Ilmu Medan Peta Kompas (IMPK) menjadi mata latih kedua yang harus kami laksanakan pada Diklanjut Jantera 35. Di kalender pendidikan Jantera, mata latih ini dilaksanakan pada bulan ketiga sesudah pelantikan AM. Instruktur atau pemateri yang membimbing kami adalah A Eja, Teh Jubed, Teh Binta dan A Abia. Pada tanggal 12, 13, 14 dan 18 April kami melaksanakan materi kelas yang dilaksanakan di Lab. Fisik, Dibawah Pohon Rindang (DPR), dan sekre Jantera.
Ternyata ada perbedaan sistem dari Diklanjut sebelumnya, kali ini Diklanjut dikemas menjadi sebuah game yang akan mengingatkan kembali anggota Jantera yang sudah senior mengenai IMPK. Instruktur Eja sampai membuat pamflet yang isinya ajakan agar anggota lama mengikuti game ini. Namanya Jantera Orienteering Challenge (JOC). “Hayu miluan!! Iraha deui kikieuan!!” dan “bisi poho IMPK sabari kemcer” adalah ajakan dari A Eja. Tanpa ajakanpun kami memang harus melaksanakan kewajiban kami.
Sebelum ke lapangan dilakukan technical meeting di sekre Jantera pada sore harinya. Ternyata ada 10 tim yang akan bertanding, sudah termasuk kami didalamnya. Dalam technical meeting tersebut dijelaskan hal-hal yang perlu diketahui dalam JOC, kami diberikan lembaran tata cara perlombaan dan contoh kertas kontrol. Kertas kontrol adalah kertas yang nantinya menjadi tempat mencurahkan jawaban dari tiap pos yang sudah dipasang semacam cetakan dari mika. Saya berpasangan dengan Hasanudin dan mendeklarasikan nama tim sebagai “Asterix dan Obelix”. Nama itu terispirasi dari film dengan judul sama dan merupakan refleksi dari kami.
Kami berangkat sore hari (29 April 2016) dari sekre Jantera, menggunakan angkot Lembang. Raka, Fauzia dan Hasanudin tidak ikut nge-camp di Sukawana. Mereka baru datang esok harinya. Ternyata base camp kami adalah tempat diklat dulu, dan sepanjang jalan menuju lokasi ajaibnya kami selalu berpapasan dengan cacing sondari yang mungkin lezat sekali jika digoreng, mirip-mirip kulit ayam lah hehe.
Besoknya kami melakukan Diklanjut. Tapi diawali dengan memasak dan sarapan dulu, biar kuat! Sebelum dimulai, Teh Jubed dan A Eja menyimpan mika di tempat yang sudah mereka survey sebelumnya. Kami sampai di tempat start. Setiap pasangan diberi jeda pemberangkatan 10 menit. Strategi kami sama sepertinya, yakni nge-plot terlebih dahulu semua titik di peta baru mencarinya di lapangan.
Setelah mendapatkan titik di peta kami saling membidik dan melakukan jalan kompas. Sampai akhirnya merasa senang karena menemukan titik pertama.
Untuk AM, kami diharuskan menemukan minimal 4 titik untuk syarat kelulusan Diklanjut ini. Saya dan Hasanudin sampai naik turun bukit beberapa kali dan nihil tidak ada mika yang kami cari. Sampai pada akhirnya kami melihat saudara kami yang lain sedang istirahat dibawah kebun teh. Hasanudin dan saya berlari menghampiri mereka. Kami berbincang dan tertawa bersama. Ternyata ada titik yang terlewat, titik di dekat menara. Saya dan Hasanudin kembali lagi ke atas dan mencari mika yang terlewat sementara saudara yang lainnya kembali ke titik pertama.
Tim saya menyusul ke titik pertama, dan hari semakin siang. Setelah menjernihkan pikiran beberapa saat, kami melanjutkan pencarian titik-titik yang masih bersembunyi. Lagi, Tim saya berpisah dengan yang lainnya. Di peta ada gambar titik hitam yang menandakan objek buatan manusia, kami menemukan saung dan yakin ada mika disekamir saung tersebut. Mondar-mandir di sekamir saung dan tahu nggak? Saungnya dipake pacaran euy! Ada sepasang manusia yang sepertinya lagi ngirit biaya pacaran dan berbelok ke kebun teh. Kami mondar-mandir emang sekalian bikin mereka risih dan segera tobat pulang ke rumah hehe.
Akhirnya ketemu lagi! Ya, kami lantas belajar dari kesalahan, memusatkan perhatian penuh kepada setiap pohon yang tertiup semilir angin, melambai-lambai.
Kami pergi ke lembahan mencari titik yang masih bersembunyi, terlalu penasaran dan masuk ke lembahan tidak baik juga karena bisa tersesat dan ngariwehkeun batur. Hal itu mungkin yang sempat akan terjadi pada Tim kami karena penasaran Hasanudin terus berjalan ke depan meninggalkan saya yang sebelumnya dijanjikan “Ika, tunggu ya! Kalo ada saya kabari, kalo nggak saya balik lagi.” Diam di lembahan yang lembab malah bikin mikir yang aneh-aneh, karena sieun Hasanudin nyasar, saya maju juga sambil teriak-teriak manggil “Kang Udiiiin!!!” Beberapa kali tapi tidak ada sautan, sontak bikin degdegan dan membuat saya teriak lebih brutal. Akhirnya si penasaran muncul kembali dari balik rumput sambil bilang, “Ayok balik lagi, gak ada jalan.”
Ternyata titik kedua yang dicari terletak sebelum titik yang pertama kami temukan di lembahan, kalau saja mata kami lebih jeli mungkin nggak perlu masuk terlalu dalam. Setelah kami menemukan titiknya dan berbalik arah, saudara kami yang lain malah berlawanan arah dan sepertinya akan mencari titik yang ada di lembahan. Kami saling bertukar informasi. “Kami yang jauh dulu, baru habis itu tinggal yang dekat! Pintar kan! HAHAHA” Hasanudin berujar sambil mengeluarkan tawa khasnya. Kami kembali lewat saung dan sepasang manusia itu belum tobat juga ternyata.
Tim kami sempat dibuat pusing juga mencari titik terakhir, udah bidik sana-sini nihil semua. Clue dari saudara kami tadi titiknya dekat dengan tempat dulu kami evaluasi DIKSAR IMPK. Akhirnya kami menemukan titik terakhir itu dan take a selfie with mika hejo nu ngagantung dina tangkal. Setelah menemukan semua titik rasanya plong sekali, tapi sayang sepertinya titiknya masih tertukar karena pasangan Ai dan Raka yang menjadi pemenangnya.
Ada insiden memalukan saat menuju garis finish. Saking semangatnya saya dan Hasanudin berlari ke titik awal yang menjadi start dan finish-nya. Ternyata tim lain juga baru sampai dan mereka juga berlari. A Eja dengan entengnya bilang, “Lain didieu da finish nage, tuh diditu!” Kata beliau sambil menunjuk tempat di depan saya. Tanpa pikir panjang karena yang ada di kepala hanya garis finish, langsung saya sibak semak depan saya dan duaar! Saya dan Hasan tabrakan, bibir atas saya terasa nyut-nyutan dan Hasan memegang tulang pipinya. Di sebelah kiri saya ada si Raka yang ngetawain sambil megang perut dan di depan sana ada segerombolan instruktur yang menertawakan.
Kami pulang kembali ke UPI menggunakan angkot Lembang, kembali ke sekre menyimpan barang dan pulang ke kosan bersiap untuk pergi KKL besoknya. Terimakasih IMPK, terimakasih instruktur, terimakasih mang angkot, terimakasih Sukawana yang selalu punya cerita.
Ika Kartikasari (Anggota Muda Jantera 35)
0 Comments