Pada kegiatan Pendidikan Lanjutan JANTERA di mata latih caving ini, saya ditugaskan menjadi orang yang menyiapkan konsumsi, kegiatan menyiapkan konsumsi ini bukan merupakan kegiatan yang sangat saya sukai karena saya kurang biasa memasak. Namun karena sudah tuntutan dan dengan dibantu oleh saudara-saudara saya dan rekomendasi instruktur, saya mengerjakan dengan senang hati pekerjaan ini. Dari DIKLANJUT ini, saya jadi mengerti bagaimana berada di posisi orang yang menyiapkan konsumsi untuk saudaranya yang lain.
DIKLANJUT kali ini di barengi dengan program ANTAREJA JANTERA, yaitu menelusuri dan memetakan gua yang ada di kawasan Sagaranten. Sehingga Instruktur yang datang pun bukan sebagai wisatawan yang datang untuk memantau kegiatan DIKLANJUT, namun melanjutkan program ANTAREJA. DIKLANJUT ini bagi kami semua, AM JANTERA 35, merupakan kegiatan yang lebih menguras tenaga waktu dan dompet dibanding kegiatan pendidikan lanjutan yang sebelumnya, karena kegiatannya yang cukup jauh dan membutuhkan waktu dan uang yang lebih. Kegiatan kami kali ini dilakukan di Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi. Tempat yang awan bagi kami untuk datang ke tempat ini. Karena perjalanannya yang luar biasa dan tidak terprediksi akan seperti itu.
Kamis, 11 Agustus 2016 pukul 17 tim survey berkumpul di sekre untuk persiapan berangkat ke sukabumi. Rencana pemberangkatan pada pukul 17.00 pun tidak terlaksana dikarenakan ada beberapa hal yang harus di lakukan instruktur pendahulu di Bandung. Setelah mempersiapkan semuanya, kami tim survey berangkat pada pukul 20.00 dari sekretariat. Jumlah tim pendahulu ada 4 orang, Instruktur pendahulunya kadat Windya dengan Teh Ani sedangkan kami AMnya yang menjadi pendahulu adalah saya dengan raka yang sebagai leader dan saya sebagai konsumsi.
Ditengah perjalanan sekitar cimahi tengah, motor kadat ada masalah di ban sehingga kami berhenti sebentar kemudian melanjutkan perjalanan ke sukabumi. Sebelum ke Sukabumi sekitar pukul 23, kami transit di rumah saudaraku Raka untuk makan malam dan istirahat sejenak. Setelah istirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Sukabumi, karena waktu yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan ke basecamp, kami beristirahat kembali di rumah instruktur Eja, sampai keesokan harinya.
Di pagi hari, hari jumatnya kami tim survey melanjutkan perjalanan menuju basecamp, sedangkan tim yang ada di Bandung juga berangkat pada pukul 5 pagi menggunakan motor langsung menuju tujuan yang sama dengan kami tim survey. Tim terakhir tersebut diantaranya AM berlima dengan 7 instruktur. Di perjalanan menuju basecamp kami melewati daerah bernama Purabaya, di daerah itu kami mengisi bahan bakar motor kami, dikabarkan tempat itu merupakan tempat pengisian bensin terakhir sebelum ke basecamp. Jadi kami mengisi bensin untuk motor kami dengan penuh.
Sebelum ke basecamp, kami tim survey berhenti di pasar sagaranten, tepatnya pasar ini ada di pertigaan. Di pasar ini, saya sebagai sie konsumsi membeli bahan makanan yang akan di buat di basecamp. Karena di basecamp sangat jarang warung atau toko yang menjual bahan makanan, sekalinya ada pun harganya lebih mahal.
Setelah kami membeli semua keperluan makanan dan keperluan lainnya di pasar Sagaranten. Perjalanan menuju basecamp cukup menarik, karena jalan yang kami lewati kurang bagus, jalanan yang diisi dengan bongkahan batu– atu besar, dilihat dari struktur jalan yang ada bekas cor, ternyata jalanan ini sebelumnya pernah diperbaiki dengan cor, namun karena truk besar yang melewati jalan ini rusak parah.
Pada pukul 12.00 kami tiba di rumah mertua mang Oka untuk transit, dan karena hari itu adalah hari jumat, kadat Windya dan Raka pun berangkat ke masjid di daerah situ, sedangkan kami menunggu di rumah mertua mang Oka. Setelah selesai sholat Jumat, kami melanjutkan perjalanan. Sekitar 1 jam, perjalanan kami menuju basecamp. Kami menempati basecamp di rumah mang Nani, rumah beliau sering dijadikan basecamp ketika JANTERA melakukan kegiatan di daerah tersebut.
Pada pukul 14.30 semua tim tiba di basecamp. Sambil menunggu hujan reda untuk melanjutkan tim pendahulu untuk mensurvey gua yang akan kami petakan, kami istirahat di basecamp dan juga karena jalan dari portal sagaranten yang rusak parah hingga basecamp. Saya dan para wanita yang lain menyiapkan santap malam untuk yang lain di dapur mang Nani sedangkan saudara-saudaraku yang menyetir motor mengistirahatkan badannya, karena beban mereka yang lebih berat timbang kami yang di bonceng. Hujan pun akhirnya reda di sore hari.
Setelah makanan siap untuk disajikan, kami semua makan malam bersama di rumah mang Nani. Setelah makan selesai kami briefing sebelum mempersiapkan untuk melanjutkan rigging di gua Leles. Setelah hasil kesepakatan bersama, karena waktu dan tenaga yang tidak memungkinkan kami untuk pemetaan, malam itu kami hanya melakukan rigging. Pada pukul 21.00 kami berangkat dari basecamp menuju gua Leles kemudian melanjutkan kegiatan rigging. Karena ada kurang fitnya badan kami, pada rigging ini kami gagal. Sehingga kami melanjutkan keesokan harinya.
Sabtu pagi, sagaranten diguyur hujan. Kami pun menunggu hujan reda hingga pukul 10 surveyor berangkat ke gua ciwajar. Kami, tim yang ada di basecamp menyiapkan peralatan yang akan dibawa untuk pemetaan gua. Setelah surveyor kembali ke basecamp, kami semua bergegas untuk berangkat ke gua Cipaku untuk memetakan gua tersebut. Sebelum kami mulai memetakan, tim surveyor masuk terlebih dahulu ke gua Cipaku karena belum di survey sebelumnya. Kemudian tim survey muncul dari entrance kami pun mulai memetakan gua Cipaku.
Arahan demi arahan yang diberikan leader kami lakukan. Karena leader sudah mensurvey terlebih dahulu. Disaat kami memetakan guha. Terdapat percabangan di dekat mulut gua atau entrance, jika melihat kea rah kanan, terlihat lorong dengan gua diagonal, sedangkan kami melanjutkan pemetaan di lorong lurus, sesuai dengan perintah leader.
Lorong yang kami pilih lebih dulu untuk di petakan ini sekilas mirip gua Pawon, di Rajamandala Kabupaten Bandung Barat, karena gua tersebut berada di zona terbuka, zona dimana sinar matahari bisa masuk langsung, tanpa pantulan, lorong yang sudah kami petakan tidak begitu panjang, sekitar 50-100 meter saja. Hingga akhirnya kita selesai memetakan lorong tersebut pada pukul 18.00 leader memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan pemetaan ke lorong diagonal yang belum kami petakan. Kami berjalan keluar gua untuk istirahat. Setelah kami selesai istirahat, kami melanjutkan pemetaan gua di lorong yang belum di petakan. Lorong ini sangat menarik untuk saya, karena saya bisa menemukan air di bawahnya. Kami memetakan sepanjang gua dengan air yang mengalir di dalamnya. Kami memetakan dengan lawan arus air sungai yang mengalir. Lorong ini tidak begitu lebar. Hanya sekitar 1-2 meter saja lebarnya. Namun memiliki ketinggian yang beragam. Diawal lorong, tinggi lorong ini mencapai 20meter.
Lorong ini dihuni oleh banyak kelelawar, tercium guano atau kotoran kelelawae ketika kami memasuki lorongnya, beberapa meter kami memetakan di lorong ini, semakin sempit dan semakin rendah tingginya, kami harus berjalan setengah jongkok karena memasuki reptile hole. Instrumen yang ada di lorong ini lebih beragam timbang lorong satunya. Karena disini kami bisa menemukan paku, gourden, dan masih banyak lagi instrumen lainnya. Kamipun mengakhiri pemetaan sesuai arahan leader karena kami tidak memungkinkan untuk melanjutkannya karena lorong yang sangat kecil dan waktu yang tidak cukup.
Setelah kami menyelesaikan pemetaan di gua Cipaku pada pukul 20.30, kami melanjutkan perjalanan ke gua Leles untuk rigging tahap dua. Pada kesempatan ini, kami tidak gagal kembali. Kami berhasil rigging, SRT-an pun diawali oleh raka. Disaat raka masih di dalam gua. Kami melihat ular melintas di entrance tersebut. Kami tidak boleh panik, dan tidak memberikan info untuk raka, karena itu bisa membuat raka panik, setelah panik fikiran pun tidak jernih. Setelah raka kembali ke atas. Saya pun persiapan untuk SRT-an.
Biasanya saya sedikit panik ketika melihat ular, apalagi ularnya menghilang entah kemana dan memungkinkan untuk menyerang saya, namun anehnya saya melakukan SRT tanpa memikirkan ular tersebut.
Saya beruntung bisa melakukan SRT di gua ini. Karena di dalamnya terdapat ornament yang luar biasa. Ada air terjun dalam gua, air yang mengalir sangat jernih, dan ornamen seperti stalaktit, stalagmit, canopy, gourden, gaudams, tihangan, dan banyak lagi.
Biasanya warga sekitar turun ke gua ini menggunakan bambu yang di buat semacam tangga untuk menuruninya, sangat tradisional, namun kurang safety.Kedalaman gua ini diperkirakan sekitar 30-40 meter. Sayangnya saya tidak membawa kamera untuk mendokumentasikan apa yang ada dibawah, karena kamera yang low battery. Di kesempatan ini, hanya saya dan Raka yang melakukan SRT. Karena waktu yang sudah menunjukkan sudah pukul 2 dini hari kami kembali ke basecamp untuk istirahat.
Minggu pagi hari kami membersihkan alat-alat yang bisa dibersihkan seperti kernmantel, webbing, dan lain-lainnya. Pukul 10 kami evaluasi kegiatan sebelum kami kembali pulang ke Bandung. Setelah evaluasi, makan siang dan membersihkan dan merapihkan basecamp pada pukul 12, kami siap untuk pulang ke Bandung. Kami transit di rumah mang Oka silaturahmi, bercanda ria, dan makan sore bersama. Pukul 17 saat itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Sholat magrib di SPBU terdekat, kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan pulang kali ini menurut saya sangat menarik, karena kita menggunakan 10 motoryang bisa di bilang touring, terasa perjalanan pulang lebih cepat dibandingkan dengan perjalanan pergi, saya sebagai surveyor hanya pergi dengan menggunakan 2 motor, terasa lebih sepi.
Sesuai janji Raka sebelumnya untuk makan malam di rumahnya, di tengah perjalanan ke Bandung di cianjur kami transit kembali untuk makan malam. Karena saya masih kenyang, jadi saya tidak bergabung untuk makan bersama, saya lebih memilih untuk istirahat sebentar, memejamkan mata 15 menit. Selesai makan malam kami melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sekitar pukul 00.00 kami semua tiba di secretariat JANTERA Negala.
Pengalaman yang menarik bagi saya melakukan kegiatan ini. Karena saya menikmati prosesnya dan sangat menerima hasilnya dengan gembira—Fauzia Rahmawati*
*penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Geografi 2015 dan Anggota Muda Jantera 35 (Adanu Abimantra Satria)


0 Comments