“Nanti kita akan berkunjung ke Hutan Wanagama I”, secepat kilat kami menajamkan telinga—memperhatikan apa yang akan dikatakan Bapak X dengan logat Jawa-nya yang khas.
Ah iya, ceritanya kami sedang mengadakan rapat angkatan untuk membahas lokasi KKL Tahap 2, yang kemudian akan dikunjungi beberapa hari setelahnya. “Wah, perjalanan yang pasti menyenangkan!” seru kami dalam hati.
Perkenalkan, kami adalah Mahasiswa Pendidikan Geografi UPI, sebuah prodi yang menawarkan sepaket perjalanan liburan berbasis akademik. Jadi menurutku kami adalah sekumpulan orang yang beruntung, yang bisa belajar langsung dari alam sekaligus me-refresh pikiran dari beban perkuliahan yang terkadang membuat penat.
Benar, namanya adalah Hutan Wanagama I, nama yang terdengar sangat asing di telinga kami (bahkan mungkin juga di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia). Tapi, sepertinya tidak untuk masyarakat Gunung Kidul dan sekitarnya. Hutan Wanagama I bahkan sudah seperti oase menyejukkan di tengah padang gersang yang mereka tinggali selama bertahun-tahun.
Secara bahasa, Wanagama terbentuk dari dua kata yakni wana dan gama. Dalam Bahasa Jawa wana diartikan sebagai alas atau hutan, dan gama adalah kependekan dari istilah Gadjah Mada. Jadi, sudah bisa dipastikan kalau Wanagama merupakan alas atau hutan yang dirintis, dikembangkan, dan dikelola oleh Universitas Gadjah Mada (Daerah Istimewa Yogyakarta).
Ternyata Yogya tidak hanya istimewa karena Keraton Kesultanan dan Malioboro-nya. Lebih dari itu, ada surga kecil yang tersembunyi di balik tanah tandus Gunung Kidul.
Wanagama I merupakan hutan buatan yang digagas oleh Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1966 lalu. Terbilang cukup unik, karena tumbuh di daerah karst yang gersang dan berbatu, jadi bisa dibayangkan bagaimana luar biasa besarnya perjuangan akar pepohonan yang hidup di daerah tersebut.
Sejak awal kemunculannya, Hutan Wanagama I menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat dan kaum akademik wilayah DIY. Mereka yang kontra biasanya akan memandang skeptis usaha Prof. Oemi dan rekan-rekannya untuk membuat sebuah hutan di atas daerah kapur yang miskin air. Namun seiring berjalannya waktu, dengan usaha pantang menyerah dan bantuan para pemangku kebijakan setempat, Hutan Wanagama I akhirnya bisa menunjukan sebuah keajaiban yang selama ini diragukan oleh kebanyakan orang. Daerah karst yang gersang (tanpa pohon) kemudian bisa ditumbuhi oleh beberapa tanaman hijau secara berkala.
Memiliki luas kurang lebih 600 Ha, Wanagama I merupakan kawasan yang dihuni oleh sekelompok tumbuhan berjenis kayu-kayuan keras (seperti jati, kayu putih, akasia, pinus, dll). Bahkan pohon jati di hutan ini merupakan salah satu jati terunggul di kelasnya. Jati unggulan itu dinamakan berdasarkan nama penggagasnya, Ibu Megawati Soekarnoputri, sehingga dinamakan sebagai Jati Mega.
Orang mungkin tidak akan pernah mengenali Wanagama yang dulu, Wanagama tidak lagi menjadi kawasan batu gamping yang gundul dan gersang. Kini tempat itu telah berubah menjadi kawasan hijau produktif, salah satu penyumbang oksigen terbesar untuk wilayah Gunung Kidul dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selain bernilai ekologis, Hutan Wanagama I juga memiliki nilai sosial dan nilai ekonomi bagi penduduk di sekitarnya.
Gunung Kidul yang terkenal sebagai kabupaten termiskin di DIY kini memiliki salah satu lapangan pekerjaan baru untuk mencari penghidupan, biasanya dalam bentuk penjualan kayu, pengembangan ternak sapi, penjualan madu hutan, dan sejenisnya.
Bagi kami, Wanagama bahkan memiliki nilai yang lebih penting, yakni sebagai laboratorium maha agung yang disediakan oleh alam untuk dipelajari dengan seksama.
Ya, alam memang selalu mengajarkan banyak hal yang mengagumkan, salah satuya adalah semangat pantang menyerah yang ditawarkan oleh Wanagama. Jadi, sesulit apapun kemungkinan yang ada, jika kita memiliki niat yang baik dan usaha tidak kenal lelah, maka segala tujuan hidup akan tercapai dengan baik_hari ini, besok atau besoknya lagi. Ah iya, sekali-kali main jugalah kalian kesini. Wanagama menitipkan pesan, katanya “rindu!”—Lutvia Resta Setyawati (J.333.34.GGS)*
*penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Geografi 2014 dan Anggota Jantera 34 (Gardajita Gaota Sadara)


0 Comments