Mountaineering Dapat diartikan sebagai kegiatan pendakian gunung. Pendakian gunung adalah suatu olahraga keras, penuh petualangan, dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, keuatan serta daya juang yang tinggi. Hutan gunung merupakan kombinasi dari seluruh mata latih yang telah dilaksanakan sebelumnya. Karena pada saat itu kami ingin menikmati indahnya gunung yang dilalui oleh medan yang lumayan agak sulit, maka kami memilih gunung rakutak sebagai tempat kami melakukan diklanjut ini.
Gunung rakutak identik dengan medan yang sangat terjal dengan banyaknya akar yang menyebar di sepanjang jalur pendakian kami dan gunung ini juga terdiri dari dua puncak yaitu puncak 2 dan puncak utama, dan yang membuat khas adalah kedua puncak tersebut dipisah oleh igir yang lebarnya + 2 meter. Kondisi tersebut sangat menarik dan berkesan untuk dilalui dikarenakan menurut beberapa orang gunung ini merupakan sebuah miniatur dari gunung raung yang lokasinya terdapat di jawa timur, tapi yang membedakan adalah puncak gunung raung tidak di temukan adanya vegetasi melainkan hanyalah bongkahan-bongkahan batu besar, sedangkan puncak gunung rakutak masih terdapat berbagai macam jenis vegetasi rerumputan yang menghalangi kita dari terpaan angin secara langsung. Perbedaan tersebut dikarenakan ketinggian kedua puncak gunung tersebut yang berbeda.
Hari senin 22 agustus 2016, kami melakukan pematerian pertama yaitu pengenalan tentang mountaineering dan menejemen perjalan. Disitu kita banyak membahas tentang menejemen perjalanan yang akan kita lakukan nantinya, dan instruktur juga memberikan rekomendasi dari beberapa jenis gunung yang ada di bandung mulai dari bandung bagian selatan, bandung barat, dan bandung bagian timur. Pematerian tersebut berlangsung + 2 jam yang bertempat di sekre jantera.
Hari selasa dan rabu 23, 24 agustus 2016, kami melalukan pematerian yang kedua dan ketiga yaitu PPGD, SAR dan ESAR, BZP dan Survival yang dilaksanakan di sekre jantera, pematerian tersebut tidak lah asing bagi kami karena pada saat diklatsar kami sudah di perkenalkan dengan semua materi tersebut jadi kita tinggal mengulang dan memperbaiki apa yang menjadi kekurangan dalam diri kita masing-masing dari sesi materi yang dibahas dalam diklanjut hutan gunung ini. Disini kami juga mencari satu dari berbagai macam gunung yang ada di bandung dengan melihat pada kriteria gunung tersebut, apakah rekomendit atau tidak untuk dilaksanakan diklanjut di gunung tersebut, akhirnya kami menemukan gunung yang tidak terlalu tinggi yaitu gunung rakutak dengan ketinggian 1922 mdpl dengan medan yang variatif yang terletak di kecamatan pacet, kabupaten bandung, jawa barat.
Hari sabtu 27 agustus 2016, kami melakukan praktik semua mata latih yang ada di hutan gunung yang bertempat di sukawana, parompong, kabupaten bandung barat. Kami berangkat pukul 07.00 WIB dari gerbang 2 upi dengan menaiki angkot, tapi pada saat itu tidak semuanya ikut naik angkot karena diantara kita ada yang rumahnya jauh jadi dia menyusul di belakang kita. Sekitar pukul 07.40 WIB, kami tiba di di lokasi paraktik, tapi lokasi tersebut tidak asing buat kita karena pada saat diklantsar kami juga disana yaitu didaerah lembahan atau masyarakat sering menyebutnya dengan lembah kunti, mungkin disana ada sesuatu yang gaib atau apa lah tapi niat kita kesana bukan untuk menggangu tapi untuk paraktik jadi kita berfikir secara positif.
Praktik simulasi pertama yaitu survival dan BZP, karena lokasi tersebut tidak asing bagi kita jadi kita tau dimana kita akan mendirikan tenda alami, dan mencari makanan untuk keberlangsungan kehidupan kita nantinya. Kami membuat tenda masing dari batang pohon yang sudah tumbang dengan menggunakan atap dari dedaunan untuk pengikat kayunya kami menggunakan prusik dan sedikit akar-akar tanaman yang kuat untuk diikatkan di kayu tersebut. Sekitar 1,5 jam kami membuat tenda dan diantara kami ada yang sudah selesai dan ada yang belum. Saya dan raka mencoba mencari makanan di atas punggungan yang pada saat diklatsar kami menemukan banyak makanan buah-buahan, tapi mungkin pada saat itu bukan musimnya untuk berbuah jadi kami tidak mendapatkan hasil makanan.
Tapi masih ada satu tempat lagi yang kemungkinan disitu ada makanan, kami mencoba untuk kesana ternyata alhamdulillah kami menemukan arbei, pakis, dan berbagai macam tumbuhan obat. kami juga membuat perangkap untuk ikan, hewan dan belalang tapi tidak mendapatkan hasil dan disitu juga kami membuat alat pengumpul dan penyaring air untuk di minum yaitu dari bot aqua plastik, dari akar tumbuhan yang di pasang plastik, dan membuat lubang yang nantinya akan ditaruh plastik untuk mengendapkan air dan didalamnya di taruh gelas dan tumbuhan yang pada saat pagi hari tumbuhan tersebut akan mengembun dan airnya akan jatuh di gelas sehingga air tersebut dapat di minum.
Pukul 11.30 WIB kami melakukan simulasi praktik PPGD dan SAR dan ESAR. Kami menuju ke lapangan yang terletak tidak jauh dari perkampungan warga yaitu di daerah kebun teh dengan medan yang lumayan sulit untuk mengidentifikasi atau mencari korban di lokasi tersebut. Tim kami terdiri atas hasan : ketua, aiyanti dan ipan: bidikmen dan targetmen, ika : notulen, penyusur kanan : raka dan helga, penyusur kiri : elpin dan fauzia, dan pembawa alat : azim. Kami membidik ke arah 210 derajat dengan menggunakan metode open grid.
Sekitar 4 jam kami menyusuri kebun teh akhirnya helga menemukan korban dengan kondisi yang sangat buruk, yaitu kemungkinan korban terpeleset karena pada saat itu hujan deras dan akhirnya jatuh ke bawah, kami langsung memberikan pertolongan pertama pada korban dan ada yang membuat tandu dan akhirnya korban dapat di evakuasi. Parktik simulasi ini di tutup oleh evaluasi dari instruktur dan photo bersama.
Hari jum’at 2 september 2016, kami pergi menuju gunung rakutak, kecamatan pacet, kabupaten bandung untuk melakukan diklanjut hutan gunung. Sebelum kami pergi ke lokasi terlebih dahulu kami kumpul di sekre untuk packing dan bagi beban sesuai dengan proporsi. Setelah beben sudah terbagi, kami melakukan pemberangkatan dengan menggunakan angkot dan sebagian dari kita dan instruktur ada yang menggunakan motor. Kami berangkat pukul 16.30 WIB dengan lama perjalanan + 2,5 jam hingga akhirnya kami pun tiba di basecamp tapak rakutak, kita di sambut oleh yang merawat gunung tersebut dan dipersilahkan untuk istirahat dan berbincang-bincang mengenai gunung rakutak mulai dari jalur pendakian, kondisi medan, letak sumber mata air, dan sedikit tentang asal adanya tapak rakutak yang merawat dari segi kebersian dari sampah dan menjaga kelestarian alam gunung rakutak.
Kami memulai pendakian pukul 07.00 WIB dengan pembagian tim yaitu tim 1 : ipan, hasan, ika, tim 2 : raka, fauzia, helga, tim 3 : elpin, azim, aiyanti. Sebelum pemberangkatan kami melakukan olahraga dulu agar tidak terjadi keram pada saat pendakian nanti. Olahraga pun selesa, kami melakukan pendakian dengan tim pendaki masing-masing dan di setiap tim mempunyai peta jalur pendakian masing-masing, berhubung jalur 2 belum bisa di buka jadi kami menggunakan jalur 1 yang melewati daerah lembahan. Kami melewati perkampungan warga hingga akhirnya sampai di batas persawahan dari kampung tersebut.
Kami berhenti sejenak untuk plot beberapa cabang dan di batas tersebut kami sudah tampak berbagai macam vegetasi mulai dari bambu, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, tapi di situ di dominasi oleh pohon bambu yang membentuk lorong hingga cahaya matahari sulit untuk menembusnya sehingga membuat agak gelap dan menjadikan suasana yang tenang. Kami melanjutkan perjalanan dan mengamati vegetasi apa saja yang ada disana dengan geomorfologi yang lengkap. Sekitar 1 jam berjalan hingga akhirnya kami sampai di pos 1 dengan loksi penempatan pos yang strategis karena disini kita dapat menikmati penadangan hamparan kabupaten bandung dan dapat melihat kota bandung dari kejauhan. Agar kami tidak kehilangan mementum seperti ini maka kami mengabadikan dalam bentuk foto dan video.
Sekitar 15 menit kami istirahat di pos 1, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke tegal alun, disinilah kami mulai menemukan berbagai macam variasi medan mulai dari datar, agak terjal, dan terjal. Dalam pendakian ke tegal alun kami melewati akar-akar pohon yang banyak di temukan di setiap jalan dan pada saat itu juga kondisi jalannya agak basah jadi licin untuk dilalui. Sekitar 40 menit berjalan hingga akhirnya kita sampai di tegal alun, kami beristirahat sejenak untuk mengatur nafas, berhubung tegal alun ridang dengan pohon maka kita tidak dapat menikmati keindahan dari ketinggian.
Kami melanjutkan perjalan ke puncak 2 dengan kondisi medan yang masih tetap sama yaitu terjal, tanpa terasa kita sudah melewati batas cagar alam gunung rakutak. Sekitar 20 menit akhirnya kami sampai di puncak 2, sungguh pemandagan yang sangat estetik karena kondisi cuaca pada saat itu cerah jadi kita dapat melihat cagar alam, tapi puncak 2 hanya terdapat vegetasi rumput dan ketinggianya pun berkisar 1650 mdpl jadi sangat panas.
Disini kami mulai melangkahkan kaki di atas igir yang menjulang panjang hingga puncak utama. Bentukan jalan dari igir ini mirip dengan yang terdapat di gunung raung. Di pertengahan igir tersebut terdapat bongkahan batu besar, apabila kita lalui harus menaiki batu tersebut, hal itu menjadi nilai lebih untuk meningkatkan mental. Akhirnya kami pun sampai di puncak utama, sungguh indah kalau kita melihat jalur igir yang memanjang yang tadinya kita lalui. Kami pertama tiba di puncak utama disusul oleh tim raka dan tim elpin.
Kami mendirikan dua tenda berkapasitas 5 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Disitu kami membagi tugas hingga akhirnya tenda pun dapat ditempati. Selama semalam kami bercanda dan tertawa bersama. Hingga hari minggu pun tiba, maka kami berkemas-kemas dan membagi beban sesuai dengan proporsi berhubung disitu sedang ada program sapu gunung kami pun ikut membantu mereka dan membawa turun sampah-sampah para pendaki.
Pukul 11.00 WIB kami turun dari puncak utama, tapi kondisi kabut masih tebal karena hujan turun semalaman, tapi cocok untuk digunakan sebagai background berfoto bersama sebagai bukti bahwa kita pernah ke sini. Sekitar pukul 13.20 WIB kami sampai di basecamp tapak rakutak, kemudian melapor, membersihkan badan dan istirahat sejenak sambil menunggu angkot.
Pukul 16.55 WIB kami baru pulang menuju kota bandung dengan kondisi macet, jadi kami baru sampai sekre pukul 20.00 WIB. sebelum pulang ke tempat masing-masing, kami berkumpul untuk evaluasi dan pengumpulan barang-barang kelompok untuk ditaruh disekre. Itu merupakan sebuah perjalanan diklanjut yang terkahit kami lakukan dalam menjadi anggota muda, diri sini kami memperoleh banyak ilmu an pengetahuan yang tidak tertulis dalam sebuah literatur dan pengalaman lah yang akan mengantarkan kita pada keberanian dan kesuksesan—Hasan F (J.AM.35.AAS)*
*penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Geografi 2015 dan Anggota Jantera 35 Abimantra Adanu Satria.

0 Comments