Berada di Kabupaten Sukabumi, Cikarang tak ubahnya sebuah desa pada umumnya, sejauh mata memandang bukit-bukit anggun terbentang dengan sawah terhampar di kiri kanan jalanannya. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Sinarbentang di utaranya, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Hegarmulya, Desa Cidadap menjadi batas di sebelah timurnya, dan dua desa di sebelah baratnya yaitu Desa Cipamingkis dan Desa Mekarjaya menggenapkannya menjadi sebuah wilayah di salah satu Kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Cidolog tepatnya.
Adzan maghrib bersahut-sahutan, melantunkan nada yang mendesirkan hati setiap orang. Langit di ufuk barat berwarna keemasan sesekali tertutup awan yang beriringan. Dengan anggunnya, lambat laun sinar mentari seakan hilang ditelan bumi, digantikan sinar rembulan dihiasi gemintang di sekitarnya. Polusi cahaya yang rendah di wilayah ini memungkinkan kita melihat dengan jelas eloknya langit malam.
Mobil diparkir di halaman depan salah satu rumah mertua kerabat kami, oka sumarlin. Lelah dan suntuk terbayar lunas dengan senyum hangat pemilik rumah yang menyambut kedatangan kami. Rumah yang berada di pinggir jalan memudahkan kami melihat langsung kebiasaan yang dilakukan masyarakat disini. Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan, para pemuda lengkap dengan sarung dan kopiah lari terburu-buru mengejar ajakan muadzin di mesjid-mesjid, beberapa warung mulai ditutup pemiliknya dengan beberapa bilah kayu yang dipotong sedemikian rupa, para pengendara engkreg memacu kendaraannya menuju rumah masing-masing. Seketika suasana menjadi hening, hanya suara beberapa jangkrik yang terdengar saling sahut menyahut. Inilah Desa Cikarang di waktu malam, Sunyi.
Engkreg, sebutan untuk kendaraan roda dua yang dimodifikasi sedemikian rupa di tempat ini. Bagian luar dari roda-rodanya dilingkari rantai, sehingga memudahkan pengendaranya menyusuri jalanan desa yang didominasi tanah, kerikil dan bongkahan-bongkahan batu. Dengan model seperti ini engkreg jarang terjadi slip ban. Stangnya mirip moge, motor gede, lebih tinggi dari stang kendaraan sejenis pada umumnya. Jok nya dipangkas menyisakan bagian belakangnya saja, hanya bisa diduduki oleh seorang, bagian depannya dipotong. Jika mengendarainya, tangan harus lurus dan kuat. Posisi kaki tak menginjak apapun, menggantung diantara motor dan jalanan. Rangkanya diubah menyesuaikan dengan fungsinya, mengangkut bongkahan-bongkahan kayu berdiameter 25-50 cm. di bagian depannya terdapat rangka cekung dari besi untuk menahan bongkahan-bongkahan kayu.
Kayu yang bisa diangkut sekitar 6-8 buah bongkah kayu sekali jalan. Perlu ketelitian, kesabaran dan kekuatan yang besar untuk mengendalikan sebuah engkreg. Bongkahan kayu tersebut di antarkan kepada para tengkulak, untuk diproses lebih lanjut. Kendaraan modifikasi seperti ini dibutuhkan oleh warga karena pergerakannya yang efektif dan efisien di jalanan Desa Cikarang.
Selain mengangkut bongkahan-bongkahan kayu dengan engkreg, Hal unik lain yang tersaji di desa ini adalah Ngalubang. Jika malam penuh bintang dan tak berawan, ngalubang menjadi pilihannya. Ngalubang adalah istilah penduduk setempat untuk mencari lubang di kedalaman Gua. Lubang, sejenis ikan mirip ikan lele dengan ukuran yang variatif, banyak ditemukan di gua-gua di sekitar desa cikarang, harga penjualan lubang terbilang menggiurkan, biasanya 1 kg dihargai sekitar Rp. 25.000. Sebagai perbandingan, tak jarang warga menemukan lubang dengan berat mencapai 10 kg. harga yang ditawarkan sangat menggiurkan bukan?
Berbalut jaket serta kupluk untuk menahan dingin, iring-iringan pencari lubang bergerak mendekati gua-gua yang tersebar di daerah ini. Untuk mencari lubang, biasanya dilakukan berkelompok. Satu kelompok biasanya berisi 5-10 orang. Kebanyakan Gua didaerah ini masih dialiri sungai bawah tanah, sehingga sangat berpotensi ditemukannya beberap hewan yang hidup di air, termasuk lubang. Senter atau headlamp tak lupa dibawa, sebagai sumber cahaya satu-satunya di dalam kegelapan gua. Iring-iringan pencari lubang berjalan berbaris di tegalan sawah, inilah akses jalan menuju gua-gua yang tersembunyi.
Ada yang memakai sepatu boot, tak jarang pula yang hanya memakai sandal jepit. Menjelang akhir malam, para pencari lubang kembali pulang dengan membawa hasil yang memuaskan, beberapa ekor lubang bisa mereka tangkap. Tertangkap senyum sumringah diantara mereka, jerih payah mencari lubang sepanjang malam berbuah manis. Hasil yang didapat berbanding sama dengan resiko yang diambil yaitu memasuki gua aktif dengan lubang sempit, sungai yang mengalir dibawahnya, atap gua yang berjarak beberapa jengkal dari kepala, dan kegelapan yang mencekam. Kematian mengancam mereka dari berbagai sisi, jika salah memprediksi kehilangan anggota kelompok bisa saja terjadi. Hujan bisa saja tiba-tiba turun dengan derasnya, meluapkan aliran sungai bawah tanah, merendam gua, menenggelamkan pencari lubang, membenamkan harapan keluarga. Atau bisa jadi tiba-tiba atap gua roboh, menghantam aliran sungai bawah tanah, menindih pencari lubang, menjepit masa depan keluarga. Resiko besar diambil untuk menghidupi keluarga mereka.
Gua memiliki peranan penting bagi masyarakat Desa Cikarang. Tercatat di tempat ini beberapa Gua yang menakjubkan, diantaranya Gua Ciguha, Gua Alor Akon, Gua Gelam dan masih banyak lagi. Desa yang menakjubkan ini menjadi salah satu ciri masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Selain sawah dan bongkahan-bongkahan kayu, Gua termasuk aorta kehidupan masyarakat disana. Gua menjadi sumber kehidupan. Denyut nadi masyarakat!
Penulis: Rizqi Fadlillah (Jantera 31)

0 Comments