Oleh: Ika Kartikasari
“Kunjungilah curug Sigay, letaknya begitu dekat dengan kampus UPI Bumi Siliwangi.”
Sebuah pesan penutup mata kuliah Pengantar Geografi yang diampu oleh (alm) Profesor Gurniwan. Barangkali kata-kata tanggung tersebut menjadi motivasi berkegiatan untuk beberapa mahasiswa terutama yang sangat penasaran dengan fenomena alam di Bandung.
Curug merupakan istilah bahasa Sunda yang digunakan untuk menyebut istilah air terjun. Curug merupakan akronim dari cai (air) dan urug (longsor).
Toponimi atau penamaan curug Sigay diambil dari bahasa Sunda: Sigay berarti tangga dari bambu, dibuat dengan cara memanfaatkan ruas-ruas bambu yang dilubangi hingga membentuk ceruk-ceruk sebagai titian untuk kaki. Sebelum tangga lipat berbahan alumunium beredar di pasaran, masyarakat Sunda zaman dahulu telah memanfaatkan Sigay sebagai alat bantu untuk menyadap kawung/enau.
Berdasarkan informasi dari Titi Bachtiar, dalam tulisannya pada tahun 2007 dengan judul “Curug Sigay: Potensi yang Ditelantarkan”, disebutkan bahwa:
“Letusan Gunung Tangkubanparahu secara ekstrem dapat dibagi menjadi dua jenis letusan berdasarkan bahan yang dikeluarkannya. Pertama letusan yang mengeluarkan bahan lepas, seperti bom, lapili, dan yang kedua letusan yang mengeluarkan lava. Lava adalah batuan pijar yang keluar dari perut bumi, suhunya 10.000º C, yang kemudian membeku. Jika lava yang mengalir sepanjang Cibeureum dan Cihideung hingga Curug Sigay ini sama kejadiannya dengan lava yang mengalir di Cikapundung hingga Curug Dago, maka peristiwa itu terjadi 55.000 tahun.”
Curug Sigay adalah lorong waktu, sebuah objek yang menyimpan catatan tentang asal-muasal. Cerita mengenai lava yang menjadi dasar dari curug ini akan membawa kita pada letusan gunung Tangkubanparahu, danau Bandung Purba, hingga tempat-tempat lain di bumi Sangkuriang yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Seringkali Terlupakan
Curug Sigay berada di aliran Cibeureum yang menjadi batas administratif antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Babakan Nagawir RT: 04 RW: 06 Geger Arum, Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung.
Tidak semua civitas akademik UPI mengetahui secara langsung keberadaan air terjun setinggi kurang lebih 15 meter bernama curug Sigay. Padahal, dengan berjalan kaki sekitar 6 menit dari Gelanggang Kolam Renang UPI menyusuri perumahan padat Geger Arum, dengan mudah kita temukan curug Sigay. Jika masih bingung, coba gunakan penduduk sekitar, mereka akan menjadi navigator terbaik untuk Anda.
Sebagai anggota Jantera (Perhimpunan Pecinta Alam Mahasiswa Pendidikan Geografi UPI), Agung Rahmat dan 12 orang saudaranya mendapatkan kesempatan untuk mengenal curug Sigay secara langsung, bukan hanya dari orang. “Ada sudut-sudut di sekitar kampus yang masih luput dari perhatian mahasiswa maupun pemangku kebijakan UPI. Saya senang karena dapat membersihkan curug dan juga rappelling setelahnya,” ujar Agung, mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2017 asal Cianjur.
Bebersih Hingga Rappeling
Debit air yang tinggi pada musim hujan ternyata berbanding lurus dengan sampah yang dibawa oleh aliran sungai Cibereum. Berbagai jenis sampah plastik, sterofoam hingga botol kaca bekas obat terjebak disekitar curug Sigay.
Berbekal tali kernmantel statis dan seperangkat alat-alat untuk rappelling, beberapa orang anggota Jantera berhasil meretas jalur pada titik tertinggi curug Sigay sementara anggota lain bergabung bersama Gober (Tim Kebersihan di Kelurahan Isola) dan TNI AD melakukan operasi semut disekitar curug. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (23/3/2018). Semua membaur tanpa memandang umur atau status dengan satu tujuan, yaitu: Curug Sigay kembali bersih!
Memang benar, kegiatan bersih-bersih yang seringkali dianggap membosankan jikadirencanakan dengan menarik akan mendatangkan kebahagiaan bagi pelaksananya. Semoga kedepannya semakin banyak kegiatan yang dilaksanakan di curug Sigay. Entah itu praktikum hidrologi bagi mahasiswa Departemen Geografi, fieldtrip peserta didik tingkat SD dan SMP dengan materi sungai hingga kegunungapian, penelitian mahasiswa UPI, outbound untuk seluruh civitas akademik UPI, serta kegiatan lainnya. Semoga, bravo Jan!
Redaktur: Muhamad Abdul Azis
0 Comments