Oleh Faidra ‘Kutip’ Ghumsoni Syarif
Hari pertama diklatsar hari itu tanggal 18 dengan tanggal 17 aklimatisasi dimana kami packing dan mempersiapkan barang, lalu tanggal 18 pada hari minggu dilakukan apel diklatsar dan kami 13 orang dikirim ke alam.
Hari itu setelah upacara kami mobilisasi ke angkot untuk pergi ke Gua Pawon. Setelah sampai di Padalarang kami tidak langsung sampai di basecamp akan tetapi melakukan sedikit longmarch hingga ke basecamp, seturunnya dari angkot kami diinstruksikan untuk memakai jas hujan, minyak komando dan melakukan pemanasan untuk longmarch, setelah itu kami longmarch hingga basecamp, sesampainya di basecamp kami diperintahkan untuk memasak dan mendirikan bivak, basecampnya cukup luas untuk mendirikan bivak. Namun, banyak sekali sarang semut besar yang tersembunyi sehingga lahan yang luas tersebut terlihat sempit bagi kami karna harus berbagi ruang dengan mereka yang hidup di dalamnya, selain harus berbagi ruang kami juga memiliki beberapa kendala yaitu kurang paham mengenai bivak sehingga sering terkena revisi dan mendirikan ulang bivak, saya sendiri hanya tahu cara mendirikan bivak waktu bimjas, itu pun masih memiliki kekurangan, sehingga untuk bivak kali ini kami membangunnya sangat lama, beberapa saat ketika sedang mendirikan bivak instruktur pun datang memanggil kami untuk makan apa yang telah kami masak.
Waktu itu kami memasak ikan asin, nasi dan sayur. Kami pun diberi waktu untuk makan, oh celakanya! ikan asin yang kami beli ternyata bukan ikan asin kering sehingga memiliki tulang yang sangat merepotkan dan kami diharuskan makan cepat sambil menghindari duri – duri ikan dan benar saja, makanan yang kami makan memiliki banyak sekali sisa karena duri ikan itu hingga kami memutuskan untuk makan selanjutnya kami tidak pernah lagi memasak ikan asin.
Setelah makan beberapa orang membersihkan peralatan masak dan beberapa orang melanjutkan mendirikan bivak hingga sore hari. Kami di kumpulkan untuk review materi SRT (Single Rope Technique) dan RC (Rock Climbing) yang akan dilakukan pada esok hari. Setelah pematerian kami di instruksikan untuk sholat dan bersiap mobilisasi ke Gua Pawon pada malam harinya, kami disuruh membawa alat tulis, lilin, korek api, dan senter serta menggunakan jas hujan, sebelum memasuki Gua Pawon kami melakukan makan malam, yang kali ini untungnya tidak ada ikan asin. Lalu kami mobilisasi ke Gua Pawon dalam keadaan gelap, hanya berbekal senter sebagai penerangan ketika menyusuri gua.
Sampailah kami di situs ditemukannya fosil manusia dan peralatan masak yang menjadi asal – usul nama Gua Pawon itu sendiri, yaitu gua dapur dan hal paling mengejutkannya di sana ada sarang lebah, ketika kami datang ribuan lebah menyerang ada beberapa saudaraku terkena sengatannya, karena momen tersebut saudaraku dinamai dengan nama rimba “tapir” sungguh malam yang berat, bertarung dengan lebah.
Setelah itu, kami mendapat arahan untuk duduk dekat jendela gua dan menyalakan lilin, dilanjutkan menulis refleksi perjalanan hari tersebut. Kami pun mendengar renungan hati sembari melamun sambil memikirkan kembali tujuan kami. Malam itu seperti aku, saudaraku dan kegelapan gua. Itulah kegiatan terakhir di hari pertama, setelah itu kami melanjutkan bivak dan beristirahat.
Hari berganti, hari ini kami melaksanakan materi lapangan SRT dan RC di daerah gua pawon, pematerian lapangan ini memiliki beberapa peraturan yang mencakup punishment dan reward. Di pagi hari kami diinstruksikan untuk menyiapkan sarapan dan makan siang yang akan dibawa dan setelah itu melakukan mobilisasi ke Gua Pawon.
Di Gua Pawon kami di bagi menjadi 2 tim, yaitu tim SRT terlebih dahulu dan tim RC terlebih dahulu, saya sendiri mendapatkan tim RC terlebih dahulu disana kami melakukan praktek. Saya berpasangan dengan saudara saya Moses “abong” dimana saya menjadi belayer karna saudara saya ini belum pernah melakukannya dan saya sendiri cukup paham untuk pematerian rock climbing ini secara teknis dan lain – lainnya sehingga setelah waktunya bertukar saya yang menjadi pemanjat dan saudaraku yang menjadi belayer. Saya mengajarkan dahulu bagaimana cara menjadi belayer, untungnya abong cukup cepat paham apa yang saya ajarkan sehingga tidak memerlukan waktu lama, ketika melakukan pemanjatan tentunya penuh tantangan.
Jalur sudah jelas namun tenaga tidak ada, tangan saya sudah lemas duluan, mengapa? Karna tadi pagi saya gunakan energi ditangan saya untuk membuat parit sehingga ketika melakukan rock climbing tangan saya mudah lelah. Namun, saya tidak menyerah dan terus berusaha hingga akhirnya saya bisa mencapai top meskipun saya melakukan beberapa kesalahan sehingga mendapatkan punishment setelah tim saya sudah melakukan RC kami lanjut bertukar tempat dengan yang melakukan SRT tadi.
Kami diinstruksikan untuk memakai seat harness buatan sendiri dari tali webbing, untungnya ada saudara saya Muhammad “selir” yang membantu dalam hal ini, ketika kami bertukar tempat saya mengajukan diri untuk melakukan SRT pertama di tim kami tentunya saya cukup percaya diri dan tidak ingin lama berdiam diri sehingga saya langsung mengajukan diri.
Setelah perlengkapan semua terpasang tentunya harus lapor dan mulai melakukan SRT dari memasang tali, SRT ini cukup seru bagi saya karna teknikal dan memerlukan irama untuk naik, gerakan menarik dan mendorong pun ada. Namun, saya gagal untuk melakukan turun, di SRT ini dikatakan berhasil ketika melakukan naik turun tanpa di rescue namun saya kurang langkah terakhir untuk turun.
Autostop saya sudah siap, namun cowstel saya masih nyangkut di loop dan terbebani oleh beban badan saya, cukup lama saya berpikir untuk mencari cara mencabut loop akan tetapi waktu tidak cukup sehingga saya harus di rescue dan hal yang paling membuat kesal adalah saya menemukan cara nya ketika persis saya menyentuh tanah, sungguh otak lemot. Setelah kegiatan hari itu berakhir di sore hari ada review materi survival dan kami melakukan aktivitas seperti biasanya.
Hari selanjutnya pun tiba, kami diintruksikan untuk membuat makan sarapan dan makan siang untuk di bawa yang akan dimakan ketika perjalanan nanti, serta membereskan bivak dan packing untuk mobilisasi ke panaruban. Kami ke panaruban menggunakan angkot sampai pintu masuk curug Mandala setelah itu kami melakukan longmarch menuju basecamp.
Pertama kalinya bagi saya melakukan longmarch yang cukup panjang di dalam hutan rimba, suasana hutan yang sangat asri jauh dari pemukiman dengan kondisi yang sangat lembab, sangat berbeda dengan suasana dan rasa ketika di kawasan gua pawon. Sesampainya di basecamp kami mendirikan bivak bersama dan menyiapkan makan malam dan kegiatan hari itu hanya sampai situ.
Hari selanjutnya kami diinstruksikan membuat sarapan dan santap siang dan setelah sarapan kami melakukan mobilisasi ke area perkebunan teh untuk
melakukan materi lapangan IMPK (ilmu medan peta dan kompas) materi andalan jantera, adapun aturan yang berlaku adalah mengenai distorsi semakin besar distorsi semakin banyak pula punishment, di materi IMPK ini sejujurnya saya tidak menguasainya meskipun telah bertanya kepada saudara saya tapi tetap tidak selesai, sungguh sebuah kekecewaan sebagai anak geografi tidak bisa navigasi darat.
Saya pun amat sangat sadar betapa bodohnya saya kurang mempelajarinya lebih dalam dan berlatih karena sejujurnya itu pertamakalinya bagi saya melakukan ploting menggunakan kompss bidik di lapangan dan hal itu membuat saya bingung mencari objek yang harus di bidik, oleh karena kecerobohan saya, saya mendapatkan banyak punishment di materi IMPK ini, mungkin yang paling banyak di antara saudara saya. Setelah materi lapangan kami melakukan santap siang dan kembali mobilisasi ke basecamp.
Sesampai di basecamp kami diinstruksikan untuk packing, ketika sedang melakukan packing tiba – tiba instruktur datang dengan suara HT yang keras dan terhubung pada pihak yang mengatakan bahwa ada orang hilang. ketika ingin mendaki ke Puncak Tangkuban Perahu jalur lama bercirikan kerudung hitam, wanita bernama sinta. Di situlah kami di haruskan melakukan E-sar dan melakukan briefing bersama instruktur, pencarian pun dilakukan bersamaan dan dibagi menjadi beberapa tim, kami menyusuri jalan yang telah di hitung oleh instruktur menggunakan peta sehingga kami menemukan bivak dengan bungkus makanan baru dan tidak lama dari situ kami pun menemukan korban, di sana kami langsung membagi tugas ada yang melakukan PPGD, ada yang membuat tandu dan mengambil bahan tandu.
Saya sendiri membantu dalam membuat tandu terutama mengikatnya di situ kami harus cepat namun tidak boleh asal, sungguh tantangan yang merepotkan yang sebenarnya adalah setelah tandu beres kami harus menggotong korban melalui jalan yang sangat sempit kanan kiri semak belukar sehingga kami harus cari langkah sambil menyeimbangkan tandu sungguh otot saya bekerja keras lebih keras daripada waktu melakukan RC. Setelah kegiatan itu berakhir kami melanjutkan packing dan sesudahnya kami mobilisasi tidak disebutkan tujuan kami, namun jalan yang kami susuri seperti jalan pulang. Tapi saya tidak berpikir bahwa kami akan pulang.
Setelah semuanya selesai kami diminta packing kembali dengan isi carrier barang pribadi saja dan mobilisasi ke tempat materi survival yang ternyata tempat kami sebelumnya bermalam, kami di tempatkan sendiri – sendiri dengan jarak beberapa meter, waktu itu hari sudah mulai gelap dan saya harus mendirikan bivak secepatnya agar tidak terkena hujan mengingat sebelumnya hujan terus menerus, cukup cepat untuk saya mendirikan sebuah bivak dan parit mungkin karena saya sering bertugas untuk mendirikan bivak kelompok, jadi pengalaman tidak pernah bohong, lumayan cepat ketika saya membuat bivak pribadi.
Setelah saya mendirikan bivak saya menata barang – barang sehingga ketika sesuatu terjadi, tidak terlalu repot karena bivak yang saya dirikan sejujurnya sangat kecil karena ponco yang saya gunakan pun kecil hanya muat untuk saya tidur, untuk duduk pun susah, sungguh sangat minimalis. Setelah menata, saya pun tertidur sebentar karena saya benar – benar merasa ngantuk dan saya kira tidak akan ada kegiatan, meskipun saya tidur dalam keadaan rasa khawatir kepada saudara saya apakah bivak mereka aman atau tidak.
Di malam hari saya dibangunkan dan di instruksikan untuk membawa alat makan dan mobilisasi ke tenda panitia/instruktur, sesampai di sana kami di sambut oleh makanan dan minuman hangat dan senyum hangat instruktur, di sana kami benar – benar merasakan kehangatan dan kebersamaan dan di sana juga nama rimba kami diumumkan, saya mendapatkan nama rimba yaitu “Kutip” dengan arti kull (cool) tapi aktif, karena katanya saya selalu berlagak kull (cool) tapi terlihat sangat aktif. Sejujurnya yang saya rasakan waktu itu adalah makanan penghakiman, yang biasa tahanan mati makan sebelum dihukum mati.
Oleh karna itu, saya makan dengan lahap karna saya tahu akan ada kegiatan setelahnya. Setelah kehangatan itu berakhir kami kembali ke bivak masing – masing dan tidur, pengalaman baru rasanya tidur di tengah hutan dengan suara hutan dan sungai sendirian, saya pun terlahap oleh kegelapan dan masuk ke alam kenikmatan (tidur).
Hari pun berganti, hari pertama kami melakukan survival, pagi itu saya melakukan patroli menjenguk saudara – saudara saya ke bivak nya, beberapa masih tertidur dan saya berpapasan dengan komandan siswa yang juga melakukan patroli. Ketika saya menjumpai saudara saya yang paling ujung yaitu moses “abong” saya bener – benar terkejut melihat kondisi bivaknya yang sudah mau runtuh di sana lah saya menawarkan bantuan untuk merombak bivaknya dan saya membantu merombak bivaknya.
Lalu, di dekat lokasi bivak beliau terdapat bekas api unggun dan di sana terdapat sebuah jaring, sejujurnya saya dan saudara yang lain pun bingung jaring untuk apa itu tapi kami mengamankannya terlebih dahulu dan melakukan eksplorasi di sekitar area kami bermalam.
Sejujurnya bahan makanan yang ada di daerah sekitar sangat minim yang bisa langsung dimakan, rata – rata makanan yang harus di olah terlebih dahulu dan inilah yang menjadikan survival menjadi sangat berat. Namun, kami menjelajahi daerah sungai dan menemukan sungai dengan aliran tenang, lalu teringat bahwa udang biasa berdiam diri di aliran sungai yang cenderung tenang.
Di situlah kami optimis, benar saja ada udang dan lobster di sana. Kami pun memutar otak untuk menangkapnya dan sadar bahwa kami mendapatkan jaring, di bawalah jaring tersebut dan ternyata memang untuk menangkap udang. Kami menggunakan teknik udang di balik batu, jadi kami mengangkat batu dan serok udangnya, tangkapan kami sangat banyak akan tetapi udang yang ada di sana sangat kecil hingga tak berasa ke perut, setidaknya mulut.
Setelah kami puas menangkap udang, kami kembali ke dapur yaitu tempat kami menemukan jaring tersebut atau bekas api unggun, di situ sudah ada instruktur yang mau memberikan instruksi, tentunya kami pamerkan juga hasil tangkapan kami. Setelah itu instruktur menginstruksikan untuk membagi tim yaitu tim dapur dan tim cari makanan atau tim eksplorasi.
Tim dapur mempunyai tugas membuat dapur dari bivak alami dan memasak. Sementara, tim mencari makanan mengikuti instruktur untuk mencari bahan makanan. Saya sendiri mengikuti tim eksplorasi, kami pun menyusuri hutan dan memang sumber makanan yang ada di sana sangat terbatas walaupun sangat rindang, kami hanya menemukan rebung, pelepah pisang dan pakis serta udang tentunya meskipun tidak terlalu banyak.
Hari itu kami mencoba mengolah apa yang kami dapatkan dari pencarian ditambah kentang dan tentunya bumbu yang kami punya hanya garam, dari manakah itu? Dari rasa kasihan panitia mungkin, tapi kami mendapatkan nya sebagai reward. Masakan pun selesai, apabila anda sekalian menanyakan apakah enak? Rasanya seperti ada pohon pohonnya, seperti itulah rasanya. Hari pun berjalan dengan sangat lambat, hari itu hujan turun sangat sering namun kami bertahan di hari pertama.
Hari pun berlanjut, saya terbangun dalam keadaan lembab, sangat lembab. Hari itu sudah mulai di guyur hujan sedari sang mentari belum hadir, meskipun hari itu sang mentari hadir ia tak terlihat tertutup oleh dingin nya kabut. Saya di bangunkan oleh instruktur dan ditawari secangkir jahe hangat dan biskuit, saya pikir ini merupakan sebuah ujian “apabila saya makan ini saya akan gagal” namun setelah saudaraku menawarkannya barulah saya sadar bahwa itu merupakan bentuk kemurahan hati para senior (alumni) yang hadir kala itu.
Hari itu kami mendapatkan 2 bungkus biskuit dan secangkir jahe hangat untuk memulai hari. Kami berkumpul di dapur dengan pakaian basah dan cuaca hujan. Kami melakukan kegiatan seperti biasanya membereskan bivak dan menangkap udang. Kemudian kami mendapat tugas tambahan, yaitu membuat jerat ikan dan jerat ayam.
Ketika menangkap udang pagi itu kami didatangi instruktur dan menanyakan jerat ikan yang dibuat sebelumnya dan ternyata jeratnya sangat busuk katanya, Sehingga kami membuatnya kembali sembari dibantu. Pada siang harinya kami di ajarkan membuat jerat ayam, kami membuat dua jerat dan salah satu jeratnya berhasil menangkap ayam.
Ayam hutan atau bukan yang penting ayam. Ayam yang berhasil di tangkap pun tidak sempat kami olah hanya kami sembelih saja karna waktu itu hari sudah gelap dan hujan terus menerus dari pagi hari, api pun sulit untuk nyala dan kami memutuskan untuk menyimpannya untuk pagi hari esok.
Apabila anda bertanya hari berapakah paling berat dan sulit dilupakan yaitu hari ke 6 tersebut karena saya sendiri rasanya hampir mati, lebih dari 12 jam tidak mengenakan pakaian kering sembari di guyur hujan serta tidak ada matahari sama sekali dan hari ke 7 yang akan saya ceritakan.
Hari terakhir pun tiba. Pagi itu saya bangun dalam keadaan basah entah air dari mana, mungkin semalam badai karena sungai dipinggir bivak saya mengalir sangat deras suaranya sudah seperti auman. Hari dimulai dengan mengolah ayam yang kami tangkap hari sebelumnya, ketika sedang memasak tiba – tiba kami mendapat instruksi untuk membereskan bivak dan packing. Pagi itu tatapan putus asa saudara saya tiba – tiba penuh semangat meskipun dingin “akhirnya.. kami terlepas dari neraka dalam bentuk basah dan dingin ini” setidaknya itu yang saya pikirkan, bagaimana tidak? Sudah dua hari saya tidak berjumpa dengan sang mentari itu. Kami pun bergegas membagi tugas, yang masak dan packing duluan, saya ikut ke tim packing duluan. Namun, tubuh yang kedinginan dan kaku sebelumnya bisa saya gerakan dan lumayan cepat ketika packing sehingga saya bisa menggantikan saudara saya yang masak untuk packing.
Masakan beres, kami pun makan bersama, Makanan terenak yang kami santap di hutan itu, meski hanya berbekal garam namun entah mengapa ayam itu terasa sangat melekat begitu juga dengan kaldunya. Setelah makanan habis, instruktur pun datang menginstruksikan kami untuk mobilisasi dan membawa barang bawaan kami melewati sungai yang sangat deras karna hujan yang tidak berhenti, menuju arah tenda panitia, menuju jalan pulang sembari mengambil barang kelompok yang sebelumnya di sita dan lewat jalan pintas untuk mobilisasi ke angkot.
Di angkot kami diberitahu tujuan kami yaitu “Bukittunggul” pikirku ada yang janggal kala itu karna bukit tunggul sedang dipakai oleh wanadri dan kami tidak bisa sembarang masuk, meskipun saya masih berpikir bahwa penambahan hari itu benar adanya karna performa kami yang mungkin cukup buruk. Ketika pikiran itu menyerang saya pun jatuh tertidur terlahap oleh kelelahan.
Tibalah kami di pinggir jalan. ya jalan, untungnya jalan lembang sehingga saya tahu arah tujuan kami kemana yaitu “bumi Siliwangi” bukan “bukit tunggul” kami pun bersiap – siap untuk melakukan longmarch yang sangat panjang di longmarch ini saya sangat belajar artinya sebuah kehangatan dan kepedulian antar manusia, contohnya ketika kami turun dari angkot yang kebetulan turun dipinggir toko pisang tiba – tiba kami diberi pisang sangat banyak untuk perbekalan, hal tersebut sangat berharga bagi kami yang baru memakan ayam dan akan melakukan longmarch.
Lalu rasanya kata “saudaraku” di sini sangatlah terasa hangat kami sangat kelelahan, kelaparan, kesakitan namun ada saja saudaraku yang menguatkan yang ingin kami pulang bersama. Dari sinilah saya sangat merasakan apa arti kebersamaan, kami melakukannya, kami datang, dan bertanggung jawab menyelesaikannya, kami tabah sampai akhir, bersama – sama.
Tibalah kami di “Bumi Siliwangi” itu di sana kami benar – benar di sambut dengan sangat meriah oleh keluarga besar kami keluarga besar JANTERA, tidak lupa oleh orang tua, teman – teman dan saudara mapala lainnya yang hadir. Kami tenggelam dalam euphoria kesenangan rasanya telah memenangkan sebuah hadiah besar.
Namun, dari titik inilah jalan kami dimulai, angkatan 44 yang beranggotakan 13 orang telah menjadi anggota muda Jantera setelah melewati berbagai kesulitan dan rintangan bersama sama dan sudah tangguh serta tabah hingga akhir. Rasanya seperti mimpi namun inilah kenyataan, semangat untuk mengembara tumbuh. Ya saya ingin menjelajah dunia lebih jauh lagi sebagai anggota keluarga JANTERA.
0 Comments