Jantera lekat dengan alam sebagai medan latihan, pendidikan dan penjelajahan. Berselisih dengan hujan, terik matahari, tebing terjal, gunung menjulang hingga senyap kedalaman gua. Jantera dengan keahliannya dalam penelusuran gua telah menjelajah berbagai ceruk di Bandung, Sukabumi Tasikmalaya daerah lainnya.
Sanghyang Kenit dan Sanghyang Poek merupakan dua diantara sekian banyak gua yang menjadi medan latihan Jantera. Tersembunyi diantara tebing kapur di kawasan Karst Rajamandala, kawasan ini tergolong kedalam Zona Fisiografi Bandung. Keberadaan singkapan batuan gamping formasi Rajamandala ini berada di sisi selatan Zona Bandung. Tersusun dari batu gamping masif di bagian bawah dan batuan gamping berlapis di bagian atas dengan ketebalan antara 2-5 cm. Keberadaan batu gamping erat kaitannya dengan karstifikasi yaitu proses pelarutan, proses korosi batuan secara kimia oleh air pada batuan gamping, gipsum, batugaram atau batuan lain yang mudah larut yang bertanggung jawab terhadap terbentuknya fenomena karst baik di permukaan maupun bawah permukaan bumi (Summerfield, 1991 dalam buku Karst Glosarium Indonesia (Adji, 2010)).
Karstifikasi selama ribuan tahun silam berperan dalam membentuk sistem gua, termasuk Gua Sanghyang Kenit yang berada di Cisameng, Cipanas, Rajamandala Kulon, Kecamatan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat. Nama Sanghyang Kenit ini diambil dari bentukan ruang dalam gua yang mempertemukan satu lorong dengan lorong lainnya menjadi sebuah lingkaran. Kenampakan ini merupakan hasil pengikisan dinding gamping oleh aliran Ci Tarum lama. Batuan karbonat yang kompak lebih mudah tererosi karena banyak rongga kecil di dalamnya terlebih jika curah hujan di daerah tersebut tergolong tinggi dan kaya akan karbondioksida. Demikian hal nya dengan pembentukan gua Sanghyang Poek yang berlangsung ribuan tahun lamanya. Nama poek ini diambil dari terminologi Bahasa Sunda yang berarti gelap, sesuai dengan kondisi di dalam gua yang gelap gulita tanpa penerangan.
Tim Caving Jantera
Gua Sanghyang Kenit dan Sanghyang Poek kini telah dibuka untuk khalayak dengan minat khusus seperti penelusuran gua. Kehadiran wisatawan di Gua Sanghyang Kenit dan Sanghyang Poek merupakan suatu hal dilematis, disatu sisi gua ini merupakan labolatorium alam yang kaya akan nilai pendidikan namun disisi lain kegiatan penelusuran gua rentan akan bahaya. Diantara banyaknya bahaya penelusuran gua salah satunya adalah bahaya tersesat, sebab suatu gua dapat terdiri dari beberapa lorong dan ruangan. Salah satu upaya menyiasati hal ini adalah dengan memetakan gua beserta isinya.
Jantera dengan keilmuan dan keahlian dalam pemetaan gua menginisiasi pemetaan Gua Sanghyang Kenit dan Sanghyang Poek, berkolaborasi bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pemetaan gua ini bertujuan menghimpun data yang berkenaan dengan gua untuk kebutuhan akademik, pemetaan jalur gua, pemetaan sebaran objek dan berkontribusi aktif dalam memajukan pariwisata masyarakat setempat. Dilaksanakan pada Sabtu (4/12/22) pemetaan masing-masing gua memakan waktu dua hingga lima jam, hal ini dipengaruhi luasan, banyaknya lorong dan medan dalam gua. Secara keorganisasian, sebuah tim pemetaan gua terdiri dari leader, notulen, chamber, bidikman, targetman, sweeper dan assistant. Pemetaan gua ini diketuai Ashlah yang juga berperan sebagai sketcher, Indri dan Wina sebagai notulen, Rayana sebagai chamber, Wijaya sebagai bidikman, Desi sebagai targetman, Ayi dan Islah sebagai sweeper dan Eva sebagai assistant.
Kelengkapan pemetaan gua yang dibutuhkan diantaranya coverall, sepatu boots, helm,kertas dan gadget notulensi, drybag, meteran, kompas dan klinometer serta laser meter. Dalam pemetaan gua dikenal dua metode yaitu leaf frog dan forward methode. Karakteristik Sanghyang Kenit dan Sanghyang Poek dengan lorong-lorong sempit lebih cocok dipetakan menggunakan forward methode dimana bidikman bergerak menuju titik yang sebelumnya ditempati targetman. Pemetaan kali ini dimulai dari pintu masuk menuju pintu keluar gua, pemilihan arah survey gua dapat dilakukan atas beberapa pertimbangan seperti aliran sungai, faktor cuaca dan faktor lainnya. Gua Sanghyang Kenit dan Sanghyang Poek berhasil dipetakan dengan grade atau tingkat keakuratan pada angka lima dengan detail pengukuran tergolong kelas D yaitu tingkatan yang dilihat dari alat-alat yang digunakan dan detail ukuran per satu stasiun survey.
Untuk menghasilkan peta gua yang refresentatif digunakan aplikasi pengolah data gua yaitu Cave Compass dan Arc GIS. Sementara visual gua dipoles menggunakan perangkat lunak Adobe Ilustator sehingga kenampakan gua dapat terlihat lebih nyata dan informatif. Hasil pemetaan gua dapat dilihat dalam dua versi, yaitu versi cetak yang ditempel pada papan informasi dan versi web.
Website ini hadir sebagai ruang berbagi informasi dan gagasan melalui buletin yang kami terbitkan secara berkala. Setiap edisi memuat rangkaian berita, artikel, dan dokumentasi kegiatan yang dirangkum secara ringkas dan informatif. Kami berharap buletin ini Read more…
Menghapuskan kesan yang awalnya sudah tertanam dan tumbuh dengan baikBak hujan di senja yang perlahan menelan indahnya lembayung Tatkala makna mulai tersadarkanSetiap goresan diukir kembali dengan hati-hatiGoresan pun perlahan terangkaiMenyulam kembali sisa jejak menjadi harap Read more…
Dari JANTERA saya belajar banyak pengalaman. Saya belajar kedisiplinan, kebersamaan, empati dibalut dengan kekeluargaan yang erat. Yang awalnya kita JANTERA 44 tidak saling mengenal tak disangka sekarang sudah menjadi saudara selamanya. Selain menambah wawasan dan Read more…
0 Comments