Oleh: Fauzia Rahmawati

27 Juta Tahun yang Lalu
Mari kita mundur sekitar 30-25 juta tahun yang lalu, saat itu merupakan zaman tersier kala oligosen saat pulau Jawa belum muncul, Jawa saat itu merupakan laut dangkal yang memiliki kedalaman kurang dari 500 m. Karena laut dangkal masih mendapatkan banyak sinar matahari, Ekosistem laut dangkal memiliki banyak keindahan dan kehidupan termasuk terumbu karang yang menjadi rumah bagi beberapa jenis makhluk hidup.
Menurut T. Bachtiar dalam bukunya Bandung Purba (hal.6) menyebutkan bahwa “Perbukitan Kapur di Citatah – Rajamandala adalah salah satu bukti nyata bahwa daerah tersebut pada zaman tersier kala oligosen merupakan laut dangkal”, diperjelas oleh hasil penelitian para geolog, mereka menyebutkan terdapat fosil hewan laut dangkal yang hinggap di bukit kapur yang merupakan fosil terumbu karang. Jadi ketika masih menjadi laut dangkal, bukan karst namanya, tapi masih berupa hewan terumbu karang yang masih bertumbuh dan berkembang.

Laut dangkal pada beberapa puluh juta tahun yang lalu di kawasan formasi kars Rajamandala, saat ini tahun 2019 keadaannya sudah bukan laut dangkal lagi, melainkan bukit kapur yang terangkat akibat pergerakan epirogenesa positif yang berlangsung selama puluhan juta tahun.
Gunung Pabeasan (Tebing 125)
Gunung Pabeasan yang biasa disebut Tebing 125 oleh para penggiat wisata minat khusus panjat tebing merupakan salah satu lokasi favorit pemanjat yang terletak di Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (bisa dilihat di Peta Lokasi Tebing 125). Tebing ini menjadi lokasi favorit para pemanjat tebing karena memiliki karakteristik tebing yang bervariasi dan memiliki macam-macam grade jalur pemanjatan. Mulai dari grade yang mudah hingga yang sulit. Selain itu juga, di tebing ini pemanjat bisa mempraktikan semua macam jenis pemanjatan. Free Climbing, Aid Climbing dan Big wall Climbing.
Gunung Pabeasan yang terletak di desa Padalarang ini termasuk kedalam formasi kars Rajamandala. Maka jenis batuan di gunung ini adalah batuan sedimen dengan jenis batu gamping. Panjang tebing yang biasa dijadikan pemanjatan melintang dari timur ke barat sekitar 100 meter (setelah menganalisis citra landsat 8 menggunakan analisis tool meter) dan memiliki ketinggian tebing 125 meter (setelah menganalisis peta kontur).

Karang Hawu (Gunung Hawu)
Masih di kawasan perbukitan kars Rajamandala, sebelah tenggara Gunung Pabeasan terdapat salah satu gunung yang bernama Gunung Hawu. Warga sekitar menyebutkan Gunung Hawu karena terdapat gua vertikal yang membentuk seperti tungku atau hawu dalam bahasa Sunda. Menurut para peneliti, gua vertikal ini terbentuk akibat air dari permukaan yang lebih tinggi mengikis batuan sedimen jenis batu gamping yang ada disana dan menerobos hingga terbentuklah goa seperti tungku.
Gunung Hawu atau Tebing Hawu saat ini masih kurang diminati oleh para penggiat olahraga panjat tebing, karena grade yang cukup tinggi dibandingkan Tebing 125 dan akses menuju tempat tersebut yang sulit serta fasilitas yang masih belum lengkap. Padahal Gunung Hawu ini memiliki kenampakan natural bridge atau jembatan alami seperti natural bridge di Utah, Amerika Serikat.
Karang Hawu atau Gunung Pabeasan?

Gambar Pergeseran Matahari dari Garis Khatulistiwa – Dok. Bahan Ajar geografi SMA Kelas X
Penting untuk diperhatikan sebelum memanjat!
Selain memperhatikan perlengkapan logistik, fisik dan mental, ada yang perlu kita perhatikan agar memanjat lebih tepat, yaitu menempatkan waktu yang pas kapan seharusnya kita memanjat di kedua tempat ini. Tebing 125 yang biasa kita panjat merupakan tebing yang menghadap utara, sedangkan Tebing Hawu menghadap ke selatan.
Kita tahu bumi berotasi namun tidak tegak pada bidang ekliptikanya, melainkan membentuk sudut miring 23,5°. Karena posisi miring bumi tersebut maka pada revolusi bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari, matahari seolah-olah bergerak dari garis khatulistiwa ke garis balik utara 23,5° LU ke garis khatulistiwa lagi dan kemudian ke garis balik selatan 23,5° LS seperti di gambar.
Desa Padalarang terletak pada 6° LS, sehingga apabila pada tanggal 21 Maret hingga 23 September, matahari berada di sebelah utara, sedangkan pada tanggal 24 September hingga 21 Maret matahari berada di sebelah selatan.
Jadi rekomendasi untuk kalian yang ingin memanjat di Tebing 125 memanjatlah kisaran pada tanggal 23 September hingga 21 Maret, karena matahari ada di balik tebing sehingga Anda tidak akan teralu terkena sinar terik ketika memanjat. Sedangkan apabila anda ingin memanjat di Tebing Hawu, memanjatlah tanggal 22 Maret hingga 22 September, karena matahari ada di balik tebing (ada di sebelah utara) sehingga Anda tidak akan terlalu terkena sinar terik matahari.
Itu rekomendasi agar memanjat dalam keadaan teduh. Namun, rekomendasi ini berbanding terbalik ketika anda ingin mengabadikan momen ketika memanjat, karena anda akan menghadapi kondisi dimana anda memotret dengan cahaya matahari ada di belakang tebing alias backlight!
Jadi, mau mengabadikan momen atau hanya berlatih? Silahkan Anda yang menentukan dimana manjatnya dan kapan waktunya.
Redaktur: Muhamad Abdul Azis
0 Comments