Catatan Perjalanan
Aku padamu putri
Ada banyak pernyataan ketika individu berjalan menuju puncak gunung. Ada orang yang pergi ke gunung untuk berwisata menghabiskan waktu kosong dengan menyegarkan pikiran. Ada yang pergi ke gunung karena tuntutan organisasi, semacam ekspedisi. Ada orang yang pergi ke gunung untuk eksistensi dirinya sendiri, agar orang lain tahu dia pernah kesana. Ada orang yang pergi ke gunung karena penasaran terhadap cerita tentang gunung, semacam mitos, yang diceritakan rekannya atau pemandangan panorama yang megah. Ada orang yang pergi ke gunung untuk mencari ilmu dan pengetahuan atau meneliti. Ada orang yang pergi ke gunung untuk mencari teman. Ada orang pergi ke gunung untuk menaklukan dirinya sendiri, entah apa yang ditaklukan, emosi kah ? fisik kah ? mental kah ? pikiran kah ? Perbedaan alasan tersebut menghasilkan suatu petualangan yang subjektif. Tidak usah pergi ke gunung untuk menyatakan pernyataan tersebut cukup memperhatikan kehidupan sekitar maka akan terasa pernyataannya. Pergi ke gunung hanyalah suatu cara agar kita dapat merasakan masing-masing pernyataan di dalam diri. Pergi ke gunung hanyalah alat penayang simulasi kehidupan, tetapi berlaku bagi orang yang berfikir.
Orang bilang ketika naik gunung, sifat aslinya akan keluar. Pada dasarnya manusia akan terlihat sifat aslinya ketika dalam tekanan, apalagi tekanan kehidupan yang keras. Begitupun sama halnya dengan naik gunung. Kaki berpijak, puncak di junjung, melewati lembah, melewati tanjakan menyebabkan tekanan alami dirasakan para penggiat gunung. Para penggiat gunung atau lebih popular lagi disebut pendaki gunung akan terlihat sifat aslinya karena mendapat tekanan. Tidak perlu naik gunung untuk melihat karakter seseorang, cukup dengan bersama-sama setiap harinya dan melihat orang tersebut ketika dalam tekanan kehidupan. Naik gunung hanyalah simulasi kecil dari kehidupan. Petualangan sebenarnya adalah kehidupan.
