
Menjadi Jantera Muda tidaklah mudah. Kami yang berjumlah 16 orang berjuang bersama-sama. Ya! 16 orang yang bertahan di Jantera telah melaksanakan tahapan-tahapan yang begitu panjang.
Sebelum ke lapangan kami dibekali pengetahuan terlebih dahulu, meliputi Jurnalistik, Sar Esar, PPGD, Manajemen Perjalanan, BZP, Survival, Ilmu Medan Peta dan Kompas, Gunung Hutan, Caving dan Speleologi, serta Rock Climbing.
Kamis, 23 Januari 2020 selesai melaksanakan upacara pembukaan pelepasan ke lapangan, kami berangkat menuju lokasi pertama yaitu Guha Pawon. Cuaca siang begitu panas setiba kami di tempat tujuan. Tak lupa kami makan siang bersama ditemani oleh instruktur Tatib.
Jika ada 1 remah maka dihitung 1 seri. Begitupun seterusnya, jika kita melakukan kesalahan maka akan kena seri atau hukuman. Tak masalah, hukuman itu ada baiknya untuk kita, yaitu fisik kita akan menjadi lebih kuat dan mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan kembali.
Kemudian kami mulai mendirikan bivak. Kami membagi tugas, ada yang membangun bivak, mengambil air, memasak, serta mengambil kayu. Terasa sekali kekeluargaan yang kami rasakan. “Saudaraku, Saudaraku, Saudaraku” begitulah panggilan kami. Sebuah hal baru dan kehidupan baru di Jantera.
Malam tiba, saat itu hujan mengguyur di camp kami. Setelah istirahat, solat dan makan kami diminta oleh Operasional untuk mengenakan jas hujan. Malam itu kita akan melakukan penelusuran gua. Jujur saja, aku baru pertama kali masuk ke dalam gua. Rasanya aneh, cemas dan takut.
Kami disambut oleh puluhan kelelawar bahkan ratusan yang mendiami gua tersebut, ditambah lagi bau kotoran yang menyengat. Tak tahan baunya. Rasanya ingin muntah dan memicu pusing. Medan yang licin tak kami hiraukan, kami saling berpegangan dan saling membantu agar tidak jatuh.
Ku arahkan headlamp ku ke dinding goa. Sungguh indah sekali ukiran alam berupa stalaktit. Tetesan air hujan juga menambah susana kehangatan malam itu. Setelah sampai di dalam gua, kami berkumpul dan berbagi cerita. Semua headlamp kami matikan. Yang kulihat waktu itu gelap, sunyi dan hanya terdengar suara kelelawar serta tetesan hujan.
Berdiam sejenak di dalam gua rasanya tenang, damai dan tak ada beban yang dipikirkan. Ku lihat cahaya petir yang samar-samar, hati ku menjadi lebih banyak bersyukur bahwa aku masih diberikan hidup dan bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Pagi harinya kami bangun menjalani aktivitas seperti biasa. Sholat, masak dan makan bersama ditemani oleh instruktur tata tertib. Kemudian kami melakukan kegiatan rock climbing dan Single Rope Technique.
Ketika sudah sampai atas, saat aku akan turun, hand ascander ku terlalu jauh untuk ku jangkau sehingga sulit untuk dilepas. Aku bergelantung di atas selama 30 menit bahkan lebih. Sungguh diluar dugaan ku. 30 menit berusaha menjangkau hand ascender dan aku tidak mampu.
Rasanya ingin menangis dan kecewa pada diri sendiri. Dari kejadian itu aku belajar dari kesalahan untuk terus berusaha sampai aku bisa. Kemudian kami melanjutkan kegiatan yaitu rock climbing. Mencoba rock climbing dengan gaya sport merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa, kekuatan tangan dan kaki harus benar-benar kuat serta membuat diri kita terasa tertantang. Dan setelah kegiatan hari itu kami kembali ke camp.
Hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Bukittunggul. “Siswa! Siap melanjutkan perjalanan?” begitulah kata kata Operasional yang selalu membuat kami semangat. Perjalanan ditempuh dengan waktu sekitar 2 jam menggunakan truk tentara.
Untuk sampai di Gunung Bukittunggul, kami harus melakukan longmarch terlebih dahulu. Hari itu hujan turun, dingin dan lelah yang kami rasakan, tetapi itu hanya sementara, karena sepanjang perjalanan kami bernyanyi bersama, menikmati perjalanan dengan pemandangan yang indah walau sedikit tertutup kabut, perjalanan kami terasa sangat hangat dengan kebersamaan.
Sesampainya di tujuan, seperti biasa kami bersama-sama melakukan pembagian tugas memasak, mendirikan bivak, mengambil air dan menjalani aktivitas yang diberikan oleh para instruktur.
Setelahnya kami menjalani kegiatan Sar Esar untuk menyelamatkan survivor yang tersesat di gunung. Banyak sekali pengalaman dan pengetahuan yang kami dapatkan pada saat itu.
Tak terasa beberapa hari telah kami lalui bersama, kali ini kegiatan kami adalah survival. Saat survival kami bekerjasama untuk mencari makanan dan yang kami temukan diataranya yaitu pakis, jamur, cabai, beri, antanan, begonia, belalang, dan timun naga.
Kami memasak bersama, makan bersama dan semua itu sangat berkesan. Untuk tidur kami dibagi atas plot-plot dan mendirikan bivak sendiri-sendiri.
Bermalam sendirian di hutan rasanya benar-benar bersatu dengan alam. Ku sekati kiri kanan bivak dengan daun-daun dan kayu-kayu.
Saat malam tiba, tidur ku hanya ditemani oleh hewan kecil merayap di matras, malam itu turun hujan dan kondisi tanah sangat lembab sehingga mengundang hewan-hewan muncul keluar, entah apa itu aku tak peduli lagi, asalkan jangan laba-laba, aku tak tahan jika bertemu laba-laba.
Sempat waktu itu di bivak hadir laba-laba, hampir saja bivak ku hancur akibat laba-laba. Entah mengapa hewan itu sangat membuatku tidak nyaman.
Dingin menyapa tubuh sampai masuk ke tulang. Tidur hanya berbalut sleeping bag dan suara-suara hewan menyeramkan di hutan rimba yang membuat ku berharap hari secepatnya pagi.
Bertahan di hutan hujan tropis yang rapat serta curah hujan yang cukup banyak, menambah rasa dingin di tubuh dan yang paling menyedihkan bagi ku adalah jas hujan ku tiba-tiba rusak.
Oke, ku akali dengan jahitan yang aku bawa di survival kit, tetapi bukannya memperbaiki, malah tambah rusak parah ketika dipakai. Jadi ketika hujan aku harus basah kuyup seluruh tubuh.
Bergetar, menggigil dan tanganku pasti akan memutih, membiru dan keriput. Sampai baju yang ku pakai basah akan kering kembali di tubuh ku. Bertahan di hutan yang sering hujan tanpa jas hujan sungguh sangat menyiksa dan sebuah kesalahan yang sangat fatal.
Tetapi aku berusaha untuk semuanya baik-baik saja. “Pasti kuat!” dalam hatiku. Bukankah kita selalu diajarkan dan dilatih untuk selalu tangguh dalam segala hal? Sesuai Panca Dharma Jantera nomer 5 yaitu Jantera itu bertindak dengan rasa tanggungjawab dan tangguh dalam menghadapi segala persoalan.
Disini, benar-benar banyak sekali pengalaman dan pembelajaran yang kita dapatkan.. jika diibaratkannya adalah sebutir nasi dan setetes air semuanya terasa mahal. Dan membuat ku menambah rasa syukur kepada Allah Swt.
Saat perjalanan pulang kami longmarch dari Gunung Bukittunggul ke kampus UPI. Perjalanan panjang kami nikmati dengan pemandangan yang sangat indah yang membuat mata takjub salah satunya adalah Sesar Lembang yang berpotensi bencana mengancam warga Kota Bandung, sehingga perlunya penyuluhan mitigasi bencana kepada masyarakat.
Berjalan bersama melewati hutan, sungai, dan pemukiman tak terasa dengan kaki yang mulai pegal dan keriput. Hanya berbekal minyak komando sebagai obat di kaki.
Terimakasih para instruktur yang telah sangat sabar menemani dan mendidik kami menjadi manusia yang tangguh. Terimakasih juga kepada instruktur Mila yang selalu memberi kami senyuman semangat serta cemilan cokelat, keju, dan bubur bayi yang beliau berikan, sehingga terasa sekali ikatan persaudaraan diantara kami.
Kami tiba di UPI sekitar pukul 19.00. kami melaksanakan upacara penutupan. Bagi kami itu adalah momen yang sangat luar biasa. Sebuah kehormatan bisa bergabung bersama Jantera dan suatu kebanggaan bagi kami untuk bisa melewati semua ini.
Dan ku ingat orang tua ku di rumah. Aku benar-benar rindu sekali suasana rumah, Saat yang lain liburan, berkumpul bersama keluarga, menikmati masakan mamah, sedangkan aku disini ya di sini bersama saudaraku di Jantera menjalani Pendidikan Latihan Dasar. Aku tahu, aku sampai disini adalah berkat doa dan restu dari orang tua. Aku bersyukur atas semua yang telah aku lalui selama ini dan aku merasa bahwa semuanya butuh proses, usaha dan kerja keras untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan.
0 Comments