Semenjak Gedung Teropong di ratakan dengan tanah dan berganti menjadi taman, keberadaan Sekretariat Jantera di pindahkan ke ruangan yang berada di lantai 2 FPIPS UPI, tepat di samping Kantor Departemen Pendidikan Geografi. Kondisi ruangan yang tak bisa menampung banyaknya barang operasional dan arsip data Jantera yang sudah berumur puluhan tahun, memaksa nyekre di luar kampus sebagai opsinya. Beberapa anggota harus rela kos-kosan nya di jadikan sebagai sekretariat.
Seingatku, ketika pertama kali nyekre di kos-kosan adalah di daerah geger arum. Saya tak pernah di ijinkan untuk bersua dengan tempat ini, ketika itu saya masih anak SMA yang belum terpikirkan untuk masuk Geografi UPI, bahkan masuk jantera. Tak banyak yang aku tahu tentang tempat ini, hanya beberapa cerita dari seniorlah yang membuatku bisa mereka-reka keadaan disana. Konon, tempatnya sempit, di dindingnya terpampang foto-foto kadat terakhir, dan naasnya ketika pindah ke tempat ini banyak barang yang hilang, penyebabnya bukan tak lain karena belum terbiasanya kami untuk berpindah tempat sekedar untuk nyekre di luar kampus.
Beberapa tahun berselang, saya pun masuk geografi upi dan mengikuti rangkaian diklatsar XXXI Jantera. Perkenalanku dengan sekre Jantera di mulai disini. Sehabis kuliah, sering kusempatkan mengunjungi sekre yang terletak di geger arum, sebagai informasi tempat ini berbeda lokasi dengan sekre awal ketika terusir dari kampus di tahun 2009 akan tetapi masih didaerah geger arum.
Di tempat ini, hal yang sering aku lakukan adalah beristirahat dan merebahkan badan dikala suntuk datang. Tak disangka, kunjungan yang berkelanjutan telah menumbuhkan rasa penasaran untuk mengetahui arti sekre untuk anggota Jantera. Tak jarang menginap di sekre menjadi keinginan yang tak bisa ditolak olehku.
Dari sanalah aku mengenal beberapa orang penghuni sekre, Ferry Khairul, Ardi, dan Angga Resgiana. Jika rapat pengurus tiba, Kadat Firman dan beberapa pengurus yang lain menyesakki ruangan sempit di lantai 2 tersebut, bahkan tak jarang beberapa orang mengikuti rapat di luar ruangan, di teras tempat menyimpan sepatu-sepatu tepatnya. Asap mengepul membuat pengap seisi ruangan, rokok dan kopi menjadi konsumsi wajib para pengurus waktu itu. Jika tak salah kos-kosan yang di jadikan sekre ini adalah kos-kosan Ardi. Letakya di lantai 2 di daerah Geger Arum dekat kuburan.
Jika dari Daarut Tauhid, jalanlan terus ke arah barat hingga sampai di pertigaan smp 29, belok kananlah di pertigaan itu, dari sana teruslah berjalan ke utara hingga berada di depan smp 29, setelah itu belok kanan di pertigaan yang tak jauh dari smp 29, 150 meter dari sana kan kamu temui jalan gang di sebelah toko laundry, masuk lah ke gang tersebut sampai menemui beberapa kuburan, dari kuburan tersebut belok kiri, disanalah sekre jantera waktu itu berada, lantai 2 tepatnya.
Ruangannya ada 4, ruangan yang paling luas adalah ruang tengah dengan luas tak lebih dari 10 meter persegi dengan tv milik Prawida Niko di salah satu sudut ruangannya bersanding dengan lemari besi tempat menyimpan data dan arsip jantera. Selain ruang tengah, di sisi timurnya terdapat ruang untuk tidur, di ruangan ini tersimpan komputer Ardi dan beberapa kasur di sudut lainnya, Ruangannya pengap karena tak ada jendela untuk menyambut sinar matahari. Ruangan selanjutnya yaitu kamar mandi, di ruangan ini pun sangat gelap, lampu yang menggantung dibiarkan mati oleh penghuninya, seingatku hingga waktu kontrakan habis tak ada yang berinisiatif untuk mengganti bola lampu di ruangan ini. Jika air mati, maka harus ada orang yang rela turun menemui ibu kos di lantai 1, emak summit namanya. Biasanya orang yang bertugas akan hal-hal seperti ini adalah Ferry Khairul.
Ferry selain bertugas menemui sang empu kos-kosan ini juga bertugas mengurusi logistik Jantera waktu itu sehingga ruangan terakhir akrab dengan dirinya, Ruangan terakhir adalah ruangan logistik. Disini pun pengap dan gelap. Pintunya selalu terkunci dari luar. Ruangan ini adalah ruangan paling luar dari sekre waktu itu, berada di depan tangga disamping ruangan tengah. Sekilas tentang emak summit, nama aslinya entah siapa, akan tetapi anak-anak selalu memanggil beliau dengan nama itu, karena jika ada keperluan apapun, entah menagih uang listrik atau mengambil sampah, si emak selalu naik ke lantai 2 dengan langkah yang gontai seperti seseorang jika berada pada kondisi summit attack, pemuncakan sebuah gunung. Maka anak-anak memanggil beliau emak summit. Panggilan tersebut, di kemudian hari berimbas pada nama kos-kosan ini menjadi sekre emak summit.
Sederhana dan bebas adalah gambaran singkat tentang tampat ini. Tak nyaman untuk didiami akan tetapi indah dan menimbulkan banyak kenangan bagi para penghuninya, Ahmad Wiliana yang tergeletak tak sadarkan diri di depan WC setelah semalaman rela begadang hanya untuk menemani anak-anak indramayu hingga tidur pindang tersaji di tempat ini. Hingga kebutuhan akan ruangan yang lebih luas untuk menampung anggota yang semakin banyak memaksa mereka meninggalkan tempat itu, tempat dimana aku menjadi sangat penasaran terhadap jantera waktu itu. Mereka berpindah ke tempat yang lebih luas dan pilihannya yaitu, kos-kosan 5C!
Penulis: Rizqi Fadlillah (Jantera 31)
0 Comments