Ditulis oleh : Luthfiana Choirunnisaa (J.37.AAB)

Pendidikan Lanjutan Anggota Muda Jantera 37, dilakukan dengan beberapa tahap pelaksanaan. Dimulai dari materi kelas untuk mendapat ilmu bagaimana kita dapat menelusuri gua dengan etika, teknik dan juga cara yang baik, karena gua merupakan salah satu fenomena alam sekaligus sumber daya karst yang sulit diperbaharui akibat proses pembentuknya yang memerlukan jangka waktu puluhan ribu tahun, terlebih jika dalam penjelajahan tersebut tidak menggunakan ilmu maka bisa saja yang terjadi yaitu penelusur dan penjelajah dapat merusak baik terhadap ekosistem maupun lingkungan hidup gua, bahkan ketika kita tidak dapat mengetahui teknik yang benar bisa pula terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti kecelakaan hingga kehilangan nyawa.
Setelah mendapatkan pembekalan yang matang. Tim Caving dan Speleologi Anggota Muda Jantera ke-37 melakukan sebuah penjelajahan, dimulai mengorganisir perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga pengolahan data setelah kegiatan di lakukan. Kegiatan perencanaan yang dilakukan terbagi atas : simulasi SRT (Singel Rope Technique), penentuan lokasi gua yang akan dijelajahi, survey pendahuluan, dan pembuatan instrumen.
Simulasi SRT. Simulasi ini dilakukan untuk mematangkan diri guna menelusuri gua vertikal pada saat penjelajahan. Karena suatu teknik akan menjadi skill (kemampuan) apabila kita dapat terus mempelajari, membiasakan dan melancarkan apa yang kita lakukan. Dalam SRT pun demikian, semakin banyak berlatih maka akan semakin paham tidak hanya pikiran namun tubuh kita akan terbiasa.
Penentuan lokasi gua. Dalam penentuan lokasi gua ini diperlukan suatu sumber informasi tentang sebaran gua di Indonesia, dalam hal ini tim caving dan speleologi A.M 37 memutuskan untuk menjelajahi gua yang berada di kawasan Bandung. Hal tersebut dikarenakan rasa ingin mengeksplore dan mengetahui gua yang diibaratkan di wilayah sendiri. Selain itu pula tak jarang mata latih caving dianggap sebagai mata latih yang membosankan akibat jarangnya lokasi gua terdekat yang dapat terus di eksplore baik untuk memantapkan kemampuan rigging maupun cave mapping kedepannya. Penentuan gua ini didasarkan kepada dua sumber data. Antara lain sumber data sekunder dan primer. Sumber data sekunder di dapat dengan melihat peta geologi untuk menemukan bentang lahan kawasan karst yang terdapat di sekitar kawasan Kota Bandung. Hasil dari interpretasi peta tersebut, tim caving dan speleologi A.M 37 menandai kawasan karst Rajamandala yang terbetang di daerah Padalarang. Tidak cukup hanya dari peta geologi untuk menemukan lokasi gua, maka data dan informasi lainnya kami dapatkan dengan mencari berbagai sumber yang ada di jurnal terkait Kawasan Karst Rajamandala dan potensi terdapatnya keberadaan gua. Banyak hal yang kami temukan namun hanya satu yang menjadikan kami tertarik, yaitu Sanghyang Lawang, yang memiliki arti pintunya para dewa. Setelah informasi terkait keberadaan Gua Sanghyang Lawang ditemukan. Maka kami melakukan tahap selanjutnya yaitu dengan mengambil data primer atau data yang langsung dari narasumber dan informan yang mengetahui letak dari gua tersebut. Setelah mencari tahu kepada kakak senior Jantera tentang informan yang mengetahui terkait gua tersebut maka kami diarahkan untuk bertanya kepada dalah satu organisasi mahasiswa pecinta alam yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia. Setelah mendatangi dan menanyakan informan tersebut, apa yang kami dapatkan ialah pengalaman beliau dalam bermain di gua tersebut. Kami mendapatkan informasi terkait dengan kondisi umum Gua Sanghya Lawang, namun tidak mendapatkan detail lokasi maupun koordinat yang pasti tentang kebaradaan gua.
Survey pendahuluan. Survey ini dilakukan dua kali. Pada saat survey pertama kali kami lakukan untuk mencari lokasi keberadaan gua Sanghyang Lawang yang terdapat di Padalarang berdasarkan informasi yang di dapat. Maka saya dan sodara saya Islah Munawar melakukan survey berdua, hal tersebut dikarenakan sodara saya Naela, Nurhanifah dan Agung Maulana sedang ada keperluan yang tidak dapat ditinggalkan. Keberangkatan pukul 07.00 WIB pada tanggal 25 Desember 2018 dari Sekretariat Jantera. Untuk mencapai lokasi kami menggunakan bantuan dari alat GPS essensial, dan kami temukan titik Sanghyang Lawang pada GPS tersebut. Setelah berkendara selama 120 menit kami telah mencapai lokasi yang ditandai. Namun nihil, kami tidak mendapatkan hasil. Pada saat itu yang kami temukan ternyata bukan Sanghyang Lawang tetapi Sanghyang Poek di dekat Bendungan Saguling. Setelah menanyakan ke warga sekitar kami diarahkan untuk berputar ke daerah Cililin. Maka kamipun berangkat dan kami menemukan daerah sanhyang lawang, tetapi tidak ada tanda-tanda kawasan karst disana. Karena yang kami temukan berupa pasir, dan batuan flufial. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali dan mencoba mecari informasi kepada kakak senior yang lain.
Survey pendahuluan kedua. Survey ini dilakukan atas adanya informasi mengenai lokasi gua Sanghyang Lawang. Yaitu berada di dekat pertambangan PT. Mandala di Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Maka saya, sodara saya Naela, Islah dan Mila melakukan survey yang kedua. Keberangkatan pulu 09.00WIB pada tanggal 2 Januari 2019. Hasil yang di dapatkan ialah kami mendapatkan 3 buah gua. Yaitu Gua Sanghyang Lawang, Gua Cibalukbuk dan Gua Cikaracak. Yang dilakukan ialah orientasi terhadap penggunaan lahan gua, mengobservasi lingkungan sekitar gua, plotting mulut gua, mencari informasi kepada warga terkait kondisi dalam gua, dan dikarenakan tim caving sudah memutuskan gua di daerah ini yang akan di jelajahi, maka tim survey mencari tempat yang tepat untuk dijadikan sebagai basecamp serta mengurus perizinan kegiatan.
Pembuatan instrumen. Pembuatan instrumen terdiri atas instrumen cave mapping dan penelitian untuk karya ilmiah. Dari hasil observasi yang telah dilakukan sebelumnya dengan membawa beberapa data, maka selanjutnya tim caving mencoba membuat instrumen untuk mempermudah pada saat pelaksanaan penjelajahan.
Setelah perancangan kegiatan, hal yang tim caving dan speleologi A.M 37 lakukan selanjutnya yaitu melakukan persiapan. Persiapan terbagi atas: pembuatan organisasi penjelajahan, membuat itenary yang mencakup semua rancangan kegiatan baik dari susunan acara, hingga tahap persiapan terakhir yaitu packing.
Pembentukan organisasi penjelajahan. Penjelajahan dalam menyelesaikan syarat pendidikan lanjutan ini diketuai oleh Muhammad Agung Maulana, sekretaris dan bendahara Luthfiana Choirunnisaa, logistik oleh Islah Munawar, konsumsi oleh Naela Fitriani, dan acara oleh Nurhanifah. Pembentukan organisasi ini bertujuan untuk membagikan tugas dan fungsi yang jelas baik pra-penjelajahan maupun saat penjelajahan berlangsung.
Pembuatan itenary atau rancangan penjelajahan. Itenary yang dibuat mencakup beberapa point seperti penenuan tanggal penjelajahan, perancangan breakdown, rancangan anggaran, transportasi keberangkatan, logistik yang perlu dan dibutuhkan, serta konsumsi yang akan di sajikan pada saat di lapangan. Penentuan tanggal penjelajahan dilakukan dengan bermusyawarah. Namun untuk penentuan tanggal sendiri memang kurang ada kesiapan akibat adanya anggota tim caving dan speleologi A.M 37 yang pulang ke kampung halamannya, sehingga koordinasi yang dilakukan kurang dan terkesan hanya diambil keputusannya oleh sepihak. Kemudian pembuatan itenary ditujukan untuk membuat alur yang jelas terkait pelaksanaan penjelajahan yang akan dilakukan. Pada saat pembuatan itenary, tim caving A.M 37, bermusyawarah terkait dengan gua mana yang akan di masuki. Setelah penuh pertimbangan, maka hasil yang diperoleh adalah Gua Sanghyang Lawang yang akan kami telusuri secara vertikal dan Gua Cibalukbuk yang akan kami petakan. Gua Cibalukbuk tim caving pilih karena berdasarkan informasi yang diperoleh bahwa belum ada organisasi mahasiswa pecinta alam yang memetakan gua tersebut, sedangkan gua Cikaracak telah pernah di petakan oleh OPA (organisasi pecinta alam) yang lain. Adapun rencana perjalanan yang di rancang oleh tim caving A.M 37 ada 3 rencana berupa plan A, plan B, dan Plan C. Pembuatan rancangan acara yang begitu banyak sebagai akibat dari meminimalisirnya kesalahan saat dilapangan terutama akibat gangguan cuaca yang belum menentu walaupun sebenarnya tanggal pelaksanaan dipilih dengan berdasarkan prakiraan cuaca sebelumnya.
Packing. Packing dilakukan untuk mengemas semua kebutuhan pribadi seperti perlengkapan pribadi, dan kelompok seperti logistik untuk rigging dan cave mapping, peralatan dapur, dan logistik lainnya. Packing dilakukan oleh tim caving pada H-1 pelaksanaan lapangan.
Tahap pelaksanaan. Pelaksanaan dari penjelajahan dilakukan pada tanggal 28 Januari 2019 hingga 30 Januari 2019. Satu hari sebelum pelaksanaan tim caving mempersiapkan kembali segalanya, seperti packing alat, cek ketersediaan instrumen, hingga breafing dengan bidang 1 sebagai tindak lanjut kesiapan dari penjelajahan. Selanjutnya, tim caving beristirahat di sekretariat Jantera.
Hari Senin tanggal 28 Januari 2019. Persiapan keberangkatan pukul 07.00-08.00 WIB. Persiapan keberangkatan dilakukan dengan mempacking peralatan yang akan dibawa ke kendaraan. Hambatan yang terjadi sebelum keberangkatan ialah kurangnya jumlah kendaraan yang dapat membawa tim caving ke lokasi. Sehingga satu anggota tim caving terpaksa untuk pergi menyusul dengan kakak senior diluar jam yang telah ditentukan. Keberangkatan dari sekretarian pukul 09.00 WIB dan sampai tiba di lokasi pukul 11.00 WIB. Hal yang pertama kali dilakukan pada saat sampai di lokasi ialah mengurus perizinan kembali ke RT, RW setempat, dan merapihkan basecamp. Selagi menunggu kehadiran salah satu anggota yang tertinggal, timcaving dibagi untuk melakukan kegiatan wawancara sebagai sumber data primer bagi karya tulis ilmiah. Hasil yang di dapat dari wawancara tersebut antara lain : mata pencaharian warga, kondisi antara pertambangan dan perkebunan sebagai mata pencaharian, dan kondisi sosial ekonomi.
Kondisi di kawasan karst Desa Cipatat tersebut merupakan kawasan Pertambangan di utara dan perkebunan milik perhutani di timur dan barat lingkungan gua. Oleh karena itu sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai petani kebun dan pegawai pertambangan. Pertanian yang dimaksud ialah palawija, seperti kunyit. Pertanian kunyit merupakan mata pencaharian yang menguntungkan bagi warga sekitar karena pada satu kalinya panen mereka akan mendapatkan berton-ton kunyit yang pendistribusiannya hingga mencapai Purwakarta, dan Jakarta. Sebagian besar lainnya merupakan pekerja buruh pertambangan yang di pekerjakan oleh perusahaan PT. Mandala. Dua kegiatan yang berlawanan ini tercipta akibat lahan perkebunan warga merupakan milik perhutani yang telah memiliki MOU atau kesepakatan dengan pihak pertambangan.
Kegiatan selanjutnya pada hari pertama memang yang semula direncanakan untuk melakukan survey ke dalam gua, namun tidak terlaksana akibat cuaca yang hujan. Maka kegiatan berikutnya dilakukan lah breafing, makan dan istirahat.
Selasa, 29 Januari 2019. Tim caving dibagi atas 2 kelompok, dengan sebelumnya mendirikan terlebih dahulu base camp bayangan di lahan pertanian warga dengan koordinat 107⁰24.050’ BT dan 06⁰51.020’LS. Sodara saya Islah dan Nurhanifah ditempatkan untuk pemasangan rigging dan saya beserta sodara Naela, dan Agung Maulana diarahkan untuk melakukan survey Gua Cibalukbuk. Survey gua kemudian dibagi kembali yaitu Sodara Naela sebagai pemantau kondisi diluar gua dan sya beserta Agung Maulana yang memimpin kegiatan penelusuran gua. Hambatan yang terjadi pada saat penelusuran yaitu akibat mulut gua yang sedikit vertikal sekitar 3 meter, sehingga diperlukan webing sebagai tambatan untuk memasuki gua. Pada saat survey telah selesai. Maka dilakukanlah SRT (Singel Rope Technique). SRT yang dilakukan yaitu menelusuri gua vertikal yang tingginya sekitar 12 meter, mengapa demikian karena kita tidak memastikan dengan alat ukur ketinggian Gua Sanghyang Lawang tersebut. Adapun hambatan pada saat melakukan SRT itu yaitu kondisi gua yang tinggi dengan topografi yang miring dengan terdapat ceruk atau batu yang cekung yang menghambat tim caving untuk naik kembali ke permukaan atau mulut gua. Kegiatan SRT ini dimulai setelah pemasangan rigging hingga pukul 19.00 WIB. Setelah itu kami kembali ke base camp untuk breafing kegiatan selanjutnya, makan, dan istirahat.

Rabu, 30 Januari 2019. Tim caving merancanakan untuk melakukan cave mapping di Gua Cibalukbuk. Keberangkatan dari base camp yaitu pukul 03.00-09.00 WIB. Dimulai dengan pemanasan dan berdoa sebelum memasuki gua. Dan memasuki gua untuk dipetakan. Teknik dari pemetaan gua yaitu menggunakan metode forward method dengan bottom to top. Yaitu posisi pengukuran yang tidak berubah antara bidikman dan targetman dimulai dari akhir gua hingga awal mulut gua. Organisasi pemetaan terdiri dari Agung Maulana sebagai Leader sekaligus sketcher, Luthfiana sebagai bidikman, Islah sebagai chamber, Naela sebagai targetman, dan Nurhanifah sebagai notulen. Bentukan di dalam gua beragam memiliki ornamen seperti stalaktit, stalagmit, flowstone, gorden, dan gordam. Sedangkan biota yang ada antara lain ialah jangkrik, cacing, laba-laba, serangga, dan kelelawar. Gua Cibalukbuk yang dipetakan yaitu sejauh 84 meter. Meskipun jaraknya dekat namun memang karena morfologinya yang miring menjadi hambatan pada saat pengukuran. Hal yang unik di Gua Cibalukbuk ini ialah adanya reptile hole vertikal.
Setelah selesai cave mapping, kondisi cuaca tidak terkira terjadi hujan dengan intensitas sedang namun dalam waktu kurang lebih selama 15 menit. Setelah melakukan cave mapping, tim caving kembali ke base camp bayangan untuk beristirahat dan membenahi base camp tersebut untuk persiapan pulang. Sebelum pulang tim caving mengadakan operasi semut di base camp utama, istirahat, makan, dan evaluasi selama kegiatan penjelajahan.
0 Comments