Oleh Adelia Marsya “Sigap” Setiawan
Perjalanan kami diawali dengan semangat dan tekad yang kuat untuk mengikuti pelatihan dasar—sebuah tahap awal yang membuka jalan bagi kami untuk menjadi bagian dari keluarga besar Jantera. DIKLATSAR JANTERA KE-43, yang berlangsung selama tujuh hari, dimulai pada 19 hingga 25 Januari 2025. Kegiatan ini menghadirkan medan yang penuh tantangan, namun tetap menawarkan pesona alam yang luar biasa, dengan Gua Pawon dan Bukit Tunggul sebagai lokasi utama. Melalui pengalaman ini, kami tidak hanya menghadapi berbagai rintangan fisik dan mental, tetapi juga belajar memperkuat solidaritas, menumbuhkan kebersamaan, serta mendalami keterkaitan antara manusia dan alam.
Minggu, 19 Januari 2025 – “Siapkan Barisan Melangkah Kedepan”
Perjalanan dimulai dengan apel pelepasan yang berlangsung di lapangan parkir Gedung Garnadi UPI. Setelah arahan singkat dari instruktur, kami berangkat menuju Gua Pawon menggunakan angkot. Kami dibagi menjadi dua kloter, dengan kloter pertama terdiri dari siswa bernomor 1-11 dan kloter kedua terdiri dari siswa bernomor 12-22. Sepanjang perjalanan, suasana penuh semangat dan keceriaan. Kami bernyanyi bersama, bercanda, dan menikmati perjalanan dengan penuh antusiasme.
Setibanya di titik drop-off, kami memulai tracking menuju area camp Gua Pawon. Jalur yang kami lalui melewati pemukiman warga setempat, memberikan pengalaman yang unik dalam melihat kehidupan masyarakat sekitar. Sesampainya di area camp, kami segera membangun bivak untuk bermalam. Terdapat empat bivak yang didirikan, yaitu dua bivak untuk laki-laki, satu bivak untuk perempuan, dan satu bivak dapur. Sementara beberapa dari kami memasang bivak, yang lainnya mulai menyiapkan makan siang.
Di tengah kesibukan, hujan deras tiba-tiba turun. Meskipun demikian, kami tetap melanjutkan aktivitas dengan menggunakan raincoat. Setelah semua bivak terpasang, kami menikmati makan siang pertama bersama instruktur. Sebelum makan, kami dikenalkan dengan sebuah lagu baru yang harus dinyanyikan setiap kali sebelum makan bersama. Lagu tersebut menggunakan Bahasa Sunda, yang bagi sebagian dari kami cukup sulit untuk dihafal karena kurang familiar dengan bahasanya.
Pada sore harinya, kami mendapatkan review materi dari instruktur sebagai persiapan untuk kegiatan rock climbing dan caving yang akan dilakukan esok hari. Setelah itu, kami makan malam bersama, lalu melanjutkan perjalanan malam menuju Guha Pawon. Tracking malam ini membawa kami melewati pemukiman dan sawah yang menyuguhkan pemandangan indah di bawah cahaya malam.
Saat memasuki Gua Pawon, kami diarahkan untuk mengenakan raincoat karena gua ini dihuni oleh banyak kelelawar. Begitu memasuki gua, kami langsung disambut dengan bau menyengat dari kotoran kelelawar yang memenuhi area dalam. Di dalam gua, kami melakukan sesi renungan malam di area jendela gua. Semua alat penerangan dimatikan untuk merasakan kesunyian dan kegelapan gua secara total. Suasana menjadi sangat hening, memungkinkan kami untuk menikmati momen refleksi diri. Setelah itu, kami menulis catatan perjalanan dengan hanya diterangi cahaya lilin, menciptakan suasana yang sangat mendalam.
Kami kembali ke basecamp tanpa mengetahui waktu pasti saat itu. Setibanya di basecamp, kami membersihkan diri dan bersiap untuk tidur dalam bivak untuk pertama kalinya. Namun, ketenangan malam itu tidak bertahan lama. Saat subuh, hujan deras mengguyur area camp dan bivak kami mengalami kebocoran. Sayangnya, posisi tidur saya tepat di area yang terkena rembesan air hujan. Akibatnya, saya terpaksa tidur dalam posisi duduk karena bagian alas tidur telah basah. Meskipun begitu, pengalaman ini menjadi bagian tak terlupakan dalam perjalanan kami di Gua Pawon.
Senin, 20 Januari 2025 – “Menaklukkan Pawon dan Mengalahkan Ketakutan”
Pagi yang cerah setelah semalaman diguyur hujan membawa semangat baru bagi kami. Hari ini adalah momen yang telah lama kami nantikan yaitu rock climbing dan Single Rope Technique (SRT) di Gua Pawon. Setibanya disana, kami disambut oleh kawanan monyet yang berkeliaran di sekitar area gua, menambah kesan seperti disambut hangat oleh kawanan kelompok monyet tersebut.
Kami dibagi menjadi dua kelompok untuk bergantian melakukan rock climbing dan SRT. Saya mendapat giliran pertama untuk rock climbing dan berpasangan dengan saudara saya, Vira. Awalnya, saya bertugas sebagai belayer sebelum akhirnya bergantian untuk memanjat. Tantangan ini menguji keberanian saya, terutama dalam menghadapi ketakutan terhadap ketinggian. Namun, dengan tekad kuat dan fokus, saya berhasil mencapai top dalam waktu tujuh menit. Momen ini menjadi kebanggaan tersendiri karena saya mampu mengaplikasikan materi yang telah dipelajari dengan baik di lapangan. Sebagai penghargaan atas pencapaian kami, instruktur memberikan reward, yang semakin membangkitkan rasa senang dan bangga dalam diri kami.
Usai menyelesaikan rock climbing, kelompok kami bersiap untuk melanjutkan kegiatan SRT. Namun, insiden tak terduga terjadi—tali webbing milik saudara saya tiba-tiba hilang, dicuri oleh monyet yang usil. Meski sempat terhenti sejenak, kami berhasil mengatasi kendala ini dan melanjutkan perjalanan. Saat waktu istirahat tiba, kami menikmati makan siang dengan menu andalan dan kecintaan kami semua, yaitu SARDEN!
Setelah istirahat dan sholat, kami melanjutkan kegiatan Single Rope Technique (SRT). Pada awalnya, saya mengalami kesulitan saat mulai naik. Rasa takut ketinggian sempat membuat saya ragu untuk melanjutkan. Namun, dengan dorongan dari saudara-saudara saya serta bimbingan instruktur, saya akhirnya berhasil mencapai top dan turun dengan selamat. Keberhasilan ini menjadi pencapaian luar biasa bagi saya karena berhasil mengalahkan ketakutan sendiri dan membuktikan bahwa saya mampu menghadapi tantangan.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan di Gua Pawon, kami kembali ke basecamp. Setibanya disana, kami diberi free time yang kami manfaatkan untuk membenahi bivak yang sebelumnya bocor akibat hujan deras. Sore itu, kami bekerja sama memperbaiki bivak agar dapat beristirahat dengan lebih nyaman di malam berikutnya.
Selasa, 21 Januari 2025 – “Siapkan Badan, Tabahkan Hati”
Hari ketiga perjalanan dimulai dengan instruksi untuk melakukan packing untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Tunggul. Setelah semua perlengkapan siap, kami kembali naik angkot untuk mobilisasi menuju lokasi berikutnya. Perjalanan kali ini cukup panjang, diperparah dengan kemacetan lalu lintas yang memperlambat laju kendaraan. Awalnya, suasana di dalam angkot masih penuh semangat, canda, dan tawa. Namun, seiring berjalannya waktu, kelelahan mulai menguasai kami, hingga akhirnya sebagian besar dari kami tertidur sepanjang perjalanan.
Saat memasuki wilayah Bukit Tunggul, perubahan suhu dan lanskap terasa begitu drastis. Dari sebelumnya berada di kawasan karst yang tidak terlalu dingin dan cenderung panas, kini kami disambut oleh udara dingin yang menusuk kulit, diperparah dengan rintik hujan yang mulai turun perlahan. Udara sejuk khas pegunungan serta kabut tipis yang menyelimuti area sekitar menciptakan suasana yang begitu kontras dibandingkan dengan lokasi sebelumnya.
Dengan diiringi rintik hujan, kami memulai perjalanan trekking dari titik drop-off menuju basecamp di Bukit Tunggul. Perjalanan ini terasa sangat jauh dan melelahkan, terutama karena kami harus membawa carrier yang cukup berat. Medan yang menanjak dan menantang semakin menguji fisik dan mental kami. Di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah sumber air alami, yang kami manfaatkan untuk mengisi kembali persediaan air minum. Di sekitar sumber air tersebut, kami juga menemukan buah beri liar yang memiliki rasa masam namun cukup unik bagi saya untuk dicoba.
Setibanya di basecamp, kami segera diarahkan untuk membangun bivak kelompok. Terdapat dua bivak utama, satu untuk kelompok perempuan dan satu untuk kelompok laki-laki. Selain itu, kami juga mendirikan bivak dapur yang akan menjadi pusat kegiatan memasak selama di Bukit Tunggul. Setelah bivak dapur berdiri, tim dapur segera bergegas menyiapkan makanan untuk santap malam, memastikan bahwa kami mendapatkan asupan energi yang cukup untuk menghadapi hari-hari berikutnya di tengah alam yang menantang ini.
Rabu, 22 Januari 2025 – “Menyerah, Mengeluh Bukanlah Kami!”
Pagi pertama kami di Bukit Tunggul terasa begitu bersemangat. Udara dingin yang menusuk kulit tidak mengurangi antusiasme kami untuk menjalani kegiatan hari ini. Kami mendapat instruksi untuk membawa alat tulis, kompas, dan busur penggaris karena akan melakukan praktik Ilmu Medan, Peta, dan Kompas (IMPK). Perjalanan menuju lokasi praktik diawali dengan sedikit berjalan melewati jalur yang indah, membuat pengalaman ini semakin menyenangkan.
Setibanya di lokasi, kami dibagi menjadi kelompok berdua, dan saya berpasangan dengan saudara saya, Morgan. Kami diberikan peta dan ditugaskan untuk menentukan reseksi serta mencari titik koordinat berdasarkan medan sekitar. Saya menyadari bahwa materi ini cukup menantang bagi saya, mengingat ketidakhadiran saya saat pematerian di kelas. Namun, saya tidak menyerah. Dengan berbekal pengetahuan serta bantuan dari saudara-saudara saya yang lain, akhirnya kami berhasil menyelesaikan tugas, meskipun hasilnya belum memuaskan. Dalam prosesnya, kami sempat mengalami kebingungan dalam menggunakan salah satu rumus, tetapi dengan membaca ulang materi dan mencoba memahami kembali, akhirnya kami mampu menyelesaikannya dengan hasil yang lebih baik dari perkiraan.
Saat perjalanan kembali menuju basecamp, tiba-tiba HT instruktur berbunyi, memberi kabar bahwa terdapat orang hilang di sekitar jalur kami. Setelah melalui berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk menghentikan perjalanan ke basecamp dan langsung bergabung dalam pencarian korban dengan menerapkan teknik SAR yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan arahan dari instruktur, kami menyisir area sambil meniup peluit SOS dan meneriakkan nama korban, berharap mendapatkan respon. Setelah beberapa waktu mencari, korban akhirnya ditemukan dalam keadaan sadar, namun kondisinya cukup lemah.
Kami segera membagi tim untuk menerapkan teknik Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD). Beberapa anggota tim ditugaskan untuk membuat tandu, sementara yang lain bertugas menolong korban dan membuat bidai. Saya bergabung dalam tim yang menangani korban langsung, memastikan kondisinya
tetap stabil hingga proses evakuasi selesai. Setelah tandu siap, kami melakukan evakuasi korban dan menyerahkannya kepada pihak yang lebih profesional untuk penanganan lebih lanjut. Setelah misi penyelamatan selesai, kami diberikan waktu untuk beristirahat sebelum kembali ke basecamp.
Menjelang petang, kami kembali mendapat instruksi untuk mengemas seluruh barang bawaan, karena perjalanan akan dilanjutkan menuju puncak Bukit Tunggul. Setelah semua barang ter-packing rapi, kami mulai berjalan menuju puncak, dipandu oleh Kadat Ilfa. Dipertengahan perjalanan kami berhenti di wilayah camp panitia untuk melakukan pemeriksaan barang bawaan, semua makanan kami habis tersita oleh panitia dan hanya dibekali beberapa bahan masakan. Kami menyadari bahwa setelahnya kami akan melakukan survival untuk bertahan hidup. Dikarenakan hari mulai gelap dan sudah memasuki waktu malam hari, kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Perjalanan terasa menantang karena kami harus berjalan dalam kondisi gelap dengan hanya berbekal cahaya dari headlamp. Hingga akhirnya kami mencapai tujuan kami.
Setibanya di basecamp, kami diberikan tantangan baru, yaitu membuat bivak solo. Ini menjadi pengalaman yang menarik sekaligus menantang bagi saya, karena untuk pertama kalinya saya harus mendirikan bivak seorang diri. Dalam kondisi gelap gulita dan lokasi bivak yang menyendiri, saya berusaha mengatasi ketakutan dengan bernyanyi sepanjang proses pembangunan bivak. Beruntung, berkat materi yang pernah diajarkan oleh instruktur, saya berhasil mendirikan bivak yang cukup nyaman untuk beristirahat malam itu.
Tak lama setelahnya, kami mendapat instruksi untuk berkumpul dan kembali menuju wilayah camp panitia. Di sana, kami menikmati santap malam bersama. Sebagai bagian dari tradisi kegiatan, kami diberikan nama rimba yang mencerminkan karakter atau pencapaian selama ekspedisi. Instruktur memberi saya nama rimba Adelia Marsya “Sigap” Setiawan, sebagai penghargaan atas kesiapan dan ketangkasan saya dalam praktik rock climbing dan Single Rope Technique (SRT). Nama ini menjadi kebanggaan tersendiri, sekaligus motivasi bagi saya untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan dengan sigap di masa mendatang.
Kamis, 23 Januari 2025 – “Pagi yang Cerah, Lapar yang Menghantui”
Pagi pertama di Bukit Tunggul dimulai dengan semangat yang tinggi. Setelah menikmati sinar matahari pagi yang cerah, kami melakukan peregangan tubuh dengan senam bersama untuk memulai petualangan hari ini. Tak lama setelahnya, instruktur memberikan instruksi untuk mencari bahan makanan, dan kami pun dibagi dalam beberapa kelompok. Sebagian dari kami bersama instruktur turun ke hutan untuk mencari sumber makanan, sementara yang lainnya bertugas menyiapkan dapur dan membuat perapian untuk memasak santapan kami.
Dalam pencarian bahan makanan, kami berhasil menemukan beberapa jenis tanaman dan serangga yang dapat dikonsumsi, seperti jantung pisang, pakis, belalang, beri, dan bonteng naga. Kami memasak bahan-bahan tersebut dengan cara merebus dan menumis. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama kali mencoba makan bahan-bahan alam yang cukup asing. Rasanya sangat aneh dan sulit untuk dinikmati, sehingga saya hanya bisa memakan sedikit saja. Kami masih merasa sangat kelaparan karena porsi yang terbatas.
Menyadari kekurangan pangan, beberapa anggota tim memutuskan untuk kembali turun mencari bahan makanan ke area perkebunan setempat. Sore harinya, kami mencoba membuat perapian, namun prosesnya jauh lebih sulit daripada yang kami bayangkan. Sebagian dari saudara saya mengikuti arahan instruktur untuk membuat jerat guna menangkap hewan. Sementara itu, tim pencari makanan kembali ke basecamp dengan hasil yang menggembirakan: mereka membawa waluh, kentang, kol ungu, dan pepino yang cukup banyak.
Dengan bahan makanan yang lebih melimpah, kami beristirahat sejenak dan kemudian memasak hidangan tersebut untuk makan malam. Kami juga menyisakan sebagian untuk bekal esok hari. Meskipun hari pertama penuh tantangan dan rasa lapar, kami merasa sedikit lebih tenang dengan adanya cadangan makanan yang lebih memadai.
Jum’at, 24 Januari 2025 – “Tawa dan Lapar yang Saling Mengisi”
Pagi ini langit tampak suram, seiring dengan hujan yang mengguyur malam sebelumnya. Meski cuaca tidak begitu cerah, kami masih bisa merasakan kehangatan matahari yang perlahan mengintip dari balik awan. Seperti biasa, kami memulai hari dengan senam pagi bersama untuk menguatkan tubuh dan semangat. Hari ini tidak berbeda jauh dari hari sebelumnya; kami tetap bertahan hidup dengan bahan makanan yang berhasil kami kumpulkan pada hari pertama.
Namun, ada sedikit kebahagiaan di tengah kesulitan kami: kami berhasil mendapatkan beberapa buah strawberry segar dari perkebunan warga sekitar. Rasanya benar-benar menyegarkan dan menjadi hadiah yang menyenangkan setelah berhari-hari mengonsumsi makanan yang terbatas.
Instruktur kemudian memberikan instruksi untuk mengenakan pakaian ganti yang kotor. Ternyata, kami diajak untuk mandi bersama di aliran air. Ini bukan hanya sekadar membersihkan diri, tetapi juga mengajarkan kami cara menjaga kebersihan tubuh di alam terbuka, sebuah keterampilan yang sangat berguna dalam bertahan hidup di situasi seperti ini.
Meskipun perut kami sudah keroncongan karena kelaparan, ada satu hal yang mulai terasa: kebersamaan yang semakin erat di antara kami. Tawa dan canda mulai mengisi hari kami, dan seiring waktu, rasa lapar kami pun tidak terlalu mengganggu. Kebersamaan ini, dalam segala kesederhanaannya, menjadi sumber kekuatan yang membuat kami bisa melupakan sejenak kesulitan yang kami hadapi.
Beberapa kali kami memeriksa jerat yang kami pasang, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada satupun hewan yang tertangkap. Meski begitu, kami tetap melanjutkan dengan apa yang ada, yaitu waluh dan kentang yang kami santap lagi untuk mengisi perut yang semakin kosong. Hari kedua ini, meskipun penuh tantangan, kami semakin belajar untuk menghargai kebersamaan dan sedikit kemajuan yang kami capai.
Sabtu, 25 Januari 2025 – “Perjalanan Menuju Puncak Kemenangan”
Hari ini menjadi salah satu hari terbahagia bagi kami. Setelah berbagai tantangan yang kami hadapi, akhirnya tiba saatnya untuk packing, yang sudah kami nanti nantikan. Dengan iming-iming tambahan hari dan perjalanan yang dilanjutkan menuju Tangkuban Parahu, semangat kami kembali menggebu. “Siap tidak siap, Jantera harus SIAP!” kata instruktur, yang menjadi pengingat bagi kami untuk selalu siap menghadapi segala kemungkinan.
Setelah packing, kami menuju arah camp panitia untuk memulai aktivitas pagi yang menjadi rutinitas wajib kami: peregangan dan senam pagi bersama. Karena kami tidak membuat sarapan, instruktur dengan baik hati memberikan kami cemilan rambut nenek. Meskipun tidak banyak, setidaknya itu memberi kami sedikit energi untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan pun dimulai, meninggalkan Bukit Tunggul dengan segala kenangannya yang takkan pernah kami lupakan. Dengan perasaan gembira dan penuh semangat, kami memulai longmarch ini, menjadikan berbagai spot perjalanan sebagai tempat peristirahatan kami. Setibanya di basecamp bawah Bukit Tunggul, kabar gembira datang sebagai reward dari instruktur: kami diberikan kendaraan (angkot) untuk melanjutkan perjalanan.
Namun, di tengah perjalanan, ketika hampir semua saudara saya tertidur pulas di angkot, tiba-tiba angkot berhenti. Kami diturunkan dari angkot di daerah Maribaya, tepat di depan pintu masuk Tahura Curug Omas. Kami tidak terlalu terkejut, karena sudah diinformasikan sebelumnya bahwa kami akan melanjutkan perjalanan dengan longmarch. Longmarch ini menempuh jarak sekitar 13 km dari Maribaya menuju puncak akhir, puncak kemenangan kami.
Medan yang kami lewati cukup sulit, dengan banyak tanjakan dan turunan yang curam. Banyak saudara kami yang kelelahan dan tidak mampu melanjutkan, namun kebersamaan menjadi kekuatan kami. Api semangat kembali menyala, didukung oleh instruktur yang selalu memberikan support tanpa henti. Hujan yang turun tidak mampu melunturkan semangat kami untuk terus maju. Meskipun basah kuyup, kami terus berjalan menuju tujuan.
Semakin sore, kami semakin dekat dengan puncak, dan bulan pun mulai tampak di langit. Akhirnya, kami tiba di puncak kemenangan kami. Gedung Isola Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tampak berdiri megah di depan kami, dan tanpa bisa menahan perasaan, sorak sorai kami pecah, menyertai air mata kebahagiaan yang tak terbendung. Kami saling membantu satu sama lain, berjalan bersama menuju puncak kebahagiaan ini.
Sesampainya di UPI, kami diberikan waktu untuk membersihkan diri sebelum apel penutupan. Kami serentak membersihkan badan dan mengenakan wewangian, seperti yang instruktur katakan, supaya tidak “bau bagong”. Kemudian, kami diarahkan menuju halaman Gedung Isola untuk mengikuti apel penutupan. Kehadiran para anggota keluarga yang menunggu di sana semakin menambah haru di hati kami.
Perjuangan yang telah kami lalui bersama kini berakhir, dan kami tidak bisa lagi menahan perasaan bangga atas apa yang telah dicapai. Tak terasa, perjalanan panjang ini telah berakhir. Bersemangat, kerja sama, tanggung jawab, dan berani. Kami JANTERA 43!
0 Comments