Ditulis oleh: Indri Megantara P. (J.381.38.APA) | Kontributor: Zein
Semula panjat tebing merupakan bagian dari mountainering, orang zaman dulu melakukan panjat tebing sebagai upaya untuk bertahan hidup. Salah satu situs manusia purba yang hingga saat ini eksis adalah Tebing Pawon yang berada dalam Situs Gua Pawon, sebelah utara tebing bukit gamping Pawon dengan luas sekitar 9 hektar. Gua Pawon tepatnya berada di wilayah Desa Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung pada ketinggian 716 mdpl. Gua Pawon merupakan gua yang terbentuk di kawasan bertopografi karst di Kawasan Perbukitan Rajamandala, memanjang dari timur ke barat dengan orientasi arah hadap ke sisi utara. Formasi batu gamping di Rajamandala terbentuk dari formasi batu gamping pejal dan formasi batu gamping berlapis (Sudjatmiko, 1972 dalam Ferdianto, 2008). Kawasan karst tersusun dari formasi batu gamping yang telah melalui proses pelarutan (Tsauri, 1996 dalam Ferdianto, 2008).
Gua Pawon
Kawasan karst identik dengan kenampakan alam berupa perbukitan gersang, panas dan berwarna putih, namun berbeda dengan kenampakan tebing di dalam kawasan Gua Pawon yang lebih lembab karena tertutup rimbunan pohon. Gua Pawon terbentuk dari munculnya mata air yang larut kemudian menghasilkan lubang kecil lalu membesar sehingga langit-langit gua tak tertopang dengan baik, hingga pada akhirnya runtuh dan membentuk kenampakan seperti saat ini (Ferdianto, 2008). Sementara permukaan lantai Gua Pawon tertutupi endapan abu vulkanis yang masuk pasca runtuhnya atap gua, abu vulkanik ini berasal dari sisa letusan Gunung Tangkuban Parahu di sisi utara.
Ukuran panjang gua pawon secara keseluruhan adalah 38meter dengan lebar 16meter dari bagian mulut atau tebing hingga dinding terdalam gua. Bagian tebing terluar ini lah yang sering dipilih para pegiat alam minat khusus seperti Jantera untuk melakukan aktivitas panjat tebing. Tepat pada Sabtu dan Minggu lalu (3-4/9/2022) Jantera melaksanakan upgrading mata latih rock climbing di Tebing Gua Pawon sebagai sarana belajar dan peningkatan keahlian Anggota Muda (AM) sebelum meleksanakan pengembaraan. Meskipun pada pelaksanaannya belum bisa dihadiri seluruh AM kegiatan ini berjalan dengan meriah dan lancar juga menyenangkan.
Anggota Muda Jantera 40 di Tebing Pawon
Tebing Pawon ini memiliki keunikan dan kesan tersendiri bagi AM. Memilih tambatan yang tepat dan aman memerlukan waktu yang cukup lama, terutama bagi pemula seperti Zein, Tsalitsa, Piyoh, Diki, Hafshah dan Miswa. Diperlukan banyak waktu untuk belajar dan latihan terutama bagi anggota muda yang belum banyak mengenal medan tebing. Tak perlu lokasi yang terlalu jauh, tebing yang dekat sekalipun bila dilakukan secara rutin akan mampu membentuk naluri pemanjat muda dalam menentukan pijakan atau pegangan yang aman saat berkegiatan. Manjat mania! Mantap!
Sumber:
Ferdianto, A. (2008). Artefak Obsidian dari Gua Pawon, Kabupaten Bandung [Skripsi]. Depok: Universitas Indonesia, h, 10.
Menghapuskan kesan yang awalnya sudah tertanam dan tumbuh dengan baikBak hujan di senja yang perlahan menelan indahnya lembayung Tatkala makna mulai tersadarkanSetiap goresan diukir kembali dengan hati-hatiGoresan pun perlahan terangkaiMenyulam kembali sisa jejak menjadi harap Read more…
Entah kesan apa yang hendak Tuhan titipkanBerulang kali kembali ke sana Ingat saat pertama kaki menyapa tanah disanaKetika bahu masih terasa beratRasa gundah berdesakan di dadaMemberikan rasa tak enak kepada siapa saja Aku berjalan mencari Read more…
“When ya” bukan sekedar kata spontan yang keluar begitu saja, itu adalah bentuk kecil dari keinginan. sebuah cara lembut untuk mengekspresikan bahwa aku juga ingin, bahwa di dalam diriku ada keinginan yang sama. tapi di Read more…
0 Comments