Ada Dewan Pelopor Jantera, yaitu Kang Bach dan Teh Nenden. Ada angkatan IV Prahara Sangkuriang, yaitu Kang Ogun bersama Teh Yanti. Ada angkatan XXIX Gentra Yudha Kelana, yaitu A Feri “monyong”. Ada angkatan XXXI Samagatha Nilawarsa, yaitu Reza “kumis”, Rizqi “acil” dan Shanny. Serta si bungsu angkatan XXXII Grajag Beswara Sandekala, yaitu saya sendiri, Novi.
Beruntung sekali waktu itu bisa menjadi bagian dalam kunjungan ke Buniayu. Beruntung karena perjalanan tersebut dilakukan bersama senior-senior Jantera. Kang Ogun yang merencanakan perjalanan tersebut, seharusnya kami berangkat bersama mahasiswa Kang Ogun dari STIPAR untuk tujuan pendamping praktikum, tetapi karena beberapa pertimbangan, kesepakatan tersebut akhirnya melebur. Karena tidak enak hati beberapa kali mengundurkan jadwal ke Goa Buniayu, Kang Ogun yang telah mengajak beberapa anggota Jantera akhirnya memutuskan untuk tetap pergi walaupun tanpa mahasiswa STIPAR.
Di sela-sela kesibukan dalam pekerjaannya, beliau tetap menepati janjinya untuk mengajak kami ke Goa Buniayu. Merupakan kejutan dan kesenangan tersendiri bagi kami bisa berkegiatan bersama dengan kang bach. Betapa tidak, Kang Bach merupakan seorang yang sangat sibuk dalam rutinitasnya, memang anak Jantera sering bermain bersama Kang Bach tetapi dalam konteks lain dan itu juga bersama pihak luar lainnya. Nah, untuk perjalanan dalam skala kecil ini, kami merasa lebih dekat dengan Kang Bach dan Kang Ogun. Kang Ogun yang biasanya kami temui di perkuliahan sebagai dosen, kali ini berperan menjadi teman bermain.
Goa Buniayu adalah goa yang terletak di Sukabumi, tepatnya goa kapur aktif ini berada di Kampung Lebaknangka, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Letaknya di sekitar kompleks pesantren Al-Mas’uddiyah (Rindu Alam).
Senin, 4 November 2013 tepat pada pukul 20.00 WIB kami dijemput oleh Kang Ogun bersama istrinya, Teh Yanti, di Gegerkalong. 30 menit kemudian kami tiba di gerbang tol Kopo untuk menjemput Kang Bach bersama istrinya, Teh Nenden. Muatan semakin banyak, sementara spacenya tidak berubah membuat kami menyusun barang serta letak duduk sedemikian rupa. Kang Bach dan Kang Ogun di kursi paling depan, Teh Nenden, Teh Yanti, saya dan Shanny di kursi kedua, A Feri, Reza dan Rizqi duduk di jok paling belakang. Daypack yang disusun di depan tempat duduk saya dan Shanny membuat kami harus duduk sempit-sempitan dan dalam posisi terjepit sehingga keram dan kesemutan menjalar di sepanjang kaki. Ternyata, yang di jok belakang lebih parah. Bayangkan, dengan ukuran tempat kira-kira 1,5 meter x 1 meter dengan dua tempat duduk kecil di sisi kiri dan kanan diisi dengan 2 cariel serta 3 daypack membuat posisi ketiga pemuda tersebut benar-benar terjepit. Reza yang berbadan tinggi harus bertahan dengan posisi lutut terjepit a Feri juga demikian sampai menganalogikannya, “duduk diantara 2 sujud,” katanya.
Di dalam mobil banyak cerita, mulai dari kisah angkatan IV yang merupakan angkatan dengan anggota terbanyak sepanjang sejarah Jantera yaitu sekitar 40-an, tak lupa juga dengan sejarah nama angkatannya “Parahara Sangkuriang” yaitu dimana pada saat perjalanan di Gunung Tangkuban Parahu banyak didapati pohon-pohon besar yang tumbang karena pada saat itu ada badai besar, sampai kepada kisah si Bungsu XXXII yang masih dalam tahap Diklanjut. Masih banyak cerita lainnya yang membuat kekaguman kepada Jantera semakin bertambah.
Ternyata, Reza memberi berita baik untuk kita. Untung saja posisi terjepit itu tidak kita lakukan sampai ke Buniayu. Karena perjalanan dari Jeblug ke Buniayu sudah memasuki trek yang meliuk-liuk. Dengan adanya Reza, kemerdekaan itu kami dapatkan. Pada pukul 23.20 WIB kami tiba di rumahnya Reza, dan Reza keluar dengan 1 unit mobil Avanza. Langsung saja kami bergegas memindahkan sebagian barang ke mobil Reza. “orangtua di mobil ini (sambil menunjuk mobil kuda milik Kang Ogun) dan anak muda di mobil itu (sambil menunjuk mobil avanza milik Reza),” kata Kang Ogun. Langsung saja kami menyepakatinya, akhirnya dapat duduk dengan rileks.
Para pemuda tersebut ternyata mendapatkan kemerdekaan yang lain, langsung saja mereka menyalakan pemantik untuk membakar batangan rokok di sela-sela jari mereka. Tidak jauh dari tempat tinggal Reza, kita berhenti sebentar untuk mengisi perut. Keahlian Kang Ogun dan Reza dalam mengendarai mobil ternyata hebat, sehingga kedua mobil itu melaju sangat cepat dan kusebut saja kita sedang sedang ber-Sukabumi drift.
Dengan cepat kita akhirnya tiba di tujuan pada pukul 01.03 WIB. Satu jam kemudian semenjak kami tiba di tujuan, kami mulai mengambil posisi tidur di dalam warung salah seorang warga. Saya dan Shanny bersama para senior tidur di dalamnya, sementara para pemuda mengambil sikap untuk tidur di dalam mobil.
Paginya, pukul 06.00 WIB kami mulai beraktifitas dan perut pun sudah terisi. Pagi itu sebelum menyusuri Goa Buniayu kami melakukan pemanasan dengan teknik turun tali. Peralatan telah dipasang di dua pohon besar. Para senior kecuali Kang Ogun yang dulunya melakukan teknik tersebut dengan peralatan sederhana, menjadi pangling ketika dihadapkan dengan beberapa peralatan yang modern seperti ascender dan beberapaa peralatan lainnya. “Dulu kalau mau naik, ya pakai simpul saja,” kata salah seorang senior. A Feri yang menjelaskan beberapa cara penggunaan ternyata membuat para senior pusing, ternyata semakin banyak alat semakin pusing, karena dulu peralatannya sangat sederhana jadi tidak membutuhkan banyak cara.
Tekniknya dimulai dengan naik tangga tali yang terbuat dari jalinan webbing yang diikat pada sebatang pohon. Apabila telah mencapai ketinggian tertentu, kemudian dilanjutkan dengan teknik turun tali menggunakan figure of eight, setelahnya dilanjutkan dengan turun tali dari tebing kapur yang ada disebelahnya. Latihan ini dikhususkan kepada senior yang sudah lupa bagaimana teknik turun tali, sementara yang muda dan Kang Ogun sebagai instruktur dalam pelatihan ini.
Latihan dimulai oleh Teh Yanti, tahap awal merupakan tahap yang paling sulit dimana harus melangkah vertikal dengan tangga tali yang telah diikatkan pada batang pohon. Cukup sulit, karena harus banyak menggunakan tenaga dari kedua tangan dan kaki untuk mengangkat badan di gantungan tali-tali tersebut. Mungkin dipengaruhi telah jarangnya melakukan outdoor activity sehingga beliau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meniti tangga tali tersebut. Dengan bantuan Kang Ogun, Teh Yanti berhasil melakukan teknik turun tali.
Teh Nenden selanjutnya melakukan apa yang dilakukan oleh Teh Yanti sebelumnya. Bambu tajam menggores jari Teh Nenden ketika turun tali dari tebing, untungnya tidak terlalu dalam. Kang Bach dengan semangat melanjutkan bagiannya setelah sedikit stretching tadi. Wah, dengan cepat beliau naik dan kemudian langsung descending sehingga disebut tukang damar oleh senior lain.
Selesai latihan dan mengetahui teknik-teknik dasar, kami langsung bersiap-siap untuk melihat fenomena alam di bawah permukaan bumi. Sesampainya di pos, langsung saja Kang Ogun yang telah berpengalaman dan seringkali mampir ke tempat ini menyampaikan niat untuk memasuki Goa Buniayu. Ternyata, walaupun beliau sudah cukup sering bermain disini, bahkan kenal dekat dengan pemandunya yaitu Pak Iwan, tetap saja sulit untuk bernegosiasi agar masuk ke dalam gua. Setelah ditanyai, ternyata penyebab pemandunya mengurungkan niat untuk menelusuri goa karena beberapa bulan yang lalu beliau baru saja mengalami kejadian buruk di dalam goa tersebut bersama beberapa pengunjung. Mulai dari beberapa bulan yang lalu sampai sekarang terhitung sebagai musim hujan, dimana hampir setiap hari hujan turun di tempat tersebut. Malangnya, ketika Pak Iwan dan pengunjung tersebut sedang melakukan penelusuran, belum sampai setengah perjalanan hujan turun dengan derasnya sampai memasuki gua dan membuat mereka tergenang. Sekat tipis antara kehidupan dan kematian dapat dirasakan oleh beliau, hanya dengan bergantung pada stalagtit dia memperjuangkan hidupnya.
Stalagtit itu yang menjaganya agar tetap bertahan di atap gua. Berpegangan kuat pada ornamen gua dan meminimalisir pergerakan serta berdoa, hanya itu yang dapat beliau lakukan saat itu. Untungnya, beberapa pemandu lainnya yang sedang menjaga pos menyadari hal tersebut. Melihat hujan yang turun cukup deras, secara cepat mereka mulai me-rescue. Alhasil, dengan waktu yang cukup lama mereka keluar dengan selamat dengan meninggalkan trauma yang untungnya tidak berkepanjangan. Musim hujan merupakan jadwal yang tidak disarankan untuk melakukan kegiatan caving.
Tetapi, karena Kang Ogun yang cukup lihai membaca cuaca dari keawanan dan lainnya, beliau tetap bersikukuh ingin masuk ke Goa Buniayu. Mempertimbangkan hal tersebut, Pak Iwan akhirnya menyetujui untuk memandu ke Goa Buniayu. Padahal, ada banyak goa yang terdapat di kabupaten sukabumi tersebut diantaranya Goa Landak, Goa Gombong, dan masih banyak lagi. Tetapi kami ingin memasuki goa ini karena goa Buniayu merupakan goa yang terpanjang di kawasan itu, yaitu 2.200 meter.
Dalam kondisi bersih, satu per satu dari kami mulai menuruni sumur sedalam18 meter tersebut. Ternyata latihan turun tali tadi tidak terpakai untuk memasuki gua kali ini. Hanya dengan harness pada tubuh yang telah dipasangi carabiner, tali kernmantelstatis dan di-belay dengan descender autostop oleh pemandu kami pun bisa turun ke dasar goa, hitungan detik orang yang turun sudah mencapai dasar gua. Mulut lubang vertikal itu yangdisebut oleh penduduk setempat lubang ngorok, merupakan pintu yang mengantarkan kami ke perut siluman yang lazim disebut Goa Buniayu.Ketika melakukan langkah awal di dalam goa, saya mulai menyesuaikan penglihatan di dalam kegelapan. Dengan bermodalkan headlamp yang terpasang pada helm, saya melihat-lihat keadaan goa. Walaupun dengan cahaya seminim itu, saya dapat melihat ciptaan Tuhan yang sangat indah. Kanopi, stalagtit, stalagmit, flowstones dan ornamen gua lainnya. Ornamen-ornamen yang memantulkan kilau membuat mata ini tidak bosan-bosannya melihat sekeliling, membuat hati ini tidak henti-hentinya mengucap syukur.
Sepatu boot yang sedikit robek membuat air bersama lumpur dengan mudah masuk ke dalamnya, sehingga membuat langkah tidak nyaman. Tetapi, apa boleh buat, karena itu sepatu boot berukuran kecil yang keadaannya masih lebih lumayan daripada sepatu boot lainnya yang tersedia di pos. Sementara itu, lumpur yang ada di sekitar pijakan membuat saya dan yang lainnya harus lebih berhati-hati dalam meniti langkah. Tidak jauh dari tempat saya turun, saya mulai mendengar suara gemuruh di kejauhan. Ternyata itu adalah suara aliran air, aliran sungai bawah tanah, dan karena di dalam gua maka terdengar menyerupai suara gemuruh.
Tidak lama kemudian, kami mulai mencium bau guano yang menyengat dari kejauhan. Akhirnya kami tiba dimana sumber bau tersebut, kotoran kelelawar itu ada di bawah pijakan kami dan ketika menengadah keatas, tampaklah barisan acak para kelelawar yang sedang menggantung. Karena hari masih siang, jadi mereka masih tidur dengan nyenyak di sangkarnya. Sementara sang lalay sedang tertidur, hewan lainnya berupa jangkrik, kelabang dan lainnya yang merupakan makhluk goa sedang asyik bermain di dinding-dinding goa.
Mungkin siluman ini sedang tertidur, apabila dia terbangun nanti mungkin dia akan langsung minum dan sejumlah air akan masuk lewat tenggorokannya hingga menghampiri kami yang sedang menginjaki perutnya. Saya berkata demikian karena ketika melewati sebuah lorong goa, ada sampah berupa ranting kecil yang tersangkut di beberapa ornamen goa yang ketinggiannya melebihi tinggi saya, sekitar 1,53cm. Ketakutan akan kegelapan tidak ada apa-apanya dibanding dengan ketakutan akan air bah tersebut, jadi teringat akan cerita Pak Iwan dan juga kisah dalam film Sanctum.
Larut dalam bayangan tersebut, ketika sedang dihadapkan pada medan yang ngarai, saya sempat terpeleset dan menghantam dinding goa. Untungnya saya sempat berpegang pada webbing yang telah terpasang sebelumnya di rekahan goa dan pemandu dengan cekatan menarik kakiku. Tangan yang berpegang pada webbing juga menghantam bagian dinding goa yang kasar, sehingga menghasilkan luka gores. Hanya pemandu yang melihat kejadian tersebut karena teman-teman yang lainnya sudah berada jauh di depan karena saya sibuk untuk mengambil beberapa foto. Sementara medan yang jauh lebih parah dari ini masih banyak menunggu di depan sana. Langsung saja ucapan maaf dan terimakasih saya sampaikan pada sang pemandu. Lalai! Musuh utama di dalam sini.
Sepanjang perjalanan menyusuri goa, ada beberapa rekahan akibat proses pelarutan membelah goa menjadi semacam jurang. Apabila tidak hati-hati, medan yang berlumpur dapat memasukkan pengunjung kedalamnya. Banyak lorong-lorong yang kami lewati, mungkin kalau kami masuk, lorong-lorong tersebut masih panjang. Semakin ke dalam, semakin banyak ornamen unik yang kami dapati.
Ornamen yang menggantung, menghias dinding dan dasar goa tidak boleh dirusak. Bahkan disentuh pun jangan! Karena ornamen aktif yang terbentuk ribuan bahkan jutaan tahun dapat mati oleh sentuhan tangan hanya dalam hitungan detik karena mengandung zat yang dapat mengganggu proses kartisifikasinya. Sebenarnya, kita masuk saja ke dalam goa sudah mengganggu ekosistem goa karena panas yang dihasilkan oleh tubuh kita berbeda dengan di dalam goa. Tetapi untuk pembelajaran, dan tujuan baik lainnya kita dapat masuk ke dalam goa, jadi kita jangan menambahkan kerusakan lainnya di goa. Goa itu suci!
Refleksi di dalam goa. Anda harus mencobanya. Di tengah lorong yang datar dan luas, kami disuruh berhenti dan berkumpul oleh Kang Bach. Setelah mematikan headlamp, di tengah kegelapan beliau mengajak kami refleksi mengenai pengalaman kami di dalam goa. Di dalam goa, memang harus lebih banyak mendengarkan daripada melihat, karena kemampuan mata melihat tidak seperti bagaimana kita melihat di atas sana. Jadi intinya, kita harus dapat juga menerapkan metode tersebut di dalam kehidupan terutama dalam pembelajaran, agar kita lebih banyak mendengarkan.
Setelah kami melewati medan yang kering, berair juga sungai bawah tanah, kali ini kami dihadapkan pada zona berlumpur. Dikatakan oleh Kang Ogun, zona inilah yang mengantarkan kita ke extrance gua. Zona ini sepanjang 500 meter, dan merupakan zona yang paling berat. Betapa tidak, lumpur yang dalamnya mencapai 0,5 meter tersebut membuat kami terjebak di antaranya. Berat beban kami, membuat kami semakin terperosok ke dalamnya. Sehingga untuk kami harus rela melepas boot agar dapat melangkah karena lumpur yang kental dan lengket itu membuat boot dengan mulus menempel di dalamnya. Usaha untuk melepas boot dari dalam lumpur juga sangat sulit karena daya viskositasnya. Walaupun bootnya sudah dilepas, tetap saja kesusahan dalam melangkah. Sehingga, ketika mencoba menaiki suatu lorong Teh Yanti, istri Kang Ogun harus di dorong dari bawah agar dapat mencapai jangkauan tangan Kang Ogun yang menunggu dari atas.
Berbagai macam gaya dilakukan untuk memperpanjang langkah, mulai dari menempel pada dinding gua, memanjat mencari rekahan pada dinding, merangkak di lorong yang sempit, tengkurap di dasar yang terjal dan berlumpur, tidur dan hanya menggerakkan siku serta tumit kaki di celah diagonal yang sempit, terkadang juga melompat untuk menggapai pegangan.
Setelah hampir menghabiskan waktu 2,5 jam, akhirnya kami tiba di sebuah tangga kayu sekitar 2,5 meter yang menjadi pijakan menuju tangga-tangga semen selanjutnya di mulut gua. Setelah melewati tangga tersebut, akhirnya kita melihat seberkas cahaya di kejauhan yang mengingatkan pada salah satu kepuasan caver, yaitu pertama kali melihat sinar setelah menyusuri goa. Di bawah sinar matahari, terlihat jelas lusuh dan kotornya seragam caving yang kami kenakan. Lumpur dan bau guano masih menempel disitu.
Lelah langsung kami bayar dengan memanjakan diri di air terjun Bibijilan. Ternyata selagi kami masih asyik membersihkan diri disitu, hujan langsung saja turun. Tidak butuh waktu lama dari gerimis menjadi deras, tidak terbayang apabila kami saat ini masih di dalam goa. Apakah kami dapat keluar hidup-hidup seperti Pak Iwan dan pengunjung tersebut?
Sesampainya di tempat kami menginap, kami telah disambut oleh hidangan makanan. Kami memang sangat lapar saat itu, mungkin karena berkegiatan yang sangat menguras tenaga. Jadi, kami menyantap makan siang dengan lahap dan cepat kemudian ditutup dengan irisan buah mangga. Tak banyak buang waktu, selesai makan siang kami langsung mengepak kembali barang dan bersiap-siap pulang. Pada pukul 21.30 WIB akhirnya kami sampai di Sekretariat Jantera. Terimakasih Jantera, untuk kegiatan hari ini. Terimakasih Kang Bach, Kang Ogun, Teh Nenden dan Teh Yanti atas ajakannya bermain bersama kami.
Kang Bach dalam sebuah status di Jejaring Sosial:
“Perjalanan yang sangat menyenangkan (5/11/2013), menyusuri Goa Buniayu di Sukabumi bersama Jantera. Sembilan anggota tim dan satu pemandu, Pa Iwan. Bajunya masih bersih, masih bisa tersenyum. Perjalanan dalam goa sepanjang 2.200m dengan berbagai tingkat kesulitan. Pertama turun ke dalam sumuran sedalam 18m, diteruskan berjalan di sungai bawah tanah. Ada medan yang memaksa kita untuk berjalan dengna gaya tukang sumur, ada juga gaya ngesot, gaya nyebur, dan yang paling berat di zona lumpur sepanjang 500m. Kaki dapat melangkah, sepatu boot tertinggal di kedalaman lumpur. Hahaha… Interior goanya keren banget. Terimakasih sudah berkenan menyertai perjalanan ini.” Tambahan, “Tentang goa karst di Sukabumi Selatan luar biasa kaya. Sayangnya, lingkungan di atas goa itu yang mulai rusak, sehingga terlalu banyak tanah yang masuk mengotori goanya.
“Setelah berjalan dalam kegelapan di Guha Buniayu sejauh 2.200 meter dengan interior goa yang menakjubkan, kami sampai di satu titik setelah melewati rintangan yang cukup membuat degdegan. Saya meminta kepada seluruh penelusur agar bersama-sama mematikan lampu. Gelap gulita, tak terlihat apa-apa. Hanya keheningan. Saya mulai mengatakan, “Ketika berada dalam kegelapan, semua yang visual tak nampak. Dalam kegelapan abadi, suara menjadi teramat penting. Olehkarena itu, pembelajaran apapun yang hanya mengandalkan visual, sesungguhnya ada yang kurang, karena suara juga teramat penting. Bila ingin menggabungkannya, maka visual dan suara itu harus sama-sama bagusnya.” Foto bersama setelah 2,5 jam keluar dari kegelapan yang penuh keajaiban)”.
Penulis: Nofi Kristanti Ndruru (Jantera 32)
0 Comments