Ditulis oleh: Muhamad Akbar Wijaya | Disunting oleh: Indri Megantara P. (J.381.38.APA)
Terlibat dalam sebuah penelitian adalah kesempatan yang sangat berharga bagi seorang mahasiswa. Terlebih penelitian yang berfokus pada sumber daya alam, yang notabene tim peneliti harus turun ke lapangan untuk memperoleh data. Hal tersebut saya alami belakangan ini, terlibat dalam sebuah penelitian yang mengkaji mengenai potensi air tanah dangkal yang tersebar di Kawasan Bandung Utara atau KBU. Parameter yang dijadikan acuan keberadaan sumber air tanah dangkal disuatu lokasi adalah keberadaan sumur gali dan mata air alami yang muncul dari tanah atau celah batuan. Dalam kegiatan penelitian ini, lokasi potensial sumber air telah ditentukan keberadaannya. Tugas peneliti kemudian memverifikasi keberadaannya di lapangan dengan mendatangi lalu plotting koordinat serta diambil gambarnya.
Kondisi lokasi kajian cukup bervariasi, mulai dari pemukiman, ladang, kebun hingga semak belukar. Pada lokasi yang memiliki penggunaan lahan berupa pemukiman padat penduduk, sudah tidak ditemui lagi sumber mata air alami, namun masih terdapat beberapa sumur gali yang masih digunakan oleh warga baik secara kolektif ataupun individu. Hal ini diakibatkan perubahan penggunaan lahan yang semula berupa lahan-lahan hijau kini berganti menjadi bangunan, sehingga sumber mata air alami perlahan berkurang dan menghilang. Sumur gali yang ditemui memiliki kedalaman yang cukup variatif, namun rerata muka air tanah berada pada kedalaman 6-15meter dibawah permukaan tanah. Mata air alami, yang bersumber langsung dari celah batuan atau lubang-lubang di tanah banyak ditemui di kawasan dengan penggunaan lahan bervegetasi, seperti ladang, semak belukar dan hutan bambu. Secara umum, mata air alami ditemui di bawah gawir yang ditumbuhi oleh rumpun pohon bambu yang rindang, terdapat juga beberapa mata air yang muncul di lahan sawah atau ladang yang airnya secara langsung mengalir dan mengairi lahan disekitarnya.
Cai Seke
Selama hampir dua pekan, saya dan seorang kawan ditugasi menjadi tim survei lapangan yang bertugas untuk mencari, mengambil gambar dan melakukan plotting pada setiap sumur gali dan sumber air tanah dangkal yang ditemui. Pencarian dilakukan secara acak, kami hanya berbekal daftar desa yang menjadi sampel lokasi penelitian dan disinyalir terdapat sumber mata air, baik sumur maupun mata air alami di desa tersebut. Aplikasi google maps dan penduduk lokal menjadi batu loncatan kemana kami akan melangkah untuk menemukan sumber air tanah dangkal dari satu titik ke titik ainnya. Jaringan internet menjadi kendala yang berpengaruh besar pada penggunaan google maps, sedangkan kendala bahasa dan penuturan informasi menjadi rintangan yang mengambat kami ketika mencoba berkomunikasi dengan penduduk setempat.
Lebih dari 140 titik sumber air tanah dangkal kami temukan dan berhasil dipetakan persebarannya. Sebanyak 85 % sumber air tanah dangkal yang ditemui, adalah mata air alami yang keluar dari celah batuan atau lubang dipermukaan tanah, sisanya berupa sumur gali yang berada di sekitar pemukiman penduduk. Keberadaan mata air alami secara umum selalu berasosiasi dengan keberadaan fenomena lain seperti sumber mata air yang banyak ditemui berada pada dasar lembahan atau berada diujung gawir atau tebing, atau area dengan vegetasi berupa rumpun bambu.
Lembahan dan ujung tebing atau gawir merupakan morfologi lahan yang berpotensi untuk munculnya mata air, sebab pada lokasi tersebut terdapat celah-celah batuan yang dapat diterobos oleh air tanah dangkal setelah melalui tahap resapan dari atas permukaan tanah. Namun tidak menutup kemungkinan mata air juga dapat ditemui pada lahan yang terbuka dan pada morfologi datar. Keberadaan tutupan lahan berupa vegetasi berjenis bambu, menjadi faktor pendukung yang besar untuk keberadaan sumber mata air. Bambu adalah tanaman yang mampu menyerap dan menyimpan air sebanyak 90 % dan 10 % sisanya mengalami penguapan, tanaman bambu menjadi tanaman yang digunakan sebagai tanaman konservasi air, karena dapat memulihkan lahan kritis dan menjadi sarana alami penyimpanan cadangan air tanah dangkal yang berasal dari resapan air hujan maupun limpasan.
Cai Seke
Selama melakukan survey lapangan untuk mencari sumber air tanah dangkal, kami menemui banyak istilah lokal yang merujuk pada mata air. Masyarakat sekitar ada yang menyebut mata air dengan istilah Cai Nyusu, Cai Seke, Cai Batu, Sirah Cai dan sebagainya. Istilah tersebut kami gunakan untuk mempermudah dalam mencari informasi terilebih ketika bertanya pada penduduk setempat, sebab terkadang masyarakat tidak mengenali istilah lain yang sedikit berbeda dengan istilah lokal.
Cai Seke menjadi istilah yang paling dominan digunakan oleh masyarakat untuk menyebut sumber mata air yang keluar dari celah batuan atau tanah. Cai seke sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat, air merupakan unsur yang berperan sangat vital dalam kehidupan dimuka bumi, baik untuk manusia, hewan maupun tumbuhan. Masyarakat banyak yang memiliki anggapan bahwa cai seke atau mata air alami adalah hal yang sakral dan memiliki khasiat seperti penyembuhan dan berbagai manfaat magis lainnya.
Setiap kami menanyakan pada penduduk mengenai keberadaan lokasi cai seke, masyarakat selalu bertanya apakah air nya akan digunakan untuk obat atau syarat.
“Ibu, Bapa, punteun, upami di palih dieu aya cai seke?”“Cai seke, aya jang, kanggo naon cai seke teh?”“Kanggo landing atawa kanggo syarat?”“Sanes Bu, kanggo penelitian, nuju metakeun lokasi cai seke”
Sekilas, begitulah percakapan yang setiap hari hampir selalu terjadi ketika kami bertanya pada warga, dimana lokasi mata air di desa tersebut berada.
Cai seke atau mata air yang merupakan hasil dari resapan air hujan dan disimpan oleh akar-akar tumbuhan didalam tanah, memiliki makna yang sangat dalam. Air yang berasal dari langit dan memiliki kemurnian, dianggap sebagai obat untuk berbagai penyakit dan sarana untuk kelengkapan atau syarat bagi kebutuhan tertentu. Masyarakat yang sudah lama hidup berdampingan dan memanfaatkan air yang berasal dari mata air alami, akan menjaga dengan baik sumber-sumber air tanah dangkal berikut dengan kawasan sekitarnya.
Cai Seke
Cai seke hingga kini masih banyak digunakan oleh masyarakat secara sederhana dan dengan skala menengah seperti kebutuhan air konsumsi, pengairan ladang hingga kebutuhan sanitasi dapat dipenuhi oleh air yang bersumber dari cai seke. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan cai seke mulai sedikit demi sedikit tergerus oleh adanya jet pump dan air yang bersumber dari PDAM. Lokasi –lokasi tempat dimana cai seke berada, mulai menghilang dan tertutup oleh semak, akibat jarangnya manusia yang datang dan membersihkan.
Air adalah hal vital bagi sendi sendi kehidupan, keberadaan sumber air tanah dangkal sangat penting untuk dipantau keberadaanya, sebab dimasa depan kebutuhan air tidak akan pernah berhenti selama manusia masih ada dimuka bumi. Pemetaan sebagai cara untuk inventarisasi sumber daya air, merupakan langkah awal untuk menjaga dan berupaya melestarikan keberadaan sumber air tanah dangkal yang tersisa – Muhamad Akbar Wijaya
Menghapuskan kesan yang awalnya sudah tertanam dan tumbuh dengan baikBak hujan di senja yang perlahan menelan indahnya lembayung Tatkala makna mulai tersadarkanSetiap goresan diukir kembali dengan hati-hatiGoresan pun perlahan terangkaiMenyulam kembali sisa jejak menjadi harap Read more…
Entah kesan apa yang hendak Tuhan titipkanBerulang kali kembali ke sana Ingat saat pertama kaki menyapa tanah disanaKetika bahu masih terasa beratRasa gundah berdesakan di dadaMemberikan rasa tak enak kepada siapa saja Aku berjalan mencari Read more…
“When ya” bukan sekedar kata spontan yang keluar begitu saja, itu adalah bentuk kecil dari keinginan. sebuah cara lembut untuk mengekspresikan bahwa aku juga ingin, bahwa di dalam diriku ada keinginan yang sama. tapi di Read more…
0 Comments