
Entah kesan apa yang hendak Tuhan titipkan
Berulang kali kembali ke sana
Ingat saat pertama kaki menyapa tanah disana
Ketika bahu masih terasa berat
Rasa gundah berdesakan di dada
Memberikan rasa tak enak kepada siapa saja
Aku berjalan mencari sesuatu
Menimbang banyak hal
Pilihanku bukan tanpa alasan
Ia lahir dari kematangan pikiran
Langkahku sempat getar kala itu
Jika saja aku tidak berjanji
Mungkin saja aku memilih untuk menyerah
Terhadap suara yang masih selalu terdengar dan menyesakkan dada
Perjalanan pertama
Kesan pertama
Cukup dipenuhi dengan luka
Yang sebenenarnya tak ingin dirasa

Pada sela waktu yang nyaris tak terasa
Ternyata tuhan membawaku kesini lagi
Entah apa yang Ia rencanakan
Entah kesan apa yang ingin
Ia berikan selanjutnya
Dalam iring langkah yang tak henti
Hanya dingin dan hening yang ada
Rindangnya daun pepohonan menyulam langit pagi itu
Setidaknya, kesan berbeda pun perlahan hadir
Rintangan selanjutnya merupakan hal yang tak pernah terbayangkan
Hidup dan mati cukup dipertaruhkan
Degup dada masing masing dari kami ku yakini sangat terpacu karenanya
Napas tertahan dengan keberanian dipaksa tumbuh di tengah gentar
Hari yang paling bermakna perlahan datang menghampiri
Sesuatu yang spesial memang tidak bisa dijamu dengan biasa
Dari hari itu, perjalanan seakan menjelaskan alasannya mengapa harus dilalui
Rasa yang dibalut dengan kebersamaan menghasilkan kekuatan yang bercampur menjadi
suatu kehangatan dalam ikatan persaudaraan
Pada akhirnya, aku mengerti bahwa kembali bukan berarti mengulang
Setiap kesan yang Tuhan berikan adalah cara-Nya merapikan jejak yang pernah terserak
Di tempat yang sama, tapi pulang dengan hati yang tak lagi serupa
Memang sederhana, tapi itulah kuasa semesta
– Oleh Irma ‘Serutan’ Nirmala sari –
0 Comments