sawarna di Sukabumi. Pantai Karangtawulanpun memiliki semacam puncak tebing, hampir mirip dengan Puncak Guha yang berada di Garut Selatan dan ada juga destinasi karang yang mirip dengan Tanahlot Bali. Nyaman sekali ketika berada diatas puncak tebing karang tersebut, karena alas dari puncak karang tebing adalah rumput halus. Kami menyebutnya bukit teletabis. Mirip sekali dengan bukit yang ada di serial teletabis.
Bukit teletabis tersebut menjorok ke arah laut dan dipagar setiap sisinya. Ujung dari bukit tersebut langsung mengarah laut sehingga akan terlihat jelas ombak yang menerjang karang indah sekali seperti di film Dark Show (adegan sang ratu terjun ke laut dari atas tebing). Di bukit tersebut kami bisa tiduran, bermain layaknya teletabis dan kebetulan kami berempat, sudah seperti teletabis. Di atas bukit ada fasilitas untuk duduk ceria, bangunan tersebut terbuat dari batu bata semen. Sayang sekali bangunan itu dipenuhi oleh coretan vandalisme yang meninggalkan sejarah tak berarah. Selain itu ada juga bangunan pengamat berlantai empat. Ketika naik ke atas akan terlihat pemandangan pantai dari barat ke timur, dan Kecamatan Cikalong. Sesekali kami berfoto ria mengabadikan momentum bersama.
Terpikir oleh benak rasanya akan sangat menarik apabila mendirikan tenda dan memasang hammock disana. Pohon kelapa dengan daun lebar berdiri rapat, angin sepoi-sepoi melintas sanubari dan rumput hijau yang bersih menyebabkan pinggir pantai sejuk untuk berteduh. Matahari semakin lama semakin bungkuk di arah barat seolah-olah memberi pertanda kepada kami untuk mencari santap maghrib. Setelah lama menikmati suasana kamipun beranjak menuju tujuan berikutnya yaitu santap magrib.

![3[1]](http://jantera.geografi.upi.edu/wp-content/uploads/311-300x225.jpg)
0 Comments