Oleh : Agung Maulana (J.368.37.AAB)
Banyak orang beranggapan gunung yang ramai bagai pasar sangat tidak nyaman dan indah di pandang apalagi dikunjungi. Prau merupakan gunung yang selau ramai dikunjungi meskipun bukan hari libur. Pengelola mencatat, pengunjung terbanyak mencapai kurang lebih 15.000 orang. Namun hal tersebut tidak melunturkan niat kami untuk pergi ke tempat tersebut, mahasiswa Pendidikan Geografi yang juga anggota pecinta alam dan selalu ketagihan seperti pecandu ganja yang sakau. Bedanya mungkin kami ini candu akan keindahan ciptaan sang maha kuasa, terutama gunung-gunungnya.

Gunung Prahu atau warga sekitar memanggilnya Prau memeluk tiga Kabupaten yaitu: Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo. Gunung Prau memiliki beberapa jalur pendakian namun kami menggunakan jalur yang cukup ramai di kunjungi yakni jalur Patak Banteng. Di tengah puluhan manusia lain yang berjejal, kami melihat bentang lahan yang di suguhkan oleh Prau. Perkebunan kentang dan Kubis seolah menari diiringi angin yang berhembus dalam perjalanan kami.
Matahari perlahan bergerak kearah barat dan berganti giliran dengan rembulan menandakan awal jumpa kami bersilahturahmi dengan sang tuan rumah. Air yang menetes dari langit dan suhu yang secara otomatis menurun perlahan membuat indah sekaligus menantang perjalana kami. Malam semakin larut, kami pun sampai di puncak, dengan kondisi badan yang basah oleh air hujan dan keringat, sulit dibedakan. Saya mendirikan tenda dengan perasaan semangat. Sebenarnya kata semangat bukanlah kata yang sembarang terucap dari manusia seperti saya. Namun kata tersebut merupakan kata penghangat untuk sodara saya yang tampak kedingingan dan hampir hipotermia. Mau tidak mau untuk menyelamatkannya ya tenda yang kokoh berdiri.
Ketika sang surya perlahan menyinari bentang alam Prau keesokan harinya, tampak keindahan tiada tara mulai dari si kembar Sindoro-Sumbing, saudara jauh Merapi, serta beberapa gunung yang bisa saya identifikasi. Hembusan angin menarik selimut halus kabut yang menyelimuti pedesaan sehingga tampak jelas kelap-kelip jejak kebudayaan dari warga sekitar. langit-langit pun perlahan-lahan menunjukan rona birunya dibantu oleh matahari yang bergerak keatas tentunya.
Tampak jelas beberapa kawah dari daerah dieng mengeluarkan uap yang menarik perhatian para pendaki namun mematikan, menjadikan kawah-kawah mempesona sebagai suatu pengingat bahwa manusia tidak boleh sombong akan dirinya. Ada filosofi yang cukup berkesan di hidup saya dari Prau sang tuan rumah. Filosofi yang mengingatkan kembali mengenai persaudaraan. Tempat kami berpijak dulunya merupakan bagian dari keluarga Gunung Dieng Purba yang sudah lama meletus, letusan tersebut menyisakan beberapa gunung salah satunya Prau. Antara satu gunung dengan gunung yang lain menciptakan suatu garis persaudaraan, apabila salah satu gunung terusik maka gunung yang lain pun akan terusik. hal tersebut dapat menjadi renungan bagi kita selaku khalifah di muka bumi ini.

Sikap persaudaraan harus terjaga, jangan mudah diadu jangan mudah teradu. Tidak seperti saat ini, masa panas ketika pesta demokrasi berlangsung di Indonesia, hanya karena beda ideologi, hanya karena beda pilihan kita rela di hancurkan dan menghancurkan yang lain. Sudah sepatutnya kita malu dengan tuan rumah, Prau yang mengajarkan tentang persaudaraan. Sekian dari saya seorang generasi muda yang peduli akan masa depan bangsanya. Bravo Jan! []
Redaktur: Ika Kartikasari (J.349.35.AAS)
0 Comments