Pagi itu telah menunjukkan pukul 07.00 WIB, namun waktu Indonesia JANTERA masih menunjukkan pukul 04.00, sehingga penghuni sekre JANTERA belum menampakkan kehidupan. Suara gresak-grusuk tim pendahulu yang sedang menyiapkan peralatan caving tidak menjadi gangguan untuk mimpi para penghuni sekre. Baru setelah pukul 09.00 WIB, saya, Ali, Kak Novi dan A windya berangkat menuju Sukabumi Selatan di hari jumat tanggal 4 Juni 2015. Perjalanan menuju Sukabumi Selatan menempuh waktu enam jam perjalanan, belum ditambah dengan waktu istirahat dan sholat di jalan. Langit pun berawan siap menumpahkan seluruh isinya, karena kondisi yang tidak memungkinkan kami memutuskan untuk singgah di SMA 1 Sagaranten tempat Mang Oka senior JANTERA mengajar. Banyaknya terhidang makanan, fasilitas media latihan pemanjatan yang memadai. Migawa anaknya Mang Oka yang lucu membuatku betah lama-lama diam di sana. Pukul 07.00 WIB kami melanjutkan keberangkatan menuju Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi Selatan. JANTERA apabila melaksanakan aktivitas caving selalu singgah dan menginap di rumah warga, sebut saja Mang Nanin. Akses jalan menuju rumah Mang Nanin terbilang sulit, sehingga aku dan si Ali sudah tiga kali jatuh dari motor , sampai akhirnya kami tiba di tempat Mang Nanin.
Kedatangan kami di rumah Mang Nanin disambut hangat oleh A Reza JANTERA 31 yang sedang duduk santai di depan teras rumah. Tak lama kemudian saudaraku 34, kadat bersama kaka-kaka di JANTERA datang. Pada malam hari Ali, Elpin, kadat, Kak Novi, Kak Feni, dan Bang Sahid mengecek gua-gua yang layak untuk dilakukan penelusuran. Keesokan harinya pada tanggal 7 Juni pukul 08.00 WIB kami JANTERA 34 memulai penelusuran gua. Gua pertama kali yang dimasuki adalah Gua Leles dengan tipe vertikal. Kami mengaplikasikan tehnik yang biasa dipakai untuk bergelantungan di pohon DPR depan FPIPS. Tehnik tersebut adalah Single Rope Technique. Kami menuruni gua Leles satu persatu karena jalur yang di buka hanya satu. Setelah Gua leles terselesaikan kami membalik badan menuju gua yang lainnya yakni gua Joho.
Pukul 14.00 WIB kami memulai penelusuran Gua Joho dengan tipe horizontal. Di gua joho kami tidak hanya menelusur melainkan memetakan. Memetakan gua membutuhkan tim keorganisasian, sebelum masuk ke mulut masing-masing dari kami dibagi dan diberi tugas sesuai dengan bagiannya. Kegiatan ini sangatlah menarik, metode arah survey yang digunakan adalah leap frog methode. Arah survey (pengambilan data ) menggunakan top to bottom dan metode pengukuran chamber kami menggunakan offset methode. Pengukuran dimulai dari entrance gua dan berakhir pada ujung lorong gua atau akhir dari lorong gua tersebut mentok. Ketika penelusuran dan pemetaan di pertengahan gua kami menemukan percabangan jalan, setelah berdiskusi akhirnya tim dibagi menjadi dua bagian. Sungguh luar biasa sekali tim pertama menemukan ruang yang cukup besar sehingga tempat tersebut dinamai aula, karena besarnya sebesar aula. Tim kedua melintasi jalur reptil hole selama penelusuran dan kedua tempat tersebut kami petakan. Pemetaan di jalur repltile hole tidaklah mudah. Kondisi reptil hole yang sempit, berair, dan berlumpur mengakibatkan pergerakan terhambat. Tim aula berhasil lebih dulu memetakan bagiannya sehingga zona reptile hole berhasil dipetakan dengan baik. Pemetaan berlangsung dari pukul 14.00-03.30. sangat takjub masuk di siang hari keluar di dini hari, ketika caving ada etika yang harus dipatuhi yakni ”jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak”.
Penulis: Nindi Risna Dewi (Jantera 34)

0 Comments