Oleh Soultan Dzaki “Toleh” Romadhon
Hari Minggu, 19 Januari 2025 merupakan hari yang dinantikan bagi kami, 22 orang siswa Jantera Angkatan 43 yang telah melewati beberapa rangkaian kegiatan DIKLATSAR sehingga akhirnya dinyatakan lulus dan dapat melaksanakan operasi lapangan. Hari ini merupakan awal dari terjalinnya persaudaraan, kebersamaan, serta awal dari sejarah panjang yang akan kami ukir di kemudian hari. Operasi lapangan dibuka dengan apel pelepasan yang dihadiri oleh para anggota Jantera dari berbagai angkatan, kehadiran mereka memberikan semangat lebih bagi kami sebelum memulai perjalanan menuju operasi lapangan.
Operasi lapangan dimulai dengan perjalanan menggunakan angkot menuju daerah sekitar Gua Pawon, Padalarang. Terlihat di sekitar bentang alam karst yang megah dan indah seolah menyambut kami. Setelah melakukan perjalanan, kami melakukan pemanasan dan longmarch menuju lokasi camp pertama. Jalur longmarch menuju camp pertama, kami melewati pemukiman-pemukiman warga, seperti Panca Dharma Jantera ke-2 yang berbunyi “Jantera itu menjelajah, bersikap sopan, serta menghormati adat istiadat di daerah penjelajahan”, kami senantiasa selalu menyapa dan tersenyum ketika melewati warga di jalur longmarch.
Tiba kami di Camp pertama, kami diarahkan membuat bivak kelompok serta membuat makan siang dan malam. Namun, ketika makanan sudah jadi kami diarahkan untuk menginformasikannya kepada instruktur sebelum dimakan. Pembagian tugas dilakukan, beberapa orang diarahkan membuat bivak dan beberapa orang lainnya diarahkan untuk memasak. Belum sempat kami menginformasikan kepada instruktur, kami sudah dipanggil untuk mengambil makanan ke hadapan instruktur. Dengan hitungan yang terus diteriakkan, kami tergesa-gesa mengambil makanan dan berkumpul. Sebelum makan, kami diberi meja makan berupa plastik ikan yang harus kami gunakan setiap hari selama operasi lapangan. Lalu, kami dikenalkan dengan lagu
yang harus kami nyanyikan setiap makan, sangat lucu ketika pertama kali mendengarnya namun, menjadi kenangan yang melekat bagi kami saat ini.
Malam hari tiba, kami diarahkan untuk membawa satu set ATK, headlamp, jas hujan, dan sebuah lilin. Malam itu kami berjalan menuju gua pawon. Di pintu masuk Gua Pawon, kami diarahkan menggunakan jas hujan dikarenakan terdapat banyak sekali kelelawar di dalamnya yang bahaya jika terkena kotorannya. Di dalam kami melakukan “Renungan Malam” itu yang kami sebut.
Hari ke-2, kami akan melakukan praktek Rock Climbing dan Single Rope Technique (SRT). Terlihat raut wajah senang diantara kami semua. Cukup lancar bagi sebagian kami melaksanakan praktek ini, namun terdapat beberapa sebagian dari kami yang cukup kesulitan dan tidak dapat menyelesaikan praktek ini. Meskipun tidak dapat menyelesaikan praktek ini, kami semua tetap berusaha dan mencoba melakukan semuanya dengan maksimal. Seperti yang sering disampaikan instruktur bahwa sistem Pendidikan Jantera “Reward & Punishment”, malamnya kami melakukan evaluasi kegiatan.
Keesokan harinya, kami packing dan melakukan perjalanan menuju Bukittunggul. Longmarch dari pintu masuk bukittunggul menuju tempat camp kami lalui, langkah demi langkah dilewati dengan diiringi mars Jantera. Tiba kami di camp, sangat beda sekali rasanya dari camp sebelumnya yang masih berdekatan dengan pemukiman. Suhu yang lebih rendah serta dikelilingi pohon-pohon rindang menandakan bahwa kami saat ini sudah berada di hutan. Kesalahan-kesalahan yang kami lakukan sebelumnya, sudah tidak boleh terulang kembali. Rasa empati dan kerjasama pun perlu ditingkatkan. Setelah itu, kami diarahkan untuk membuat bivak kelompok dan memasak.
Hari ke-4, di hari ini kami berjalan menuju suatu tempat dengan vegetasi yang lebih terbuka, disini terlihat beberapa gunung serta ladang milik warga. Di tempat ini kami melakukan praktek IMPK atau Ilmu Medan, Peta, dan Kompas. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota 2 orang per kelompok nya. Disini
kami ditugaskan untuk melakukan reseksi dan menentukan koordinat dari 6 titik yang telah diketahui pada peta. Cukup lancar dan percaya diri yang dilakukan oleh kelompok saya pada mengerjakannya. Namun, apa daya kelompok saya melakukan banyak kesalahan hingga diberikan sanksi sebanyak 245 seri oleh instruktur.
Praktek IMPK selesai, kami bergegas kembali ke camp. Di perjalanan terdengar di HT instruktur bahwa terdapat seorang perempuan yang hilang di jalur dekat kami berada. Dengan penuh pertimbangan, instruktur mengubah rencana menjadi berusaha mencari seorang perempuan tersebut. Kami menerapkan materi SAR atau Search & Rescue yang telah diberikan pada saat pematerian ruangan. Kami segera mencari seorang perempuan tersebut dengan bantuan dan arahan dari instruktur. Setelah beberapa saat pencarian, ditemukanlah seorang perempuan tersebut. Kami segera membagi tugas, yakni sebagian menolong korban dan sebagian lainnya membuat tandu.
Disini kami menerapakan pematerian PPGD atau Pertolongan Pertama Gawat Darurat yang telah dilakukan sebelumnya.
Pada malam harinya, kami diarahkan oleh instruktur untuk packing semua barang, dan beberapa saat kemudian Kadat Ilfa datang dan mengarahkan kami menuju puncak bukittunggul, nyatanya kami berjalan menuju daerah camp panitia. Disini kami, diperintahkan mengecek kembali peralatan dan perbekalan yang kami miliki. Terdapat beberapa saudara-saudara saya yang kehilangan barangnya ketika diperiksa. Kemudian,
disini perbekalan makanan yang dimiliki kami diambil oleh para instruktur dan hanya diberikan korek api, golok, kompor parafin, parafin, dan garam. Secara tidak langsung, para instruktur menginstruksikan kami untuk melakukan praktek survival.
Hari ke-5, kami diarahkan oleh instruktur melakukan pencarian makanan yang berada di sekitar camp serta membuat jerat untuk binatang. Pada saat itu, beberapa orang dari kami mempunyai ide untuk turun ke daerah ladang pertanian untuk meminta makanan kepada petani disana, benar saja kami diberikan banyak makanan oleh petani disana sehingga jika diperhitungkan kami tidak perlu mencari kembali makanan di hari berikutnya. Keesokan harinya kami melakukan hal yang sama, namun pada paginya kami diarahakan untuk mandi bersama dialiran sungai. Cukup senggang waktu yang
kami miliki ketika praktek survival, hanya saja rasa lapar yang terus menghantui menjadi tantangan terbesar bagi kami. Semua saudara saya sudah banyak memikirkan tentang makanan enak ketika sampai di rumah, hari hari dipenuhi oleh obrolan tentang makanan.
Hari ke-7, hari yang kami nantikan, kami akan segara pulang! Dengan badan yang lemas karena perut kosong dan masih dalam praktek survival, kami berjalan menuju basecamp dari bukittunggul. Disini kami, diberitahu oleh instruktur bahwa kita pulang dengan angkot. Benar saja, beberapa menit setelah kami tiba di basecamp
angkot datang, kami semua senang. Kami akhirnya dapat pulang dengan angkot. Tidak lebih dari seperempat perjalanan angkot berhenti, kita sudah sampai kata supir angkot. Sial, kami harus berjalan menuju kampus. Dengan kondisi tubuh yang kian menurun kami berjalan sedikit demi sedikit, dengan saling mendukung dan menyemangati kami, akhirnya berhasil tiba di kampus dengan selamat.
Upacara pentupan dilakukan, anggota jantera dari berbagai angkatan, tamu undangan, serta para orang tua hadir untuk menyaksikan kami resmi dilantik menjadi anggota muda jantera. Semua senang, hari-hari yang sangat berat dan panjang akhirnya dapat kami lalui. Tidak dapat rasanya kami lalui semua ini tanpa adanya rasa persaudaraan yang kuat diantara kami, seperti pada lirik mars Jantera yang terus kami gaungkan “Bersatu Berpegangan Tangan”, kami bisa karena kami bersama.
0 Comments