Oleh Irma “Serutan” Nirmala Sari
“Bertulanglah sejauh mata memandang, mengayuhlah sejauh lautan terbentang, Bergurulah sejauh alam terkembang.” – Ahmad Fuadi
Orang bilang, alam adalah guru terbaik. Begitu pula pandanganku—alam mampu mengajarkan segalanya, bahkan tanpa kata. Seperti halnya hutan hujan tropis. Hujan yang turun tanpa diduga mengajarkan kita cara bertahan dalam situasi yang tak terduga. Begitu juga dengan keunikan vegetasinya, yang lahir dari proses panjang. Akar-akar yang kuat mencengkeram tanah tanpa gentar, meski dihantam angin kencang dan hujan deras.
Siapa sangka pohon kecil itu bisa tumbuh menjulang menjadi raksasa, tanpa lagi gentar menghadapi angin kencang dan badai yang dulu ditakutinya? Siapa sangka pohon kecil itu kelak berkembang menjadi tempat berlindung bagi setiap insan yang gundah dilanda bencana?
Minggu, 19 Januari 2025, adalah waktu yang kutunggu. Hari ini merupakan hari pertamaku menjalani Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Jantera XLIII bersama 21 saudaraku. Meski harus melewatkan waktu berkumpul dengan keluarga di masa libur, aku tetap memilih untuk melangkah. Seperti dalam konsep peluang dalam ekonomi, ada dua pilihan yang sama-sama penting bagiku. Namun, keinginan yang kuat membuat tekadku semakin bulat untuk menyelesaikan rangkaian DIKLATSAR ini.
Memang, jika dipikirkan, satu minggu terasa sangat lama—terlebih lagi di hutan, jauh dari “peradaban.” Rasa ragu mulai menyeruak, mengiringi derap langkahku menuju Gedung Garnadi UPI sambil membawa carrier. Sesekali aku bertanya dalam hati, “Sebenarnya, apa maumu? Apa tujuanmu? Sudah tepatkah langkah ini?” Aku termenung sejenak, menatap baju perjuangan yang akan kupakai selama seminggu ke depan.
Awalnya, keinginanku mengikuti ini berakar pada satu tujuan utama: melakukan ekspedisi geologi ke Gunung Padang bersama para ahli. Gunung Padang adalah situs yang konon lebih tua dari Piramida Mesir. Siapa yang tidak tertarik untuk mendalaminya? Terlebih, pencopotan publikasi artikel ilmiah mengenai gunung ini justru membuatku semakin penasaran—sebenarnya, apa saja hal-hal yang tersembunyi di sana? Dengan keterbatasan pengetahuanku, aku tentu membutuhkan ahli yang benar-benar memahami, diluar sumber sekunder yang terbatas.
Saat memasuki lapangan, kami diarahkan untuk berbaris sesuai nomor di topi. Upacara pelepasan pun dilakukan dengan mengenakan baju lapangan yang dirangkap dengan kemeja flanel. Upacara pembukaan sekaligus pelepasan kegiatan operasi lapangan ini dihadiri oleh banyak senior. Semangatku semakin membuncah, merasakan eratnya rasa kekeluargaan yang hadir saat itu. Setelah upacara selesai, kami diarahkan menuju angkot untuk melakukan perjalanan sekitar satu jam ke daerah Padalarang, yang berjarak sekitar 30 km.
Sampai di daerah Gua Pawon, bentang lahan karst yang terjal tampak jelas, menjulang bak gunung dengan lereng-lereng tajam. Aku mengamati pemandangan ini sambil mengoleskan minyak komando di kaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju tempat peristirahatan.
“Di suatu tempat, sesuatu yang luar biasa sedang menunggu untuk diketahui.” — Carl Sagan.
Kata-kata ini terlintas di benakku saat itu. Jujur saja, ini adalah pengalaman pertamaku melihat bentang lahan karst secara langsung. Ternyata memang benar, udara di kawasan karst terasa lebih panas dibandingkan daerah lain.
Kami menyusuri jalan menuju tempat peristirahatan sambil sesekali menyapa warga sekitar yang tengah beraktivitas. Gonggongan anjing dan suara kambing kerap terdengar di sepanjang perjalanan. Selain itu, hamparan sawah di sekitar lahan karst membuatku berpikir—ternyata daerah ini masih bisa ditanami padi, meskipun kualitasnya mungkin berbeda dengan padi yang ditanam di sawah pada umumnya. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di tempat peristirahatan pertama. Wilayah ini masih termasuk dalam kawasan pemukiman, meskipun penduduknya tidak terlalu padat.
Sampai di daerah Gua Pawon, terlihat dengan jelas bentang lahan karst yang terjal dan terlihat bak gunung dengan lereng yang tajam-tajam. Ku amati pemandangan ini sambil mengoleskan minyak komando di kaki sebelum melakukan perjalanan ke tempat peristirahatan. “Di suatu tempat, sesuatu yang luar biasa sedang menunggu untuk diketahui.” – Carl Sagan. Kata-kata inilah yang ku ingat saat itu. Karena jujur saja, ini merupakan pengalaman pertamaku melihat bentang lahan karst secara langsung. Ternyata memang benar, ketika berada di lahan karst udara terasa lebih panas.
Kami susuri jalan yang mengarahkan kami ke tempat peristirahatan itu sambil sesekali menyapa warga sekitar yang sedang berkegiatan. Gonggongan anjing serta suara kambing kerap kali terdengar selama perjalanan. Selain itu, terhamparnya pesawahan membuatku berpikir ternyata daerah sekitar lahan karst masih bisa ditanami padi yaa meskipun pada kenyataannya mungkin kualitas yang dihasilkan berbeda dengan padi yang ditanam di sawah pada umumnya. Akhirnya, setelah melewati perjalanan yang melelahkan itu, kami sampai di tempat peristirahatan pertama kami. Daerah peristirahatan pertama ini masih termasuk ke dalam perumahan meskipun penduduknya tidak begitu rapat.
Terlihat gumpalan awan berwarna hitam di langit yang menandakan akan segera turun hujan. Melihat itu, kami langsung diinstruksikan untuk membuat bivak
dan memasak. Kami yang berjumlah 22 orang langsung membagi tugas. Hasil dari kesepakatan, laki-laki membuat bivak dan perempuan memasak. Dengan itu, saudara kami yang laki-laki mulai membuat bivak dengan berbahankan ponco TNI dengan tali prusik, peniti kasur serta patok sebagai pelengkap. Sedangkan aku sendiri bersama saudaraku yang perempuan mulai memasak bahan makanan yang kami bawa di carrier. Setelah bivak siap dan masakan siap, kami diinstruksikan berkumpul di satu tempat untuk melaksanakan makan bersama yang tentu saja diiringi dengan beberapa ketentuan yang diberikan. Selesai itu, kami beristirahat sejenak sembari memperdalam persaudaraan satu sama lain.
Sore menjelang malam, kami diinstruksikan untuk menyiapkan ATK serta matras untuk melakukan review materi seputar Single-rope technique (SRT) dan Rock Climbing (RC). Dalam review materi ini, kami langsung dihadapkan dengan berbagai jenis peralatan yang digunakan dalam SRT dan RC yang akan digunakan esok hari. Diantaranya ada seat harness, chest harness, hand ascender, foot loop, mailon rapid (MR) serta carabiner. Beberapa orang dari kami ada yang ditunjuk untuk menyebutkan dan menjelaskan seputar alat-alat tadi guna mengulik sampai mana pemahaman kami dari pematerian kelas yang sebelumnya telah diberikan. Kegiatan review materi ini terselesaikan tepat menjelang adzan maghrib.
Hari pun menginjak malam. Tiba-tiba kami diajak oleh instruktur untuk Caving ke Gua Pawon. Dengan berbekal ATK, lilin, korek api, headlamp serta jas hujan yang telah dipakai kami berjalan ke tempat yang kami tuju itu. Padahal saat itu tidak hujan, “mengapa diinstruksikan menggunakan jas hujan?” tanyaku di dalam hati. “Mungkin saja untuk antisipasi hujan?” jawaban dibenakku.
Di perjalanan, jalan yang diguyur hujan tadi siang cukup menjadi masalah saat itu. Guyuran hujan membentuk beberapa kubangan air di jalan utama. Selain itu, guyuran hujan juga membuat jalan terasa licin saat dilewati. Beberapa kali dari kami hampir tergelincir karena itu.
Gua Pawon merupakan gua yang terbentuk di kawasan karst. Gua berarti lubang yang terbentuk secara alamiah, sedangkan Pawon berartikan dapur yang didasarkan pada bentuk dari bagian atas atau atap gua yang mirip cerobong asap. Sifat batuan karst yang karbonat (CaCO3) membuatnya mudah larut apabila terjadi kontak dengan air (H2O) dan karbondioksida (CO2). Dalam proses pembentukannya secara umum, gua karst terbentuk dimulai dengan terkikisnya batuan oleh air dan karbondioksida yang membentuk cekungan kecil yang disebut Ponor. Ponor yang terus terkikis berubah menjadi Doline, yaitu cekungan yang lebih besar dari Ponor. Beberapa Dolin yang terkikis bergabung menjadi Uvala. Dan pada lanjutannya Uvala akan menjadi Polje, yaitu cekungan dewasa yang sudah terdapat aliran air permukaan. Gua Pawon sendiri sudah melewati fase itu semua.
Sesampainya di Gua Pawon. Bau yang katanya khas Gua Pawon mulai tercium. Gua yang didiami kelelawar sepanjang waktu membuat bagian dalam gua penuh dengan kotoran kelelawar dan itulah yang membuat gua bau. Ditambah lorong gua yang sempit dan tak memiliki celah atau ventilasi di bagian dindingnya membuat udara terasa lebih lembab dan pengap. Katanya, kotoran kelelawar itu sangat berbahaya. Kami diminta untuk hati-hati agar jangan sampai menyentuh permukaan goa yang mengandung kotoran kelelawar itu. Ini merupakan pengalaman pertamaku Caving dan disinilah akhirnya aku mengerti kenapa sebelumnya diinstruksikan untuk menggunakan jas hujan.
Kami susuri Gua Pawon itu sambil sesekali mengingatkan saudara-saudara kami bahwa jalan yang dilalui licin atau bahkan curam. Sepanjang jalan kami dapat menyaksikan ornamen-ornamen pelengkap gua seperti stalagmit, stalaktit serta pilar goa. Selain itu, kami juga menyaksikan replika dari kerangka manusia purba yang dulu ditemukan disana. Manusia purba ditemukan dalam posisi terlipat berumur 9.500-5.600 tahun yang lampau dan ber-ras Mongoloid.
Berhenti di suatu tempat, kemudian diinstruksikan untuk duduk dan mematikan headlamp. Saat itu, kami senyap beberapa menit untuk menikmati “kegelapan abadi” sembari menikmati kelap-kelip lampu kendaraan, dan bangunan di perkotaan yang jauh disana melalui sebuah jendela gua. Kalian tahu bagaimana rasanya?. Meskipun aku dan 21 saudaraku yang lain disana duduk berdekatan, dan juga beberapa orang instruktur tentunya, akan tetapi rasa yang dihasilkan dari keheningan dan kegelapan saat itu membuatku terbayang kesendirian. Bahkan mulai menerka-nerka kiranya bagaimana cara manusia purba tadi dapat bertahan didalam “kegelapan abadi” ini. Beberapa saat berlalu, hening pun berhenti saat baris
per baris puisi mulai dilantunkan oleh instruktur. Saat itu, sambil berpegangan tangan, pikiran kami flashback ke masa-masa awal terbentuknya semangat dan komitmen kami untuk menyelesaikan seluruh rangkaian ini, jauh sebelum agenda pematerian lapangan. Untaian puisi yang dituturkan semakin membuat jiwa semangat kami menggelora dan tak sabar menuntaskan kegiatan hari per harinya dengan semangat kebersamaan-persaudaraan.
Setelah itu, kami diinstruksikan untuk menyiapkan alat tulis, menghidupkan lilin dan membuat catatan perjalanan. Saat itu, kalimat demi kalimat tak sadar menjadi paragraf panjang yang siap disempurnakan ketika kegiatan lapangan berakhir kelak. Kegiatan hari pertama pun berakhir, kami pun kembali ke tempat peristirahatan, berganti baju kemudian beristirahat di dalam bivak.
Hari pun berganti. Hari kedua merupakan hari dimana kami akan melakukan Single rope technique (SRT) dan Rock Climbing (RC). Dijelaskan oleh instruktur bahwa diberlakukannya sistem Reward and Punishment atas beberapa hal di lapangan nanti. Menanggapi hal ini, kami menjadi lebih berhati-hati supaya tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat merugikan kami nantinya.
Bertempat di Gua Pawon, seperti kemarin kami melakukan mobilisasi terlebih dahulu dari tempat peristirahatan ke Gua Pawon. Kini, pemandangan yang semalam tertutupi gelapnya malam tertampak dengan begitu jelas. Hijaunya persawahan serta barisan gunung yang berkabut membuat mata sedikit terlena dan membuat kaki ingin berhenti beranjak. Memasuki kawasan gua, bau khas itu mulai tercium lagi. Setelah itu, kami dipecah menjadi 2 kelompok besar yaitu untuk SRT terlebih dahulu atau RC terlebih dahulu. Masing masing yang SRT lebih dulu ataupun RC lebih dulu, dibagi lagi menjadi beberapa tim yang terdiri dari dua orang. Saat itu, aku kebagian tim SRT terlebih dahulu dan satu tim dengan saudaraku Shafira.
Sebelumnya kami sudah mendapatkan pematerian mengenai SRT dan sudah pernah mencoba menyusun dan mengurutkan alat apa saja yang digunakan dan bagaimana cara penggunaannya. Dimulai dari memasang seat harness dari webbing kemudian menyusun alat-alat untuk ascending dan descending di mailon rapid, kemudian mencoba naik dengan menggeserkan hand ascender di tangan kanan ke atas kemudian menginjakkan kaki ke foot loop guna menaikkan chest ascender, dan begitu sampai berhasil memasukan carabiner ke loop yang menjadi tolok ukur keberhasilan. Dalam praktik SRT ini aku berhasil naik ke atas dan turun lagi tanpa di rescue ataupun tambahan waktu.
Setelah semua tim kami menyelesaikan praktik SRT, kemudian kami melakukan rolling dengan tim yang tadi telah melaksanakan RC lebih dulu. Saat itu, aku menjadi yang pertama melakukan RC didampingi saudaraku Shafira yang menjadi belayer-nya. Untuk RC ini sebetulnya aku masih kurang paham, karena memang sebelumnya tidak mengikuti materi dan hanya review materi di hari kemarin saja itupun mungkin hanya 30% saja yang masuk ke otakku. Tapi untungnya dengan bantuan saudaraku Shafira aku berhasil memasang alat, laporan dan memulai pemanjatan. Pada awalnya aku optimis dapat menyelesaikannya dengan cepat dikarenakan lubang-lubang tempat menumpu tangan dan kaki lumayan berukuran besar dan dapat dipegang serta dipijak dengan baik. Akan tetapi, semakin tinggi ternyata lubang yang dapat dijadikan tumpuan hanya terdapat beberapa saja dengan kondisi yang sulit untuk dipegang erat. Ditambah permukaan dinding karst yang lebih cembung dibanding bagian bawahnya membuat kaki kesusahan naik. Saat itu, aku sempat stuck sambil mencari lubang yang sekiranya cocok untuk menjadi pijakan. Saat beberapa kali mencoba berganti posisi untuk menentukan arah pijakan, aku tak sengaja menginjak runner yang menyebabkan terkena punishment. Untungnya setelah itu aku mampu mencapai top dengan tepat waktu.
Di hari selanjutnya, kami bersiap-siap untuk berpindah ke Bukittunggul dengan melakukan packing. Setelah itu kami diinstruksikan untuk melakukan longmarch dari basecamp atau pintu masuk Bukittunggul sampai ke tempat yang akan menjadi tempat peristirahatan kami untuk beberapa hari kedepan.
Ketika memasuki kawasan Bukittunggul udara terasa berbeda. Hamparan ladang petani menyadarkanku betapa suburnya tanah disana. Labu siam, kol ungu, sawi, daun bawang, selada, kopi dan strawberry merupakan beberapa jenis tanaman yang dibudidayakan. Begitu pun dengan hamparan pegunungan sepanjang mata memandang menandakan bahwa kami tak lagi berada di dalam hiruk pikuk perkotaan. Medan jalan yang naik turun dan licin seringkali membuat kami kesulitan. Sepanjang perjalanan kami terus melantunkan mars sebagai penyemangat. Saat perjalanan kami sempat beberapa kali berhenti untuk beristirahat sejenak dan untuk mengisi tempat minum kami dengan air pegunungan.
Sesampainya kami di titik pemberhentian. Kami langsung diinstruksikan untuk memasak dan membuat bivak kelompok. Satu hal yang kami rasakan, yaitu dingin. Tanah yang sedikit basah menandakan bahwa beberapa saat sebelumnya tempat tersebut telah mengalami hujan. Ditambah vegetasi di hutan hujan yang rapat dan didominasi pepohonan yang besar memberikan rasa dingin sekaligus memberikan kesan keheningan dan kedamaian. Dan inilah Bukittunggul, tempat yang akan menjadi rumah kami untuk beberapa hari kedepan sekaligus saksi menguatnya rasa persaudaraan antara 22 orang pengembara.
Memasuki hari ke empat. Kami dituntun oleh instruktur menuju ke suatu tempat untuk melakukan IMPK atau Ilmu Medan, Peta dan Kompas. Dengan berbekalkan ATK dan jas hujan, kami langsung berbaris sesuai nomor dan melakukan perjalanan dengan dipandu instruktur. IMPK ini dilaksanakan di lahan yang terbuka yang dapat menjangkau objek-objek alam dengan menggunakan mata secara langsung. Disana, kami dipecah menjadi beberapa tim yang terdiri dari dua orang per-tim. Adapun penugasan IMPK meliputi reseksi dan menentukan 6 koordinat dari selembar peta yang diberikan. Dikarenakan aku belum terlalu paham akan materi karena memang saat pematerian tidak hadir membuatku sedikit bingung dengan pola pengerjaannya. Untungnya saudaraku mengerti dan langsung melakukan pembidikan untuk mengetahui nilai dari reseksi. Saat itu aku membantu dibagian rumus hitungan. Kurangnya pemahaman kami dalam membaca pola pengerjaan membuat koordinat yang kami hasilkan melenceng dari jawaban sehingga kami terkena 245 seri oleh instruktur.
Selesai melakukan praktek IMPK, kami berjalan untuk kembali ke tempat peristirahatan. Akan tetapi, dalam perjalanan HT instruktur kami terhubung dengan pihak lain yang mengatakan ada seorang perempuan hilang. Disebutkan bahwa namanya adalah Luna. Dengan ciri-ciri menggunakan sandal dan berkerudung coklat yang katanya hilang dari kemarin malam. Dengan itu, instruktur yang tadinya mengarahkan kami ke bivak jadi menginstruksikan kami untuk membantu melakukan E-SAR atau Exploration Search and Rescue saat itu juga. Kami semua langsung melakukan briefing dan mulai melakukan pencarian.
Pencarian dilakukan secara bersama-sama dengan menyusuri jalan yang menjadi kemungkinan dilewati oleh korban menurut penuturan dari HT. Kami menemukan beberapa sampah plastik kemasan makanan ringan saat melakukan pencarian. Kami kumpulkan sampah-sampah itu dan menjadikannya clue. Benar saja, tak jauh dari sana akhirnya kami berhasil menemukan korban. Saat ditemukan, korban dalam keadaan tergeletak di pinggir jalan. Saat dicek kesadarannya, ternyata korban dalam keadaan sadar akan tetapi kakinya terkilir sehingga membutuhkan pembidaian. Maka dengan itu, kami dipecah tugas. Ada yang melakukan Pertolongan Pertama Gawat Darurat atau PPGD, ada juga yang membuat tandu. Disini aku memilih untuk ikut membantu membuat tandu dikarenakan sudah terbiasa dan bisa dalam pembuatannya. Setelah selesai melakukan pertolongan pertama, korban ditandu untuk diberikan kepada timnya dan tim SAR.
Setelah selesai melakukan E-SAR kamipun kembali ke tempat peristirahatan kami. Kami diinstruksikan untuk packing semua barang untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Bukittunggul. Karena memang tempat yang menjadi peristirahatan kami bukan di bagian paling puncak dari Bukitunggul akan tetapi lebih ke tengah pedalaman hutan. Setelah selesai packing, kami mengikuti langkah instruktur menuju puncak itu. Akan tetapi, sesampainya disana yang katanya “puncak” Bukittunggul itu kami diminta untuk mengeluarkan semua isi tas carrier kami. Saat itu juga, kami menyadari bahwa akan dilakukannya pengecekan barang secara dadakan. Akan tetapi tak hanya itu saja ternyata, kami juga diminta untuk mengumpulkan semua bahan masakan dan alat masak yang kami bawa. Sebelum mengakhiri sesi pengecekan serta penyitaan bahan dan alat masak, kami diminta untuk memilih satu bahan masak yang diinginkan. Saat itu kami hanya menunjuk bahan masakannya saja, tapi tidak membawa langsung oleh kami. Setelah pengecekan, pengumpulan dan pemilihan logistik selesai, kami kembali melakukan packing dan melakukan mobilisasi. Setelah sampai, aku langsung menyadari bahwa tempat yang sekarang kami injak merupakan tempat peristirahatan yang sebelumnya. Jujur saja, disana saya merasa sangat kesal. Setelah
itu, kami diarahkan untuk membuat bivak solo. Setiap bivak diberikan jarak beberapa meter. Dan ini merupakan awal dari survival yang akan kami lakukan 2 hari ke depan.
Dalam membuat bivak solo, aku menggunakan ponco TNI, tali prusik, dan patok. Dalam pembuatannya, tanah yang tidak rata karena campuran daun daun yang sudah lapuk membuat patok susah di tancapkan ke tanah. Dengan itu, supaya tidak membuang banyak waktu aku memilih membuat bivak dekat dengan jalan dikarenakan tanahnya lebih padat dan memungkinkan meskipun sedikit landai. Ini merupakan pengalaman pertamaku, dan mungkin saudaraku yang lain yaitu tidur di dalam bivak, ditengah hutan, dan sendirian.
Menjelang malam, kami diajak untuk mengunjungi tenda instruktur. Ternyata bahan masakan yang tadi kami tunjuk telah terhidang. Disana, kami mendapatkan nama rimba kami sekaligus makan-makan sebelum menghadapi survival di esok hari. Setelah selesai, kami kembali ke bivak masing-masing dan tidur dengan rintikan hujan di hutan hujan tropis yang mengenai tenda sebagai iringan musik pengantar tidur.
Memasuki hari ke lima. Survival pun dimulai. Pagi hari setelah olahraga, instruktur meminta beberapa orang untuk ikut mencari makanan. Saat itu aku memilih untuk ikut mencari makanan bersama instruktur dan beberapa orang saudaraku yang lain. Dalam pencarian makanan di hutan, yang pertama kali kami dapatkan yaitu pakis. Bagian pakis yang kami ambil adalah bagian daun dan tunasnya. Untuk bagian daun kami hanya memotong sebagian dari daun yang masih tertutup atau muda saja. Kemudian lanjut ke bagian atas, kami mendapatkan bonteng naga di dekat tempat IMPK. Memang cukup banyak tanaman bonteng naga yang tumbuh merambat di pohon kopi, pohon jeruk dan pohon liar. Ukurannya kecil, berwarna hijau mirip mentimun akan tetapi berduri halus. Rasanya pun mirip rasa bonteng atau mentimun pada umumnya akan tetapi terasa lebih sepet.
Fun Fact-nya bonteng naga ini bisa meledak sewaktu-waktu apabila terkena tekanan. Masih di sekitar sana, kami menemukan tomat hutan. Warnanya oren, berbentuk bulat dengan isi menyerupai tomat biasa. Saat dicoba, rasanya manis akan tetapi sedikit pahit juga. Masih di tempat yang sama juga, karena tempat lumayan luas atau lapang dan banyak rerumputan juga maka banyak belalang yang berterbangan disana. Dengan itu, kami bersama-sama menangkap belalang disana. Belalang ternyata lebih gesit dari yang dibayangkan. Mungkin hanya 30 belalang saja yang dapat kami tangkap. Karena memang tak mudah untuk menangkapnya.
Berjalan kembali, untuk mencari makanan di hutan. Akhirnya kami menemukan sejenis buah beri-berian hutan yang berwarna merah dengan bentuk mirip strawberry. Kami menemukan banyak sekali beri di dekat lokasi E-SAR kemarin. Rasanya lumayan manis dengan sedikit rasa asam. Selain itu, disana kami juga menemukan banyak bontengnaga dan jantung pisang. Pencarian makanan hutan untuk survival terhenti sampai sana. Kami langsung kembali kemudian mengolah dan mempersiapkan untuk makan pagi dari makanan yang telah didapatkan tadi. Bagi kami, pakis hutan merupakan makanan yang paling aneh untuk dikonsumsi. Akan tetapi setelah menjadi pakis goreng, ternyata rasanya tak semenyedihkan itu. Selain itu, belalang juga termasuk ke dalam hidangan terlaris saat itu. Saat itu, aku lupa sudah lupa akan hari, tanggal bahkan lupa akan adanya tempat bernama Gerlong dengan berbagai kulinernya.
Di siang hari, instruktur datang dan mengajak beberapa dari kami membuat jerat guna menangkap hewan hutan untuk dimakan. Beberapa dari kami ikut membuat jerat dan yang lainnya berkumpul di sekitaran bivak sambil berbincang bincang. Menjelang sore hari, kami diinstruksikan untuk mencari makanan lagi. Beberapa orang saudaraku pergi untuk mencari makanan. Lumayan lama mereka pergi, sehingga kami membuat rencana untuk melakukan pencarian, takut mereka tersesat. Akan tetapi, tak lama dari itu mereka datang dengan membawa se-carrier labu siam, kentang, kol ungu dan terong yang rasanya manis seperti melon yang ternyata namanya adalah pepino. Mereka mendapatkan itu dari petani dibawah. Tak terbayang jauhnya mereka mencari makanan untuk kami semua. Dengan banyaknya persediaan makanan tadi, ketika survival ini kami tidak mengalami kendala kekurangan makanan.
Hari pun berlalu, ini merupakan hari terakhir kami melakukan survival, meskipun kami tak kekurangan bahan makanan akan tetapi tetap saja rasanya lemas
dan tidak bertenaga. Karena memang tidak ada karbohidrat dalam makanan kami. Di pagi hari keenam ini, kami diinstruksikan untuk menggunakan pakaian terkotor. Setelah berganti pakaian kami diajak instruktur menuju ke sebuah aliran air sungai yang lumayan kecil. Disana, kami “mandi” dengan menggosok-gosok bagian baju yang kotor. Setelah selesai, kami langsung melakukan senam pagi sekaligus berjemur untuk mengeringkan pakaian yang basah tadi. Setelahnya, sama seperti hari kemarin kami mencari makanan lagi meskipun makanan yang ada sudah lebih dari cukup. Kami yang tidak pergi mencari makanan berkumpul di sekitaran bivak dan melanjutkan catatan perjalanan kami.
Saat paragraf demi paragraf diuraikan, tiba-tiba ada dua orang instruktur yang datang. Ternyata mereka adalah instruktur Ifa dan instruktur Nusan. Saat itu, kami berbincang cukup lama. Hasil dari obrolan kami dapat disimpulkan bahwa banyak senior yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua senior saling mengenal dengan baik dan terjalin kekeluargaan yang sangat erat. Menarik sekali pikirku. Hujan mulai turun obrolan pun diakhiri, kami langsung kembali ke bivak masing-masing untuk berteduh dan beristirahat.
Malam menjelang, instruktur memberikan perintah untuk tidur. Beberapa dari kami ganti baju dan tidur, beberapa lagi memakai pakaian lengkap lapangan saat tidur. Malam itu, rasanya sangat ganjil sekali. Hingga beberapa saat kemudian instruktur datang dan memberitahu ku untuk mengikuti mereka sambil membawa matras dan sleeping bag. Dengan itu, aku bersiap-siap dan menggunakan semua atribut yang biasanya terpasang di pakaian lapangan. Malam berakhir dengan kami, 22 orang saudara tidur bersama di tenda instruktur.
Menginjak hari ke tujuh. Bahkan sebelum mentari menunjukkan eksistensinya kami dibangunkan dan diminta packing semua barang-barang kami karena akan melakukan mobilisasi ke Tangkuban Perahu untuk melanjutkan survival untuk seminggu kedepan, katanya. Padahal, saat itu kami juga sudah tahu bahwa kami akan pulang. Bersama-sama kami menuruni Bukittunggul dengan mars yang tak henti hentinya kami lantunkan. Selama menuruni Bukittunggul, ladang-ladang petani kembali terlihat menandakan tak lama lagi kami akan sampai di peradaban. Akhirnya kami pun sampai. Kami beristirahat sembari menunggu angkot datang. Setelah angkot datang, kami sangat bersemangat sekali untuk pulang ke UPI. Tapi ternyata kita diberhentikan di dekat Tahura dan harus jalan kaki ke UPI.
Longmarch seperti ini bukanlah hal pertama bagiku. Akan tetapi, perut yang lapar karena masih masa survival, kaki yang lecet, serta medan jalan yang menanjak membuat kami cepat kelelahan. Ditambah rasa haus yang sangat menyiksa. Meskipun begitu, kami tetap berusaha melangkahkan kaki sedikit-sedikit meskipun dengan langkah yang terseok-seok. Keringat membanjiri saat itu, padahal cuaca tidak begitu panas. Dengan tubuh yang ringkih kami saling menuntun dan saling memberikan semangat satu sama lain. Pikiran mulai kosong dan terasa melayang saat melewati tanjakkan ke sekian. Hanya bisa menarik nafas dan mengeluarkannya lewat mulut. Hingga berjalannya waktu, langkah yang terseok-seok itu pun membuahkan hasil. Kami sampai ke UPI dengan selamat. Sesampainya kami di UPI, kami langsung meleper ke masjid al-Furqon untuk membersihkan badan kami alias mandi dan menggunakan pakaian flanel untuk upacara penutupan.
Setelah semua siap, kami diinstruksikan untuk berlari ke tempat akan dilaksanakannya upacara penutupan yaitu di Isola. Sambutan meriah dari senior, keluarga, teman prodi, dan sahabat dari anggota pecinta alam lainnya membuatku takjub. Suara petasan dan kembang api yang begitu nyaring membuatku semakin tersadar bahwa kami sudah kembali ke peradaban. Upacara penutupan berlangsung dengan khidmat. Rasa lega dan bahagia bercampur dengan haru. Di titik inilah kami berhasil menuntaskan semuanya dengan bersama-sama, saling berpegangan tangan dan menguatkan sehingga tercipta rasa persaudaraan yang erat. Bukankah begitu saudaraku?.
Kami, 22 orang bersaudara dengan latar belakang berbeda mulai tumbuh bersama-sama semenjak mengajukan diri untuk didik disini. Kami, 22 orang bersaudara berhasil menjahit asa ditengah hutan belantara. Saling merangkul, berpegangan tangan dan terus menguatkan. Tubuh yang ringkih terbebani dari berbagai sisi. Hati mungkin tak tahan. Namun, tekad yang kuat tetap terpatri. Menggenggam semua asa. Bersama-sama menjadi anggota JANTERA.
Salam hangat dan maaf,
0 Comments