Dari Mana Kita Lahir dan Kemana Kita Akan Pergi
Ditulis oleh Azis ‘Giting’ J.36 | Disunting oleh Indri ‘Bakti’ J.38
“Sebuah tempat dapat selalu membentuk ikatan emosional yang kuat.” ENTAH saya peroleh kalimat itu darimana dan berasal dari kajian apa. Ketika pertama kali saya dengar kalimat tersebut, saya langsung setuju tanpa ada pengecualian diri. Rasa sepakat itu terbentuk karena ada pengalaman yang nyata, bagaimana manusia dan ruang ketika berinteraksi dapat membentuk ikatan emosi dan memori yang begitu kuat.Contoh sederhananya, mungkin pembaca ingat tempat bermain bola ketika masa kecil pembaca. Lapang luas yang dilengkung awan sore yang bersinar kejinggaan, burung-burung pipit yang terbang pulang, dan padi-padi menguning. Rasanya ingatan kita dibawa langsung terbang ke masa-masa kecil dan lapangan bola itu. GUHA PAWON Salah satu tempat yang banyak memberi kesan bagi saya, mungkin juga bagi sebagian anggota Jantera adalah Guha Pawon, hal ini dikarenakan Guha Pawon merupakan titik start prosesi Diklatsar. Diklatsar adalah sebuah perpaduan antara kenangan manis pahit, suka duka, seru cemas selama lebih dari satu pekan dan semuanya bermula dari Guha Pawon yang berlokasi di Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Masih hangat di kepala ketika mengikuti rangkaian Diklatsar, turun dari bus kampus di bahu jalan Bandung-Cianjur kemudian instruktur meminta mengoles minyak komando ke kaki kami lalu meminta kami memanggul carrier untuk dibawa ke Guha Pawon. Dapat saya perkirakan beratnya mungkin sampai 25 kg, digendong menyusuri jalanan kampung yang saat itu sudah dibeton tapi dengan medan yang cukup curam. Hari pertama di Guha Pawon adalah hari-hari adaptasi, “Kalo kalian mampu beradaptasi di hari pertama kalian akan sampai di hari penutupan,” ucap instruktur kala itu. Proses adaptasi ini sangat berat karena kita harus mengubah pola hidup 180 derajat, mengikuti berbagai latihan praktik yang penuh seharian dan ditutup dengan malam evaluasi. Namun sebetulnya bukan aktivitas Diklatsarnya yang memberatkan apalagi malam evaluasi, bukan! Justru bagi saya yang memberatkan adalah ketika mengingat semestinya kita sebagai mahasiswa sedang menikmati masa liburan semester ganjil. Bayangan langsung menuju kawan-kawan kami yang tidak mengikuti Diklatsar, begitu asyiknya mereka rebahan di kasur dan memainkan gadget kesayangannya. Itu yang bisa membuat motif akan patah dan menjadi sirna kemudian. Ketika semua akan patah begitu saja, Guha Pawon dan magisnya memberikan suntikan energi untuk dapat mengikuti rangkaian Diklatsar secara penuh. Malam pertama saat itu, instruktur mengajak para siswa untuk memasuki Guha Pawon menghadap jendela yang terbuka dengan diameter 5 meter dan tinggi 7 meter, menyajikan panorama perkampungan asri di tengah sawah yang terancam eksploitasi kars, tidak banyak yang bisa dipandang kecuali lampu-lampu teras dan bintang-bintang.

Jendela Guha Pawon (Dok: Indri ‘Bakti’ Megantara) 
Tambatan pada Tebing Pawon (Dok: Akbar’Rero’) 
Tambatan pada Tebing Pawon (Dok: Akbar’Rero’)
0 Comments