Terima kasih atas segalanya, Samagatha Nilawarsa. Datang bersama angin dan hujan begitulah kalian. Angin di permulaan tahun 2012 begitu berbekas di ingatanku, angin itu menghempaskan tubuhku di portal tangkubanparahu, mengajakku bercumbu dengan aspal berbatu. Angin yang sama merobohkan bivouack semi alami di sepertiga malam. Rasa dingin yang menusuk kulit dan rasa capek membuat kami tak kuasa untuk sekedar membenarkan bivouack tersebut, terlebih rasa bosan yang menerpa karena sebelumnya bivouack tersebut telah beberapa kali kami benarkan. Jadilah kami tertidur dengan atap yang bolong dimana-mana, dengan keadaan seperti itu air hujan jatuh bebas membasahi kami. Matras yang semula dipakai untuk alas tidur, kami alihkan untuk memayungi tubuh kami, jadilah tanah dan sleeping bag sebagai alas tidur. Seketika bivouack semi alami berubah menjadi bivouack yang sangat alami. Dingin terasa, kami saling berpeluk menghangatkan diri. Tak hangat memang, tapi cukup membuat kami pulas tertidur.
Samagatha Nilawarsa, Lampung telah dirindukan salah seorang dari kita, selesainya masa akademik membuat senyum dia mengembang. Sudah lama tak kulihat dia sesenang itu, senyum yang banyak dirampas waktu dan keadaan. Hingga hari wisuda itu tiba. Ada kegembiraan yang tak terungkapkan dalam hatiku, terlebih melihat wajah yang bersinar cerah dengan toga yang gagah dia pakai, Mahardhika lulus dan pulang kampung. Tahun demi tahun berlalu, sudah lama tak kulihat raut wajahnya, baik-baik sajakah kau di seberang sana har? Sudah berapa cewe yang jadi mantanmu sekarang har? Keluargamu sehat semua kan har?. Oohh iya, ketika dia pulang ke seberang sana, seingatku tak ada satu kata pun yang aku ucapkan. Jika bisa memutar waktu, hanya satu kalimat yang ingin aku katakan kepadanya “Har, hati-hati disana. Jaga keluargamu. Semoga selalu sehat, kuat dan tahan lama har”.
(lebih…)