Gunung Raung merupakan salah satu gunung yang berada di ujung timur pulau Jawa dan termasuk gunung terekstrim di Indonesia. Gunung yang memiliki ketinggian 3344 mdpl ini merupakan gunung tertinggi ke dua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru. Selain itu, gunung yang terakhir meletus Juli tahun 2015 ini memiliki kemenarikan tersendiri, yaitu kaldera nya yang cukup luas serta medan yang cukup ekstrim untuk dilalui para pendaki untuk mencapai Puncak Sejati.
Ada beberapa jalur yang biasa dipakai untuk mendaki gunung raung yaitu Sumber Waringin (Bondowoso), Kalibaru (Banyuwangi), Glenmore (Banyuwangi). Namun karena yang kami tahu jalur via Kalibaru merupakan jalur yang menantang, akhirnya kami melakukan pendakian menggunakan Jalur Kalibaru. Pendakian kali ini beranggotakan 3 orang termasuk saya. Untuk mendaki sampai Puncak Sejati, pendaki diharuskan menggunakan peralatan climbing seperti Harness, tali Kernmantel, Carabiner, figure of eight, dan peralatan lain yang berfungsi untuk mengamankan. Selain itu, ada persyaratan administrasi lain yang harus dipenuhi untuk bisa mendaki gunung ini, diantaranya surat keterangan sehat, fotocopy KTP, dan surat keterangan yang akan diberi saat di basecamp.
Kami berangkat dari terminal Ubung, Denpasar menggunakan bis dengan ongkos 80 rupiah sampai stasiun kalibaru dan sudah termasuk ongkos kapal feri. Perjalanan dari Denpasar sampai Kalibaru kurang lebih sekitar 6 jam. Setelah sampai di depan Stasiun Kalibaru kami langsung disambut oleh beberapa tukang ojek yang nampaknya sudah terbiasa dengan kedatangan para pendaki Gunung Raung.
Mereka langsung menawari kami tumpangan ke Basecamp pendaki Gunung Raung dengan harga 30 ribu sampai rumah Pa Soeto. Bagi yang belum tahu, biasanya jika kita ingin mendaki Gunung Raung kita akan menetap di Basecamp. Ada dua tempat yang biasa dijadikan basecamp oleh para pendaki, yaitu rumah Bapa Soeto (Alm) dan rumah Pa Sunarya yang berada di pos 1. Kami pun memutuskan untuk tinggal di basecamp Pa Soeto selama 2 hari untuk mempersiapkan logistic dan persyaratan serta beristirahat.
Kami tiba di rumah Pa Soeto pada hari Selasa malam sehingga masih punya 1 hari untuk istirahat dan mempersiapkan diri. Saat berada di rumah Pa Soeto, kita akan dijamu oleh Bu Soeto (istri Alm Pa Soeto) yang sudah banyak menjamu para pendaki Gunung Raung jauh sebelum kami datang.
Hari 1 (basecamp – Camp 4)
Basecamp – Pos 1
Setelah 2 hari menginap di rumah Pa Soeto, kami pun memulai pendakian pada hari Kamis. Perjalanan dimulai dengan menggunakan ojek ke pos 1 dengan tarif 35 ribu. Saya rasa tarif ini cukup murah, mengingat jarak yang lumayan jauh dan medan yang cukup berbahaya. Sekitar 30 menit menggunakan motor akhirnya kami sampai di pos 1 dan disana terdapat basecamp kedua, yaitu rumah Pa Sunarya. Di pos ini juga merupakan tempat terakhir kita untuk mengisi air dikarenakan jika sudah keatas tidak akan ada air lagi. Jika kita melakukan pendakan melewati Kalibaru, kita harus menempuh 4 pos dan 9 Camp.
Pos 1 – Camp 2
Perjalanan dari pos 1 dimulai pada pukul 8 pagi. Dalam perjalanan dari pos 1 sampai Camp 2, medan tidak terlalu berat namun jaraknya cukup jauh. Diawal perjalanan kita harus melewati kebun kopi milik warga setempat. Lama waktu yang dibutuhkan dari pos 1 ke Camp 2 kurang lebih 4 jam perjalanan. Camp 2 memiliki lahan yang cukup luas untuk dijadikan tempat Camp jika kita kelelahan. Namun biasanya dalam satu hari para pendaki biasa menyelesaikan hingga Camp 4.
Camp 2 – Camp 3
Sesampainya di Camp 2 kami pun beristirahat cukup lama karena perjalanan cukup melelahkan dengan membawa 9 liter air di dalam Carrier. Saat beristirahat di Camp 2, kami bertemu dengan pendaki yang baru turun dari Camp 3. Usut punya usut mereka pernah mendengar bahwa di sekitar Camp 2 terdapat sumber air namun mereka tidak tahu dimana lokasi nya karena hanya mendengarnya saja dari hasil obrolan mereka dengan porter setempat. Keberadaan sumber air dekat Camp 2 ini masih belum bisa dipastikan kebenaranya. Perjalanan dari Camp 2 ke Camp 3 tidak terlalu lama, kurang lebih sekitar 1 jam.
Camp 3 – Camp 4
Perjalanan dari Camp 3 ke Camp 4 juga tidak terlalu jauh, kurang lebih 90 menit dengan kondisi santai. Saat melakukan pendakian, disarankan menggunakan celana panjang dan lengan panjang karena disana banyak tanaman berduri yang tentunya jika menusuk lumayan menjengkelkan. Kurang lebih pukul 4 kami sampai di Camp 4 dan segera mendirikan tenda untuk bermalam disini. Lahan di Camp 4 ini tidak terlalu luas, mungkin tidak lebih dari 10 tenda yang bisa buka lapak disini.
Hari 2 (Camp 4 – Camp 5)
Hari ke dua perjalanan dimulai pukul 10 pagi dikarenakan perkiraan kami untuk sampai ke Camp 7 tidak terlalu jauh (menurut peta yang kami bawa). Memang benar jarak yang kami lalui tidak terlalu jauh, namun medan bisa dibilang cukup berat karena mulai banyak tanjakan yang curam, licin, serta panjang. Kami sampai di Camp 5 kurang lebih pukul 12 siang.
Camp 5 – Camp 6
Selama berjalan dari Camp 4 hingga Camp 7, kita akan disuguhi medan yang terus menanjak sehingga tenaga kita akan lebih terkuras di sini. Saat di perjalanan, kondisi tanah masih basah dikarenakan sebelumnya hujan sehingga menambah berat perjalanan kami. Camp 6 dapat ditempuh selama kurang lebih 90 menit dari Camp 5.
Camp 6 – Camp 7
Saat itu kurang lebih pukul setengah dua siang, cuaca yang tadinya mendung mulai berubah cerah. Bagi saya datangnya sinar matahari dapat membuat semangat dalam melakukan perjalanan bertambah. Perjalanan dari Camp 6 ke 7 kurang lebih 1 jam. Setelah sampai di Camp 7, kamipun segera memasang tenda dikarenakan cuaca kembali menjadi mendung. Di Camp 7 ini pemandangan cukup bagus dikarenakan berada di area cukup terbuka. Dari sini kita dapat melihat gemerlap lampu – lampu di Banyuwangi pada malam hari. Setelah selesai memasang tenda dan makan, kamipun segera mempersiapkan peralatan untuk melakukan summit esok subuh.
Hari 3 (Camp 7 – Camp 8)
Perjalanan hari ini dimulai pada pukul setengah 4 subuh setelah sebelumnya sudah mempersiapkan perbekalan makanan dan peralatan untuk melakukan summit. Perjalanan dari Camp 7 ke Camp 8 kurang lebih 1 jam. Perjalanan kali ini bisa lebih cepat karena kami hanya membawa peralatan dan perbekalan makanan untuk pagi dan siang saja.
Camp 8 – Camp 9
Perjalanan Camp 8 ke Camp 9 memakan waktu sekitar 1 jam. Di Camp 8 dan 9 terdapat area untuk mendirikan tenda, namun tidak terlalu luas, tidak lebih dari 5 tenda yang dapat didirikan disana. Di Camp 9 kami beristirahat kembali sebentar untuk melaksanakan sholat.
Camp 9 – Puncak Bendera – Puncak 17
Perjalanan dari Camp 9 menuju Puncak Bendera kurang lebih 20 menit. Puncak Bendera merupakan puncak terakhir yang bisa dicapai jika kita tidak menggunakan alat. Pemandangan dari puncak bendera cukup bagus untuk diabadikan. Dari sana kita dapat melihat berbagai gunung yang ada di sekitar Gunung Raung, bahkan Gunung Agung di Bali pun bisa terlihat apabila cuaca sedang baik. Gunung Argopuro dan Gunung Semeru dapat terlihat dengan jelasnya dari puncak ini. Ternyata setelah sampai di puncak Bendera kami menyadari ternyata hanya kami yang melakukan summit. Dengan begitu perjalanan pun akan lebih singkat dan membuat kami lebih semangat menuju Puncak Sejati. Setelah puas menikmati indahnya pemandangan, kamipun melanjutkan ke puncak 17 dan sampai pada pukul 9 pagi.
Puncak 17 – Puncak Sejati
Setelah rappelling dari puncak 17, kami mengalami sedikit kendala, yaitu kebingungan dalam memilih jalur. Waktu kami terbuang beberapa jam karena salah jalur seperti yang ditunjukan oleh gambar. Kami sempat melalui jalur tersebut sebelum akhirnya kembali lagi karena memang sangat berbahaya dan bukan jalur yang seharusnya. Disitu saya sendiri hampir meninggal karena batu yang tangan dan kaki saya pijak terlepas, untungnya dibawah ada sedikti pijakan batu yang kuat. Akibatnya, perkiraan kami sampai di Puncak Sejati pukul 10 meleset menjadi pukul 12 siang. Saat sampai di Puncak Sejati, rasanya semua perjalanan yang telah dilalui terbayar. Melihat megahnya kawah terbesar ke 2 se Indonesia serta melihat bekas letusan yang masih baru cukup membuat takjub dan membuat kita sadar betapa kecilnya kita di alam semesta ini. Tak seperti kata orang, di puncak kami tidak mendengar sama sekali suara gemuruh yang sering dibicarakan. Nampaknya gunung ini sedang tenang dan belum mengeluarkan suara raunganya.
Setelah puas di puncak, kamipun turun kembali ke Camp 7 dan sampai disana pada pukul 5 sore. Beruntungnya saat kami summit tidak terjadi hujan di perjalanan yang tentunya akan merepotkan bila hal itu terjadi. Kamipun segera beristirahat dan esok harinya kami langsung melakukan perjalanan ke Basecamp dan sampai pada sore hari.

1 Comment