Oleh Chelomita “Gardu” Trivena
Hasil dari tekad-ku, berbaris sejajar dengan pundak saudara-saudariku yang ringkih akan bebannya. Entah seberat apa langkah, hati, dan ritme nafasku saat itu, yang kulihat hanya seberapa besar harapan yang tertanam pada diriku dan saudaraku. Perjalanan kami bahkan baru dimulai, entah seberapa yakin kami bisa bertahan. Rasanya melewati makan malam saja sudah syukur. Hari perdana ini diawali dengan membangun perkemahan semi alami dengan ilmu yang telah kami serap selama materi kelas.
Selanjutnya tentu hal yang ditunggu, santap makan bersama saudara-saudaraku. Ternyata betul, ada tradisi khusus yang harus kami lakukan sebelum menyantap. Namun apa boleh buat? Toh kami sedang di didik, maka tabah dan patuh adalah kuncinya.
Bulan pun menunjukkan dirinya, tanda kami harus bergegas mengikuti arahan selanjutnya. Kami menuju Guha Pawon, sampai disana kami diminta untuk membuat catatan perjalanan hari itu. Dengan kegelapan abadi Guha, dan udara yang menerisik kulitku, kata perkata ku susun sebagaimana hatiku berkata.
“Malam ini mungkin aku tak tahu apa yang akan ku pijak selanjutnya, dapat meraihnya pun aku tak tahu. Namun disini, di Guha Pawon ini aku berjanji selamanya kan ku bentangkan tangan kecilku tuk merangkul 21 saudaraku. Selamanya kan ku jelajahi alam atas nama Jantera. Biar lelah bahu-ku, biar terengah nafasku. Saat ini, semua yang telah ku janjikan demi keluargaku, Jantera.”
Begitulah tulisku, sepulang dari Guha tentu ada kesalahan yang perlu kami tebus. Bagaimapun caranya, hanya hati yang kuat yang dapat menerima.
Ah! Sudah hari ke-dua saja. Harapanku saat itu hanya semoga malam terasa cepat. Diawali dengan pembekalan Rock Climbing dan Single Rope Technique, kami kembali bergegas ke Guha Pawon. Mengaplikasikan seluruh pemahaman kami mengenai teknik tersebut. Hari terasa cepat, syukurlah! Senang rasanya bisa naik dan menaikkan saudaraku di atas tebing sana.
Hari ke-3.. rasanya aneh. Aku khawatir, mungkin tidak ya aku menyerah hari itu? Saat itu kami diminta untuk membenahi perkemahan kami dan segera bergegas mobilisasi ke lokasi selanjutnya, yaitu Bukit Tunggul. Cukup panjang perjalanan kami menuju basecamp. Sampai sana kami kembali membuat perkemahan semi alami dan menyiapkan santap malam bersama saudara-saudariku. Waktu yang dinanti kembali, santap malam. Sesudahnya kembali menebus kesalahan kami hari itu.
Hari ke-4, Woah.. siapa sangka kami bertahan sampai hari ini? Aku bahkan sudah meleewati satu malam di bukit ini. Siapa peduli dengan nyenyak tidurku, siapa juga peduli dengan suar perutku. Pada intinya, aku masih bertahan. Hari ini kami praktek Ilmu Medan Peta dan Kompas, aku dan saudariku Euis “Batam” Rosita menjadi 1 tim kecil untuk menyelesaikan misi kami. Awalnya kami mengerjakan dengan sependek ilmu yang kami tahu. Alhasil 20 menit mengerjakan 100 menit bercerita. Namun hebatnya, saat pengecekan hasil, hasil yang kami dapat tidak banyak distorsi dan mendapat cukup sanksi.
Setelah IMPK, kami melanjutkan misi kami untuk menyelamatkan “Luna” yang Dimana ternyata kami sedang diuji praktek E-SAR. Kami mengevakuasi korban sebagaimana pemahaman kami, walau banyak kurangnya.
Dan yap, hari selanjutnya yaitu Survival. Tersisa hari ke-5, 6, dan 7. 3 hari berat yang harus kami lalui dengan tabah. Rasa lapar, kantuk, bahkan sakit harus kami atasi sendiri. Namun serunya, karena sudah semakin eratnya ikatan persaudaraan kami, menjalani hari-hari bersama saudaraku terasa menyenangkan. Biarpun hati dan pikiran kami beradu, namun kehangatan memecah segalanya. Kami makan seadanya, kami istirahat secukupnya. Disana lah ke-tabahan mu diuji!
Hari terakhir, entah bagaimana aku menjabarkan rasa bahagia ku ketika gedung putih Isola mulai terlihat di dihadapanku. ku rangkul erat pundak saudaraku untuk segera berlari cepat menuju kemenangan kami saat itu. Pecah tangis bahagiaku, sungguh.
0 Comments