Oleh: Abuzar Alghany
Provinsi Sumatera Barat kampung halaman saya memiliki banyak keindahan panorama alam, baik itu pegunungan hingga pantai. Namun sebagai seorang anggota perhimpunan mahasiswa pecinta alam Jantera saya lebih menyukai penjelajahan gunung hutan. Pada kesempatan ini saya mencoba untuk menjelajah gunung Talamau.
Gunung Talamau atau biasa disebut oleh masyarakat sekitar sebagai gunung Ophir merupakan puncak tertinggi di provinsi Sumatera Barat. Dengan ketinggian 2982 mdpl menjadi suatu tantangan bagi seorang pegiat alam untuk menjelajahi gunung ini.
Selain itu, ada pemandangan menarik pada gunung ini yaitu keberadaan telaga-telaga yang dapat dinikmati di atas puncak. Terdapat 13 telaga yang memiliki beragam bentuk dan ukuran. Keberadaan telaga ini terletak pada ketinggian 2750 mdpl.
Pintu masuk pendakian Talamau berada di desa Pinaga Pasaman Barat. Pos pendakian awal ini berada pada ketinggian 160 mdpl maka pendaki ditantang untuk mendaki 2800-an mdpl untuk sampai di puncaknya. Bagi saya ini merupakan trek yang sangat menantang untuk dijelajahi.
Ini sangat berbeda dengan gunung-gunung yang telah populer di masyarakat seperti gunung Semeru. Pos pendakian awal Semeru memiliki ketinggian 1800-an mdpl dan untuk mencapai puncak Mahameru yang memiliki ketinggian 3676 mdpl pendaki membutuhkan setengah lagi ketinggian Semeru.
Jalur pendakian Talamau memiliki trek yang panjang. Pada perjalanan awal, pendaki akan melewati perkebunan sawit dan harus menyebrangi sungai dengan arus yang cukup deras, sehingga pendaki diharuskan menggunakan alat bantu seperti webbing.
Selanjutnya pendaki akan melewati perkebunan karet, sawah tadah hujan, dan barulah memasuki rimba. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 ini memaksa pendaki untuk menggunakan alat bantu tali dalam mendaki atau dengan menggunakan teknik scrambling (merangkak).
Rimba Talamau masih merupakan hutan primer dengan kondisi vegetasi sangat rapat. Bahkan sinar matahari pun sulit untuk menembusnya, sehingga kondisi hutan begitu lembab dan banyak hidup pacet yang siap menyesap darah di kaki pendaki yang lewat.
Ditengah perjalanan saya dan tim mendengar suara auman Harimau Sumatera (Pantera Thigris Sumatrae). Lalu sejenak kami berdiam diri, kami mencoba mengelabui raja hutan tersebut karena saya mengetahui alat indera Harimau yang paling sensitif hanya terdiri dari mata dan hidung.
Informasi untuk sahabat alam yang ingin mencoba menjelajahi Talamau. Jalur pendakian ini minim sekali papan informasi bahkan informasi jalur hanya berupa tali dan pita yang diikat pada pohon-pohon. Jadi pastikan jalur pendakian sebelum mendaki dan gunakan alat bantu navigasi.
Setelah menempuh trek yang panjang dan sulit, akhirnya saya berhasil mencapai puncak. Pemandangan telaga-telaga menjadi obat yang mujarab untuk mengobati lelah saya. Rasa syukur saya haturkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan pelimpahan karunia di tanah kelahiran saya, tanah Minangkabau. []
Redaktur: Ika Kartikasari
0 Comments