“Pantai mah kidulan, bermain lagi kesini lain kali ya Nak!” begitulah kira-kira ucap seorang Bapak penjaga penginapan tempat mahasiswa Geografi 2012 melaksanakan praktikum sebelum kami pulang menuju Kota Kembang. Disebut kidulan mungkin karena cerita sang Ratu Pantai Selatan yang telah melegenda di sepanjang selatan Pulau Jawa, tetapi aku sendiri belum mengerti maksud perkataan beliau tersebut. Mungkin ada hubungannya dengan syuting film itu? Atau dengan kelima mahasiswa yang masih belum ditemukan itu? Entahlah. Yang pasti itu adalah Pantai Selatan!
Perjalanan kali ini saya bersama adik angkatan Geografi, amanah sebagai asisten dosen mengharuskan saya mengikuti perjalanan ini. Saya sendiri sangat senang karena mendapat kesempatan yang menurut saya keren. Kapan lagi coba jalan-jalan gratis? Hehe. Berangkat selesai sholat Ju’mat, kami terbagi kedalam 3 bus berukuran sedang, dengan muatan per bus sekitar 25 orang.
Agar perjalanan tidak membosankan, saya ikut saja nimbrung bersama adik-adik lainnya. Selain itu, saya juga telah mempersiapkan apa-apa yang selalu saya bawa apabila melakukan perjalanan panjang. Perjalanan Bandung-Garut termasuk perjalanan panjang, jadi saya menyiapkan sebuah bacaan berjudul ‘Murid Istimewa’ karya Torey Hayden. Sebelumnya keadaan masih baik-baik saja, namun setelah masuk ke rute istimewa baru beberapa mahasiswa yang satu bus bersama saya mengalami tekanan yang memaksa merka harus mengeluarkan sebagian isi perutnya. Rute istimewa itu berupa jalur yang berkelok sangat tajam, dan kelokannya terus saja berlanjut dalam jarak tempuh yang cukup jauh, itulah yang membuat beberapa teman lainnya mabuk darat. Lelah setelah perjalanan membuat agenda selanjutnya yaitu fiksasi pengelompokan transport harus diundur ke keesokan paginya.
Dengan basecamp yang berada tepat di pinggiran pantai, paginya saya sangat puas menikmati suasana sunrise yang disajikan Sang Pencipta di sebelah Timur. Menyambut matahari terbit, jongkok di antara padang lamun dan terumbu karang, mencium segarnya aroma lautan dan merasakan sensasi hempasan butiran air dari sang ombak. Kerinduan itu akhirnya terobati, setelah sekian lama tidak merasakan asin nya air laut.
Selesai sarapan, langsung saja penyebaran mahasiswa, dropping ke plot-plot yang telah ditentukan. Saya sendiri masuk ke plot bagian barat yang letaknya lebih jauh di antara plot-plot lainnya. Dengan menggunakan mobil jenis pick-up, kami melewati jalan raya dengan kondisi yang sangat buruk. Dari Desa Cijambe menuju plot terakhir di Desa Karangwangi memakan waktu 2 jam lebih. Pak Gungun yang menjadi supir banyak bercerita mengenai tempat-tempat yang kami lewati. Tempat-tempat tersebut memang pantas untuk diceritakan, karena walaupun hanya melihat sekilas, pantai-pantai yang ada di ujung penglihatan itu sangatlah indah. Pantulan biru laut semakin mempercantiknya.
Diceritakan mulai dari pantai yang merupakan tempat penginapan kami yaitu Pantai Cikelet, kemudian ada Pantai Keputihan yang ada di Desa Cigadog, tak jauh dari jembatan Cicalengka ada Pantai Karangsari yang mempunyai gua, selanjutnya Pantai Cijayana, Pantai Cicalobak yang sudah dilengkapi dengan fasilitas wisata begitu juga dengan Pantai Puncakguha dengan gua-nya dan Pantai Rancabuaya. Pantai Karangsari, salah satu pantai yang ada guanya diberi nama Guha Mekmek disebut demikian karena pintu guanya dikatakan mirip dengan alat vital wanita. Gua tersebut pernah beberapa kali dijadikan tempat syuting film, sebut saja diantaranya sinetron Kian Santang dan juga reality show Dunia Lain. Dijadikan syuting Dunia Lain, karena diyakini tempat tersebut terkesan mistis dan memang ada “penghuni”nya.
Pembicaraan dengan Pak Gungun masih berlanjut, hingga ketika kami melewati 5 tiang tinggi yang berdiri di sisi tebing dengan sebuah tugu berupa nisan berada di tengah. Beliau menceritakan, bahwa tempat tersebut dijadikan sebagai tugu mahasiswa yang hilang. Dari 9 kawanan dalam 1 kelompok, 5 diantaranya hilang entah kemana. Kejadian tersebut berlangsung sekitar 4 bulan yang lalu. Kesan “kidulan” lainnya tersirat pada cerita beliau.
Dengan bermodalkan koordinat plot yang kemudian disesuaikan dengan koordinat GPS, akhirnya kami tiba di plot-plot yang dimaksud. Semua kelompok mulai di drop menyebar untuk mencari objek kajian berupa tebing, pemukiman, hutan, terumbu karang, punggungan, teluk, dan sawah tadah hujan, mereka mulai dari desa Karangsari ke Desa Karangwangi.
Sementara yang lain sedang melakukan tugasnya masing-masing, saya sendiri meminta Pak Gungun agar melancong sebentar ke Pantai Rancabuaya. Setibanya di tempat, Pak Gungun langsung mengambil pe-we alias posisi wuenak di salah satu pondok kecil itu. Saya langsung saja menyusuri pantai untuk bernarsis ria. Banyak bertengger perahu nelayan di sebelah barat sepanjang pantai ini. Karang-karang dengan formasi yang unik mulai dari yang besar hingga kecil menghias pantai di sebelah timurnya. Terbuai dengan semilir angin pantai, Pak Gungun pun tertidur.
Adik yang sedang praktikum mengatakan bahwa pengambilan datanya telah selesai, terpaksa saya harus mengganggu tidur lelap Pak Gungun untuk menjemput yang sedang praktikum. Dengan mata memerah Pak Gungun terbangun, langsung saja kami menjemput mereka mulai dari yang paling jauh. Setelah semua sudah berada di dalam Pick Up, kami langsung jalan dan telah memutuskan sebelumnya agar kami bermain dulu ke salah satu objek wisata daerah itu. Maka segera Pak Gungun mengantar kami ke Puncak Guha.
Setelah melewati gapura bertuliskan “Selamat Datang di Tempat Wisata Puncak Guha” yang disebelahnya ada gambar siluet kelelawar, kami langsung melihat padang rumput yang lumayan luas yang sedang dihinggapi kambing-kambing warga. Setelah memarkirkan mobil, langsung saja saya mencari keberadaan gua. Ternyata guanya hanya merupakan sebuah lubang vertikal kira-kira berdiameter 5 meter sedalam , ketika menilik, kita dapat melihat langsung hempasan ombak yang menerobos hingga ke dalam gua. Selain itu, ada banyak lalay, yaitu kelelawar kecil yang beratraksi di dalam gua yang menyisakan bau guano yang menusuk. Ingin rasanya descending-an (teknik turun tali) disitu bersama Jantera. Bakalan beda rasanya, yang biasanya descending-an di DPR (baca: dibawah pohon rindang) ataupun di gua dengan descendingan di laut, dimana kaki kita langsung menginjak karang serta disambut oleh air laut.
Tepat di bibir tebing ada sebuah saung kecil sebagai tempat pengunjung menikmati keindahan tempat tersebut. Dari situ akan tampak keindahan pantai-pantai yang meneluk serta barisan ombak yang berkejar-kejaran di sebelah timur, laut bebas dengan birunya laut yang bertemu di sebelah Selatan dan Barat, serta padang rumput dengan nuansa hijaunya yang menyejukkan mata di sebelah utara.
Sekitar 30 menit kami bermain-main disitu, Pak Gungun menyarankan agar kita harus segera bergegas pulang, karena disebelah Timur yang menjadi arah tujuan kita telah terlihat jelas kilatan petir. Langsung saja kami kembali ke posisi kami di dalam Pick-up. Di tengah jalan kami sudah harus basah-basahan karena hujan. Hanya beberapa orang yang membawa payung dan rain coat, saya dan yang lainnya harus rela menikmati hujan siang itu.
Sesampainya di basecamp saya langsung mengganti baju agar daya tahan tubuh terjaga, sementara yang lain sibuk untuk menghimpun data. Malamnya langsung saja dilakukan evaluasi mengenai proses praktikumnya, sebagian besar tidak mengalami masalah dan mendapatkan data yang mereka inginkan. Karena praktikumnya dapat diselesaikan dalam waktu sehari itu, maka diputuskan untuk besoknya adalah pure berwisata dengan tujuan Pantai Santolo.
Menikmati sun rise, sarapan pagi, mengepak daypack, naik bus, dan bayar tiket. Akhirnya kami tiba di Pantai Santolo. Disebut Pantai Santolo karena adanya pulau tepat dan tak jauh di seberang daratan. Hanya perlu membayar Rp. 2.000,- untuk sampai ke pulau itu dengan menggunakan perahu nelayan karena jaraknya yang dekat. Sekat kecil antara daratan dan pulau tersebut diisi dengan barisan perahu nelayan, dan ada gundukan-gundukan batu yang digunakan sebagai pemecah ombak memanjang disitu. Setelah melewati warung-warung kecil baru kami sampai di pantai luas dengan matahari yang terik. Keadaan pantai yang ramai pengunjung membuat kami ingin segera bermain di pantai itu.
Ternyata disana ada banana boat, setelah mendapat teman yang ingin ber- banana boat ria kami langsung saja nego dengan bapak itu. Ternyata hasil pahit harus diterima ketika negosiasi harga yang dilakukan gagal, akhirnya kami harus mengikuti tarif yang ada yaitu Rp.150.000,- sekali naik dengan beberapa kali putaran. Langsung saja kami menyetujuinya dengan bayar Rp.25.000,-/kepala. Jangan takut untuk yang tidak bisa berenang, karena dilengkapi baju pelampung.
Dengan atasan warna hijau pucuk pisang, kami langsung naik ke banana boat-nya yang telah disambungkan ke speed boat. Belum lama dari kami naik tadi, langsung saja pak supir boat-nya me-manuver tajam ke kiri yang membuat kami terjun bebas dari perahu pisang itu. Walaupun sudah berpegangan kuat pada pegangan yang tersedia, tetap saja badan kami menghempas laut terkadang malah menghantam teman yang ada di depan kami, itu karena atraksi-atraksi yang dikendalikan oleh pembawa boat. Gelak tawa dan teriakan “wooo-woooo” terus kami keluarkan dalam bentuk kepuasan. Akhirnya kami harus turun dan menyudahinya karena yang lain telah ngantri menunggu.
Tidak jauh dari pantai, aku masuk ke salah satu warung sekaligus toilet umum. Dengan bayar Rp.2.000,- saya mengganti pakaian dan bersih-bersih badan, tak sengaja tercicip ternyata airnya payau. Air ini bersumber dari tempat yang telah terintrusi air laut, tetapi tetap saja masih digunakan oleh warga. Akhirnya semua kegiatan wisata selesai dan pukul 14.00 WIB kami sudah berangkat kembali menuju Bandung. Sekitar pukul 21.00 kami telah tiba di UPI.
Masih mengenai kidulan itu. Pak Gungun mengatakan bahwa dulunya pernah dilakukan ritual Pantai Selatan di Karang Paranye. Teringat kembali di perjalanan saya ke Garut Selatan. Ini kali keduanya saya bermain kesini, sebelumnya saya bersama teman-teman perantauan lain bermain kesini dan beberapa tempat yang berbeda. Kali ini saya hanya berkunjung ke Pantai Cikelet, Pantai Rancabuaya, Puncak Guha, dan Pantai Santolo, sebelumnya saya sudah ke Pantai Santolo juga, Pantai Karang Paranye dan Pantai Sayang Heulang. Benar-benar perjalanan yang saling melengkapi.
Ketika di Pantai Cikelet kita bisa dengan puas melihat terumbu karang dan biota laut diantaranya bintang, cacing, rumput laut serta ikan-ikan lainnya, di Pantai Rancabuaya kita dapat melihat karang-karang kecil hingga besar yang berjajar di sepanjang pantai mengarah lurus ke laut, di Puncak Guha kita melihat laut yang menembus gua vertikal bersama padang rumputnya, di Pantai Santolo dengan Pulau Santolonya, perahu nelayan, banana boat, dan pasir putih memanjang.
Di Pantai Karang Paranye kita diberikan pemandangan lain, yaitu ombak yang benar-benar tinggi dan kuat yang menghempas karang besar, di karang itu sendiri ada saung kecil dan para pemancing, menurut saya bisa dibilang ini semacam miniatur Tanah Lot, Bali yang mempunyai Pura di atas pulau kecil. Sementara di Pantai Sayang Heulang ada pasar malam yang sedang tidur di pinggir pantai, serta pulau kecil di sebelah Barat dengan jembatan yang terhubung ke darat. Hanya ada pasir pantai yang sempit, kemudian padang lamun yang berair hingga selutut sepanjang kira-kira 20 m ke arah laut, setelahnya baru disambut dengan hempasan ombak. Belum puaslah kalau cuma membaca penjelasannya, harus langsung kesana! Untuk menikmati pantai indah, masyarakat Jawa Barat tidak perlu jauh-jauh ke luar pulau bahkan luar negeri, karena di Garut Selatan cukup untuk mewakili keindahan-keindahan pantai.
Penulis: Novi Kristanti (Jantera 32)
0 Comments