Ditulis oleh Riskiya “Korin” J.42 | Disunting oleh Diki “Hebu” Lukman NS J.40
“Dunia ini penuh dengan hal-hal indah yang belum pernah kamu lihat. Jangan pernah menyerah pada kesempatan untuk melihatnya.” – JK Rowling
Menyusun serangkaian rencana, mempersiapkan segala sesuatunya hari demi hari—itulah awal perjalanan kami. Setiap langkah yang kami ambil membawa kami menuju suatu tempat baru, merasakan teriknya matahari yang menyengat dan angin malam yang menusuk kulit. Semua itu adalah bagian dari pengalaman kami selama ekspedisi ke Gunung Parang, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta.
Apa yang pertama kali terbayang ketika mendengar nama Gunung Parang? Apakah bayangan tebing-tebing terjal langsung muncul dalam pikiran? Ataukah ketinggian dan tantangan yang tersembunyi di balik gunung tersebut? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pasti muncul begitu kita melihat kondisi sebenarnya di lapangan dengan mata kepala sendiri. Pemandangan yang tersaji di depan mata tentu menumbuhkan rasa penasaran yang besar, mengundang keingintahuan tentang segala hal yang tersembunyi di baliknya.
Perjalananku ke Gunung Parang, Purwakarta, bersama saudara-saudaraku, kakak-kakak, dan senior Jantera merupakan perjalanan yang bernilai karena kami akan melakukan sebuah penelitian lapangan yang berguna untuk menyelesaikan karya tulis kami. Penelitian kami mengusung tema yang bermacam-macam, ada yang mengambil bencana longsor, pariwisata, dan kerapatan vegetasi. Sedangkan kelompok kami mengambil tema kerapatan vegetasi yang bertajuk “Pengaruh Kerapatan Vegetasi terhadap Kenaikan Land Surface Temperature (LST) di Gunung Parang, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta.”
Selain untuk penelitian, perjalanan yang kami lakukan bertujuan untuk memberikan dukungan terhadap tim yang melakukan ekspedisi pemanjatan tebing gunung Parang Purwakarta. Gunung Parang sudah tidak asing lagi ditelinga para penggiat alam khususnya yang menggandrungi olahraga panjang tebing. Hal tersebut menjadikan Gunung Parang sebagai wisata minat khusus panjat tebing.
Pagi hari kami berangkat menuju Gunung Parang, dimana pada hari sebelumnya kami menginap terlebih dahulu di rumah senior kami di Purwakarta. Ketika memulai perjalanan, sudah terasa hawa panas diiringi angin yang menderu, berbeda dengan di Bandung. Sepanjang perjalanan menuju Gunung Parang terlihat banyak keragaman vegetasi, mengingat akses jalan menuju Gunung Parang itu masuk ke wilayah pedesaan yang mayoritas penduduknya adalah petani dan penggarap kebun. Sehingga di sepanjang jalan, banyak pepohonan, lahan pertanian, dan lahan perkebunan.
Setibanya disana, kami langsung bergabung bersama tim yang akan melaksanakan ekspedisi pemanjatan gunung Parang. Pasalnya, mereka telah lebih dulu berada di Gunung Parang. Tidak lupa, kami juga memberikan salam sapa kepada senior-senior di Jantera yang turut hadir di Gunung Parang membersamai dan memberikan dukungannya kepada kami. Melihat saudara-saudaraku dan para senior yang telah bersiap mengenakan alat untuk panjat tebing, kami juga langsung bergerak mengikuti mereka untuk melakukan dokumentasi sebelum mereka pergi melanjutkan tujuannya. Dikeluarkanlah drone, kamera, dan gawai untuk merekam jejak petualangan kami. Dibentuk formasi untuk pengambilan video menggunakan drone, kemudian mulai mengambil gambar lewat kamera dan gawai. Merekam jejak untuk menciptakan sebuah kisah yang kelak akan kami buka lagi jejaknya. Setelah itu, kami melanjutkan tujuan yang telah kami rencanakan sebelumnya, yaitu separuh dari kami melakukan penelitian, dan sisanya melaksanakan panjat tebing.
Keelokan panorama Gunung Parang telah membuka mata kami, hilir angin yang menderu diiringi teriknya matahari menemani perjalanan penelitian kami. Pada saat penelitian, kami membagi menjadi beberapa tim untuk mengeksplorasi berbagai tempat di wilayah sekitar tebing gunung Parang. Di tengah perjalanan, kami melihat kawasan persawahan yang masih dikelola dengan baik oleh petani setempat, terlihat asri ketika memandang kawasan hijau itu dari jauh. Sepanjang jalan, kami melihat vegetasi hijau yang nampak tumbuh di sekitar pemukiman warga, beberapa dari mereka menjadikan kawasan tersebut sebagai kebun, yang sebagian dari hasilnya akan dijadikan sebagai sumber penghidupan. Vegetasi yang tumbuh juga terlihat pada sisi kanan kiri jalan, banyaknya pepohonan yang menjulang tinggi, menyebabkan tak sedikit juga pohon yang tumbang, bahkan ada yang menghalangi jalan. Apa yang kami temukan dan apa yang kami lihat, kami jadikan sebagai bahan analisis untuk penelitian kami yang nantinya akan kami olah datanya.
Setiap perjalanan yang dilakukan oleh kami tidak hanya sekedar bermain, berswafoto, lalu pulang. Perjalanan kami lebih dari itu. Setiap kali melakukan perjalanan, kami akan membuka ruang untuk belajar, dimanapun kami melangkah. Ketika pergi, maka kami harus pulang membawa buah tangan. Buah tangan tersebut dapat berupa catatan perjalanan, kumpulan data untuk penelitian, atau dokumentasi, yang kemudian kami olah menjadi sebuah karya. Begitu pula dengan perjalanan kami ke Gunung Parang ini, selain untuk melihat keelokan panorama Gunung Parang dan memberikan semangat kepada saudara-saudara kami yang melakukan rock climbing, tentu kami tidak akan melupakan pengambilan data untuk penelitian kami. Semua dilakukan dengan keikhlasan hati dan niat yang besar. Sekecil apapun buah tangan yang kami bawa, akan kami hargai prosesnya dan akan kami buat menjadi sesuatu yang berharga. Akan terlihat lebur, jika kami pulang dengan tangan kosong. Lebih baik memberi sedikit, daripada tidak sama sekali. Itulah sepenggal cerita bagaimana aku dan saudaraku belajar memaknai setiap perjalanan.
0 Comments