Bukit Tunggul merupakan puncak tertinggi yang dimiliki pegunungan lembang atau pegunungan Bandung Utara. Ketinggiannya mencapai 2208 Mdpl. Pada tanggal 4-6 september 2015, JANTERA 34 kembali mengembara dan kali ini tujuannya adalah puncak bukit tunggul. Kami berangkat dari UPI sekitar pukul 17.10 dengan menggunakan kendaraan andalan mahasiswa UPI angkot ST-Hall Lembang. Ditengah perjalanan kami singgah sebentar untuk membeli perbekalan yang belum ada di list. Sebenarnya salah satu saudara kami ada yang sedang ulang tahun. Saudaraku Abia, dia disuruh untuk membelikan minum semacam aqua besar untuk alibi, karena akan mempersiapkan kejutan berhadiah piring cantik. Setelah Abia balik ke angkot maka taraaatttt, kami mengerjai Abia dan merayakan ulang tahunnya di angkot ST-Hall Lembang di parkiran alfamart Lembang. Dengang bermodalkan kesederhanaan Abia meniup lilin dan semoga cita-citanya terwujud. Setelah abia’s Party kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sukaluyu, katanya disana ada jalur pendakian menuju puncak Bukit Tunggul.
Sesampai di Desa Sukaluyu kami mengalami kebingungan karena, ini adalah jalur yang cukup jarang dipakai untuk pendakian. Pendakian bukit tunggul biasanya dimulai lewat jalur pasir angling. kami sampai ketika malam hari dan jarang rumah penduduk kami lihat. Kamipun mencoba untuk membaca medan melalui peta yang kami bawa. Setelah cukup yakin untuk melanjutkan perjalanan, dengan menggunakan headlamp kamipun berjalan dan sampai di pemukiman penduduk. Karena hari sudah cukup larut kami memutuskan untuk menunda pendakian hingga besok dan menginap di sebuah mesjid dengan meminta izin terlebih dahulu ke penjaga mesjid. Sebelum tidur briefing untuk besok dilaksanakan orientasi medan kami lakukan pada peta, selanjutnya bergegas tidur untuk menyimpan energi perjalanan besok.
Keesokan paginya kami bisa bangun cukup cepat, langsung masak untuk sarapan dan membereskan barang-barang. Pemanasan dilakukan sebelum pendakian lalu berdoa demi keselamatan. Kami memulai pendakian sekitar pukul 08.00 WIB. Karena dimulai dengan keraguan mengenai jalur yang kami pakai akhirnya berpatok pada GPS (Gunakan Penduduk Sekitar), bantuan mereka sungguh membantu kami menemukan jalur pendakian tetapi ketika perjalanan banyak sekali referensi yang diberikan oleh penduduk sekitar mengenai jalur menuju puncak bukit tunggul, sehingga bisa di sebut kami mondar mandir mencari jalur yang pasti sampai ujung-ujung nya kami berpacu pada peta dan GPS asli bukan lagi pada penduduk. Punggungan lembahan kami lewati bersama-sama, mulai hiking sampai scimbling kami jumpai, rasa lelah dan beban carier bukan menjadi alasan kami berhenti, sampai setelah 4 jam berjalan, kami menemukan plang kayu bertuliskan PUNCAK BUKIT TUNGGUL. Akirnya kami dapat istirahat disana dengan membangun camp yang telah disiapkan sebelum pendakian.
Puncak bukit tunggul memiliki vegetasi yang rapat sehingga pemandangan yang terlihat adalah pohon, pohon, dan pohon. Aktivitas di tempat camp ketika malam hari adalah bercanda ria, main kartu, malam buper, dan nightmare side sambil ditemani api ungun yang menghangatkan. Walau puncak tak seindah yang dibayangkan tetapi rasa kebersamaan kami angkatan 34 JANTERA membuat semuanya menjadi nyaman dan istimewa. Setiap perjalanan memiliki cerita, dan setiap cerita memiliki kenangan. Keesokan harinya kami berangkat dari puncak pukul 09.00 WIB dan sampai di UPI sekitar pukul 17.00 WIB dikarenakan macet perjalanan terhambat, tetapi tidur dalam ST-Hall Lembang tidak terhambat. Terimakasih Bukit Tunggul.
Penulis: Suci Fadhilla (Jantera 34)
0 Comments